"Dicubit pipi sama pacar sih enak, tapi kalau guru yang nyubit, bapak gue langsung datang." Beginilah perilaku pelajar zaman sekarang. Dihukum guru, mengadu pada orang tua, lalu orang tua melaporkan guru pada polisi. Bahkan tanpa berpikir kembali, orang tua dengan tega menganiaya guru yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mendidik anak bangsa.

Bayangkan jika Anda adalah seorang guru. Anda memberikan hukuman yang wajar kepada murid yang tidak mengerjakan tugas. Murid tersebut tidak terima dengan perlakuan Anda terhadapnya. Sehingga ia melaporkan Anda pada orang tuanya. Kemudian dengan penuh amarah, mereka datang menghampiri Anda di sekolah. Muncullah percekcokan antara Anda dan orang tua murid tersebut.

Orang tua yang terlanjur marah melampiaskan amarahnya dengan menganiaya Anda. Anda pun jatuh, tersungkur, hingga berdarah-darah.  Anda hanya bisa terdiam dan pasrah, sebab masalah akan semakin besar jika Anda tak mau mengalah. Anda pasti bertanya-tanya "Inikah balasan yang diterima seorang pendidik yang telah mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan anak bangsa ?"

Dunia pendidikan di Indonesia saat ini telah diwarnai dengan beberapa kasus guru yang diadili oleh orang tua murid, hanya karena masalah sepele. Padahal masalah tersebut dapat diselesaikan oleh kedua belah pihak tanpa harus membawanya ke jalur hukum.  

Di negeri ini masih banyak masalah-masalah  yang lebih pantas untuk dilaporkan seperti kasus korupsi, pemerkosaan, pembunuhan, dan masalah lain, ketimbang hanya melaporkan hal sepele seperti guru mencubit anak didiknya yang tidak mengerjakan tugas, guru mencukur rambut siswanya yang gondrong, atau guru yang memukul betis siswanya yang tidak mematuhi peraturan sekolah.

Berikut ini adalah beberapa kasus guru yang diadili oleh orang tua murid, yang dikutip dari brilio.net :

1. Guru SD diadili karena pukul muridnya pakai penggaris.

Pada Juli 2010, Rahman, seorang guru di sebuah SD di Banyuwangi, Jawa Timur, harus berurusan dengan pengadilan setelah memukul anak didiknya menggunakan penggaris.

Kejadian bermula ketika Rahman melihat siswinya menangis setelah dipukul dan ditendang oleh temannya. Ternyata yang mengalami hal tersebut ada juga 3 siswi lainnya. Lantas Rahman memanggil siswa yang melakukan hal tersebut dan meminta berdiri di depan kelas. Setelah ditanya, siswa tersebut mengakui perbuatannya.

Berniat menghukum siswa itu, Rahman lalu memukul kaki siswa tersebut dengan penggaris. Pulang sekolah, si siswa itu melapor ke ibunya dan ibunya tidak terima. Atas hal ini, pihak keluarga melaporkan kasus ini ke polisi. Jaksa lalu mendakwa Rahman dengan UU Perlindungan Anak. Dengan bukti-bukti yang ada, jaksa menuntut Rahman untuk dipenjara selama 5 bulan.

Tapi beruntung bagi Rahman, majelis hakim berpendapat lain. Menurut majelis hakim, pemberian sanksi berupa pemukulan pada betis kanan dan kiri bagian belakang dengan menggunakan penggaris kayu masih sesuai dengan kaedah pendidikan. Setelah dipertimbangkan, majelis hakim memutuskan untuk membebaskan sang guru.

Sebelumnya pihak sekolah juga sudah berusaha mempertemukan masalah ini lewat jalur mediasi. Dalam pertemuan itu, Rahman telah meminta maaf kepada keluarga siswa tersebut tapi keluarga siswa memilih mengambil langkah hukum.

2. Guru honorer diadili karena mencukur rambut muridnya.

Aop Saopudin, seorang guru honorer SDN Penjalin Kidul V, Majalengka, Jawa Barat harus berurusan dengan hukum hanya gara-gara mencukur rambut murid didiknya.

Kejadian konyol ini terjadi pada Maret 2012. Saat itu, Aop Saopudin melakukan razia rambut gondrong. Dalam razia itu, didapati 4 siswa yang berambut gondrong yaitu AN, M, MR dan THS. Aop lalu melakukan tindakan disiplin dengan memotong rambut THS ala kadarnya sehingga gundul tidak beraturan.

Sepulang sekolah, THS menceritakan hukumannya itu ke orangtuanya, Iwan Himawan. Atas laporan itu, Iwan tidak terima dan mendatangi sekolah. Iwan marah-marah dan mengancam balik Aop. Gilanya lagi, Iwan mencukur balik rambut sang guru sebagai tindakan balasan.

Namun tak puas sampai disitu saja, Iwan juga melaporkan Aop ke pihak berwajib. Guru honorer itu pun dikenakan pasal berlapis yaitu tentan Perlindungan Anak dan tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan. Atas tuntutan itu, pengadilan negeri akhirnya menjatuhkan hukuman percobaan. Yaitu dalam waktu 6 bulan setelah vonis jika tidak mengulangi perbuatan pidana, maka tidak dipenjara. Tapi jika berbuat pidana, maka langsung dipenjara selama 3 bulan.

Namun beruntung bagi sang guru. Setelah mengajukan kasasi, Mahkamah Agung membebaskan Aop dari semua dakwaan dan menyatakan apa yang dilakukan Aop tidak melanggar hukum apa pun.

Tiga hakim agung yaitu Salman Luthan, Syarifuddin, dan Margono menyatakan Aop sebagai guru mempunyai tugas untuk mendisiplinkan siswa yang rambutnya sudah gondrong.

Apa yang dilakukan Aop sudah menjadi tugasnya dan bukan merupakan suatu tindak pidana. Oleh karena itu, Aop tidak dapat dijatuhi pidana karena bertujuan untuk mendidik.

3. Guru SMP harus mendekam dipenjara gara-gara mencubit muridnya.

Nurmayani Guru biologi SMPN 1 Bantaeng, Sulawesi Selatan, dipenjara karena mencubit murid didiknya. Kejadian ini bermula saat Agustus 2015 silam, Nurmayani memanggil dua orang siswi bernama Tiara dan Virgin ke ruangan Bimbingan Konseling karena bermain air sisa pel lantai.

Saat berada di ruang BK, Nurmayani langsung menghukum keduanya. Ia lantas mencubit kedua paha Tiara. Namun Tiara mengaku guru biologi itu tak hanya mencubit, tetapi juga memukul dada dan pipi Tiara. Nurmayani juga menyebut Tiara sebagai anak setan.

Tak terima dengan hukuman sang guru, Tiara pun mengadu kepada ayahnya yang merupakan anggota polisi.  Akhirnya ayah Tiara, Ipda Irwan Efendi melaporkan perbuatan Nurmayani kepada Polres Bantaeng.

Pihak Kepolisian awalnya sudah mengupayakan mediasi namun keduanya menolak dengan cara damai sehingga kasus ini dilanjutkan sampai ke jaksa. Sang guru akhirnya menjadi tahanan titipan Kejaksaan Negeri Bantaeng di rutan sejak Kamis (12/5), sambil menunggu kasusnya disidangkan di pengadilan.

 4. Pak Guru Arsal masuk jeruji besi akibat menghukum muridnya.

Setelah Nurmayani dipenjara, kini giliran guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 3 Bantaeng, Muhammad Arsal masuk ke jeruji besi. Kasus Arsal, sama dengan Nurmayani, sama-sama diduga melakukan tindak kekerasan terhadap anak didik di sekolah.

Kejadiannya bermula pada Februari 2016 lalu, ketika itu Arsal mengajari siswanya tata cara salat termasuk siswa bernama Israq. Namun Israq membuat ulah yang menimbulkan kegaduhan dan mengganggu siswa lainnya. Akibatnya sang guru kesal dan menghukum Israq dengan cara memukulnya.

Tak terima, orangtua Israq akhirnya melaporkan perbuatan Arsal kepada pihak berwajib. Pasalnya dari hasil visum, membuktikan jika terjadi pemukulan yang membuat luka di bagian mulut.

Berbagai upaya mediasi sudah dilakukan pihak kepolisian, namun pihak orangtua siswa Israq tetap menolak. Pak guru Arsal pun kini harus tetap menjalani proses hukum.

Dari beberapa kasus tersebut, kita bisa melihat bahwa ada alasan tertentu yang menyebabkan guru memberikan hukuman pada muridnya. Hukuman tersebut bukanlah hukuman yang diberikan begitu saja tanpa ada pelanggaran yang dilakukan oleh muridnya. Ketika seorang murid telah dinasehati atau ditegur secara halus, namun ia masih tetap melakukan kesalahan yang sama, maka guru sebagai pendidik berhak untuk menghukum murid tersebut agar sikap dan perilakunya dapat kembali pada norma-norma yang berlaku.

Jika kita melihat kembali pada era 80-90 an, murid tetap menghormati gurunya, meskipun guru memberikan hukuman kepada mereka. Didikan guru yang agak keras seperti mencubit atau memukul adalah sesuatu yang lumrah bagi mereka yang tumbuh di era 80-90 an ini. Selain itu, tidak ada kasus orang tua melaporkan guru ke polisi apalagi menghajar guru hanya karena anaknya dihukum.

Namun, di zaman yang semakin modern ini, guru kurang lagi dihormati oleh muridnya. Bahkan orang tua tanpa berpikir panjang tega mengadili guru hanya karena masalah yang bisa dibilang sepele. Seolah-olah jalur hukum menjadi satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah.

Kemudian akan timbul pertanyaan "Apa gunanya orang tua menyekolahkan anaknya jika ia tidak sepenuhnya percaya kepada guru ? Apa gunanya orang tua menyekolahkan anaknya jika ia tidak bisa memberi kewenangan kepada guru sebagai orang tua kedua di sekolah ? " . Kurangnya rasa percaya orang tua kepada guru menyebabkan orang tua menganggap hukuman yang diberikan guru kepada anaknya adalah sebuah bentuk kekerasan. Padahal hukuman yang diberikan masih dalam batas yang wajar.

Dengan demikian diharapkan orang tua dapat memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada guru sebagai pendidik sekaligus orang tua kedua di sekolah. Ketika pulang kerumah, orang tua bisa menjadi guru yang baik bagi anaknya. Orang tua juga perlu mengevaluasi perilaku sang anak.

Karena hukuman yang diberikan guru kepadanya terjadi jika ia telah melakukan suatu pelanggaran seperti tidak mengerjakan tugas atau tidak menaati peraturan sekolah. Sehingga diharapkan dunia pendidikan di Indonesia tidak lagi tercoreng oleh kasus-kasus seperti ini lagi.

#LombaEsaiKemanusiaan

Referensi bacaan :

https://m.brilio.net/duh/4-kasus-sepele-guru-vs-murid-yang-berakhir-miris-bikin-geram-deh-160526v.html

http://m.merdeka.com/peristiwa/cerita-guru-smp-di-sidoarjo-cubit-siswa-divonis-3-bulan.html

https://news.idntimes.com/indonesia/erwanto/tidak-terima-anak-ditegur-orangtua-pukul-guru-di-makassar

http://regional.kompas.com/read/2016/08/10/16135971/anak.dihukum.karena.tak.bikin.tugas.orangtua.pukul.pak.guru