Beberapa hari lalu, kita semua dikagetkan dengan kejadian horor pembantai 50 manusia yang sedang melakukan ibadat keagamaan di masjid. Masjid itu adalah Al Noor dan Linwood di Kota Christchurch, yang terletak di pantai timur negara Selandia Baru. 

Ini merupakan pristiwa pembantai massal dengan korban terbesar dalam sejarah negara itu setelah Araoma Massacre pada tahun 1990 yang menewaskan 14 orang.

Perdana Menteri Jacinda Adern mengutuk keras pristiwa berdarah ini. “Ini menjadi hari paling hitam dalam sejarah,” kata Ardern dalam jumpa pers pada Sabtu, 16 Maret 2019. 

Ardern juga mengajak segenap masyarakat untuk melakukan aksi solidaritas terhadap umat muslim yang berduka di negaranya dengan mengajak masyarakat untuk mempererat sikap toleransi, inklusivitas, dan kepedulian terhadap sesama. 

Ada pesan kuat di balik aksi solidaritas  yang ingin disampaikan oleh Ardern bahwa kelompok Islam yang adalah juga sebagian besarnya merupakan para imigran adalah warga negara Selandia baru. They Are Us, ungkap Ardern.

Superioritas rasial bisa terjadi pada siapa saja dan terjadi kapan saja. Dalam konteks pristiwa beradarah di Selandia Baru, isu utamanya adalah menyeruaknya supremasi dan ketakutan orang kulit putih terhadap para imigran, kelompok kulit berwarna, kelompok muslim yang berbeda dengan mereka. 

Perasaan-perasaan sempit seperti ini adalah reaksi emosional yang tidak hanya muncul dari pribadi tetapi merefleksikan sejarah panjang praktik dominasi melalui perbudakan, diskriminasi dan stereotip terhadap orang kulit berwarna dalam sejarah peradaban dunia. 

Sentimen identitas seperti ini adalah endapan dari diskriminasi dan stereotip rasial yang diinstituonalisasikan bahkan diejahwantahkan lewat berbagai hukum-hukum dalam sejarah peradaban yang sungguh tidak berpihak pada orang-orang kulit berwarna.

Karena itu, tidak mudah untuk keluar dari sejarah panjang diskriminasi yang diinstituonalisasikan seperti ini. Butuh proses panjang untuk mengolah dan membentuk satu konsep bersama bahwa perbedaan dalam dunia adalah keniscayaan dan kita semua adalah warga dunia yang seharusnya bersatu karena kesamaan sebagai ras manusia.

Sebagai kelompok orang yang berasal dari ras yang sama, sudah sepatutnya manusia hidup dalam cita rasa kemanusiaan yang sama. De facto, ada banyak perbedaan di antara manusia, agama, warna kulit, ideologi, termasuk selera, tetapi dalam perbedaan satu hal yang seharusnya mengikat secara emosional adalah rasa kemanusiaan. 

Rasa kemanusiaan, dalamnya simpati, empati dan respek terhadap sesama adalah basis moral yang menyatukan segala perbedaan.  

Film Green Book dan Perjalanan Menumbuhkan Cita Rasa Kemanusiaan

Green Book adalah film dari sebuah kisah nyata tentang dua orang yang datang dari latar belakang berbeda. Don Shirley (Mahershala Ali) adalah seorang doktor musik sekaligus pianis jenius berkulit hitam, sedangkan Tony Vallelonga (Viggo Mortensen) adalah seorang kulit putih, orang Italia yang menetap di As. 

Keduanya berbeda dalam segala hal. Tapi satu hal yang menyatukan perbedaan mereka, yakni keduanya sama-sama manusia.

Kisah keduanya dimulai ketika Don Shirley mencari seorang sopir sekaligus tukang pukul untuk menemaninya selama tur konser yang berlangsung dua bulan ke daerah bagian Selatan Amerika, sebuah daerah yang terkenal sangat rasis. Takdir membawa Tony bertemu Don.

Awalnya Tony menolak, karena ia sendiri tidak menyukai orang kulit hitam, apalagi harus berada bersama selama waktu yang begitu lama. Akan tetapi, karena desakan ekonomi Tony setuju menemani Don.

Dua pelajaran bisa saya petik dari film ini. Pertama, proses untuk menemukan cita rasa kemanusiaan membutuhkan proses panjang. 

Ia adalah perjalanan jauh yang penuh dilema, ketakutan, keengganan dan keras kepala. Tetapi kalau perjalanan itu dijalankan dengan kesediaan untuk terbuka, berdialog, dengan sedikit memasukkan candaan yang mencairkan suasana, maka perjalanan panjang itu tidak akan sia-sia. 

Dalam film Green book, dua tokoh utama saling sindir atau nyeletuk soal stereotip masing-masing. Tapi karena pengalaman itu juga, mereka lebih saling mengenal dan menghormati keaslian serta latar belakang masing-masing. 

"Perbedaan dapat membuka pikiran tentang hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya," ujar Dudley Field Malone.

Kedua, film ini mengajarkan kepada kita untuk berani menentang segala aturan dan kebiasaan dalam kehidupan masyarakat yang bersifat diskriminatif. 

Don Shirley dan Tony hidup di era 60-an ketika Amerika Serikat kuat dengan diskriminasi terhadap ras kulit hitam bahkan ada banyak peraturan hidup bersama yang membatasi gerak dan hak kaum kulit hitam. Tony awalnya terperangkap dalam aturan seperti ini. Hidupnya dikuasai rasa superioritas dan ketakutan terhadap yang kaum kulit hitam. 

Akan tetapi, seiring perjalanan waktu dan keberanian untuk masuk dalam risiko, pandangan dan konsep Tony tentang kehidupan pun berubah. Tidak hanya Tony, oleh interaksi serta komunikasi yang terus-menerus, Don Shirley pun belajar banyak hal dari Tony. 

Keduanya mendapatkan pelajaran tentang hidup, bahwasanya dalam menghidupi perbedaan butuh keberanian untuk mengubah banyak hal dalam hidup, termasuk konstruksi masyarakat yang terlampaui negatif tentang perbedaan.

Persoalan superoritas rasial dan agama yang terjadi di Selandia Baru juga terjadi di Indonesia. Hubungan yang hangat antarwarga negara terancam, karena kompetisi politik tidak menjadi panggung pesta rakyat malahan menjadi panggung yang meneror pluralitas bangsa. 

Para penguasa memantik sentimen politik identitas dalam masyarakat demi memenangkan kepentingan politis mereka. Pengkotak-kotakan yang dibuat oleh para politisi tidak bertanggung jawab membawa risiko terjadinya khaos yang hebat dalam masyarakat. 

Perasaan kedaeraan menguat. Solidaritas negatif atas nama agama, ras, pilihan politik mengikis rasa toleransi dalam perbedaan. Dalam situasi seperti ini, kita layak mencemaskan kebinekaan kita semakin maju menuju titik nadirnya. 

Kejadian berdarah di Selandia Baru harusnya menjadi pembelajaran penting bahwa selalu ada harga yang harus dibayar mahal ketika politik identitas dan dampaknya dibiarkan bekerja dalam ruang publik.

Film Green Book tidak hanya menghibur. Tapi dalam konteks peristiwa berdarah di Selandia Baru dan situasi pluralitas Indonesia yang saat ini sedang panas-panasnya karena kompetisi politik, film ini memberikan pesan moral yang begitu kuat kepada masyarakat bahwasanya superioritas rasial, sentimen agama, suku serta pemaksaan terhadap preferensi politik yang dimainkan oleh orang atau kelompok tertentu sesungguhnya hanya konstruksi sosial yang membatasi horizon kita untuk menjadi manusia yang otentik. 

Manusia yang autentik adalah mereka yang tidak mempersoalkan perbedaan, tidak membiarkan dirinya dikontrol oleh aturan dan situasi hidup yang tidak pasti, tetapi dalam perbedaan berusaha mengejar kesempurnaan diri, yakni menjadi manusia yang manusiawi.

Film Green Book memberi kita pilihan bahwa kita bisa mengubah konstruksi itu dengan memilih untuk menjadi diri sendiri, menelusuri perjalanan hidup kita demi satu tujuan menjadi manusia yang sungguh orisinal, manusia yang mampu menumbuhkan cita rasa kemanusian, manusia yang melihat dan mampu memperlakukan orang lain layaknya ia memperlakukan dirinya sendiri.