Saya menonton film Green Book bersama istri pada awal Februari 2019. Kemudian saya bilang ke istri, film ini akan memenangkan Oscar 2019 untuk kategori film terbaik, meneruskan keberhasilannya memenangkan Golden Globe Awards untuk Best Motion Picture, Musical atau Comedy.

Benar saja, 25 Februari lalu, The Academy of Motion Pictures Arts and Science (AMPAS) selaku penyelenggara ajang Academy Awards ke-91 mengumumkan film garapan sutradara Peter Farelly ini memenangkan untuk tiga kategori sekaligus: Film Terbaik, Pemain Pendukung Terbaik, dan Skenario Asli Terbaik.

Meski sempat menjadi kontroversi, Green Book tetap berhasil terpilih sebagai film terbaik Oscar 2019 mengalahkan Bohemian Rhapsody, The Favorite, Black Panther, BlacKkKlansman, Roma, A Star is Born, dan Vice

Tentang Film

Menjadi warga negara Amerika Serikat di tahun 60-an, identitas ras sedikit banyak masih kental melekat, baik dari luar ataupun dalam diri mereka. Film berjudul Green Book menceritakan tentang konsep tersebut dengan narasi persahabatan yang sangat memukau. 

Tony Lip alias Tony Vallelonga (diperankan Viggo Mortensen), seorang bouncer klub kenamaan di New York yang merupakan keturunan Italia, masih memiliki prasangka buruk terhadap ras tertentu. Ia menganggap dirinya sebagai pria kulit putih yang tidak harus tunduk dengan aturan atau perintah mana pun. 

Kelihaiannya dalam adu mulut dan baku hantam mengantarkan dia jadi pria yang dikenal di klub malam New York. Saat klub tempat ia bekerja tutup sementara untuk renovasi, Tony tidak memiliki pekerjaan tetap dan mantan bosnya merekomendasikan ia untuk melamar menjadi sopir seorang dokter. 

Ternyata dokter yang dimaksud bukanlah petugas medis, melainkan seorang pria kulit hitam bergelar doktor yang juga merupakan musisi jazz kenamaan. Doctor Shirley (diperankan Mahershala Ali), begitu ia biasa dipanggil hendak melakukan tur ke wilayah selatan AS (Deep South) yang terkenal sangat rasis. 

Tony dituntut untuk tidak hanya menjadi sopir, namun bodyguard serta road manager dari Doctor Shirley (thedisplay.net).

Tony kemudian diberikan salinan Green Book oleh studio rekaman Don sebagai panduan bagi wisatawan kulit hitam untuk menemukan tempat berlindung yang aman di seluruh wilayah Deep South.

Perjalanan tur mereka pada mulanya tidak berjalan dengan baik. Tony dengan sikapnya yang kasar, bertolak belakang dengan Don yang santun dan terlihat lebih tenang. Namun seiring berjalannya waktu, mereka berdua menekan egonya masing-masing dan saling menerima perbedaan satu sama lain.

Tony mengagumi bakat musikal Don, dan Don menyukai Tony sebagai seorang penyayang istri. Don tak segan membantu Tony menulis surat dengan untaian kata lebih indah yang membuat istri Tony, Dolores Vallelonga (diperankan Linda Cardellini), terkesan. Walaupun belakangan Dolores mengetahui bahwa Don-lah yang membantu Tony membuat surat-surat itu.

Meski begitu, film ini juga diselimuti gambaran gelap. Selama tur konser, Don mendapat perlakuan tidak menyenangkan (rasisme) dari kaum kulit putih. Don kerap diperlakukan rasis ketika ia tidak berada di atas panggung. 

Mendapat perlakuan yang diskriminatif itu, Tony pun bertekad untuk membela Don.  Itu ditunjukkan Tony ketika terjadi insiden bar saat sekelompok pria kulit putih mengancam hidup Don. Tony kemudian meminta Don untuk tetap di dekatnya selama sisa tur konsernya.

Namun, hal serupa tetap saja terjadi. Pada malam pertunjukan akhirnya di Birmingham (Alabama), Don kembali menerima perlakukan rasis dari kaum kulit putih. Don ditolak masuk ke ruang makan yang didominasi oleh orang-orang berkulit putih di hotel pada malam pertunjukan terakhirnya tersebut. 

Tony menekan pemilik hotel tersebut dan Don menolak untuk tampil karena para staf hotel menolak melayani mereka. Don dan Tony kemudian pergi ke klub blues yang diisi oleh orang-orang berkulit hitam di mana Don menyentak mereka dengan permainan pianonya.

Situasi-situasi rasis inilah yang sedikit-banyak membuat Don terguncang secara psikologis. Itulah sebab, dalam sebuah percakapan dengan Tony, Don mengatakan: So if I'm not black enough and if I'm not white enough, then tell me, Tony, what am I!?

Frantz Fanon

Hemat saya, pertanyaan yang dilontarkan Don terhadap Tony di atas—So if I'm not black enough and if I'm not white enough, then tell me, Tony, what am I!?—merupakan inti dari film Green Book. Pertanyaan itu telah mengetengahkan diskursus identitas kulit hitam dan teorisasi krisis tentang isu ras.

Nah, mereka yang akrab dengan karya Frantz Fanon (salah seorang pemikir post-colonial paling berpengaruh) Black Skin, White Masks (1952), pastinya akan mengerti maksud pertanyaan Don tersebut.

Dalam spirit Fanonian, kutipan Don itu bisa dipahami sebagai pengalaman yang pasti dilalui oleh mereka yang berkulit hitam. Ini yang oleh Fanon disebut sebagai Psikologi Kulit Hitam. Dalam Black Skin, White Masks, Fanon membuat ilustrasi yang sangat baik tentang Psikologi Kulit Hitam:

"... Aku datang ke dunia ini dengan perlahan; kemunculan mendadak bukan lagi kebiasaanku. Aku merangkak. Pandangan kulit putih, satu-satunya yang valid, membedahku. Aku diperbaiki! Begitu mikrotom mereka diasah, Kulit Putih secara objektif membedah realitasku. Aku telah dikhianati. Aku bisa merasakan, aku lihat dalam pandangan kulit putih itu bahwa yang datang bukanlah manusia baru, namun tipe manusia baru, spesies baru. Negro!”

Fanon kemudian berkata, ketika mereka (Kulit Putih) menyukaiku, mereka mengatakan kepadaku bahwa warna kulitku tak ada kaitannya sama sekali. Ketika mereka membenciku, mereka menambahkan bahwa kebencian itu bukan karena warna kulitku. Apa pun, aku tetap merupakan tawanan dari lingkaran setan itu.

Negro itu, bagi kulit putih, biadab, tolol, dan buta huruf. Ini yang dijadikan alasan oleh Fanon untuk meluapkan kemarahan dan kebenciannya. Tetapi mereka malah makin menolak Fanon. Pun ketika Fanon menjadi orang yang seharusnya mereka minta dan mohon, mereka tetap menolaknya mentah-mentah.

Lalu Fanon meninggalkan lingkaran setan itu dan menegaskan dirinya sebagai KULIT HITAM, karena sang Liyan enggan mengakuinya. Untuk itu, Fanon berpaling ke saudaranya, para negro. Celakanya, mereka juga menolak Fanon. Mereka rupanya hampir sama dengan kulit putih.

Fanon pun memberontak. Ia berupaya menghancurkan semua mitos tentang negro. Katanya, kita sekarang memiliki negro yang menjadi guru, dokter, dan pejabat pemerintahan. Bahkan Dr. Cobb, yang menemukan sel darah putih, merupakan orang kulit hitam. 

Don, si pianis Jazz yang terkenal itu, mestinya juga bisa menghapus mitos tentang Negro.

Meski tak seluruhnya sama, realitas Fanon adalah realitas Don. Mungkin itu yang membuat film Green Book menjadi terasa istimewa. 

Oleh karena itu, bagi yang belum menonton Green Book, film ini sangat direkomendasikan, dan untuk mereka yang ingin memahami Psikologi Kulit Hitam secara ringkas dalam kerangka Fanonian.