Aku ingat hari itu, tanggal itu, 14 Agustus 2017. Ya, aku ingat, dan aku akan selalu ingat suasana yang kurasakan dalam diriku. Itulah pertama kalinya aku mendaki puncak gunung. Bukan gunung yang tinggi, hanya 1726 mdpl. Aku mendaki bersama empat orang: tiga perempuan, dua laki-laki. Aku merasa kesempatan itu sebagai sebuah takdir, sebab hampir saja aku tidak ikut, tetapi tiba-tiba aku diminta ikut hingga aku pun merasa harus ikut, dan hanya dalam waktu kurang dari setengah jam aku mesti persiapkan semuanya.

Kudengar suara motor mendekat, lalu dimatikan, diikuti derap langkah kaki seseorang. 

Saat pintu kamar dibuka dari luar, dia berkata, “Mas, ayo ikut. Salah satu dari mereka bilang katanya mau naik motor sendiri. Kamu jadi ikut kan?”

Benarkah?”tanyaku merasa kaget dan setengah tidak percaya. Saat itu aku sedang asyik menonton film di laptop. “Kalau memang benar begitu, aku bisa ikut.”

Ya, satu orang bersikukuh tidak mau dibonceng. Bukankah ini kesempatan bagus? Ayolah, aku tahu sebenarnya kamu mau ikut kan? Mereka sudah menunggu di depan Indomaret. Kamu siap-siap, aku ke sana dulu ya. Sudahlah, pakai jaket dan bawa sarung! Aku tunggu kamu di depan.”

Begitulah. Akhirnya aku ikut juga meski tanpa perlengkapan yang lengkap. Aku tahu di sana aku akan kedinginan karena hanya mengenakan jaket tipis tanpa kaos kaki dan sarung tangan. Namun, dingin yang kurasakan bersama mereka adalah dingin yang hangat. Hangat karena keakraban dan ketulusan yang memancar dari dalam diri mereka. Mereka, terutama tiga perempuan itu yang baru kukenal, tetapi tampak begitu perhatikan padaku, begitu peduli, dan itu membuatku sangat terkesan.

Malam hari sekitar pukul 23.00 WIB kami berangkat dari Yogya. Dengan tiga motor, berlima kami menuju Gunung Andong di Magelang. Awalnya, hanya seorang dari mereka yang kukenal, temanku. Dialah yang terus mengajakku agar aku ikut bersamanya.

Pasalnya, hanya aku seorang yang laki-laki. Mereka bertiga perempuan,” katanya. “Akan lebih baik kalau kau ikut sehingga aku ada teman laki-laki. Bukankah begitu?” Itu dia katakan berjam-jam sebelumnya. 

Sejenak aku berpikir, lalu kukatakan kepadanya, “Oh, itu bagus. Bukankah kau lebih suka kalau hanya kamu seorang yang laki-laki, ditemani tiga cewek sekaligus?”

Banyak laki-laki kupikir akan setuju dengan ucapanku itu.

Ah, tidak juga.” Dia mengelak. “Ayolah, ikut.”

Eh,” balasku. “Di antara mereka, apakah ada cewekmu?” Dia menggeleng. “Kalau ada cewekmu, aku khawatir aku ganggu kemesraan kalian.”

Ya ampuuun... Aku sedang tidak ingin bermesra-mesraan begitu. Ayolah!”

Pagi hari, berjam-jam sebelum malam keberangkatan itu, teman tetangga kami datang membawa tas gunung. Ternyata temanku telah meminjamnya.

Wah, sudah kayak pendaki beneran,” komentarku. “Buat muncak nanti malam kan?”

Dia tersenyum, lalu berpaling pada teman tetangga kami, dan berkata, “Aku tidak punya sepatu gunung. Apa kau ada?” 

Orang yang dimaksud menggeleng. Aku hanya diam, mendengarkan percakapan singkat mereka. Merasa bosan, kubaringkan tubuhku, lalu kusetel lagu Animal Instinct The Cranberries kesukaanku, dan kunikmati dengan earphone.

Aku pikir, kalau aku mendaki gunung, aku tidak perlu perlengkapan semacam itu. Cukup tas punggung kecil, sandal atau sepatu biasa sajalah. Aku tidak mau repot-repot tentang hal itu.

Kenyataannya memang begitu. Aku pun hanya membawa tas kecil yang menggantung di samping tubuhku, dan kukenakan sandal jepit saat mendaki malam itu.

Satu per satu, aku mulai mengenal mereka. Namanya, Dhilah, Avivah, dan Dina. Kalau disingkat jadi DAD. Dhilah dan Avivah memakai kacamata, sedangkan Dina tidak. Kulihat mereka sangat dekat, tampak sebagai seorang sahabat. 

Kami sampai di lokasi pendakian sekitar jam satu dini hari. Aku menggigil kedinginan. Para warga yang sedang berkerumun di sekitar api unggun menawarkan kepada kami untuk menghangatkan diri. Saat itulah aku dan Dina mendekat. Tangannya yang telanjang tanpa sarung tangan sejak berangkat, dengan jari-jarinya yang panjang dan mungil itu, didekatkannya pada api. Sejenak dia memandangku, dan aku balik memandangnya, kemudian tatapan mataku beralih pada jari-jarinya. Oh, hampir saja kusentuh dan kugenggam jari-jarinya itu yang tampak begitu menggemaskan.

Kamu tidak pakai kaos kaki dan sarung tangan?” ucapnya padaku.

Ya, begitulah,” balasku. Dari balik maskernya, kurasa dia tersenyum.

Eh, sepertinya cuma kita berdua ya, yang begini.”

Aku hanya diam, tetapi paham maksudnya. Mungkin karena hanya aku dan dia saja yang sangat kedinginan, sebab kami sama-sama tanpa sarung tangan dan saat itu tanganku pun terasa hampir beku. Lagipula, aku belum terbiasa dengan suhu udara di daerah gunung yang dingin.

Minggu sebelumnya, kurang lebih selama sepekan aku sakit. Barulah pada hari ketujuh aku mulai sembuh, bisa meminum kopi dan lainnya, sebab saat aku sakit, aku menghindari mengkonsumsi gula. Tepat hari ketujuh, kurang lebih selama satu jam aku bisa tidur nyenyak dan bermimpi. Itu adalah sebuah mimpi yang tidak biasa. Dalam mimpi itu, aku bertemu seorang gadis baru yang tiba-tiba melamarku.

Saat aku mendaki bersama mereka, aku lupa mimpi tersebut. Namun, selesai mendaki, aku teringat kembali. Dan benar, segalanya seperti terjadi begitu saja: tak terduga. Perasaanku saat mendaki benar-benar luar biasa. Aku dilimpahi perasaan yang bahkan tak terlukiskan dengan kata-kata. Aku bahagia bersama mereka. Sepanjang perjalanan mendaki Gunung Andong, kami bercakap-cakap santai, tertawa, berfoto bersama, dan seterusnya...

Andaikan benar bahwa Tuhan telah menuliskan semuanya tentang diri kita....

Andaikan benar bahwa aku ditakdirkan menjadi seorang penulis dan seterusnya...

Oh, andaikan, andaikan, andaikan, dan semua berjalan sebagaimana mestinya. 

Kau bergerak cepat,” kata Dhilah kepadaku.

Habibi juga mengatakan hal itu,” balasku.

Ya, kenyataannya kau memang bergerak cepat,” ulangnya lagi.

Tidak juga,” kataku. “Aku hanya mengikuti suara hatiku.”



NB. Thank you so much untuk kalian. Terutama Dhilah, Avivah, dan Dina. Kalian sungguh luar biasa. Juga tak lupa untuk Habibi. Tulisan ini saya persembahkan untuk kalian, para pembaca, dan semua pendaki gunung. Salam kenal dan salam hangat dariku. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi kita semua.