Sejak (di)sekolah(kan) mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) sampai sekarang berada di bangku perguruan tinggi (PT), saya lebih banyak berhadapan dengan guru dibanding pendidik. Guru, tak lebih dari sekadar menjadi orang yang menggurui. Mereka merasa lebih tinggi daripada peserta didiknya. Usia dan pengalaman menjadi beberapa penyebabnya. Tak ayal banyak peserta didik merasa ‘takut’ (bukan respek) kepada gurunya.

Saya jarang menemui pendidik selama saya di sekolah, dari jenjang TK sampai sekarang, saya bisa menyebutkan siapa saja pendidik yang pernah saya temui. Pendidik lebih dari sekadar guru. Pendidik adalah seseorang yang mendidik peserta didiknya, tanpa menggurui.

Mendidik peserta didik agar menghormati orang yang lebih tua, bukan menggurui. Pendidik memposisikan diri setara dengan peserta didik. Tidak heran bahwa mereka legowo belajar bersama peserta didiknya.

Mungkin bagi sebagian pembaca, mengotak-kotakkan guru dengan pendidik adalah yang tidak perlu dilakukan. Guru ya pendidik, pendidik ya guru. Mereka adalah entitas yang sama. Menurut saya, guru dan pendidik adalah dua hal yang beda.  Dalam artikel ini, saya menggunakan istilah guru-murid dan pendidik-peserta didik.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidik berarti orang yang mendidik. Sedangkan guru memiliki arti orang yang pekerjaannya mengajar. Disitu juga dijelaskan bahwa murid adalah bawahan sedangkan guru adalah atasan. Jelas ada stratifikasi. Dari kedua definisi tersebut, perbedaannya sudah jelas; guru adalah profesi, sedangkan pendidik belum tentu. Bisa jadi pendidik melakukan kegiatannya tidak untuk dibayar.

Dari segi harfiah, guru dan pendidik adalah dua hal yang berbeda. Menilik perannya, dua entitas ini juga memiliki perbedaan yang mencolok. Guru, seperti penjelasan dalam KBBI, dipandang lebih tinggi dibanding muridnya. Tak ayal masih banyak guru yang tak tahan untuk tidak berceramah ketika masuk kelas meski kurikulum mewanti-wanti untuk mengurangi kegiatan ceramah di kelas.

Metode ceramah yang kata orang kurang efektif tersebut muncul karena perasaan lebih tinggi sang guru dibanding murid-muridnya. Guru menganggap merekalah the only point of attention ketika sudah berada di dalam kelas. Jika sudah demikian, kesempatan murid untuk ‘berbicara’ dibatasi, meski kadang tanpa disadari. Makanya, kurikulum pendidikan terbaru lebih condong memilih metode diskusi dibanding metode ceramah dalam proses pembelajaran.

Guru (terkadang tanpa sadar) membangun tembok kokoh untuk membatasi dirinya dengan si murid. Beberapa menempatkan kehormatan sebagai pleidoi. Namun, pada kenyataannya, ketika tembok sudah terbangun kokoh dan posisi guru lebih tinggi, murid tidak benar-benar respek terhadap sang guru, melainkan takut. Takut salah, takut mendapat nilai jelek, takut tidak naik kelas.

Jangan heran jika masih banyak murid yang takut menjawab pertanyaan yang dilontarkan guru. Hal ini terjadi karena guru seringkali memberi penguatan (reinforcement) negatif kepada murid. Padahal, menurut Skinner dalam Operant Conditioning Theory, murid perlu diberi positive reinforcement berupa penghargaan agar kelakuan positifnya bisa terulang. Tidak mencemooh adalah salah satu bentuk penghargaan.

Pendidik berbeda dengan guru. Pendidik, memiliki makna yang lebih luas; tidak hanya dijumpai di segelintir sekolah formal, namun juga informal. Semua orang bisa jadi pendidik. Orang tua kita yang mendidik di sekolah berbasis keluarga, pendidik di sekolah berbasis sukarela, teman sejawat, bahkan orang yang tak kita kenal bisa menjadi pendidik.

Pendidik memposisikan dirinya setara dengan peserta didik. Pendidik tak malu mengakui bahwa di dalam ‘kelas’, bukan mereka yang paling pintar. Bisa jadi, ada peserta didik yang lebih pintar. Pendidik hanya ‘menang’ pengalaman hidup saja. Dengan begitu, pendidik tak sungkan untuk belajar bersama di dalam kelas bersama peserta didiknya.

Kelas menjadi lebih dinamis karena tak ada gap lebar antara guru dan murid. Sekolah menjadi lebih menyenangkan karena peserta didik menganggap pendidik tak hanya sebagai pendidik saja. Lebih dari itu, pendidik juga menjadi teman belajar yang mengasyikkan.

Saya jadi teringat dengan Ki Hadjar Dewantoro dengan Sekolah Taman Siswa-nya. Taman Siswa bermakna sekolah yang menyenangkan. Ki Hadjar berharap sekolah bisa menjadi tempat menyenangkan bagi semua elemen di dalamnya, selayaknya taman yang asyik untuk bercengkerama. Mungkin, jika hal ini diterapkan, kekerasan di sekolah dapat diminimalisasi.

Ini pekerjaan rumah bagi seluruh pendidik untuk membuat sekolah sebagai tempat belajar yang nyaman. Kenyamanan dalam sekolah tidak diukur dari banyaknya AC yang tersedia, bukan pula dilihat dari proyektor yang terpampang di depan kelas. Kenyamanan muncul jika pendidik dan peserta didik sepakat untuk hidup berdampingan di dalam kelas untuk belajar bersama, tanpa memandang rendah pihak lainnya.

Guru adalah profesi yang mulia, karena pada hakikatnya, tugas guru adalah mengajar murid untuk menjadi lebih baik. Namun, ketika cara mengajar guru kurang tepat, maka hasilnya juga tidak maksimal. Guru perlu menjadi pendidik, yang sadar bahwa peserta didik juga human being. Mereka adalah human being yang perlu belajar. Di sini, guru harus menjadi teladan yang baik, dan juga teman belajar yang baik pula.