Suluh tepekur dalam dian yang menjilat, tak diam memesona tembok kelam jadi benderang. Kalahkan bohlam yang pucat dan sudah putus arus tiga bulan itu.

Setop saja. Finis saja. Agar bilik tetap kelam. Pulang pada jasad keabadian, senyaplah. Agar lebih afdal. Bak mengangkat trofi kemenangan.

Ruang itu kembali pekat. Berselimut lumuran malam. Tak beringsut sedikitpun. Dara yang terduduk pada nafsunya. Andal bergemulai.

Serumpun lentikan jemari memetik senar. Berbinarlah dawai bersumpah nada. Standardisasi solmisasi dari kecapi Liu.

Do Re Mi Fa Sol La Ti Do, -- alfabet logis dari esens dayuan.

Tujuh lapis not yang dulu note. Diulangnya tanpa jeda. Seolah menasbih. Tanpa kehabisan bujet napas. Hanya dengan kecapi Liu dia bicara.

Diulangi lagi petikan tangga nada itu. Memetik nada Ti yang bukan Si. 

Bahasa musik yang selalu dan pernah membutakan hingga jadi Si. Berbunyi La Ti Do -- La Ti Do.

"Ayu!"

Lengking memanggil. Seolah punya adidaya. Memerkosa jawaban, menindas yang bersikeras untuk tetap diam. Hakiki seorang petapa. Suka akan diam.

"Ayu!"

Kalaupun mampu. Tampar saja mulut lantang itu. Memangil tanpa aturan. Sebab oleh jalang.

Lotekkan saja balsam mulutnya. Duh, ekstrem, perisa cabai merek cabai yang tepercaya.

Atau jeriken penuh air kencing ini. Apa boks yang tampung kotoran itu! Pembaruan mulutnya yang nyocot itu. Ayolah seriawan.

"Si....., " berbisiklah Ayu dengan lembut tanpa pembela. Sialan, capai.

Seperti pleonase saja. Sentakan, Ayu!-- Ayu! Antre dan berulang tak guna. Ayu tetap berdiam mulut. Imbau untuk tetap tenang.

Hanya denting nada menjawab. Kaus putihnya sudah tanggal. Terpapar sekian lama tubuhnya dipepes gelap.

Semua pakaiannya menjadi kain popok. Habis tak tersisa. Gugur sudah kejayaan adibusana. Merosot mengulam tai, dari yang berbanderol jutaan ala butik itu.

Bilik itu menjadi permukiman para tenang, para sunyi, para senyap. Risiko petapa nestapa.

Becerminlah! Ayu mampu bertahan. Wahai, yang maha memanggil! Suka akan lantang. Saksama mengomel dan cedera mulut.

Suara tangis  bayi? Atau ragam bahasa komunikasi? Menghentikan petikan dawainya yang teratur itu.

Diletakkannya kecapi Liu itu. Pelan, menghormati sumber irama baku pengalih rasa lapar bayi. Nada rendahnya adalah cenderamata ragam bahasa yang berstatus tinggi.

Dalam gelap, Ayu menyulut dian. Ublik kecil bersuluh lagi. Tampak bayi mungil memekik mencongek telinga. Kalahkan panggilan bibir lotek tadi,  mami kos.

Putus asa dia mencolokkan steker ke lubang yang sudah melar itu. Atau membuat rangkaian arus agar korsleting. Menarik perhatian kepada mami kos yang bertepuk sebelah tangan.

Kini, benar-benar tidak ada suara panggilan lagi. Kalah, bak pasar oligopoli yang rimpuk oleh obral celana dalam.

Persetan loyalitas dari konsumen. Beli baru besok bolong dan embus bacin. Dan obral lagi, dan lagi.

"Kamu ganteng," ucap Ayu yang berlumur air seni. Ucapan yang berdengung tak jelas. 

Bayi itu isap putingnya yang tanggung. Orisinal berhias areola terang.

Puting Ayu bak sumber kejayaan susu perah yang tak jaya. Karena memang Ayu tak mengandung. Tak banyak serabut melisinus laktiferus, sumber susu ibu.

Ujung putingnya memerah terperah. Nikmat saja bayi itu. Kenyang oleh liurnya sendiri. 

Risiko penyepong. Mengenyot pentil di mulut, tepercik ludah di muka.

Tiga bulan bolong. Uang kos bodong. Ayu kehabisan. Tapi, tak segawat utang negara. Tak mempan nasihat, rakus meterai.

Wajar mulut lotek tadi bercuap. Memanggil, menagih. 

Ya, teoretis, ada uang ada kamar. Tak peduli apapun.

Setumpuk bukunya terbuang sudah. Akibat lalai ditumpuk di area berbayar. Buku-buku yang menjadi teman kesendiriannya.

Koridor busuk kosan itu wilayah mahal baginya. Bak zona ZEE yang ketat dijaga dan diplototi peronda batas.

Buku-buku itu dihamburkan mami kos ke halaman. 

Dipungutin krucil-krucil yang kesedapan ingusnya. Mereka berebut berisik bak moge dengan enjin elite.

Krucil-krucil kampung itu kaya sesaat, dijual ke loak. Siap jadi bungkus kacang rebus dan biji nangka pulen.

Uangnya dibuat nongkrong di warung kopi bersulam WiFi. 

Lumayan, menamatkan gem favorit dan nonton bokep.

Boro-boro melototin portal edukasi daring yang membosankan. 

Simpel saja, anggap mereka, cukup dengan adegan tusuk berlendir bokep untuk mendalami bab reproduksi dan anatomi dasar.

"Ayo, mandi, ya!"

Ayu bermonolog dengan suara-suara tak jelas lagi. Terdengar hanya dengungan.

Andai sudah bisa bicara bayi itu. Bicara manusia dewasa yang tertata lema-lemanya.

Mungkin, bayi yang mungil dan lucu itu akan membantu ucapannya agar terdengar jelas dan akan berkabar, tentang bapak- ibunya yang membuangnya.

Air mineral pemberian mantan pacarnya itu mengguyur tubuh bayi. 

Debu-debu tak sempat beterbangan. Luluh oleh air. 

Dihirupnya aroma tubuh bayi, tenangkan rasa haus yang menyekik. 

“Sungguh, mantan yang berguna,” gumamnya. 

Air mineral pemberian itu membuat bayi kegelian dan bergidik merasakan sumber pegunungan dalam kemasan yang dirampas tanpa ampun dari air tanah di kaki-kaki pegunungan.

Haruskah Ayu pasang iklan. Untuk meraup simpati. 

Agar tertulis "Berikan infak terbaik Anda!" khas agamais fakih yang muntahkan aberasi ajek yang dipaksakan lewat iklan.

Mami kos, ah, apalagi. Seorang penganut Abecedian, setelah A, B, C dan kemudian D dan seterusnya.

Hidup dalam aturan prinsip ekonomi ketat. 

Tak ada ruang untuk berbagi. Katanya, “Hiduplah dengan tanggungjawabmu sendiri, jangan terbeban dan membeban!” -- duh,  mampuslah.

Siapa yang suruh ambil bayi yang tempo hari tergeletak? Bukankah akan hidup dengan takdirnya?

Dipetiknya dawai kecapi Liu itu lagi. Nada-nada saling impit. 

Melukis himne ikhlas, merajuk harap inkam. 

Entah Tuhan atau berhala lainnya yang mendengar. Berkiblat kakbah ataupun gereja. Tak peduli. 

Entah mawar atau kemboja yang ditaburkan. Tak urus. 

Pikirannya meliar ke masa silam. Tentang kisah malapraktik yang tak sengaja didengarnya sewaktu kanak.

Tentang nazar ibunya yang tak kesampaian. Tentang nasihat gelap. 

“Ayu saja yang dibuang!” 

“Kok, bukan Rama?”

“Terlalu mahal.”

Dari balik tabir Ayu kecil sudah paham arti kata “dibuang”. Seperti membuang bungkus permen lolipop ke keranjang sampah.

Namun, Ayu kecil tak paham tentang inseminasi buatan. Sebuah teknologi kedokteran yang dikembangkan pada tahun 1977 oleh PC Steptoe dan RG Edwards itu. 

Ayu kecil juga tak mengenal Louise Brown sebagai bayi pertama hasil program bayi tabung (IVF) di Oldham England pada 25 Juli tahun 1978 silam.

Ayu kecil tetaplah lugu. Hanya hapal dan mengerti kata “dibuang”. 

Ayu kecil juga tak ikut merasakan bagaimana dulu ibunya meregang nyawa saat proses In fitro vertilization (IVF), suntik hormon untuk memproduksi sel telur. 

Kengerian mencari folikel sel telur dalam rahim dengan menggunakan jarum berongga rongga membuat ibunya harus melahap obat pereda nyeri. Namun, semua gagal. Malapraktik. 

Hingga jatuhlah pilihan keluarga Ayu kecil pada inseminasi buatan lainya atau IUI (Intra Uterine Insemination).

Di sinilah pilihan itu terjadi. Ketika teknik yang membantu memperpendek perjalanan sperma menuju indung telur demi terjadinya pembuahan dalam proses.  

Ketika prosedur sperma dialirkan langsung ke dalam rahim untuk mengurangi risiko kegagalan saat sperma menuju ke indung telur. 

Inseminasi yang dipilih keluarga Ayu kecil adalah program bayi kembar. 

Ketika harus memilih  jenis kelamin bayi kembar, sel sperma X dan Y akan dipisahkan terlebih dahulu dan dipilih kualitas yang paling baik. 

Dan, tentunya juga menciptakan kualitas jelek.....

Ayu kecil memang cantik, namun bisu. Aib tak mampu dibendung. 

Pikiran waras kalah oleh ekspektasi muluk, sempurna. Pekerjaan gila terlaksana. 

Ayu terbuang seperti bayi yang diasuhnya sekarang ini. 

Ayu kecil hingga besar hanya berbicara dengan nada-nada kecapi Liu miliknya.

“Ayu!” suara khas mami kos memekik lagi. 

“Jreeeenggg (ya, Bu),” Ayu menerjemah jawabannya dengan petikan kecapi Liu dalam gelap kamarnya. 

Jawaban yang diperkuat oleh terang cahaya ublik yang sekilas menerangi potret keluarga, yang hanya dia saja pernah melihatnya tergantung di lusuh di dinding kamarnya.

Sebuah potret Ayu kecil yang dipangku mami kos.......