“Ketakutan adalah kenalan pertama saya waktu kecil,” demikian kisahnya pada The Tongue Set Free. Memoar Elias Canetti itu, yang penuh dengan kata-kata teror dan ketakutan,  dibuka dengan cerita seorang laki-laki tersenyum yang mendatanginya. Canetti kecil sedang jalan pagi di taman ditemani pengasuhnya:

 “..Orang itu dekat mendatangiku, berhenti, dan berkata,  ‘tunjukkan lidahmu padaku’. Aku menjulurkan lidah, dan orang itu mengeluarkan pisau lipat dari kantongnya, membukanya, dan mendekatkannya pada mulutku. Dia berkata pelan, ‘sekarang aku akan memotong lidahmu’. Aku membeku tidak kuasa menarik masuk lidahku balik  kedalam mulut. Pisaunya bergerak tambah dekat ke lidahku. Pada saat hampir menyentuh lidahku, dia menarik pisaunya dan berkata, ‘tidak hari ini, deh.. besok saja’. Pisaunya kemudian ditutup dan dimasukkan kembali dalam kantong celananya.

Setelah itu, setiap pagi aku melangkah keluar pintu kamar, laki-laki tersenyum itu selalu muncul mendatangiku. Demikianlah hari-hariku selalu bermula…..” . Belakangan diketahui bahwa laki-laki tersebut adalah pacar sang pembantu. Dia sedang berusaha agar Canetti tutup mulut tentang hubungan asmaranya.

Sepanjang hidupnya, Elias Canetti, seorang Yahudi Bulgaria, seperti selalu dirundung ketakutan. Lahir pada 1905, dibesarkan di Jerman dan Inggris, melewati masa-masa gelap yang mencekam  menakutkan abad 20. Ditinggal mati ayah  di umur 9 tahun, ibunya yang keras, dua perang dunia, kebencian rasial,  apel-apel gerombolan fasis di tahun 1930-an, bangkitnya Nazi,  dan lain-lain. Semuanya itu membuat masa kecil dan hidupnya menjadi masa yang menegangkan dan menakutkan, terus-menerus.

Namun, barangkali pengalaman dalam kegelapan itulah yang mengantarkannya pada memenangkan hadiah Nobel sastra tahun 1981. Padahal karyanya bisa dihitung dengan sebelah jari. Yang menonjol adalah Crowds and Power, Massa dan Kuasa. Dalam bukunya yang ini Canetti dengan teliti berusaha menggambar kumpulan massa dan kekuatannya. Kata crowds oleh sebagian diterjemahkan dengan massa.  Memang lebih tepat, tapi saya menerjemahkannya dengan gerombolan. Karena terasa mengandung makna sesuatu yang menakutkan. Dan karena Canetti memang sedang menggambar mahluk yang menakutkannya.

Tahun 1922 adalah pengalaman pertama Canetti masuk dalam gerombolan massa ketika dia menonton demo protes atas pembunuhan industrialis dan negarawan Yahudi Jerman Walter Rathenau. Dia kaget ketika di dalam massa dia hanyut kehilangan diri. Seperti tersihir, kesadaran dirinya seperti hilang. Rasanya dirinya menjadi mahluk mirip dalam cerita-cerita mistis. Seperti mabuk, seperti tenggelam dalam massa. Tapi, aneh. Timbul semacam perasaan kepuasan. Pengalaman aneh itu menimbulkan teka-teki, pertanyaan, dan trauma berat pada diri Canetti. Pengalaman yang segera hilang setelah dia keluar dari kerumunan.

Apa yang sudah terjadi?

Pengalaman kedua, menurutnya merupakan pengalaman paling dramatis dalam hidupnya. Juga hari yang paling kritis setelah kematian ayahnya. Tanggal 15 Juli 1927.  Pada hari itu pengadilan membebaskan 2 orang yang diketahui telah membunuh beberapa buruh pekerja beberapa waktu sebelumnya.

Sebagai reaksi atas berita di koran, masyarakat marah dan berbondong-bondong demo protes didepan gedung Istana Keadilan di Vienna.  Canetti tidak sengaja tersapu ikut dalam massa demo. Didepan gedung istana, tiba-tiba seorang berteriak, “Bakar…Bakar…!” . Gedung Pengadilan pun dibakar massa. Polisi datang menembak kearah demonstran. 57 orang mati dan ratusan luka-luka karena pelor dum-dum polisi .

Kedua peristiwa, menimbulkan trauma yang dalam pada Canetti muda. Sejak tahun 1930, dia mulai menulis Crowds and Power,  yang mencoba menggambarkan gerombolan massa dari sudut pengalamannya yang suram dan gelap. Buku tersebut tidak kunjung selesai selama 30 tahun lebih. Menjadi obsesi hampir sepanjang hidupnya, baru berhasil terbit tahun 1960.

Dalam imajinasinya,  Canetti melihat kumpulan massa manusia sebagai bentuk kodrat hewani liar bahkan jelmaan iblis. Kawanan massa manusia adalah singa yang sedang sabar mengintai seekor kijang sambil membayangkannya sebagai gumpalan daging lezat. Membayangkan disebelah mana leher kijang akan  digigit dirobek giginya. Betapa manis darahnya. Kawanan manusia adalah kawanan srigala yang sedang mengepung dan membantai mangsanya, tanpa belas kasihan, ramai-ramai.  

Dengan sangat puitis Canetti melanjutkan gambaran traumatisnya atas gerombolan massa dengan simbol-simbol: api, samudera, angin, hujan, sungai, pasir, singa, hyena, dll.

Api menjalar, menular dan tak pernah kenyang. Kekejamannya dalam merampas seluruh hutan, padang stepa, dan kota-kota adalah sesuatu yang amat mengesankan. Serangan dari pohon demi pohon, rumah demi rumah, dari jurusan yang berbeda. Dalam waktu yang singkat api kemudian bergabung jadi satu melalap hilang semuanya. Rumah, pohon, makhluk-makhluk didekatnya. Semakin banyak kehidupan yang dimiliki suatu benda, semakin sedikit ia dapat mempertahankan dirinya dari api. Hanya mineral, yang paling tidak bernyawa dari semua zat, yang bisa bertahan darinya. Kekejaman yang tidak mengenal batas, ingin menelan segalanya, dan tidak pernah puas.

Laut samudera selalu bersuara. Meski berubah-ubah tapi selalu saja terdengar. Suara itu bagai kumpulan  seribu suara. Kita paham yang digemakannya: sabar, kepedihan, kemarahan. Yang mengagumkan adalah keuletannya. Laut tidak pernah tidur. Setiap saat, setiap pagi, setiap malam terus berusaha untuk didengarkan. Bertahun-tahun, berabad-abad. Ini mengingatkan  pada sesuatu yang punya ciri, sifat dan derajat yang sama: gerombolan massa.

Hampir-hampir tidak ada sisi positif, kecuali kengerian dari gerombolan kerumunan massa. Ini banyak membingungkan banyak pembacanya yang mengharapkan bisa lebih mengerti atau mengharapkan analisa mengenai kerumunan. Dari itu tidak terlihat Canetti dinukil dalam tulisan ilmiah psikologi massa.Tapi memang bukan itu maksud Canetti. Kelihatannya, dia hanya bermaksud menyeret  pembacanya untuk bisa bareng bersamanya. Menghayati hanyut masuk dalam pengalaman berkerumun dalam gerombolan yang mendebarkan seperti sudah dirasakannya.

Tapi binatang apa sebetulnya massa atau crowds itu? Pertanyaan itu akhir-akhir ini sering muncul. Diluar negeri, terutama sejak naiknya Obama, dan kemudian naik dan jatuhnya Trump. Kedua kejadian itu tidak bisa dipisahkan oleh fenomena crowds atau massa. Tentunya pertanyaan yang sama banyak heboh juga di negeri kita, misalnya akibat peristiwa naiknya Anies Baswedan dan kejatuhan Ahok serta banyak kegaduhan setelahnya.

Mengerti bahaya dan kebinatangan crowds seperti tulisan Canetti adalah menarik. Mungkin  membaca Crowds and Power perlu sebagai pengalaman spiritual. Tapi tentu tidak cukup. Pemahaman lebih dalam tentang massa atau gerombolan adalah sangat penting untuk lebih mengetahui manusia dan sejarahnya. Itu pendapat dari Gustave Le Bon (1841-1941), yang sejak awal tertarik meneliti soal itu dan kemudian dianggap sebagai bapak psikologi massa.

Dalam bukunya yang sangat terkenal, The Crowds : A Study of Popular Mind  (Kerumunan Massa: Penelitian Pikiran Orang Banyak), Le Bon mendefinisikan massa  sebagai kumpulan manusia yang mempunyai persamaan ide, kepercayaan atau ideologi. Massa terbatas kemampuannya. Maka ideologi yang dimaksud bukan bentuk asli yang rumit dan filosofis, tapi adalah ide yang sudah disederhanakan. Penyederhanaan biasanya dilakukan oleh seorang pribadi kuat, komunikatif, mampu menerjemahkan ide rumit jadi lebih populer. Seorang demagog umpamanya.

Dalam analisanya, Le Bon melihat beberapa ciri penting dari kumpulan massa:

Yang pertama, Anonimity, hilangnya sifat individu. Persis seperti cerita Canetti. Ketika individu menjadi bagian dari massa, maka pribadinya akan lebur menjadi pribadi massa. Seolah menjadi makhluk yang lain. Kehendak pribadi tidak lagi menguasai. Individu seakan cuma pion kecil, mengorbankan interes pribadinya menjadi interes massa.

Dalam bentuk sebagai individu sendiri-sendiri, manusia menahan diri dari insting berbuat buruk karena merasa tidak berdaya, karena norma sosial, atau takut penjara. Menjelma menjadi makhluk massa, manusia merasa besar tidak bisa terkalahkan. Maka dia sementara  kehilangan ketakutan akan konsekuensi. Juga bisa kehilangan pula pada tanggung jawab moral dan norma-norma sosial. Segala kekang jadi berantakan, berbagai potensi keburukan manusia yang biasanya tertanam dalam bebas keluar tanpa kendali.  Massa kemudian membunuh, menjarah, membakar, dan merusak.

Yang kedua, contagion, keadaan mudah meniru dan menularkan perbuatan orang lain. Anggota kerumunan, tanpa berpikir, cenderung membenarkan  dan menirukan segala perbuatan anggota lain, bahkan meniru aksi-aksi yang tidak rasional. Jika ada satu yang mulai memukul seseorang, yang lain ikut memukul mengeroyok bahkan sampai mati.

Yang ketiga, suggestibility, Ini adalah keadaan psikologi massa mirip seseorang dalam pengaruh hipnotis. Kemampuan berpikir individu dalam massa hampir-hampir berhenti. Dia rentan mudah menerima mentah-mentah anjuran atau instruksi dari orang lain seperti seorang demagog.

Secara umum, pendapat Le Bon tentang massa adalah negatif. Massa tidak rasional, cenderungan merusak, aksinya tidak punya kontrol, kriminal, dan sebagainya. Tapi, walau sedikit, ada juga beberapa kalimat dalam bukunya yang positif. Bahwa dalam massa bisa timbul, kesetia-kawanan, rasa pengorbanan. Bahkan bersedia mempertaruhkan jiwa guna memenangkan ide mulia yang diserapnya. Massa dapat menjadi bahan bakar untuk aksi-aksi revolusioner. Heroisme seperti itulah yang meskipun dilakukan tidak dengan kesadaran penuh, tapi yang pasti, adalah heroisme yang diatasnya banyak menciptakan Sejarah. Yang terakhir ini mungkin yang dimaksudkan adalah soal Revolusi Perancis.

Buku Le Bon The crowds: A Study of Popular Mind, yang diterbitakan tahun 1896 sampai sekarang  merupakan  buku psikologi massa yang paling banyak dinukil dan dibicarakan para ahli maupun orang awam. Tapi kita bisa kaget juga kalau membaca kajian ilmuwan psikologi massa yang lebih mutakhir. Misalnya, membaca artikel berjudul Crowd Psychology, oleh S. Reicher, yang dimuat dalam Encyclopedia of Human Behavior, edisi kedua, tahun 2012.

Menurut Reicher, The Crowds disamping sebagai teks psikologi massa yang paling berpengaruh sepanjang jaman, dia juga penyumbang besar terciptanya politik massa abad 20 dan abad 21.  Dia bisa bertahan lama berpengaruh, antara lain karena teorinya itu didasari tema umum ketakutan, permusuhan, dan penindasan.  Tema-tema yang terus aktual dan yang dulu juga mendorong lahirnya sains kerumunan.

Le Bon, berasal dari kalangan atas, pertama bersentuhan dengan gerombolan massa ketika dia sebagai kepala layanan ambulans di Paris Comune. Itu adalah masa tiga bulan tahun 1871 ketika Perancis kacau dikuasai kudeta gerombolan kaum sosialis radikal. Pengalaman itu menyebabkannya Le Bon kurang senang bahkan benci pada kerumunan massa. Penelitiannya kemudian menjurus tentang bagaimana menjinakkan kerumunan massa. Le Bon ingin menunjukkan pada para pejabat, bagaimana memanfaatkan psikologi kerumunan massa untuk mencapai tujuan mereka. Menarik sekali mengetahui bahwa yang termasuk pembaca pertama buku Le Bon adalah Mussolini. Dia memuji Le Bon setinggi langit dan menyatakan bahwa dia sedang membangun prinsip-prinsip negara fasis Italia berdasarkan buku The Crowd. 

Teori baru menyangsikan teori klasik Le Bon. Yang pertama bahwa teori Le Bon menghilangkan konteks. Ketika menganalisa massa seperti massa buruh, tambang, atau serikat pekerja, analisa seperti tidak melihat gerombolan massa lain seperti tentara, polisi , satpam, dan lain-lain. Analisa cuma melihat sebuah massa dari satu sisi kumpulan fisik manusia-manusia yang bergabung saja. Seolah suatu kumpulan punya sifat dasar lahiriah tertentu seperti suka melawan, suka merusak, dll.  Kita tidak bisa melihat hal masuk akal lain bahwa suatu aksi massa adalah mungkin reaksi terhadap aksi massa yang lain.  

Yang kedua, pada paruh kedua abad 20 keadaan sosial berubah. Pendidikan yang melahirkan ilmuwan peneliti berubah dari suatu lembaga elite menjadi lembaga massa yang lebih populer. Maka para peneliti berubah pula dari posisi outsider, dari luar, menjadi insider, dari dalam. Mereka melihat protes-protes seperti protes anti perang Vietnam, protes-protes hak-hak sipil, jauh dari kengerian ilmuwan elite abad 19 dan awal abad 20 melihat kumpulan gerombolan sosialis radikal. Kumpulan massa seperti itu mungkin juga dilihat sebagai kumpulan yang sehat ketimbang sakit, kumpulan yang masuk akal penuh makna ketimbang kumpulan yang irasional.

Pada beberapa dekade terakhir telah muncul suatu pendekatan baru dalam ilmu psikologi massa, pendekatan “identitas sosial”. Pendekatan ini, Social Identity Model (SIM) ditujukan agar kita bisa lebih mengerti bagaimana ideologi dan faktor-faktor struktural dalam membentuk perilaku grup. Dan bagaimana bisa cocok juga untuk menjelaskan kategori grup besar seperti bangsa, umat beragama, grup rasial, disamping kategori kumpulan massa kecil, seperti kumpulan demo buruh, mahasiswa, dll.

Teori Le Bon bermula pada ide bahwa pribadi seorang individu larut dan hilang ketika memasuki kumpulan massa. Teori SIM kontras berbeda dengan itu. Dia memandang kesadaran pribadi secara lebih kaya. Satu saat pribadi merasa bahwa “saya” berbeda dengan “anda” atau “dia”. Disaat lain “saya” bisa berkata: saya seorang Indonesia, saya seorang Muslim, saya seorang perempuan, dan seterusnya, dalam arti bahwa “kumpulan” saya berbeda dengan kumpulan lain. Artinya, pribadi seseorang tidak larut hilang dalam massa. Tapi ketika seseorang memasuki suatu kumpulan massa, dengan fleksibel dia sekedar mengubah fokus identitasnya dari yang satu ke yang lain.

Makna pendekatan baru ini adalah bahwa massa terbentuk bukan dari sekedar dari hadirnya kumpulan fisik di suatu tempat dan waktu tertentu, tapi dia terbentuk dari kumpulan psikologis, kumpulan pribadi yang punya kesamaan identitas sosial.

Manusia penuh berdesakan dalam kereta KRL. Sendiri-sendiri tidak saling kenal, tidak saling bicara, bahkan enggan saling memandang. Tiba-tiba kereta berhenti disuatu stasiun agak lama yang tidak biasa. Semuanya gelisah karena semua merasa kepentingannya terganggu karena  kelambatan kereta. Mulailah mereka dari mengomel sendiri, lalu kemudian bicara diantara mereka, dan akhirnya melancarkan protes keras bersama pada pejabat KRL yang dijumpai.

Teori SIM membedakan kumpulan massa kereta KRL yang cuma sekedar kumpulan fisik bersama satu gerbong, dengan yang kemudian berubah menjadi kumpulan psikologis massa penumpang yang terganggu kepentingannya akibat kelambatan kereta.

Serupa dengan pribadi yang tidak hilang, norma dan perilaku seseorang juga tidak larut hilang dalam massa. Dia menyesuaikan diri dengan norma dan perilaku kelompok massa-nya. Norma dan perilaku massa tidak sama. Perilaku massa demo pecinta lingkungan berbeda dengan massa pendukung sepakbola, berbeda pula dengan massa penyambut kedatangan Paus. 

Secara umum, perilaku kerumunan massa saat ini sudah tidak boleh dianggap lagi sebagai suatu hal yang menyimpang. Anggapan itu bisa menghalangi masyarakat dan dunia ilmu psikologi untuk mempelajari dengan lebih baik soal kerumunan massa. Yang jelas, bahwa kita tidak boleh lagi melepaskan konteks sosial dari fenomena kerumunan massa. Bahkan bila massa kadang berperilaku ekstrem. Itu mungkin adalah cerminan ada masalah belum terselesaikan menyangkut soal mana yang diterima dan yang tidak diterima.

Aksi kerumunan massa menggambarkan lebih dari soal kepercayaan dan identitas sosial atau  crowd. Bisa pula merupakan gambaran kecil dari kelompok sosial kategori yang lebih besar, seperti bangsa, umat beragama, ataupun kelompok rasial yang semuanya tidak mungkin untuk turut hadir pada aksi-aksi kerumunan massa tertentu. Kerumunan massa kecil yang biasanya heboh banyak diliput oleh media TV maupun koran-koran, maka dia akan hadir pula dihadapan khalayak kerumunan kategori yang lebih besar.   

Reicher menyimpulkan bahwa teori psikologi massa sudah berjalan jauh di abad yang lalu. Tapi perjalanannya kemudian masih jauh pula. Paling sedikit, sekarang ini bila kumpulan massa beraksi, maka itu sudah bisa bercerita banyak tentang masyarakat dan kemana mereka akan pergi. Dan juga, paling sedikit, keperluan untuk terus mengembangkan ilmu kerumunan massa lebih nyata pentingnya dari masa yang sudah-sudah.