Setelah Iblis menolak sujud di hadapan Nabi Adam as, ia di kutuk oleh Tuhan. Lantas ia geram terhadap Nabi Adam as. Ia tidak terima, karena menganggap lebih mulia dan cerdas ketimbang Nabi Adam as. Padahal, sesungguhnya ia tidak tahu apa-apa. 

Nabi Adam-lah yang paling berilmu ketimbang dirinya. Sebab Nabi as telah diajarkan Ilmu Pengetahuan yang banyak. Lalu Iblis meminta penanggungan umur dari Tuhan. Kemudian ia, iblis yang terkutuk berjanji akan berusaha dengan sekuat tenaga dan kekuatan serta berbagai cara untuk menghancurkan kehidupan manusia dengan tujuan agar mereka masuk neraka.

Setelah terusir, iblis lalu mencari cara agar bagaimana mengeluarkan Nabi Adam as dari surga. Digodalah Nabi Adam as agar melanggar perintah Tuhan. Namun gagal berkali-kali. Sehingga digodalah Hawa agar memakan buah terlarang. Rupanya berhasil. Maka terusirlah Nabi Adam as dan Hawa dari surga.

Berhasillah iblis, setelah sebelumnya menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Nabi Adam as dan berjanji akan menyesatkan keturuanan Nabi Adam as sampai hari kiamat, kini ia telah juga berhasil menyebabkan Nabi Adam as melanggar perintah Tuhan. Terbuanglah Nabi Adam as ke bumi. 

Di bumi, iblis dengan leluasa dan bebas menggoda dan menyesatkan manusia. Dari segala arah dan penjuru, dari luar dirinya dengan berwujud manusia maupun juga dalam diri dengan berwujud jin.

Lalu singkat cerita, jumlah umat manusia semakin bertambah banyak. Iblis begitu membabi buta dalam menyesatkan manusia. Maka diutuslah pengganti Nabi Adam as, sebagai Nabi, sebagai penuntun umat manusia untuk tetap berpegang teguh kepada perintah-perintah Tuhan, sebagai penuntun jalan kebenaran menuju Tuhan Yang Maha Menciptakan.

Diutuslah berkali-kali para Nabi yang beratus ribu jumlahnya kepada setiap kaum, suku dan bangsa-bangsa, dengan satu tujuan, untuk menuntun umat manusia agar tidak lalai dan terpengaruh oleh godaan iblis yang terkutuk.

Dari semua nabi-nabi itu, ada yang saat ini kita ketahui nama-namanya, dan adapula yang tidak kita ketahui sama sekali. Ada yang wajib kita imani, dan adapula yang cukup kita yakini kenabiannya. Ada yang paling utama sebagai pembawa kitab yang kita sebut Ulul 'Azmi, dan ada juga yang hanya sekadar mengajarkan dan melanjutkan kitab-kitab tersebut. 

Mengengenai umat yang mereka tuntun, ada yang berhasil, namun ada juga yang tidak karena keras penolakan mereka terhadap seruan nabinya, bahkan tak sedikit yang di bunuh oleh umatnya sendiri. Maka diazablah mereka. Ada yang diberikan bencana sehingga mereka kembali bertobat. Namun ada juga yang dilenyapkan sama sekali dari muka bumi sehingga tak berbekas sama sekali.

Para nabi yang berratus ribu jumlahnya itu di tutup oleh seorang nabi terakhir bernama Muhammad Saw bin Abdullah bin Abdul Mutalib dengan membawa sebuah kitab petunjuk; Alquran.

Berdakwalah nabi terakhir kepada umat manusia yang telah banyak tersesat oleh godaan dan rayuan iblis sehingga banyak yang telah menyembah berhala, menuhankan tuhan selain Tuhan. Singkat cerita, penduduk Mekah khususnya, dan Arab pada umumnya, yang sebelumnya tersesat dalam alam kejahiliahan kini telah kembali beriman dengan mengikuti jalan Sang Nabi Saw.

Setelah Nabi Saw wafat, perjuangannya dilanjutkan oleh keluarga dan sahabatnya yang setia. Nabi Saw pernah bersabda, Ulama adalah pewaris para Nabi, artinya ulama mewarisi perjuangan para Nabi mulai dari Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad Saw. Ulama adalah penuntun jalan kebenaran menuju Tuhan. Ulama adalah kitab yang bergerak. Ulama adalah penjaga umat manusia dari setiap usaha iblis dengan segala macam rupanya dalam menyesatkan umat manusia.

Lalu berlanjutlah perjuangan kenabian dalam menyebarkan berita suci kepada penduduk di seluruh jazirah arab yang di lakukan oleh keluarga dan para sahabatnya. Mula-mula hanya Jazirah Arab, lalu, Afrika, lalu Persia, lalu India, lalu Asia, lalu Indonesia. Rupanya seruan Ilahi itu telah menggema di seantero muka bumi; Islam, Islam, Islam...! Tibalah masa yang saat ini kuta hidup di dalamnya.

Sementara kita saat ini begitu mudahnya mempelajari bagaimana Islam dan indahnya Islam. Dakwah Islam rupanya telah melewati perjalanan yang sangat panjang, terjal dan berliku. Mula-mulanya dari Nabi Saw, lalu ia mengajarkan muridnya; keluarga dan sahabatnya. Lalu keluarga dan sahabatnya mengajari tabi'in. Lalu tabi'in mengajarkan tabiut tabi'in

Lalu tabiut tabi'in mengajari murid-muridnya lagi. Lalu murid-muridnya mengajari murid-muridnya lagi, terus hingga sampai pada saat ini, kita telah berjumpa dengan orang-orang yang mengajari kita tentang cahaya kebenaran; yakni Tauhid, Kenabian, Keadilan, dll. Orang-orang semacam inilah yang saat ini kita kenal sebagai Ustaz, Guru, Tuang Guru, Upu, Gus, Buya, Kiai, Cak, dan berbagai macam istilahnya.

Mereka para guru-guru itu dengan sabar dan ikhlas menuntun kita dari alam kegelapan menuju cahaya. Mengejakan aksara hikmah agar kita menjadi manusia beradab dan bukan menjadi binatang biadab! Menjadi murid yang 'tau diri' yang mengenal hakikat dan mampu menjawab pertanyaan besar dalam hidup; siapa dirimu?. Sehingga mampu mengenal diri agar mampu mengenal Tuhannya. Sebagaimana hadis qudsi yang masyhur: barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.

Guru sebagai pewaris para Nabi, tentu akan menghadapi berbagai macam serangan dan olok-olokan dari manusia yang lain seperti yang dialami para Nabi. Sebab perjuangan mereka tidaklah mudah. Diolok-olok oleh binatang biadab yang telah tegelincir dan bahkan jatuh dalam godaan dan penyesatan iblis yang terkutuk. 

Mereka secara hakikat telah menjelma menjadi pasukan-pasukan Iblis! Mereka membangun opini kepada manusia lain, bahwa Guru itu hanya mengigau, mempunyai orientasi dunia, mempunyai orientasi ingin di puji dan puja. Bahkan, hingga opini bahwa guru juga ingin di sembah seperti halnya Tuhan. 

Padahal jika dibuka secara telanjang, mereka hanya mengada-ngada agar membingungkan manusia. Sebab, untuk apa opini murahan semacam itu mereka kembangkan? Logika yang mereka bangun itu adalah kesyirikan yang nyata. Seperti halnya jika mereka mengatakan azimat itu syirik karena menyekutukan Tuhan.

Padahal, kita menganggap tidak ada segala sesuatu kehendak dan kekuatan yang datang selain dari Tuhan. Lalu, darimana muncul pengetahuan mereka tentang adanya kehendak dan kekuatan selain Tuhan sebagaimana yang mereka sebutkan itu sehingga mereka menghukumi kita syirik?

Mereka mengatakan bahwa kita jangan menuhankan atau memberhalakan manusia termasuk guru karena itu kesyirikan. Lalu, darimana mereka memiliki pengetahuan semacam ini kalau bukan sejatinya dalam pikiran mereka sendiri memang ada dua konsep Ketuhanan. Artinya merekalah yang syirik dengan memberhalakan pikiran mereka, namun menghukumi kita, atau minimal mengatakan kepada kita bahwa jangan memberhalakan manusia termasuk guru.

Sungguh, ini adalah perbuatan Iblis yang sangat nyata, bagi mereka yang berakal!

Padahal, selama ini mereka belajar, duduk bersilah dan diajarkan sesuatu yang mereka awam terhadapnya, hingga mereka di beri petunjuk oleh Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk. Lantas kemudian mereka kurang ajar dan lancang sama sekali. 

Nampaknya, lagi-lagi mereka seperti para binatang biadab yang datang kepada Nabi Saw untuk mempelajari banyak hal, lalu berusaha mendebati Nabi soal kebenaran dan keadilan. Atau seperti sebagian orang yang mengatakan Nabi Saw adalah seorang penyihir. Ataukah mereka selama ini memang pasukan-pasukannya iblis yang berwujud manusia?

Begitulah keadaan yang akan dihadapi oleh seorang guru, yang benar-benar berjuang dengan ikhlas melanjutkan perjuangan para Nabi, yang semata-mata mengharap rida dan cintaNya Tuhan Yang Maha Kasih dan Sayang.