Pendidikan (pelatihan) dapat membentuk dan melahirkan pemimpin, tetapi juga penjahat.

GMKI tidak cukup hanya dipahami sebagai lembaga mahasiswa Kristen terbesar di Indonesia. GMKI haruslah menjelma menjadi manusia, yang kesadarannya telah purna tentang tanggung jawabnya bagi gereja, bangsa, dan negara (baca: GMKI, Sekolah Keteladanan).

Di GMKI, seharusnya nasionalisme dan oikumenis semata tidak cukup menjadi ukuran kepantasan seseorang yang keberadaannya sebagai kader GMKI yang memiliki tanggung jawab moral atas segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan dan kebaikan negara dan bangsa Indonesia.

Kita tahu bahwa nasionalis dan oikumenis merupakan dwiwatak GMKI, yang sebetulnya tidak dimliki oleh organisasi mahasiswa Kristen lainnya. Untuk itulah GMKI hadir sebagai organisasi pelayanan sekaligus organisasi kader.

Sebagai suatu pusat sekolah latihan bagi mahasiswa Kristen, GMKI mempersiapkan anggotanya menjadi pelayan sekaligus pemimpin di mana pun akhirnya mereka menjalani panggilan hidup. Kehadiran mereka di tengah-tengah panggilan hidup inilah, GMKI haruslah disamarkan menjadi manusia atau gereja yang hidup.

Sudah Sejauh Mana GMKI Menjadi Pusat Sekolah Latihan?

Amanat agung pendiri GMKI, Johanes Leimena dalam pidota pembentukan organisasi ini, saya pikir bukanlah pesan yang mudah. Menjadikan GMKI sebagai sekolah latihan berarti kita harus menjadi imamat bagi gerakan ini. Dengan begitu, kursus pelayanan dan pemimpin harus menjadi prioritas dalam mengurus gerakan ini.

Memasuki 69 tahun GMKI, kita harus berani berdialog; menyoal apakah GMKI telah benar-benar menjadi sekolah latihan bagi anggota-anggotanya? Jika “ya” adalah jawab kita, apakah yang menjadi indikator GMKI sebagai sekolah latihan atau telah benar-benar menjadi suatu pusat penempaan diri? Dan juga, bagaimana kita dapat memahami output GMKI sebagai sekolah latihan?

Secara lembaga, GMKI telah banyak berkontribusi bagi bangsa dan negara. Akan tetapi, daur ulang pengetahuan yang rusak (ketidaktahuan) sudah mesti menjadi misi GMKI di zaman yang “edan” ini. Daur ulang pengetahuan yang rusak adalah upaya sadar untuk keluar dari banyak hal yang kita tidak tahu; ataukah Bung dan Nona sudah tahu semuanya?

Saya banyak tidak tahu! Tahu bahwa banyak tidak tahu adalah pengetahuan, saya menyebutnya pengetahuan yang rusak. Dengan hadirnya sekolah latihan inilah pengetahuan yang rusak atau ketidaktahuan kita bisa diperbaiki. Maka ruang belajar yang fleksibel sebagai bentuk dari sekolah latihan dapat diakses dengan mudah oleh seluruh anggota GMKI.

Suatu Kritik bagi GMKI sebagai Sekolah Latihan  

Siapa yang bertanggung jawab atas amanat agung sang pendiri? Tinggi Iman, Tinggi Ilmu, dan Besar Pengabdian yang sering kita ucapkan di bagian akhir pidato sebelum amsalnya kita doakan, jika dipikirkan baik-baik, sungguh suatu profil yang utuh dan total bagi seorang kader. Atau bisa juga kita temui profil kader GMKI dalam amanat Pola Dasar Sistem Pendidikan Kader kita.

GMKI adalah orang-orangnya. Maka bagaimana pun keberadaannya sebagai lembaga, “orang-orangnya” punya tugas dan harus andil untuk memastikan bahwa organisasi tetap baik dalam pengertian bahwa kursus pelayanan dan kepemimpinan berumur panjang dalam konteksnya.

Tri Panji dan Profil kader yang termaktub dalam PDSPK sudah harus disadari sebagai suatu standar nilai bagi seluruh anggota GMKI. Dengan demikian, ketersediaan akses untuk menginternalisasi Tri Panji dan Profil kader melalui pelatihan ataupun kursus serta beraktivitas di dalam ruang belajar yang fleksibel, sebagaimana pada penjelasan sebelumnya, harus benar-benar menjadi perhatian penuh.

Menyoal Sekolah Latihan

Organisasi bisa bubar atau jika tidak, bisa pincang kalau proses internalisasi nila-nilai organisasi menjadi terabaikan. Proses internalisasi itu bisa diwadahi secara lembaga melalui kelas diskusi, selebaran, atau sekapur sirih dari mereka yang melek keluhuran organisasi.

Dalam banyak hal, literasi adalah pintu masuk menuju kebatinan organisasi. Seseorang yang telah berjuang ke dalam pelukan batin organisasi ialah yang kelak disebut manusia organisasi. Manusia organisasi merupakan pengertian lain tentang esensi organisasi yang menopang eksistensinya.

Hari ini, sebagian anggota tidak secara utuh memahami GMKI sebagai sekolah latihn. Antara lain, bagi sebagian anggota ini, mengikuti Maper dan mendapatkan sertifikat sudah cukup. Berbagai cara kita lakukan untuk menarik simpati dan animo mereka. Sayang, mereka kecanduan dalam zona nyaman.

Kecanduan candu dalam zona nyaman ini tampaknya hidup pula dalam sikap hidup beberapa anggota yang “aktif”. Hadir di setiap kegiatan, berkeringat untuk beberapa program lainnya, sambil mencari “kawan” yang sepadan.

Lain hal dengan fungsionaris. Kita terlalu banyak membuang-buang waktu untuk hal-hal remeh-temeh, statis sebagai perubahan atas diri sendiri, dinamis sebagai keangkuhan jabatan atau suatu kedirian.

GMKI sebagai sekolah latihan hanyalah jurus untuk menaklukan mahasiswa baru saja atau mereka yang belum sama sekali mengenal GMKI. Kita bertutur tentang Amanat Sekolah Latihan hingga mulut kita berbusa-busa dan mereka mendengar sambil menganganga – hari ini, kita belum berhasil menjadikannya sebagai sekolah latihan.

Anggota yang kita rekrut pun tidak banyak menyoal perihal kampanye kita. Kita semua merasa sudah cukup. Setiap hari kita hanya mondar-mandir di organisasi hingga waktunya tiba, apakah dalam bentuk pertanggungjawaban kepanitian ataupun pertanggungjawaban kepengurusan. Begitu seterusnya dalam setiap masa bakti.

Setalah membaca tulisan ini, (mungkin) kita akan mengelak dan berkata tulisan ini ngawur. Jangan lupa, saya menulis ini dalam keadaan sadar. Dalam kesadaran ini, GMKI harus benar-benar hadir sebagai kebutuhan generasi masa kini. Dan kita semua punya tanggung jawab yang sama untuk itu.

Bahwa orang-orang sekarang lebih banyak hidup di dalam suatu dunia yang mana waktu dihabiskan untuk game, hal-hal remeh-temeh, menceritakan rekan kelasnya selingkuh, atau sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk memotong dahan di mana orang lain duduk.

Oleh karena itu, GMKI sudah harus menjadi solusi untuk kenyataan yang mengkhawatirkan ini. Akan tetapi, sungguh menjadi masalah manakala “orang-orang” yang dimaksud di atas adalah kita semua. Perih, bukan?

Kesadaran Baru

GMKI sebagai sekolah latihan mengindikasikan bahwa ada aktivitas belajar yang tidak pernah selesai. Kita menjadikan GMKI sebagai wadah belajar dan semua anggota punya kesempatan yang sama untuk berbenah. Bahwa setiap kegiatan GMKI adalah kelas pelatihan bagi kita.

Bahwa setiap hari pertemuan kita adalah pertemuan pikiran. Percakapan kita adalah percakapan yang berujung kesadaran baru. Aktivitas kita merupakan proses menuju diri yang selesai dengan dirinya sendiri.

Saya berpikir bahwa sebaik-baiknya perjumpaan adalah yang menghadirkan kesadaran baru. Kesadaran baru merupakan keadaan di mana kita tahu apa yang kita tahu dan kita tahu apa yang kita tidak tahu; dan kita menepi di ujung percakapan seraya berkata, “Hai diriku, sungguh betapa sedikitnya yang engkau ketahui!”

Keadaan inilah yang akan mendorong kita untuk menertawakan perubahan dunia yang begitu cepat dan gila, lalu mendorong kita untuk bertumbuh dan berubah atas diri sendiri setiap saat.

Dengan demikian, hasil akhir dari perubahan atas diri sendiri menginspirasi orang lain untuk terus belajar dan hidup lebih baik dari ke hari. Dan kita akan terkejut karena kita bertumbuh dan menjadi inspirasi. Manakala kita tidak terkejut atas tahu dan ketidaktahuan kita, maka akal kita sedang tidak sehat.

Paradoks Sekolah Latihan

Sebagai sekolah latihan, kita sudah berlatih sampai di level mana? 

Hari ini, semua orang yang kita jumpai dalam semua dimensi kehidupan telah melawati suatu proses sekolah latihan tertentu: pejabat pemerintah, politisi, pengamat, aktivis, dan akademisi. Tidak hanya itu, kita juga punya penjahat yang tidak sedikit: koruptor, pencemoh, pengkhianat, dan juga pecundang!

Kita belum tahu akan menjadi apa dan siapa dalam proses pelatiahn kita. Solanya, dalam banyak hal kita telah berlatih curang, tidak adil, menang sendiri, mengkhianti dan menjatuhkan sesama kita dalam kelas-kelas pembelajaran

Kita bisa saja menjadi pemimpin dan pelayan yang mencerahkan di akhir proses belajar kita, tetapi peluang menjadi pecundang pun tidak bisa kita sangsikan.