Hari-hari ini, ramai orang meneriakkan kebencian terhadap etnis Tionghoa. Orang-orang itu membentuk stigma bahwa etnis Tionghoa/Cina pasti kapitalis dan ingin menghisap kekayaan milik pribumi, sang penjajah. 

Dengan segenap kebencian yang meluap, golongan anti-Tionghoa tersebut bahkan melarang seseorang yang beretnis Tionghoa untuk menjadi pemimpin daerah, apalagi agamanya bukan merupakan agama mayoritas di negeri ini.  

Mereka tak pernah merenung bahwa identitas tak bisa dipilih oleh manusia. Seseorang lahir ke dunia tanpa bisa memilih lahir dari orang tua yang mana, status sosial yang bagaimana, agama apa, warna kulit seperti apa, dan tentu saja tidak bisa memilih etnisnya sendiri.

Berbicara tentang manusia, seharusnya lebih menekankan idealisme dan pemikirannya ketimbang identitasnya. Karena jika mempermasalahkan tentang SARA, maka seorang idealis yang brilian pun hanya akan dipandang sebelah mata.  

Jauh sebelum manusia-manusia kini kisruh perkara SARA, seseorang dari kalangan minoritas beretnis Tionghoa dan beragama Katolik akan membuat kita sejenak berhenti berdebat tentang identitas. Kontribusinya membuat identitas yang melekat dalam dirinya menjadi tidak terlalu penting.

Dia bukan mantan pejabat, dia bukan orang partai politik, dia bahkan tak begitu berkuasa di zamannya. Dia hanyalah mahasiswa yang kemudian menjadi dosen, aktivis, pencinta alam, dan seorang penulis. Profesi-profesi yang biasa saja sebenarnya. 

Lantas mengapa ia istimewa? Karena ia memiliki keberanian dan idealisme yang tak pernah bisa dibeli dengan uang atau jabatan mentereng sekalipun. Padahal segala kemewahan sudah di depan matanya. Dia menolak semua yang bisa memengaruhi keberpihakannya terhadap kebenaran.

Ah ya, satu lagi, karena dia mati muda, dalam usia 27 tahun, di Gunung Semeru. Jika ia tak mati muda, ia tak akan menjadi sosok yang spesial.

Dia tidak lain adalah Soe Hok Gie alias Gie. Adik dari Arief Budiman ini mungkin memiliki begitu banyak sisi untuk diceritakan. Namun tak ada yang lebih menarik kecuali sisi kontradiktif dari pendirian Gie. Suatu ketika ia akan mengkritik sesuatu/seseorang namun saat yang lain dia akan membelanya habis-habisan.

Sebenarnya, tak ada yang kontradiksi dari apa yang disampaikan Gie. Karena Gie sendiri tidak pernah mengkritik/membela persona, ideologi, organisasi, atau parpol. Dia membela kebenaran dan mengecam ketidakadilan. 

Gie tak pernah suka melihat apa yang tak pantas menari di depan matanya. Pena dan orasi Gie akan berbicara lantang jika dia menyaksikan penindasan. Dia tak pernah ragu mengambil posisi membela pihak yang teraniaya.

Gie, Sang Demonstran, memilih menyuarakan kebenaran daripada mengikuti pembenaran. Dia adalah pengkritik tajam Presiden Soekarno zaman Orla. Namun ia amat membenci perlakuan pemerintah Orde Baru terhadap simpatisan PKI/pengikut Soekarno.

Gie pernah berkata, “Saya putuskan bahwa saya akan melakukan demonstrasi karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.” Lalu dia pernah pula bilang, “Saya tak mau menjadi pohon bambu, saya hanya ingin menjadi pohon oak yang berani menentang angin.”

Kalimat-kalimatnya telah dia buktikan dalam perlawanannya kepada Presiden Soekarno. Pada tahun 1963, harga bahan-bahan kebutuhan pokok melambung tinggi. Para kapitalis memakan uang rakyat kecil. 

Gie bersama sahabatnya, Herman Lantang, melakukan aksi demonstrasi menanggapi hal ini. Gie adalah demonstrator yang ulung. Dia aktivis yang jujur menyatakan kebenciannya terhadap pemerintah Bung Karno.

Dalam bukunya yang berjudul “Catatan Seorang Demonstran”, Gie dengan tegas menyatakan, “Saya memang menyukai Bung Karno sebagai manusia, namun tidak sebagai pemimpin.” 

Makin sinislah sikapnya kepada founding father tersebut ketika dalam catatannya bertanggal 10 Desember 1959, dia menuliskan pengalamannya, “Siang tadi aku menjumpai seorang pengemis sedang memakan kulit mangga. Hanya 2 kilometer dari sini, Paduka Presiden Soekarno kita mungkin sedang tertawa, makan enak dengan istri-istrinya yang cantik.” Tak segan, Gie mengatakan bahwa Bung Karno adalah penghianat kemerdekaan.

Turut serta dalam menumbangkan pemerintah Soekarno yang  menurut Gie sewenang-wenang tak lantas membuat Gie mendukung pemerintah Orba 100%. Bahkan dia mengecam keras sikap pemerintahan Soeharto dalam melakukan pembantaian terhadap PKI. 

Meskipun Gie pernah menuntut agar partai politik berlambang Palu Arit tersebut dibubarkan, namun rasa kemanusiannya membuat Gie tak tinggal diam melihat simpatisan PKI disiksa bagaikan hewan. 

Dua buah artikelnya yang menentang perlakuan kejam tersebut menjadi tulisan pelopor yang vokal pada penindasan simpatisan PKI. Skripsinya berjudul Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan telah dibukukan sedemikian menarik sehingga pembaca tak kesulitan melihat ada ketidakadilan dalam pembantaian simpatisan PKI di Purwodadi dan Bali.

Gie juga dikenal sebagai orang yang anti terhadap politik praktis. Menurutnya, politik itu kotor. Sebersih apa pun kau masuk, kau akan berlumuran lumpur ketika keluar dari politik.  

Kawan-kawan seperjuangan Gie pun tak luput dari kritik sang demonstran. Suatu hari, dia mengirimkan gincu dan kutang kepada kawan-kawannya yang telah duduk di kursi DPR. Menurut Gie, mereka sudah tidak kritis dan berani seperti dulu, mirip banci. Maka ia mengirim gincu dan kutang untuk teman-temannya yang bungkam melihat korban-korban pembantaian PKI.

Gie telah menunjukkan kepada kita bahwa kebenaran adalah sesuatu yang tak bernama. Keadilan harus ditegakkan bahkan kepada kubu lawan sekalipun, kepada pihak yang tidak kita sukai. 

Gie membela ketertindasan tanpa melihat siapa yang dia bela. yang melihat kontradiksi dalam pemikiran Gie berarti belum memahami apa arti keadilan. Gie tak pernah kontradiktif, ia adalah wujud dari konsistensi Gie membuktikan bahwa keputusannya menepi dari politik praktis menjaganya untuk tetap idealis serta kritis.

Jika pembelaan Gie tak mengenal identitas, mengapa kita kini meributkan identitas?