Beberapa kurun waktu terakhir ini, Indonesia dikejutkan dengan beberapa pihak yang terbilang mainstream dalam pemikiran dan gerakannya, yaitu ingin mendirikan sistem khilafah dan membekukan sistem pemerintahan.

Mereka yang awalnya adalah sebuah partai yang bermarkas di Mesir kini merambah luas dan dampaknya menuju ke Indonesia. Mereka mengembangkan dan menyebarkan pemikiran khilafah mereka melalui mahasiswa yang belajar di Mesir. Dan, ketika balik ke Indonesia, maka otomatis pemikiran dan pandangannya, terutama terhadap masalah syariat, memiliki kesamaan dengan ikhwanul muslimin tersebut, bahkan melekat kuat di dalam pribadinya.

Sedikit mengutarakan mengenai gerakan mereka di Indonesia. Hemat penulis, sejatinya bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat komplit dan sempurna dalam masalah nasionalismenya. Iini dilihat dari sistem pemerintahannya yang memiliki sumber utama yang dijadikan patokan dalam berhubungan dengan masyarakat (interaksi), yaitu Pancasila. Namun, di Indonesia, mereka terus terang menganggap Pancasila adalah produk jahiliyah. Bahkan nasionalisme pun mereka anggap itu jahiliyah.

Di dalam aktivitasnya, mereka marak menolak keputusan-keputusan pemerintahan yang mereka anggap salah dan berbeda dengan hukum Allah. Namun, terkhusus di Indonesia, untuk mendukung tujuan utama mereka tersebut, banyak dari mereka turun ke jalan untuk menyuarakan seruan mereka kepada masyarakat agar mau turut berpartisipasi dalam membangun negara yang berlandaskan syariat Islam. Dan dengan dalih dakwah, mereka menghalalkan beberapa cara untuk menarik simpati masyarakat luas.

Namun, di sini penulis tidak membahas secara menyeluruh mengenai bagaimana konsep Khilafah Islamiyah itu, tetapi penulis merespons terhadap langkah-langkah yang dilakukan oleh HTI untuk menyebarkannya.

Ada sebagian kasus yang beberapa kurun akhir ini diekspos di beberapa media bahwa pembesar-pembesar atau tokoh-tokoh agama yang terkenal mengeluarkan fatwa-fatwa mereka yang menjurus terhadap penanaman konsep khilafah islamiyah tersebut, sehingga sudah barang tentu masyarakat yang tidak tahu-menahu mengenai Islam yang pada dasar ajarannya secara komprehensif dan universal ini cenderung taklid buta dan ikut tersulut emosi pula. Hingga akhirnya terjadilah yang namanya kesalahpahaman, baik internal agama maupun eksternal antaragama.

Tentu hal ini sangat dikhawatirkan apabila terjadi terlebih di Indonesia yang memiliki beberapa agama, yang fitrahnya adalah negara yang menjunjung tinggi konsep multikultural dan pluralistik antaragama. Apabila salah satu dari agama memulai konflik, maka stabilitas pemerintahan maupun masyarakat akan mengalami miss-komunikasi dan lama-lama akan mengalami kehancuran/permusuhan. Apakah seperti itu misi dakwah yang diajarkan Alquran dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad?.

Sempat disinggung di atas mengenai dakwah yang dilakukan oleh beberapa tokoh masyarakat maupun tokoh-tokoh agama yang pro terhadap konsep Khilafah Islamiyah ini. Itu menuntut penulis untuk perlu dihadirkannya data mengenai dakwah yang baik dan benar. Di dalam Alquran Allah berfirman:

أدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (125)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [Qs. An nahl 16:125].

Beberapa ulama memahami bahwa ayat ini menjelaskan tiga macam metode dakwah yang harus disesuaikan dengan sasaran dakwah. 

Terhadap cendekiawan yang memiliki intelektual tinggi, diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah, yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka.Terhadap kaum awam, diperintahkan untuk menerapkan mau’izhah, yakni memberikan nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. 

Sedang, terhadap Ahl al-kitab dan penganut agama-agama lain, diperintahkan menggunakan jidal ahsan/perdebatan dengan cara yang terbaik, yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan.

Kata dakwah itu sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti seruan, panggilan, atau ajakan. Rasulullah memberikan tuntunan kepada kita, salah satunya adalah sebuah riwayat dari Imam Bukhari dari Aisyah RA. Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya tidaklah lemah lembut itu ada pada sesuatu, melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan itu). Sebaliknya, jika lemah lembut itu dicabut darinya, maka ia menjadi buruk” (HR. Bukhari)

Berdasar aspek historitasnya, sebenarnya metode berdakwah telah diajarkan Rasulullah. Adapun cara berdakwah yang baik yang dicontohkan Rasullullah, yaitu penuh hikmah dan kelembutan.

Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitab tafsirnya bahwa Abdullah bin Amr bin Ash berkata: aku melihat sifat Rasulullah SAW itu tidak bertutur kasar, tidak juga berhati keras, tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi beliau itu senantiasa memberi maaf.  Dari Aisyah RA, Rasulullah bersabda: sesungguhnya Allah SWT itu maha lembut dan menyukai kelembutan dalam segala hal ( HR Bukhari).

Dari beberapa keterangan di atas, disimpulkan bahwasanya berdakwah memiliki etika tersendiri dan tentunya harus menghasilkan nilai positif dan bermanfaat, baik bagi yang menyampaikan maupun yang mendengar. Berbeda dengan ulama-ulama yang pro-HTI di Indonesia yang lebih dominan dengan suatu kemudhorotan, seakan-akan menimbulkan kebencian di tengah masyarakat.

Analisis penulis sesuai dengan judul menggolongkan bahwa sikap pemuka-pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat yang pro terhadap HTI ini dengan sikap Ghuluw, yaitu berlebih-lebihan dalam beragama, terutama dalam perbuatan dan ucapannya. Padahal Islam sangat melarang umatnya yang terjebak dan akhirnya memaksa terhadap sesuatu yang ia kehendaki tersebut, terutama menyangkut perkara syariat. 

Kita ketahui bahwa sikap Ghuluw atau melampaui batas ini adalah perbuatan orang-orang ahl kitab terdahulu, sebagaimana firman Allah Swt:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا- - - 

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [al-Mâ`idah/5:77].

Sedangkan dalam hadis yang diriwayatkan dari `Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Pada pagi hari di Jumratul Aqabah, ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas kendaraan, beliau berkata kepadaku: “Ambillah beberapa buah batu untukku!” Maka aku pun mengambil tujuh buah batu untuk beliau yang akan digunakan melontar jumrah. Kemudian beliau berkata:

أَمْثَالَ هَؤُلاَءِ فَارْمُوْا ثُمَّ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Lemparlah dengan batu seperti ini!” kemudian beliau melanjutkan: “Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw (melampaui batas) dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama.” [1]

Dalam aplikasi kedua dalil naqli di atas, penulis beranggapan, sesuai apa yang dilakukan oleh HTI dan pengikutnya tersebut, mereka sangat berlebih-lebihan sekali dalam melakukan dakwah yang menyeru terhadap amar ma’ruf dan nahi munkar sehingga kesan dari perintah (dakwah) tersebut seakan-akan sulit untuk diterima, khususnya bagi orang Islam yang telah memahami hakikat dari ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Dalam suatu keterangan (almanhaj.or.id), Ust. Abu Ihsan al-Atsari berpendapat ada beberapa langkah yang harus ditempuh untuk menghindari fenomena ghuluw dalam agama, di antaranya:

1. Menuntut ilmu syar’i.

Ilmu adalah lentera yang menerangi langkah kita di dunia dan menjadi aset yang amat bernilai di akhirat. Apabila lentera ini padam, maka setan akan leluasa menyesatkan anak Adam. Maka dari itu, janganlah absen dari majelis-majelis ilmu. Banyak sekali faidah yang dapat kita petik dari majelis ilmu, di antaranya adalah kita dapat bertatap muka secara langsung dengan ahli ilmu.

2. Jangan malu dan segan bertanya kepada ahli ilmu (ulama).

Malu bertanya sesat di jalan, begitulah kata pepatah kita. Terlebih lagi dalam urusan agama. Janganlah kita malu bertanya kepada ulama dalam perkara-perkara agama yang belum kita ketahui, baik dalam perkara aqidah, ibadah, mu’amalah dan lainnya. Terlebih lagi perkara yang berkaitan dengan perincian dalam agama, misalnya prosedur pelaksanaan sebuah ibadah, perincian dalam hal aqidah, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, kita sebagai umat yang wasathan, hendaklah menyikapi suatu perkara dengan cara yang moderat, tidak berlebih-lebihan, terutama itu dalam masalah syariat. Kita dianjurkan sekali menyebarkan amar ma’ruf dan nahi munkar di tengah masyaraka, dengan memperhatikan nilai kontekstual dan kondisi dari masyarakat tersebut.

Selanjutnya, melihat aspek apakah seruan kita memberi manfaat bagi orang lain atau justru sebaliknya memberikan mudhorot, seperti menimbulkan kebencian atau terdapat unsur-unsur kekerasan dari sinilah akar-akar ghuluw akan timbul.

[1] Hadits shahîh, diriwayatkan oleh an-Nasâ’i (V/268), Ibnu Mâjah (3029) dan Ahmad (I/215), al-Hâkim mengatakan: “Shahîh, sesuai dengan syarat al-Bukhâri dan Muslim.” Dan disetujui oleh adz-Dzahabi.