Gorden itu bergerak-gerak ketika kami berbuat mesum di depan kos. Awalnya gorden itu kami lihat tertutup tapi kemudian kami sadari ia tersingkap. Kami terduduk dalam diam dan mengamati gorden itu lekat-lekat. Benar saja, gorden itu tertutup lagi seperti pertama kali kami lihat.

Siapa yang menyingkap gorden itu? Siapa yang menutup gorden itu kembali? Kami waswas. Adakah orang menyaksikan perbuatan mesum kami?

Kami terduduk dalam diam dan terus mempertanyakan semua kejadian yang baru saja kami lalui. Saat itu jam dinding di samping beranda telah menunjuk pukul sebelas malam. Jam yang secara spesial disediakan bapak kos buat menyindir mereka yang kerap pulang larut malam itu berdetak juga dalam diam.

Hujan mengantar kedatangan kami sehabis menghadiri acara makan-makan dari seorang sahabat yang baru saja diwisuda. Kami berangkat bakda Isya dan terus menuju tempat makan bergaya tradisional di sudut kota. Kami terus mengobrol dan ketawa-ketiwi hingga semua pengunjung telah menelan makanan di perutnya masing-masing sebagaimana mestinya dan membubarkan diri. Kami sadar diri dan sadar waktu dan turut pula bubar.

Sebelum kami tiba di tempat makan, langit memang sudah mulai menggelap. Kami bergegas menuju tempat makan dengan harapan supaya tidak bersua hujan di tengah jalan. Kami sampai juga di parkiran meski terserempet sedikit tetes gerimis yang menitik ritmik.

Seusai meninggalkan tempat makan menuju parkiran, kami mendapati motor kami telah basah kuyup. Hujan deras agaknya meluncur bertubi-tubi tatkala kami tengah menyikat paha ayam dengan kerakusan tingkat tinggi. Kami hanyalah anak kos biasa. Anak kos biasa bebas melakukan apa pun, bahkan menyikat paha ayam dengan kerakusan tingkat tinggi.

Kami bilas air hujan di jok motor demi mengamankan pantat kami masing-masing. Lengan jaket kami usap-usapkan ke jok dan beratus-ratus tetes air segera hijrah ke lengan jaket itu. Tetes-tetes air itu saling bersahutan menyindir kelakuan kami yang mengorbankan sepasang lengan demi segepok pantat yang buntat.

Perjalanan pulang terasa dingin mencekat tapi kami tidak berkeberatan. Kami berangkulan dan berpelukan satu sama lain dengan demikian erat selekat perekat sehingga badan terasa hangat. Inilah nikmat di tengah malam yang mulai mengelam. Kami tenggelam dalam romantisme kasih yang terdalam.

Beberapa meter sebelum kos, tanpa dinyana, tanpa diduga, dan tanpa diundang, hujan menyerbu kami. Komplotan tetes-tetes air menanti kelengahan kami rupanya. Panglimanya terjun di barisan terdepan dengan menggenggam tombak pusaka. Tombak cair itu mental tertangkis oleh helm keramat yang kami kenakan dan jaket tebal yang tahan serangan.

“Kurang ajar. Anak buah, serbuuuu!” seru sang panglima yang badannya cuma sebesar gundu itu. Kami tak ambil pusing dengan dia. Mau diserang seperti apa, seharusnya dia sadar dengan siapa lagi berhadapan. Kami makhluk padat tak akan gentar menghadapi makhluk cair tak berarti seperti gerombolan tetes hujan itu. Kami lanjutkan melaju menembus terjangan hujan seraya mencari-cari tempat berteduh guna menyelongsongkan mantel ke tubuh kami.

Kami sampai di tempat berteduh yang tepat, sebuah tempat yang disebut orang-orang sebagai pasar-mini. Pasar anekdotal yang berhasil mengaparkan pasar-besar, pasar dalam arti sungguhan, hingga nyaris tak berdaya. Di kota, pasar-pasar-mini tumbuh menjamur dengan kerapatan melebihi tumbuhnya cendawan di musim penghujan. Kami tak habis pikir mengapa pemegang kuasa lebih suka mengurusi pasar-pasar gadungan semacam itu ketimbang pasar betulan yang kaya fungsi dan sering dianggap sebagai milik bangsa sendiri.

Apa pun alasan pemegang kuasa, kami tak ingin peduli. Apalagi mencoba mencaci-maki. Kami hanya anak kos biasa yang hidup dengan filosofi hemat, cepat, dan praktis. Kami menjauhi segala yang memboroskan, lelet, dan merepotkan. Sejauh kami alami, pasar gadungan lebih menjamin filosofi kami ketimbang pasar betulan. Tidak pernah sedetik pun kami memalingkan rasa cinta kami kepada negeri ini. Namun, apa daya, keadaanlah yang menuntut kami harus berlaku seperti ini.

***

TATKALA kami sampai kos, hujan masih belum berhenti tapi enggan tamat sama sekali. Jalanan benar-benar lengang, tidak seperti biasa yang selalu ramai orang. Rumah-rumah di sebelah kos pun tak ubahnya seperti kuburan. Semua terlelap dan mengkeret di balik selimut di kamar di rumah masing-masing rupanya. Orang-orang tak hendak bercengkerama di beranda seperti biasa. Tak hendak memergoki anak-anak kos yang hobi pulang larut malam.

Kami memasuki pagar besi yang berderencing lirih. Kami tak kepengin mengganggu ketenteraman mimpi orang-orang yang tentu akan menggebuki kami sepanjang malam seandainya kami bergedebuk tak keruan. Sebelum memasuki pagar, kami sudah mematikan mesin motor. Kami menstandarkan motor lantas duduk-duduk di kursi beranda rehat sejenak sehabis diterjang sepasukan tetes hujan yang tak berperasaan.

Di tengah kesunyian itu, nafsu berahi terbit dengan tak disangka-sangka dan kami tak kuasa menolaknya. Asmara yang kian mendalam membuat kami susah menahan diri. Apalagi, kami merasa, kini tinggal kami yang masih tersisa di Bumi ini. Kami awasi tidak bakal ada orang yang memergoki kami. Perhitungan kami sebegitu yakinnya hingga kami tak sungkan lagi melepas berahi dan berbuat mesum di tengah malam yang melarut pelan-pelan.

Tapi gorden di jendela di sebuah rumah di depan kos tiba-tiba tersingkap. Ketersingkapannya membuat segitiga yang aneh, yang dilatarbelakangi oleh sinar lampu berwarna putih di ruang tamu. Sinar lampu neon itu berbentuk segitiga dengan sudut 45 derajat. Sinar berwujud segitiga 45 derajat itu menampakkan terali jendela dan amat mencolok di tengah nuansa di sekitarnya yang nyaris gulita.

Kami tercenung berpikir dan mengawasi gorden itu. Adakah seseorang atau beberapa orang yang mengintip segala perbuatan kami di beranda? Mengapa ia atau mereka melakukannya? Kami benar-benar tak habis pikir. Gorden itu mendadak tertutup kembali dengan gerakan yang sangat tak wajar seusai kami mengawasinya. Segitiga bersudut 45 derajat itu lenyap dan gorden gelap terbentang sempurna menutupi jendela.

Sembari terduduk diam, kami menghela nafas berulang-ulang karena telah kecolongan. Bumi yang kami ketahui hanya berisi kami belaka tiba-tiba penuh sesak oleh orang-orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Memasang mata dan kepala untuk mengurusi kepentingan orang lain. Walau di luar kelihatan sepi dan sunyi, kami merasa semua tetangga telah dan tengah terjaga dengan mata yang menyala-nyala. Mereka kami rasai lagi menanti tindakan kami selanjutnya. Orang-orang seakan sedang memusatkan perhatian ke beranda kos kami dengan teropong yang siap-siaga.

Kami mendadak jadi bintang panggung dalam semalam yang sedang disorak-soraii penggemar. Penggemar-penggemar yang memiliki fanatisme luar-biasa terhadap idolanya. Penggemar yang selalu meniru segala tingkah-laku sang idola dengan tak jemu-jemu. Penggemar yang tak mengerti bahwa idolanya sebenarnya seperti mereka juga: selalu khilaf, selalu butuh istirahat, dan terkadang kepengin melakukan maksiat.

Amboi, salahkah perbuatan yang barusan kami lakukan? Tak bolehkah anak kos biasa dengan filosofi hemat, cepat, dan praktis melepas berahi yang sudah tak tertahankan lagi? Asyikkah mengintip perbuatan mesum orang lain? Mestikah harus mengintip? Mengapa tidak membuka jendela saja lebar-lebar supaya jelas menyaksikan apa yang kami lakukan? Mengapa semua orang harus melakukan sesuatu dengan diam-diam? Sudah hilangkah sikap terus-terang dari perbendaharaan orang-orang?

Kami berbuat mesum dan beberapa orang telah mengintip kami. Oh, alangkah pegecutnya. Kami merasa privasi kami dikangkangi. Seolah-olah, kami sedang berak dan orang-orang menonton bersama-sama. Seakan-akan, berak adalah kegiatan yang amat langka di dunia sehingga perlu ditonton dengan saksama.

Kami hanya anak kos biasa yang segan mengusik ketenteraman orang. Kami hanya menyalurkan hasrat individual yang semua orang pasti mempunyainya. Adakah salah menyalurkan hasrat? Apakah keliru jika suatu kali seorang manusia memerlukan berbuat maksiat?

Salahkah ketika cinta bersemi dari hubungan antarmanusia? Asmara bisa terbit kapan saja tanpa seorang pun menghendaki atau mencegahnya. Asmara bisa datang kepada orang yang sekali pun tak pernah mengenal, bisa pula mengadang dua orang sahabat yang saling mengenal selama bertahun-tahun. Dan, tatkala asmara yang abstrak di antara dua sejoli mesti dikonkretkan, cinta yang menderu-gebu mesti dinyatakan, salahkah itu semua? Apa kepentingan orang-orang untuk mencampurinya?

Berjuta-juta orang berkasih-kasihan. Banyak di antara mereka memaknai cinta yang suci sebagai berahi. Beberapa pecinta terperosok ke lubang yang dilarang kaidah-kaidah kesusilaan. Mereka menjadi pecinta terlarang tanpa mengerti di mana letak kesalahannya. Mereka hanya menjalani naluri dan kodrat kemanusiaan. Mereka hanyalah manusia biasa yang bertingkah-polah sebagaimana manusia pada umumnya.

Melalui sehelai gorden, semua orang dengan amat nyata telah menghakimi kami malam itu. Kami disudutkan dalam pengadilan tanpa pembelaan. Tiada seorang pun mendukung kami. Semua bertekad bulat, menjadikan kami sebagai seterunya dan berniat menumpas kami dengan sepenuh jiwa. Buah khuldi telah kami makan dan hukuman tengah disiapkan.

Semua orang berbondong-bondong ke arah kami. Tangan mereka menggenggam obor dan pisau belati. Pisau belati untuk menikam kami, obor untuk memanggang kami hidup-hidup. Kami adalah setan yang mesti dibinasakan. Orang-orang berteriak-teriak dalam kemurkaan yang tak mampu terjabarkan bahasa. Teriakan seseorang memicu teriakan yang lain. Semua tenggelam dalam lautan kemarahan.

Kami tercekat. Kami terpojok. Kalau hidup tersusun dari konsekuensi-konsekuensi, kami ikhlas dan pasrah menghadapinya. Tidak ada gunanya melawan kemapanan. Kemapanan yang bilang bahwa berbuat mesum malam-malam di depan kos adalah sebentuk pelanggaran yang tak termaafkan.

***

KAMI terduduk dalam diam di kursi yang disediakan bapak kos di beranda. Kami menghela nafas menanti dalam detak jam yang kian kencang kian mencekam, ditingkahi hujan yang jatuh rintik-rintik ritmik. Gorden itu tak jua menyingkap kembali. Gorden itu tak pernah bergerak-gerak lagi.

Mangkang City, 22032012, 01012014