Manusia, tidak ada waktu untuk melarikan diri dari kenyataan.

Dunia ini belum tua usianya. Artinya, peradaban dan sejarah umat manusia akan terus ada dengan berbagai dinamikanya. Manusia adalah satu kesatuan dari tubuh dan jiwa. 

Seperti tubuh, harus bisa segera beradaptasi di setiap lingkungan dan cuaca yang baru. Jiwa manusia dihantam bayang-bayang perkembangan dunia yang begitu cepat, yang tak tampak tapi hangat dirasakan. 

Ada dua pilihan, menjadi terkontaminasi dengan gerak era digital yang cepat atau mampu berjalan seiring sejalan dengan zaman, harapannya tidak ditinggal oleh zaman. Bahwa manusia, dalam berbagai dimensi kehidupan, biar bagaimanapun, tidak diperkenankan ‘melarikan diri’ dari gejolak kemajuan dunia.

Perkembangan dunia yang (mungkin) tak terkira, yang dihadapi umat manusia masa kini, bukanlah suatu takdir, juga bukanlah hasil seleksi alam. Ia merupakan suatu bentuk dari benturan pemikiran manusia dari waktu ke waktu, suatu dialektika yang tak berujung usianya.

Bahwa setiap hari manusia seperti kita, di belahan dunia lain, sedang menggumuli tatanan kehidupan ‘baru’ bagi kelangsungan hidup manusia. Mencari jalan keluar atas berbagai persoalan dunia yang tak habis-habisnya dipercakapkan sesama manusia, yang hampir tidak pernah selesai.

Milenialis Dipuja-puja

Untuk memajukan Indonesia, atau setidak-tidaknya manusia Indonesia yang keberatan digilas atau dilampaui kemajuan dunia, dari pucuk kekuasaan dan pilar-pilarnya hingga ke arus bawah kehidupan manusia, sudah dan sedang dilangsungkan gerakan milenial.

Milenialisasi sebagai upaya sadar gerakan suatu generasi yang menganggap melek terhadap era digital atau peradaban manusia yang kian kemari kian membingungkan bagi orang-orang awam.

Gerakan ini, dengan sadar, terus dikampanyekan oleh berbagai organisasi, komunitas, hingga instansi pemerintah. Gerakan ini baik adanya. Bahwa kenyataan-kenyataan perkembangan dunia di masa kini adalah seperti “polusi di suatu kota metropolitan yang tidak bisa dihindari, yang menjadi kawan bernafas setiap hari’. 

Generasi milenial adalah generasi “serba bisa”, yang di pundaknya, kebaikan bangsa dan negara dititipkan. Begitulah kira-kira isi kampanye perihal generasi milenial Indonesia.

Generasi Milenial, apa sesungguhnya ideologi gerakan generasi ini?

GMKI: Dialog dengan Diri Sendiri

Beberapa tahun belakangan, GMKI menjadi relatif dikenal secara luas. Sepak terjangnya menjaga NKRI hingga upaya mewujudkan Syallom Allah di tengah-tengah kondisi bangsa dan negara yang mengalami keretakan relasi hampir di semua sisi menjadi kian “terang”.

GMKI tidak cukup hanya dipahami sebagai lembaga mahasiswa Kristen terbesar di Indonesia. GMKI haruslah menjelma menjadi manusia, yang kesadarannya telah purna tentang tanggung jawabnya bagi gereja, bangsa, dan negara.

Apakah maksudnya?

Bahwa tidak semua mahasiswa Kristen ikut GMKI. Anggota GMKI yang aktif atau sudah senior pun sedikit banyak yang roh pedulinya terhadap kehidupan sekitarnya telah pupus; “saya mahasiswa – kuliah, ikut GMKI, lalu akhirnya di terima kerja. Itu saja tugas saya”.  Begitu dan seterusnya, dan telah banyak meng-generasi.

Selanjutnya, yang mengurus GMKI sebagai pengurus pun hanya melihat kesempatan mengisi struktur sebagai ajang popularitas, diakui, dibanggakan! Bahwa kesadaran mengukur kompetensi diri untuk urus baik-baik organisasi ini sangat dangkal. 

Narasi GMKI sebagai organisasi kader sekaligus organisasi pelayanan itu panas dibicarakan, tapi kenyataannya sungguh pahit; siapa yang telah merasakannya, Bung?

Ketika tulisan ini sampai di hadapan pembaca, jangan emosi! GMKI: Dialog dengan diri sendiri. Dialog-lah kawan!

Bung, GMKI ini ruang yang sangat luas untuk terus belajar bertanggung jawab, komitmen dan konsisten di garis perjuangan. GMKI juga sangat sempit sekali untuk menjadi ruang untuk “caci maki dan saling menjatuhkan sesama kita”. Akan tetapi, ruang dialogis sebagai pertemuan antarpikiran sebagai jiwa yang matang pun relatif belum efektif di antara kita.

Bung, kapan terakhir kita mempercakapkan bagaimana seharusnya kita mengurus gerakan ini? Percakapan itu, setidak-tidaknya untuk diri sendiri, bahwa apakah Yesus Kristus Sang Kepala Gerakan membutuhkan gerakan ini? 

Sejauh manakah kita menyaksikan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat melalui karya pelayanan kita? Atau, suatu hari ketika sedang serius mengolah gerakan ini lalu tiba-tiba kita merasakan kehadiran Kristus? Kristus memang tidak butuh GMKI.

Hai diriku, tuluskah engkau melayani digerakan ini? Hai diriku, layakkah engkau menyebutkan dirimu sebagai kader GMKI?

Akhir-akhir ini, dunia semakin kacau: relasi antara manusia dan sesamanya, antara manusia dan alam semesta, serta antara manusia dan Tuhanya, sungguh rusak parah! Sebagai manusia yang melayani dan menjadi kader di gerakan ini, saya banyak gagal memulihkan relasi yang rusak ini. 

Kadang-kadang saya menjadi sumber kagagalan bagi rekan saya. Juga kadang saya menjadi pemantik pembusukan nama baik kawan gerakan saya. Ada kalanya saya bersih keras bahwa saya-lah yang paling benar. Kalau seperti ini, benarlah bahwa Kristus tidak butuh gerakan ini. 

Kalau Kristus tidak butuh gerakan ini, jadi apa artinya kita di hadapan Kristus dengan memeluk erat gerakan ini?

Sejauh ini, apakah kita menyadari betul bahwa Kristus-lah yang memimpin gerekan ini?

Jadi begini, bung tentunya tahu banyak soal bagaimana sesorang dipimpin oleh Sang Kepala Gerakan; Kepemimpinanya terberkarti dan sungguh memberkati. Akan tetapi, menarik untuk kita simak ayat firman di bawah ini;

Lalu bangunlah Yesus, menanggalkan jubahNya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-muridNya lalu menyekaNya dengan kain yang terikat pada pinggangNya. – Yoh.13:4-5

Membasuh kaki merupakan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pelayan atau budak. Pada saat menjelang Paskah itu, tidak ada pelayan di ruangan itu. Pada saat yang sama, tidak ada satu pun di antara murid yang secara sukarela berinisiatif melakukan tugas yang dikerjakan oleh pelayan atau budak.

Pertanyaannya, mengapa tidak ada inisiatif dari para murid untuk melakukan pekerjaan para budak ini? “Itu adalah pekerjaan orang-orang kecil dan rendahan.” Mungkin saja begitu pikiran para murid di saat itu.

Tidak banyak berkata-kata, hanya sebuah pesan yang meluncur dari-Nya, “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” – Yoh.13:14-15

Jadi, Bung, kalau Kristus yang pimpin, kepemimpinan kita akan total dan tuntas untuk melayani tiap orang tanpa terkecuali dengan penuh cinta dan kasih yang tulus.

Hai diriku, autentikkah perjuanganmu?

GMKI sebagai sekolah teladan berarti manusianya haruslah terus-menerus melakukan dialog dan mengoreksi total perjuangannya. Sekolah teladan memang tidak akrab bagi kita. Di sekolah inilah GMKI harus hadir sebagai manusia (pengikut Kristus) yang menjadi cermin bagi semua orang untuk bercermin dan menata kehidupannya.