Pendidikan merupakan proses memperoleh dan membagi akhlak serta pengetahuan yang baik setinggi-tingginya untuk merendahkan hati serendah-rendahnya agar menjadi manfaat dan berkat bagi orang banyak.

Tidak seperti biasanya, peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2020 diwarnai dengan badai pandemi Covid-19. Hal ini mengakibatkan ada sesuatu yang berbeda: perayaan dalam bentuk pertemuan sangat terbatas bagi para pahlawan pendidikan.

Apakah hal itu menyurutkan perayaan Hari Guru Nasional? Tentu saja tidak, perayaan tidak selamanya ditandai dengan adanya aktivitas fisik. Justru dalam keadaan terbatas seperti saat ini, perayaan melalui refleksi atau renungan sangat disarankan.

Guru 

Berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti “berat” secara verbatim. Guru adalah sosok yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan seseorang, dari yang belum berakhlak menjadi berakhlak yang baik. Dari yang belum tahu, menjadi sedikit demi sedikit lebih tahu.

Membawa seseorang keluar dari kegelapan adalah kewajiban yang “berat” bagi seorang Guru. Namun, tidak bisa dielakkan lagi, apabila seseorang dengan predikat “Guru” mau menggali lebih dalam lagi ke dalam sanubari, kewajiban tersebut ditransformasi menjadi “amal”.

Ameliorasi dan peyorasi turut mewarnai istilah guru, khususnya apabila disandingkan dengan kata “dosen”. Berbagai pro dan kontra hadir dalam membahas istilah tersebut. Pertanyaan reflektif sederhana dari tulisan ini adalah “Apakah kita masih terjebak pada struktur luar alias sebutan?”

Dosen bukan guru dan guru bukan dosen. Kalimat tersebut muncul untuk membatasi “merdeka berpikir”. Uniknya saat seorang dosen sudah mencapai titik puncak secara administratif atau pengakuan, ia akan kembali dijadikan guru yakni Guru Besar.

Tinggalkan sejenak pro dan kontra tersebut, mari renungkan kembali. Tema Hari Guru Nasional 2020 adalah “Bangkitkan Semangat Wujudkan Merdeka Belajar”. Mari bangkit untuk merdeka dari jebakan definisi tersebut.

Petik Hikmah dari Roda dan Ban

Pertama, bentuk roda adalah bundar. Artinya, kita belajar bahwa dengan bundarnya roda, ia harus tetap berputar dan melintasi segala jenis jalan: becek, debu, kotoran, panas, dan banyak hal lain yang tidak mengenakkan,

Belum lagi saat terkena batu, paku, dan sebagainya. Memang butuh waktu rihat ketika sakit kena paku atau batu, namun setelah pulih kembali, ia tetap harus berputar. Demikian juga nafas akhlak dan akademik hidup seorang guru, harus tetap berputar ke arah yang lebih baik. 

Kedua, ban harus diisi angin agar bisa berfungsi dengan maksimal. Ban yang kosong tidak akan berfungsi dan membuat laju kendaraan semakin lambat dan terseok-seok.

Selain itu, ban yang kempes atau bocor justru akan membahayakan si pengendara. Ini ibarat akal dan batin yang harus diisi dengan akhlak dan pengetahuan yang baik agar diri kita tidak terombang-ambing.

Ketiga, roda akan terasa ringan apabila dipasangkan dengan roda yang lainnya. Anda bisa bayangkan bagaimana sepeda, sepeda motor, atau mobil yang memiliki satu roda?

Di sini kita belajar bekerjasama dan mengajak orang lain untuk turut serta dalam sebuah perjalanan. Uniknya, tak peduli berapa jumlahnya, semua arah ban harus sama, yakni ke depan, atau ke belakang. Demikian pula dengan pahlawan pendidikan, harus satu hati menuju arah yang sama.

Keempat, sebuah pertanyaan muncul kembali: “Apakah ada ban yang bagus, berisi, namun tidak berfungsi?” Jawabannya adalah ada, yakni ban yang disimpan di dalam gudang atau bengkel. Atau barangkali ban yang dipajang di sebuah toko, indah terlihat dari luar.

Sebaik-baiknya ban yang bagus dan berisi, namun ketika tidak digunakan akan kempes dengan sendirinya. Roda dan ban memang harus berputar dan melalui berbagai medan yang tidak menyenangkan.

Hal yang sama berlaku untuk ilmu dan akhlak. Ilmu dan akhlak yang baik apabila tidak dibagikan  atau diamalkan, akan menjadi sia-sia belaka. Oleh sebab itu, sebagai pendidik, merupakan kewajiban untuk membagi ilmu dan akhlak yang mulia kepada mereka yang siap berjuang meneteskan keringat bahkan air mata.

Kelima, sesudah melalui berbagai rintangan yang tidak nyaman, roda dan ban memiliki tugas mulia yakni mengantarkan si pengendara sampai ke tujuan dengan selamat dan sehat walafiat.

Ini adalah analogi untuk ketulusan dan keikhlasan. Roda dan ban melalui berbagai medan yang sangat tidak nyaman. Kadang-kadang, tak peduli sebagus atau seburuk apapun kendaraan yang menunggangi ban tersebut.

Kendati demikian, roda dan ban tetap konsisten, walau pada akhirnya habis terkikis oleh aspal dan panasnya jalanan. Roda dan ban setia mengantarkan pengendara sampai ke tempat yang dikehendaki.

Guru sejati demikian halnya, ia rela habis tanpa mengharapkan apapun demi mengantarkan murid-muridnya ke tujuan yang lebih mulia.

Epilog

Sebagai penutup dalam menyambut Hari Guru Nasional 2020, guru atau dosen atau fasilitator atau edukator, entah apapun sebutannya harus tetap semangat dalam belajar dan memberikan manfaat bagi orang banyak.

“Anda bisa membeli roda atau ban, namun anda belum tentu bisa menikmati bahkan membeli perjalanan”.