Untuk masyarakat kecil yang ada di pinggiran kota atau pedesaan, debat sama sekali tidak penting. Untuk apa mendengarkan debat yang hanya berisi retorika semata. Debat menjadi bias saat kehilangan makna akan substansi.

Namun nampaknya tradisi debat hanya berguna untuk orang orang yang memiliki akun media sosial. Apalagi yang telah memilih dan mendukung salah satu paslon. Guna utamanya adalah untuk saling nyinyir. Membongkar kejelekan paslon lain dan menuhankan paslon yang didukungnya.

Perang nyinyir di media sosial. Saling hujat. Saling marah dan saling menjelakkan antara satu sama lain. Baru baru ini heboh makam dipindahkan di Makasar karena berbeda pilihan caleg. Di kampungku di Madura, pembunuhan terjadi karena berawal dari media sosial.

Jika debat hanya digunakan sebagai bahan dan amunisi untuk menyerang kelompok yang berbeda, lalu apa guna menjadi tradisi di dipanggungkan dalam setiap kompetisi. Pemilu katanya adalah pesta rakyat. Sebagai pesta, maka untuk senang-senang.

Bukan saling ribut dan hanya menonjolkan kejelekan kelompok lain. Seakan kita merasa puas saat menang adu argument untuk menyalahkan dan menjajelekkan paslon lain. Seblum babak pertama debat capres, para pendukung telah melakukan debat tiap hari di media sosial. Itupun dengan kasar.

Dalam Indonesia Lawyers Club pada selasa malam lalu (15/01/2019), Sujiwo Tejo dengan gaya nyentrik menyampaikan, bahwa yang diamanatkan oleh Pancasila sila keempat adalah Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Garis besarnya adalah musyawarah. Bukan debat.

Secara akal sehat, tidak salah diksi yang disampaikan oleh Sujiwo Tejo. Kita memang keseringan berdebat, tengkar dan tidak akur. Mestinya yang ditonjolkan adalah bermusyawarah, berkumpul, bersama sama membangun dan membesarkan negara ini dengan riang gembira.

Tampaknya Tanggal 17 Januari dalam debat pertama akan menjadi momentum dari para buzzer politik untuk bekerja. Ngedit video dan di viralkan atas setiap salah sedikit saja ucap dari paslon. Kita akan kembali saling caci maki di media sosial. Semakin caci maki, maka akan viral dan menjadi tranding. Menjadi senanglah para politisi.

Dugaan bahwa para politisi sebagai aktor yang mereproduksi perseteruan di media sosial menemukan titik pijak dari penelitian Cherian George. Ia meneliti Amerika, India dan Indonesia sebagai tiga negara terbesar demokrasi yang terancam oleh pelintiran kebencian dan aktornya adalah para politisi.

Tentu saja kita berharap perseturuan di media sosial tidak akan melahirkan konflik horizontal. Terlalu mahal negara ini dirusak oleh pemilu dalam setiap lima tahun sekali. Lagi lagi rakyat tidak akan mendapakan untung. Hanya para politisi yang tertawa. Rakyat akan menjadi korban seterusnya. Para buzzers merawat kebecian untuk keuntungan materi.

Namun demikian,debat adalah tradisi yang bagus manakala berhadapan dengan masyarakat yang sudah cerdas. Masyarakat yang arif dalam menerima perbedaan. Tentu salah  satunya adalah masyarakat yang dewasa dan kuat atas segala perbedaan pilihan yang niscaya dalam dunia politik.

Namun masyarakat demikian, hanya segelintir saja. Hal itu juga ditambah dengan tidak bersuara ke publik. Kelompok mayoritas ini memilih diam. Yang nyaring dan menyesakkan ruang publik kita akan sekelompok masyarakat yang tidak siap akan perbedaan. Debat akan meruncingkan antar kita yang berbeda.

Bahkan dalam ruang kehidupan masyarakat saat para paslon belum memulai debat, kisruh hoax telah merambat. Beberapa waktu lalu sasarannya adalah KPU. Setelah hoax tentang 7 kontainer surat suara yang telah dicoblos, kini dihadapkan dengan isu dan pelintiran tentang tidak adanya penyampaian visi misi calon dan KPU yang dikabarkan terlalu mengatur terhadap panelis dan moderator.

Artinya debat yang membahas tentang pelaksanaan debat. Itupun bahan dasarnya adalah hoax. Yang paling menyebalkan adalah hoax yang dilakukan dengan dalih untuk agama. Saya kira tidak ada perjuangan dengan cara kebohongan. Pun tidak ada kemenangan yang bisa dibanggakan diatas kebohongan.

Bagi saya, garis besar debat tidak akan memberikan pengaruh berarti terhadap tingkat keterpilihan paslon. Dikarenakan dua calon presiden adalah dua orang yang sama dalam pemilu sebelumnya. Betatapun bagusnya retorika, tidak akan mampu mengubah banyak tentang pilihan rakyat kecil dipinggiran.

Tampaknya pilihan pilihan rasional masyarakat bukan pada reteorika. Tetapi sudah lebih sublim pada rekam jejak dan bukti kinerja. Pada situasi ini, pasangan nomor 02 sama sekali tidak diuntungkan. Karena belum memiliki kesempatan untuk bekerja dan memiliki prestasi. Pasangan nomor urut 01 akan lebih diuntungkan karena sebagai petahana. Kinerjanya sudah dirasakan.

Dalam diskusi sebagian akademisi, debat tidak akan menyentuh pada nalar paradigmatik. Karena dimungkinkan akan terjebak pada wilayah teknis yang tidak menarik. Apalagi bagi rakyat kecil di pinggiran, terpenuhinya kebutuhan sandang, papan dan pangan lebih menarik dari debat. Nasi lebih penting dari kata kata.