Sepintas saat saya melihat video berdurasi kurang dari 3 menit di akun Instagram @indoflashlight, tidak ada sesuatu yang spesial. Yang tampak hanya sebuah gambar hewan terdekat dengan manusia, berjenis orang utan yang terbaring.

Terlihat raut wajah biasa-biasa saja, seperti wajah orang utan pada umumnya. Namun, kesan saya berubah setelah saya melihat secara saksama video tersebut.

Bayi orang utan itu dinamakan Gito oleh para animals care dan pemerhati lingkungan. Apa yang berbeda dari Gito dan bayi orang utan lainnya? Iya, perbedaannya Gito sepertinya belum beruntung untuk hak hidup dan hak kepemilikan tempat tinggalnya.

Mengapa demikian? Hak atas hidupnya sendiri hampir direnggut akibat pembakaran lahan. Gito tampak terbaring kaku dengan kulit melepuh akibat panasnya api dan bulunya berguguran. Beruntung Gito diselamatkan cepat sebelum dia menjadi seperti nasib lahan yang dibakar. Saya yakin Gito cukup trauma atas kondisi yang dialaminya.

Begitu juga dengan hak atas tempat tinggal Gito pun tidak luput dari pembalakan liar hutan. Entah atas alasan apa pembakaran dan pembalakan hutan dilakukan. Sampai-sampai ekosistem yang ada di dalammnya terkesan diabaikan. 

Dan sayangnya, melalui akun @indoflashlight, tidak dapat terkonfirmasi siapa pelaku dan motif dari pembakaran. Entah siapa pelaku pembakaran, dan sesuatu hal yang pasti tidak mungkin Gito ataupun sepupu-sepupunya. Dan tidak mungkin pula tumbuhan yang membakar dirinya sendiri.

Di sini saya sedang tidak berusaha untuk melakukan identifikasi serta penelusuran pelaku pembakaran. Mengingat kapasitas saya tidak sampai untuk hal ini.

Di area yang sama, dari Kalimantan, kekerasan dilakukan oleh beberapa manusia terhadap seekor induk orang utan. Dengan melemparkan batu tanpa henti, orang utan ini berusaha menghindarinya, namun apa daya itu tidak dapat dilakukannya. Karena jika dia menghindar dari amukan manusia, bisa-bisa anaknya tidak dapat dia lindungi.

Kebengisan manusia tidak berhenti sampai melempar batu saja, mereka mencoba merebut dan memisahkan anak orang utan dari induknya. Walau dalam keadaan terluka dan sekarat akibat lemparan batu, induk orang utan ini tetap mempertahankan anaknya. 

Namun, kondisinya tidak membuat manusia-manusia ini menghentikan tindakannya. Dalam sitiasi seperti ini, mereka malah mengambil kesempatan untuk mengikat induk orang utan sekaligus mengurungnya.

Dari apa yang terjadi di atas tidak lebih dari kondisi di mana ruang hidup bagi hewan sudah sangat sempit. Akses untuk memperoleh makanan untuk hidup tidak lagi tersedia di hutan. 

Hutan sebagai rumah dan ruang hidup tidak lagi memadai untuk mereka. Pembukaan lahan dan perambahan hutan atau pengalihfungsian lingkungan hutan menjadi alasan mengapa ruang hidup mereka (hewan) semakin sempit.

Ketersediaan kawasan hutan untuk menampung ribuan kehidupan tidak lagi memadai. Perebutan akses terhadap makanan dan ruang hidup pun terjadi di antara hewan penghuni ekosistem hutan. 

Bagi mereka yang tidak mampu dan tersingkir dari perebutan, maka harus mencari alternatif. Karena tuntutan untuk tetap hidup, maka mengharuskan mereka (hewan) bergerak memasuki kawasan yang bukan untuk mereka (hewan).

Kawasan ini, apa lagi kalau bukan permukiman manusia. Masuknya hewan di permukiman manusia menciptakan kondisi tersendiri. 

Bagi mereka (manusia) yang paham akan hak hidup bagi makhluk hidup lainnya, mungkin akan merespons dengan tindakan menerima kehadiran mereka (hewan). Namun, jika manusia yang sama sekali tidak memiliki pemahaman itu, sudah pasti yang terjadi seperti apa yang dialami oleh Gito di atas.

Kekerasan yang terjadi teradap hewan tidak lebih dari gambaran atas konflik ruang hidup. Konflik ruang hidup merupakan perkara dalam diskusi animal rights. 

Cochrane dengan gagasan menjadi peletak dasar atas konsep animal rights hadir. Cochrane (Anggilah bayu, 2018) melihat bahwa hewan memiliki minat yang sama dengan manusia untuk melanjutkan kehidupannya. Ia menambahkan pembunuhan binatang untuk kebutuhan manusia tanpa memperhatikan kelangsungan hidup hewan di masa yang akan datang sebagai sesuatu yang bermasalah.

Cochrane meyakini jika kekuatan minat makhluk hidup (hewan dan manusia) untuk melanjutkan kehidupannya ditentukan oleh dua faktor: bagaimana kondisi pemuas kebutuhan makhluk hidup tersebut dan ketidakpastian akan pemenuhan kebutuhan di masa mendatang. 

Dari kondisi ini, mungkin bagi manusia bukanlah perkara pelik. Dengan dukungan pengetahuan dan perangkat teknologi pemenuhan kebutuhan baik saat ini dan ke depannya dapat dipenuhi.

Lain halnya dengan hewan, perihal keinginan dan kemampuan memenuhi kebutuhan jangka panjang tidak dimiliki. Atas dasar inilah manusia sebagai makhluk paling kompleks dan bertanggung jawab atas keberlangsungan makhluk lainnya, bukan malah hadir sebagai penghukum dan pengeksploitasi. 

Melalui gerakan animal rights, Anggilah Bayu dalam penelitiannya Perebutan Ruang Kehidupan dan Gangguan terhadap Animal Rights; Studi atas Konflik Satwa–Manusia sebagai Implikasi dari Ekspansi Perkebunan Sawit di Indonesia, menganggap dapat mendorong pembahasan terkait kekejaman terhadap hewan, efisiensi, produktivitas, pengetahuan, kemajuan medis, dan keamanan produk bertanggung jawab atas sebagian besar terhadap penderitaan hewan.

Namun, gerakan animal rights belakangan tidak luput dari kritik. Gerakan ini dianggap tidak tepat, mengingat manusia mencoba menempatkan hak asasi manusia pada hewan. Dengan asumsi dasar bahwa hewan tidak memiliki sifat dan berbagai keinginan yang terus-menerus ada seperti manusia. 

Meskipun begitu, gerakan ini telah menjadi arus utama dalam memperjuangkan hal yang paling sederhana namun sangat mendasar, yaitu  hak untuk hidup.