Pertemuan Pertama

Aku melihatnya di ujung gang pada pagi pertamaku di sini. Hidungnya mancung, kulitnya bersih dan tubuhnya tinggi tegap bak artis sinetron yang setiap hari kulihat di televisi. Cara berjalannya pelan, dengan pandangan lurus ke depan, sedikit angkuh. Dingin.

Matanya terus menatap jalan. Sesekali tangannya merogoh saku celana abu-abunya dan mengambil sebuah ponsel mungil. Melihat sms dari pacar yang menanti mungkin..atau sekedar melihat jam?
Ah..apa peduliku.

Mobil kuning cerah yang kutunggu sudah datang, sedikit sesak memang, tak apalah.
Dia pun semakin jauh dari pandangan..menghilang.

 Pertemuan Kedua

Dingin menggigit punggung tanganku yang terbuka. Spontan kumasukkan jari-jariku dalam kantong jaket biru kesayanganku.

Ah..dia lagi. Berdiri ditepi jalan seperti pagi sebelumnya. Dan seperti biasa, selalu tampak nyaman dalam gelembung angkuhnya.
Kulangkahkan kakiku perlahan, dan berdiri tepat disampingnya. Tak ada sapa. Tak ada senyum basa-basi.

Tak lama sebuah mobil berwarna matahari berhenti tepat di depan kami. Aku menghambur masuk mencari tempat nyaman di sudut terjauh. Tak seperti biasanya, dia pun turut masuk dalam angkot yang hampir penuh itu. Terlihat seperti patung es yg duduk di ujung sana, di dekat pintu yang terbuka.

Matanya sayu seperti bintang film India yang aku lupa namanya. Terus saja menatap deretan pohon dan rumah yang berlari berlawanan arah dengan angkot kami. Mungkin benaknya abu-abu karena tugas sekolah yang belum diselesaikan semalam, atau pertengkaran dengan kekasih yang kian rumit, mungkin juga tentang perdamaian dunia, atau kelaparan di negara ketiga. Dalam hati aku menertawai lamunanku sendiri.

Pandanganku turun ke arah krah seragamnya yang kosong. Seharusnya ada dasi anak sekolahan menggantung di situ. Lengan seragamnya terlipat rapi hingga siku, memperlihatkan lengan dengan bulu-bulu halus yang tumbuh rapi.

Saat lirikan mataku turun ke arah celana abu-abunya, ada koyak kecil yang memperlihatkan sedikit bagian lututnya Hmm, mungkin dia anggota geng anak nakal di sekolah, spekulasi pertamaku. Aku coba melirik bet nama yang biasanya menempel di dada kanan. Ah, terlipat. Mungkin lain kali aku bisa menyapanya, dan bertukar nama.
Mungkin.

Skenario Lain

Pria itu lagi-lagi berdiri disana. Dengan tangan yang terlipat di depan dada, pandangannya terus mengarah pada kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya.

Malu-malu aku pandangi dia dari seberang jalan. Bajunya rapi terselip pada celana kain yang ia kenakan. Sedikit kumal, dan ada koyak kecil di lututnya.

Perlahan kulangkahkan kakiku dan berdiri disampingnya. Tanganku gemetar.
Ah...mungkin dia sudah mendengar degup jantungku yang berlarian.

"Selamat pagi.. Boleh kujahit koyak kecil di celanamu suatu hari nanti?"

Oh. Petir seakan menyambar tepat di telingaku. Bodohnya. Kututup mulutku cepat-cepat. Lemas lututku mendengar kata-kataku sendiri barusan.

Beberapa detik berlalu. Aku buka genggaman tanganku yang basah. Dan lewat sudut mata, kutelusuri lelaki disampingku.

Ah..
Ada kabel kecil berwarna putih keluar dari saku dan berakhir di lubang telinganya. Syukurlah.

Jangankan mendengar kata-kataku, kehadiranku disampingnya pun bahkan tak berarti sama sekali. Aku tersenyum kecut saat menyadari kebodohanku sendiri.

Beberapa saat kemudian, tangannya melambai pada bus yang akhirnya berhenti tepat di depan kami. Langkah kakinya ringan masuk ke dalam bus itu sekali loncatan. Dia bahkan tidak menoleh ke arahku. Fiiuuuh... Kuhela nafas panjang. Beberapa detik saja, dia sudah menghilang di kejauhan.

Sapa Pertama

Aku tertegun menatap layar yang berdengung pelan. Sebuah media sosial kini memiliki sedikit arti pada pemahamanku. Dua hari yang lalu, ada wajah yang kukenal muncul di akunku. Mungkinkah itu dia?

Kerlip hijau itu. Nama itu. Kuberanikan diri untuk mengetik beberapa huruf.

“Hai.”

1 . . . 2 . . .3 . . . balasan singkat muncul.

“Hai.”

Singkat, namun balasan adalah syarat dari sebuah perkenalan. Bisu pun berakhir. Percakapan dimulai perlahan, diiringi keingintahuan tersamar. Dan debar.

Sebuah sapa yang tertunda. Namun cerita takkan berakhir hanya sebatas sapa. Aku mengawalinya, dan dia yang melanjutkannya. Pertanyaan tentang beberapa digit angka yang membawa pada sapa, kata, dan cerita berikutnya.

Awal dari Sebuah Kisah

Seketika waktu membeku saat kubaca pesan singkat di layar ponsel bututku. Percakapan yang mengalir tanpa mengenal batas waktu. Getar yang terus memaksa untuk terus bertukar kata telah menemukan titik puncaknya. Ada rasa dingin yang menjalar di punggung, merambat dan berubah menjadi jutaan kecoak yang berlarian dalam perut.

Aku mual. Sedikit geli.

Candaan di pagi buta berubah menjadi sebuah topik yang mengubah sepi menjadi gemuruh hati.

“Hubungan kita tak lagi bisa disebut teman. Itu yang aku rasakan. Bagaimana denganmu?”

Kugigit ujung bantal dalam pelukanku.  Tuhan, aku ingin menjerit. Aku harus menjerit. Ah.. kutenggelamkan wajahku dalam bantal dan menjerit tertahan. Ini bukan mimpi. Apa yang harus aku katakan? Apa maksud pertanyaannya? Apa mungkin? Aku tidak salah paham bukan?

“Ya, bohong jika aku tidak merasakannya juga. Lalu?”

Kuletakkan ponsel perlahan, seakan-akan benda itu bisa meledak sewaktu-waktu. 

Aku termenung. Mungkinkah dia mau menemaniku menjadi tokoh utama dalam kisah ini?