Uang Fatur hanya tersisa 50 ribu rupiah, sedangkan hasratnya untuk membeli buku Madilog karangan Tan Malaka sedang memuncak. Sore itu sedang ada bazar buku di kampus yang menjual buku dengan diskon besar-besaran, kebetulan buku incaran Fatur bercokol di sana. Maklum meski buku lama, Madilog masih menjadi buruan para aktivis kampus di Tanah Air ini. Wajah sampulnya pun berubah-rubah menyesuaikan dengan zamannya.

Tidak pikir panjang, Fatur langsung membeli buku tersebut tanpa menawar sedikit pun, baginya bertemu buku Madilog seperti bertemu jodoh yang diantarkan sendiri oleh Tuhan. Tanpa harus ke toko buku atau belanja di toko online, buku incarannya seolah menghampirinya sendiri. "ini jodoh namanya," Fatur menggumam di dalam hati.

Sejak pertama kali menggengam buku Madilog bersampul merah bergambar Tan Malaka itu, ia berjanji akan menyelesaikannya dalam waktu satu bulan penuh, lalu mendiskusikannya dengan kawan mahasiswa yang lain. Hatinya berdegub kencang, ia membayangkan akan mengakrabi tokoh yang banyak menjadi idola para aktivis kampus.

Perkuliahan selesai pukul 16.00, dengan gagah dan percaya diri Fatur menuruni anak tangga sambil menjinjing buku yang baru saja dibelinya. Sesekali dia membuka halaman depan untuk sekedar melihat daftar isi dan pengantarnya. Sore bukanlah waktu favorit Fatur untuk pulang ke kos-kosan, ia biasa menghabiskan waktuya bersama teman satu organisasi di kampus. Bersama mahasiswa dari jurusan lain namun masih satu fakultas, Fatur menghabiskan waktu dengan berdiskusi, menyanyi, dan kadang berpuisi hingga larut malam.

"Gua bakal abisin ini buku sebulan doang, nanti abis itu kita diskusi," Fatur memamerkan buku yang barus saja ia beli. "Boleh juga Tur, nanti kalo udah selesai gua minjem ya," balas Tatang, teman satu tongkrongan Fatur. Kopi hitam, gorengan, dan rokok hasil patungan menjadi menu wajib di setiap mereka nongkrong.

Langit gelap, angin semakin kencang melewati lorong basement tempat Fatur dan kawan-kawan nongkrong, pertanda mereka harus angkat kaki sebelum diusir satpam yang berkeliling kampus. Fatur pun pulang ke kos-kosannya di Gang Haji Miing, 15 menit berjalan kaki dari kampus. Ia satu kosan dengan Emin mahasiswa yang juga aktivis di fakultasnya. Mereka berdua memang beda fakultas, Fatur dari Fakultas Ilmu Budaya sementara Emin dari Fakultas Sains dan Teknologi. Mereka bisa satu kosan karena bertemu dalam momen ospek saat masih mahasiswa baru.

"Tur kita beli makan yuk !", ajak Emin berhubung perut sudah keroncongan. "Yah, Min duit gua abis buat beli buku," jawab Fatur sambil menunjukan bukunya. "Yaudah gua beli lauknya aja, lu masak nasi kan masih ada beras," Emin memberikan solusi. Mereka makan paling banyak dua kali sehari itupun kalau masih ada uang atau ada makanan sisa acara di organisasi.

                                      *****

Rabu pagi semua media memberitakan pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) Tindak Pidana Korupsi menjadi Undang-undang (UU) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sudah jauh-jauh hari UU itu dinilai cacat dan berpihak pada koruptor, namun dengan tidak mempertimbangkan suara rakyat UU itu disahkan oleh DPR. Para pengamat menduga hal tersebut adalah bentuk pencederaan terhadap amanat Reformasi 21 tahun yang lalu. Sontak seluruh aktivis kampus mulai bersuara dan merencanakan untuk melakukan demonstrasi di Istana Negara dan di Gedung DPR.

Fatur yang saat itu adalah Ketua Senat Mahasiwa Universitas Taruna Jaya langsung merapatkan barisan, mengkaji semua kejanggalan yang mencuat dipublik. Tidak hanya Ketua Senat, Fatur juga anggota organisasi ekternal kampus tertua di Indonesia. Jelas dalam mengatur starategi aksi bukan lagi perkara yang sulit, ia dilatih oleh seniornya untuk selalu ada di garda terdepan. Ke esokan harinya, Fatur bertanggung jawab terhadap 500 mahasiswa yang berdemo di depan gedung DPR.

Tangan kanan memegang pengeras suara, dan tangan kiri memegang kertas berisi teks orasi yang akan ia bacakan di hadapan dua ribu orang mahasiswa gabungan dari 4 kampus di Jakarta. "Hidup mahasiwa, hidup mahasiwa, hidup mahasiswa," ia mengawali orasinya dengan suara yang lantang di atas mobil kopaja yang mereka sewa.

"Kita tidak bisa tinggal diam melihat para anggota DPR mengesahkan undang-undang yang sudah jelas-jelas berpihak pada koruptor. Mereka dipilih sebagai wakil rakyat, seharusnya mendengarkan suara dari rakyat, bukan suara dari para pejabat yang korup. Ini sama saja kita ditindas oleh bangsa sendiri, kita tidak bisa diam, DPR harus mencabut keputusannya," suara Fatur menggema di depan gedung DPR. Seraya mahasiswa yang mendengar bertambah berkobar semangatnya, tidak ada lagi rasa takut yang tersisa di hati mereka. Sekalipun dijaga oleh seribu personil gabungan Polisi dan TNI tidak gentar meski satu langkah.

Semangat kolektif yang menyala membuat keadaan semakin sulit dikendalikan, meski Fatur sebagai jenderal lapangan sudah memerintahkan untuk saling menggandengkan tangan, masih ada saja yang nekad melempari Polisi dengan batu dan botol air mineral. "Border, border, awas provokasi," teriak mahasiwa yang lain. Namun apalah daya, setiap kali mahasiwa berteriak dan mulai rusuh ada saja tembakan peringatan dari Polisi yang membuat kondisi semakin tidak kondusif.

Barisan terdepan massa aksi semakin mendekati pintu gerbang gedung, mereka pun mencoba untuk merobohkan pagar agar bisa masuk ke ruang DPR dan berbicara langsung dengan mereka. Dalam ingatan mereka mahasiwa di era 98 saja bisa masuk apalagi mereka. Namun tidak mudah, brigade Polisi menjaga ketat pagar tersebut dilengkap dengan pelindung kepala, perisai, dan pentungan.

Massa dari belakang terus merangsek ke depan, dorong-dorongan pun tidak terhindarkan. Beberapa di antara mereka terkapar pinsan karena kehabisan nafas, Polisi pun mengepung masa dan menembakkan gas air mata. Massa berhamburan mencari tempat berlindung dari gas air mata dan tembakan peluru karet aparat. Massa yang tumbang pun tidak sedikit, mereka pun saling membantu mengamankan temannya yang yang terkapar, membawanya ke tempat yang lebih aman.

Hari itu mahasiswa gagal memasuki gedung wakil rakyat, pertahanan berlapis sulit ditembus oleh mahasiswa yang hanya bermodal semangat tanpa pelindung dan senjata. Petugas gabungan berhasil mengusir massa pukul 18.30, setengah jam lebih lama dari waktu yang disepakati. Fatur sebagai jenderal lapangan pun terkulai lemas dengan jas almamater biru di pundaknya.

Jumat pagi, semua kanal berita nasional memuat kejadian demonstarsi mahasiswa di depan gedung DPR. Sebagai jenderal lapangan Fatur menjadi sorotan media, ia dimintai keterangan soal aksi kemarin. "Aksi ini adalah bentuk kepedulian nyata mahasiswa terhadap kepentingan rakyat, semua bergerak berlandaskan hati nurani tanpa ada kepentingan pribadi ataupun ditunggangi," pernyataan Fatur ini banyak dikutip media dan viral di media sosial.

Ketua DPR Amrozi memanggil Fatur dan rekan-rekannya untuk melakukan mediasi pada hari Senin di gedung DPR. Fatur menyanggupi undangan itu dan mengajak sepuluh orang perwakilan mahasiswa lainnya. Ia pun datang dengan harapan bisa membujuk DPR untuk mencabut UU tersebut. Mediasi berjalan alot, sampai akhirnya DPR menolak usulan dari Fatur dan kesepuluh rekannya. Fatur dan teman-temannya pulang dengan tangan kosong tanpa hasil yang diharapkan.

*****

Skripsi Fatur sudah tinggal disidangkan, judulnya "Idealisme Adalah Kekayaan Terakhir Mahasiswa: Riwayat Pergerakan Mahasiswa Mas Orla". Fatur berhasil mendampat nilai cumlaude, nilai yang amat bagus untuk seorang aktivis kelas kakap. Masa mahasiswanya pun berakhir, kenangan Tentang buku, diskusi, dan aksi akan selalu lekat diingatan. Namun gelar aktivis yang ia sandang tidak bisa lepas begitu saja. Fatur sudah kadung dikenal seantero Tanah Air sebagai aktivis yang berpihak pada rakyat kecil.

Namun hidup nampaknya tidak selalu sama, dan sesuai kehendak Fatur. Orang tuanya mulai menuntut Fatur untuk mandiri, ia tidak mendapatkan lagi uang saku seperti saat mahasiswa, "welcome to the world, kamu harus mulai menghadapai dunia yang sebenarnya," ucap lelaki paruh baya yang tak lain ayah Fatur. Fatur harus putar otak agar tetap bisa bertahan hidup, di sisi lain cap nya sebagai aktivis juga tidak boleh luntur, "idealismeku harus aku pelihara," bisik Fatur kepada hatinya sendiri.

Jejaring Fatur dengan senior dan orang-orang di pemerintahan tidak diragukan, ia berhubungan erat dengan para anggota dewan bahkan menteri. Hingga datanglah satu tawaran kepada Fatur untuk membantu proyek percepatan pembukaan pabrik semen di sebuah daerah di Jawa Barat. Fatur ditawari untuk ikut mengamankan warga agar tidak penolakan di sana. 

Nurani Fatur bergejolak, ini merupakan pilihan yang sangat dilematis. Di satu sisi jika Fatur berhasil membantu pemerintah mengamankan warga, ia akan diberi upah yang sangat besar, cukup untuk membeli rumah real estate di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Namun, ia masih memikirkan nasib warga yang tergusur dan terdampak oleh pabrik semen tersebut.

Fatur yang muda dan bersemangat menerima tawaran dari kenalannya itu, ia berpikir dengan membantu pemerintah melancarkan misinya untuk membangun pabrik semen sama saja dengan mempercepat pembangunan dalam negeri, di mana jangka panjangnya akan melahirkan kesejahteraan baggi rakyatnya.

*****

Pabrik semen di Jawa Barat sudah berdiri sejak 5 tahun yang lalu, masyarakat mulai merasa kekeringan, kualitas air tanah menurun, polusi udara, dan anak-anak mengidap penyakit pernapasan. Pabrik semen milik BUMN ini adalah pabrk terbesar ke-2 di Tanah Air, dengan skala indstri yang sangat besar. 

Warga setempat tidak ada satu pun yang bekerja di sana, mereka terpaksa hidup berdampingan dengan debu dan bisingnya kendaraan proyek. "Ko tau gini nyesel dulu kita serahin tanah kita begitu aja, tanpa perlawanan," ujar salah satu warga.

Setiap Sabtu pagi Direktur Utama pabrrik semen itu datang ke lokasi penambangan sambil sesekali berkeliling mengitari bekas kampung-kampung yang sudah berlubang akibat penggalian. Ia juga terkadang berkeliling ke kampung yang masih ada warganya dengan menunggang kuda.

"Dak kadiyeu aya Pak Fatur, rek bagi-bagi duit," (temen-temen sini ada Pak Fatur mau bagi-bagi duit), teriak Andi memanggil temmannya yang sedang bermain kelereng di halaman rumah.