Kaum wanita harus berani bergerak, bukan menjadi sarana pemuas sistem pembayaran.

Ketika kasus kejahatan terhadap kaum perempuan semakin tinggi, maka tingkat kesetaraan gender pun semakin luntur. Orang tidak lagi memandang sesamanya (baca: kaum perempuan) sebagai subjek tetapi sebagai objek pemuas dahaga. 

Itulah zaman dimana kita semua hidup. Pemuasan yang tinggi kepada objek memperjelas kedudukan kita sebagai makhluk yang sangat memuja kenikmatan. Kenikmatan tersebut bersumber dari rasa (feel) yang kemudian menjadi sarana bagi kita untuk bergerak lebih jauh ke dalam yakni tindakan (do).

Bagaimana saya dapat mewujudkan rasa ini? Inilah pertanyaan yang sering kita jumpai, bahwa kerapkali manusia zaman ini merasa bingung untuk merealisasikan rasa yang ada pada dirinya. Bahkan, dari kebingungan mereka ini, tindakan yang mewarnai rasa tersebut menjadi gegabah alias hilang orientasi rasa. 

Orientasi rasa itulah yang menuntun orang menjadi mahkluk liar. Mahkluk liar yang dimaksudkan di sini yakni ketidakmampuan kita dalam mengontrol rasa dan emosi dalam diri.

Orang zaman sekarang menjadi liar. Sekali lagi, sumber keliaran tersebut mengandung unsur psikologi. Dalam kondisi demikian, dimana ketika tubuh dan jiwa seseorang mengalami goncangan emosi yang hebat, ia akan berusaha mencari sarana pemuas. Sarana pemuas kadang bisa bersifat positif, misalnya orang akan mencari pelampiasan dengan bermain basket atau olahraga lainnya. Namun, tidak jarang dijumpai sarana pemuas ini berubah rupa menjadi energi negatif. Dari energi negatif itu, orang lalu cenderung mencari yang lemah. 

Yang dimaksudkan dari yang lemah adalah mereka yang kuasanya tidak lebih tinggi daripada mereka yang sedang mengalami goncangan negatif. Banyak kasus dapat kita jumpai ketika orang berubah rupa menjadi ‘ganas’, terrible, sehingga terkadang kita lalu bertanya, ”Kok, bisa ya ia bertindak demikian?!” Seperti seorang ayah yang tega memperkosa anaknya, saudara kandung menggunduli adiknya dan masih banyak hal yang turut menjadi warna hitam bagi kehidupan kaum hawa. 

Kaum hawa makin tersisih oleh kehadiran orientasi rasa yang tidak beraturan. Peranan kaum perempuan pun seolah terlihat lebay di mata publik. Mereka tampak kuat dan tangguh didepan kamera umum, tetapi agak sulit menutupi kebohongan ekspresi bahwa mereka sedang tak kuat. Mereka sedang galau oleh karena kesulitan mengakses data keluar. Mereka terbelenggu oleh budak para orientasi rasa.

Banyak kasus yang dapat kita jumpai, dimana kaum perempuan tidak bisa membuka suara ke hadapan masyarakat umum. Kesulitan utama ketika mereka sudah terjerat kasus-kasus seperti pemerkosaan, mereka cenderung merasa takut. Entah karena mendapat ancaman oleh pelaku, tetapi juga karena tekanan mental dalam diri mereka yang belum mampu mereka atasi sendiri. 

Disinilah dibutuhkan kehadiran seorang sahabat. Sahabat adalah pandangan umum. Sahabat dapat kita artikan sebagai orang terdekat, misalnya ibu kita. Saya memahami hal ini tidaklah mudah, bagaimana jika sahabat itu yang bertindak demikian? Kemanakah harus melangkah? 

Pertanyaan tersebut mau mengantar kita kepada sebuah realitas keterbukaan. Apa itu? Realitas keterbukaan adalah sebuah realita yang mana ia dengan jujur menampilkan materi riil semata, tanpa direkayasa. Realitas keterbukaan menuntut mereka – kaum perempuan – yang dijajah karena budak seks harus berani keluar untuk membuka kain hitam rekaan sutradara Sang Orientasi rasa.

Adalah bahayanya ketika kaum perempuan dibiarkan terus-menerus tinggal dalam rangkulan para hidung belang. Hidung belang zaman ini sudah banyak berevolusi ke dalam zat-zat terkecil dari kehidupan seorang perempuan. Seperti pada bagian di atas saya mengatakan bagaimana jika ‘sahabat’ tersebutlah yang menjadi pelaku? 

Ini tak dapat kita hindari karena sudah terjadi. Sudah banyak bukti, namun masih sulit tereksekusi. Zat-zat kecil yang telah berevolusi ini lama-kelamaan menjadi virus. Virus yang lalu kita kenal dengan istilah ketidaksetaraan. Ketidaksetaraan ini berkembang karena banyaknya kaum perempuan yang hanya menjadi obat bagi para hidung belang, entah mereka yang disebut ‘suami’ dan memang yang disebut hidung belang sungguhan. 

Kaum perempuan belum dapat menjadi ‘asap’ untuk mengusir nyamuk. Konsep virus adalah menyebar. Menyebar sehingga membuat kerusakan pada sistem. Lalu, kalau sistem tersebut sudah rusak apa yang akan terjadi? Keping-keping penyesalan. Sekali lagi ini perlu disuarakan agar ketidaksetaran boleh menjadi setara kembali.

Ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki, gender, adalah permasalahan yang kompleks. Kompleks dalam artian karena ini bukan menjadi hal yang baru bagi kita, terlebih bagi para pejuang kaum perempuan gumuli dari tahun ke tahun. Hal yang paling mencolok adalah data dari KOMNAS Perempuan yang menunjukkan hampir setiap tahun kasus kekerasan terhadap perempuan terus meningkat. 

Ini terlihat dalam data tahun 2016 dari 34 provinsi berjumlah 16.217 dan bahkan kasus yang terjadi kebanyakan melibatkan personal yang merasa dirinya ditipu oleh kedok-kedok kemunafikan. Kasus diskriminasi yang merorong kaum perempuan seolah menunjukkan bahwa mereka adalah kaum yang lemah. Diskriminasi yang terjadi selalu bervariasi, tetapi tetap memperlihatkan satu kesatuan yang utuh yakni menyudutkan kaum perempuan. Seperti marginilisasi, pelabelan, streotipe, beban ganda, violence (fisik maupun mental), dan subordinasi.

Banyak anggapan terlebih dari para lelaki bahwa kaum perempuan adalah perwujudan antara sumur-dapur-kasur. Tidak lebih dan tidak kurang. Inilah yang mendasari kenapa kaum perempuan selalu dipandang rendah. Padahal, sikap macam ini tidak mencerminkan sesuai dengan kodrat kita sebagai manusia, perempuan dan laki-laki. 

Kodrat perempuan adalah adanya payudara, vagina, menstruasi, ovarium dan sel telur. Sedangkan kodrat laki-laki adalah adanya penis, testis dan sperma. Dan lahirnya ketidaksetaraan gender karena masyarakat kita cenderung keliru mengartikannya sebagai kodrat. 

Orang biasa berkata, “Itu ‘kan udah tugas kamu sebagai istri untuk mendidik anak-anak”. Lihatlah bagaimana konsep tersebut mengekang konsepsi masyarakat kita, secara khusus kaum lelaki terjebak pada paham ini. Hal tersebut menjadikan kaum perempuan sering dipandang sebelah mata dalam masyarakat.

Kesetaraan dan keadilan adalah tujuan kita bersama dalam menjalani hidup untuk kesejahteraan bersama. Baik laki-laki atau pun perempuan harus disejajarkan dalam satu takaran yang sama.  Tidak perlu suara manis yang keluar bahwa laki-laki lebih hebat daripada perempuan. Zaman sudah berubah. Menengok bagaimana peran perempuan Arab yang sudah diijinkan untuk mengemudikan mobil, perempuan Indonesia yang berkerja di Go-Jek dan masih banyak pengalaman hidup para perempuan yang berjuang untuk kesetaraan hidup. 

Tak dapat dipungkiri lagi kita melihat kaum perempuan yang berani berdiri tegak di panggung politik, Sri Mulyani (Menteri Keungan), Susi Pujiastuti (Menteri Kelautan), Tsamara Amany (Ketua PSI), dan lebih jauh kita kenal ada Margareth Thatcher, Iron Lady, (Perdana Menteri pertama perempuan Inggris).

Dengan demikian, sebuah optimisme rasional bahwa pergerakan kaum perempuan dalam berjuang untuk keadilan dan kesetaraan gender dapat terwujud dengan menyingkirkan berbagai paham tradisional (dapat saya samakan dengan paham kampungan ‘Jawa : Ndeso’). 

Sistem patriarki yang ada dalam kebudayaan Indonesia memang masih mengakar kuat, namun bukan sebuah kemustahilan untuk dibentuk dan diubah. Kita dapat mengukur fakta bahwa jumlah penduduk perempuan Indonesia yang berkisar sekitar 49,9% dari rata-rata penduduk Indonesia. Suatu pontensi yang baik untuk kemajuan dan peningkatan kualitas kaum perempuan. 

Untuk itu saya mengajak para kaum perempuan agar berani bergerak keluar untuk membina diri serta kualitas-kualitas yang ada pada masing-masing individu. Perempuan harus berani dan tegas mengembangkan niat dan tekad demi keadilan dan kesetaraan. 

Terwujudnya kesempatan itu ketika kaum lelaki juga tidak lagi mengutarakan sikap diskriminasi. Kita adalah mahkluk ciptaan yang sekali lagi diciptakan menurut hakekat dan citra Sang Pencipta. Maka, sikap dan semangat menghormati martabat kuam perempuan adalah hal mutlak bersama.

Peran perempuan sangat sentral, karena dipercaya mampu menjadi sarana dalam setiap aspek kehidupan. Sarana penghubung itu dapat berupa komunikasi. Perempuan menjadi penguasa kosakata terbanyak dibandingkan dengan kaum pria. Kasus diskriminasi adalah perbuatan yang sudah banyak kita jumpai dalam seluruh kehidupan manusia. 

Hal yang pada umumnya menimpa para korban adalah perempuan dan anak-anak. Diskriminasi gender akan berpengaruh terhadap perkembangan negara kita, terlebih pada proses pembangunan SDA dan SDM. Sebab, sekali lagi ditegaskan bahwa kaum perempuan adalah kaum yang sentra. Dan dapat diprediksi kemajuan ke dapan bangsa kita akan sangat bergantung kepada kaum perempuan. 

Perempuan akan segera memegang kabel roll kehidupan. Ke mana negara kita bertolak, tanyakanlah kepada kaum perempuan. Walaupun sering dan masih dilanda oleh isu-isu mengenai trafiking perempuan dan anak, KDRT, TKW Luar Negeri, HIV/Aids, Narkoba dan pornografi. 

Akan tetapi, dengan adanya sarana-sarana pemberdayaan kaum perempuan: penyadaran gender di masyarakat, pembaruan dan pengembangan hukum dan peraturan Undang-undang yang memberikan perlindungan (seperti baru-baru ini para kalangan aktivis perempuan mendorong DPR untuk segera mensahkan hukum ini), dan pengembangan kemitrajajaran harmonis.

Dari situ, kita dapat belajar menjadi orang yang bagaimana melihat gender bukan terutama sebagai pemisah, melainkan sebagai penyatu. Perempuan dan laki-laki adalah sama dalam arti untuk membangun kehidupan bangsa. Tanpa perempuan yang bertindak sebagai penyeimbang maka tidak mungkinlah terjadi sebuah pembangunan bangsa yang beradab. 

Hak kaum perempuan harus terus diperjuangkan, sehingga tidak memunculkan emak-emak berbicara dalam ranah politik sebab hak tidak diperhatikan. Dan juga tanpa laki-laki yang menjadi penyanggah tiang kehidupan juga niscaya ketimpangan pembangunan juga terbelangkai. Sekali laga ditegaskan bersama bahwa sikap diskriminasi gender masih terus terjadi jika di antara kita tidak berusaha membangun sikap egaliter, saling menghargai, kosmopolit, dan lintas budaya.

Ini adalah sebuah wacana bagaimana saya mengajak kita – kaum lelaki – agar dalam kehidupan bersama (keluarga-komunitas- tingkat sosial) perlu memberi respect terhadap para perempuan. Mereka bukan alat yang dengan mudah dibayar, mereka juga bukan sarana pemuas orientasi rasa, mereka juga bukan objek untuk disedot kenikmatannya, mereka adalah subjek, persis seperti saya (dan anda kaum lelaki yang membaca tulisan ini). 

Mari kita jadikan kaum perempuan sebagai bagian dari civil society, bagian dari masyarakat dengan hak dan kewajiban yang sama. Sehingga ada sebuah istilah asing, “GO WOMAN, Not GO-PAY”. Kaum wanita harus berani bergerak bukan menjadi sarana pemuas sistem pembayaran.