Childhood is measured out by sounds and smells and sights, before the dark hour of reason grows. ~ John Betjeman 

Adakah anak-anak di antara kalian yang selepas pulang sekolah bermain di lapangan tanpa membawa kotak-kotak menyala? Adakah anak kecil di antara kalian yang berani berkotoran di kubangan lumpur sambil hujan-hujanan?

Pertanyaan itu adalah sebuah refleksi dari perubahan zaman. Dulu, sebelum ada benda kotak-kotak menyala (sebutan untuk ponsel pintar), lapangan selalu ramai. Ketika hujan turun, anak-anak berbondong berlarian ke sana-kemari. 

Tidak ada yang salah pada perubahan zaman apalagi ponsel pintar. Yang salah adalah peran pendidikan dari orang tua dan lingkungan sekitar. Orang tua melarang anaknya bermain ponsel pintar tapi orang tuanya sendiri menghabiskan berjam-jam dengan benda itu. 

Dan yang lebih mengerikan dari semua itu adalah ketika anak-anak melupakan kebudayaan mereka sendiri karena terpapar kebudayaan luar yang semakin menggurita lewat kotak-kotak menyala itu.

Anak-anak lebih suka tarian ala Korea, melupakan tarian Betawi misalnya. Mereka lebih memilih memamerkan kemampuan bahasa Inggris sementara bahasa daerahnya masih nol besar. Mereka lebih tahu seluk-beluk superhero Kapten Amerika dari pada Gatotkaca. Orang tua pun malah bangga akan pilihan anaknya itu karena orang tuanya sendiri juga melakukan hal yang sama.

Bagaimana jika anak-anak tumbuh dengan varian budaya luar tanpa bisa dikontrol? Maka ketika mereka tumbuh dewasa, mereka hanya tahu budaya luar. 

Lihat saja, orang-orang dewasa saja sudah berani membeli replika kartun Jepang kesayangan mereka hingga ratusan juta rupiah. Rela pergi ke Korea Selatan hanya untuk menonton konser boyband kesukaan mereka dengan harga tiket senilai jutaan rupiah. Sementara ketika ditanya tentang pencipta lagu Gugur Bunga, mereka diam seribu bahasa.

Revolusi industri 4.0 semakin membuka pusaran globalisasi dalam mengenalkan kebudayaan luar. Korea Selatan melalui Hallyu Action Plan atau Korean Wave benar-benar serius menggelontorkan puluhan miliar dolar agar budaya mereka semakin dikenal dunia. Pun pundi-pundi dolar mereka dapatkan dari negara yang mengonsumsi kebudayaan mereka.

Disusul oleh Amerika Serikat, Cina, dan Jepang, negara tersebut adalah contoh nyata dari ancaman pergeseran budaya lokal.

Membatasi anak-anak dalam menggunakan ponsel pintar perlu diutamakan karena dapat mengurangi paparan budaya luar. Jika sebelumnya anak-anak menggunakan ponsel pintar lebih dari 5 jam sehari, maka anjurkan mereka menggunakan selama 4 jam saja dalam sehari.

Selanjutnya, usahakan agar mereka semakin mengurangi waktu penggunaan ponsel pintar. Di samping itu, orang tua juga perlu menjauhi dari pandangan anak ketika sedang menggunakan ponsel pintar.

Pendidikan dari orang tua dan lingkungan sekitar akan membentuk karakter budaya sang anak di masa depan. Selama 24 jam penuh, hanya sekitar 8 jam dihabiskan di sekolah sementara 16 jam lainnya dihabiskan oleh anak-anak di rumah dan lingkungan sekitar rumah. 

Artinya, 16 jam adalah masa golden time untuk mempraktikkan pelajaran karakter budaya yang anak-anak dapatkan dari sekolah di rumah atau lingkungan sekitar rumah.

Beberapa pelajaran karakter budaya seperti bahasa daerah, jenis-jenis tarian, musik tradisional, dan berbagai macam kebudayaan lainnya sebagai ciri khas bangsa Indonesia sudah mereka hafalkan. Kurikulum Tematik sudah jauh lebih baik karena mengikutsertakan pendidikan karakter di setiap materinya. Hanya saja, lagi-lagi masa golden time anak lebih banyak dilakukan di luar sekolah.

Anak-anak mudah meniru apa yang mereka lihat, dengar, dan raba. Aktivitas melihat dari mereka terpusat di masa golden time. Waktu emas itu sangat disayangkan jika hanya fokus pada layar ponsel pintar.

Anak-anak sering kali mendengar dari hasil percakapannya di lingkaran pergaulan. Mereka lebih memilih berada dalam zona nyaman pergaulan. 

Lingkungan sekitar rumah yang menggunakan bahasa gaul akan membuat mereka merasa nyaman dengan bahasa gaul itu lalu lambat laun melupakan bahasa lokal. Jika mereka meninggalkan bahasa gaul, konsekuensinya mereka harus mencari lingkaran pergaulan yang baru.

Barangkali bahasa gaul dikenalkan dalam sinetron-sinetron di TV atau video-video di jagat maya. Anak-anak merasa bangga bisa meniru logat penggemarnya sehingga menirukan itu dalam pergaulan sehari-hari.

Dunia digital tidak bisa ditinggalkan namun pengaruh buruknya bisa diminimalisasi. Selama pergaulan anak-anak berada dalam pengawasan orang tua dan perhatian dari lingkungan sekitar, persoalan melupakan budaya lokal atau daerah tidak akan muncul dan menular. Sebagaimana virus, satu orang terkena virus budaya luar, orang lainnya bisa saja ikut-ikutan atas dalih pergaulan.

Pendidikan bukanlah tanggung jawab guru dan pemerintah semata. Orang tua dan masyarakat sekitar juga memiliki beban moral dalam mengajarkan anak-anak tentang budaya. 

Rupa budaya beberapa tahun mendatang bukanlah sebatas teori dan pelajaran yang masuk dalam soal ujian melainkan sebuah praktik konkret yang terus diwariskan dalam masa golden time anak di kehidupan sehari-harinya. Anak sebagai generasi bangsa pun bisa terus menjaganya ketika dewasa nanti.