Jalan-Jalan Menuju Detik

Mengimla biografi kata
tubuh yang kota pada jalan-jalan
menuju detik.

Waktu bermufakat
ada serepih hujan lepas dari genggaman
Tuhan
esok adalah amnesia
manusia berpacu hari-hari bising
di jantung tamadun, tempat menyimpan kalender tua.

Merajah senja di trotoar
alpa terhadap wajah-wajah di persinggahan
magrib bertunas
sapa kerut dahi dan kantong mata.

Jee, fana
adalah api yang berumur pendek
tapi membakar sekejap.


September Kedua Puluh Dua

Mendengar titah silara
aku khusyuk dalam gradasi khidmat.

Apabila puisi menghadirkan wujud para nabi
dan bersabda: “Dalam suasana meditatif
menakwilkan pepatah bijak
tanpa permainan akrobatik kata-kata
adalah muasal iktikad kelahiran.”
September sebagai manuskrip percakapan
di rahim ibu.

Waktu merupakan perigi
tempat merapal nama Tuhan
dengan serindai.

Di penghujung malam
aku menalamkan sebuah puisi
buku dan kopi sebagai kawan bertualang
membaca tiap kiblat dengan berdikari.

Dan berkata: “Di hari lahirmu, izinkan
aku menyunting sajak yang kutasmiyahi
September kedua puluh dua.”


Retak pada Keabadian

Menggenapkan malam di tubuh ganjil
magis dan sakral
lampion sebagai nisan dalam nyala ingatan
kau menempuh perjalanan rapuh
sunyi
            -retak pada keabadian.

Orang-orang sibuk membangun tidur
suntuk dan kantuk
mencari rehat dari punggung merah almanak
berlari mengitari tanya di anak-anak zaman
lampau mengingat maut
            -dunia tawar tubuh terkubur.


Perjamuan Kata

Ajak aku
menyaksikan parade
obor waktu.

Di teduh dirgantara
malaikat memainkan harpa
dan merinai kearifan langit.

Kisah berbahasa arkais
kubaca sebagai narasi-narasi rindu bertahana
hingga jasad mencandai maut.

Engkau masih kuasa mengingat
betapa naifnya aku
kali pertama memegang belangkas
mengupas metafora dan diksi.

Tuan.
Salam.
Membaca prolog perjumpaan
sajak-sajak prematur terlahir.

Ajak aku berpelesir
lewat puisi di ujung belati.


Di Penghujung Agustus

Gerbang kampus
merisik pada jejalanan berkemal

-alam sebagai pagelaran, menyajikan
            harmoni-

Aku membatu di meja wifi.id corner
menggubah sajak meruah dewasa menganyam payah
dikawani playlist lagu-lagu indie
sesekali mengusili malam dengan kopi hitam.

Sebagai mahasiswa proletar di punggung kaum urban
mengolah wacana, berdiskusi antah berantah
dengan kawan
menghasilkan gagasan-gagasan absurd
memarih beragam pertanyaan yang kadang dijawab
dengan tawa-kegelisahan.
Analogi tentang kacamata sering kami hadirkan
sebagai autokritik terhadap kekecutan masing-masing
walau sekedar membeli cincin imitasi.

Dan akhirnya, sekretariat organisasi
menjadi ruang imajinasi dan mengingat Maulana Rumi.

-dunia sebagai ladang penghambaan
            kepada Tuhan-


Gerimis Sepertiga Juz

Di rambut hitammu
tubuh puisi tertidur dari pertanyaan
tentang seorang anak kecil yang mewartakan hujan
dan etalase kota sebagai gelanggang
            -kopi dan gigil-

Berapa jengkal jalan menuju maut?
Sebuah percakapan di bulan
Desember
adalah bisu dan aku berakrobatik
            -gerimis sepertiga juz-


Sebuah Dongeng Pendek buat Chikang II

Di punggung temaram, Chi
lampu-lampu kampus bercerita tentang
seorang lelaki yang terinspirasi dari sebuah novel klasik
Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway
berangkat dari ranah damai menuju turbulensi
berbekal doa Ibu
menjelajah tiap epigraf dan nyali.

Ia menyaksikan pelbagai peristiwa
di antaranya adalah sekawanan cangkir menjadi reranting
bagi kopi, menara-menara dari gelembung sabun,
seekor binatang unik bernama Banana bertopi pesulap,
kartu-kartu bermain dadu, sapi memainkan instrumen
dan pengembala semut yang menonton film Inside Out
ketika rehat usai makan siang.

Ia terus berjalan
simfoni-simfoni Beethoven dan Mozart
serta puisi-puisi Chairil Anwar
menjadi kawannya.


Doa Para Ikan

Mendayung tubuh
seorang nelayan melempar jala
lantas berkata:”Air adalah agama bagi ikan-ikan”.

Di wajah Ibu
azan menjadi alarm
dan punggung Bapak menjelma nisan.

Sampan piatu dari kota santri
merapal Burdah di kamis malam
sebagai berita magis kepada Tuan
yang tahun kelahirannya disambut doa para ikan.

                        -yatim menjadi nyala-


Ibu

Ziarah ke makam
nisan bertalkin
pusara adalah perkamen waktu
mendayung zikir mengingat
senyum Ibu di kursi tua, kumparan jalan-jalan temaram
menuju sekawanan pohon-pohon sepuh
aroma sahih doa
menghuni almanak seorang lelaki
yang menulis puisi sebagai lelaku takzim.

Mengingat fana
maut adalah pengantin yang berladang sajak
pada partitur sang maestro
dan kasih Ibu merupakan wajah percakapan
Tuhan dengan kebijaksanaan.

Di pelataran ayat-ayat siluet
aku menguap bersama wujud kopi
di kedai telapak kakimu, Ibu.


Sajak Kepada

-Kepada Tuhan-
Di garamMu
aku beranjangsana
manis terasa.

-Kepada Ibu-
Pada kakimu
aku berlayar
mengingat durhaka dan doa.

-Kepada Ayah-
Punggungmu
tempat nisan bersandar
aku membaca tahlil.

-Kepada Maut-
Aku menyebut
Tuhan.
Ibu.
Ayah.


Kepada Rumah

Kepada rumah, tempat aku
membaca biografi Abah dan Mama.
Dapatkah waktu menghadirkan tangga
menuju peraduan riwayat sakral
di antara kaki-kaki bocah dan masa silam?

Bertubuh magis
aku dengar nyanyian nisan
sebagai talqin.


Juni Berbisik pada Kalender

            -Adalah tahun sebagai punggung
              tempat merawat abu  yang dibakar hari-

Mitos-mitos keduabelas bulan bercerita
tentang percakapan seorang lelaki yang memelihara mercusuar
dengan pria tua di pesisir juni.

Dan kau mengajak Ibu bertualang
menyelami dan menyalami hari-hari bising
sedang aku tiada bertubuh atau berumah
semenjak pulang menjadi kosa kata sakral.

Band-band indie: Dialog Dini Hari,
Senar Senja, Banda Neira, Payung Teduh,
Danilla, Fiersa Besari dan Efek Rumah Kaca.

Simfoni-simfoni: Beethoven dan Mozart.
Adalah sekawanan pengembara
mengajak gerak, telinga, pikir, imajinasi
sebagai adagium.

Membaca daulat hidup
dengan sahifah yang abadi
puitis.

Kau membaca ayat-ayat leluhur di suatu pagi
dan mekar sebagai bagian dari pohon waktu
adalah dangkal berbicara pada jatuh
seperti nyala lampu-lampu jalanan atau seikat sapu lidi
di tangan petugas kebersihan kota.
Sebelum tahun menyesar
ijinkan aku menggeledah tiap impresi
yang berserakan di atas sasana sajak
sertamerta menyuntingnya sebagai bagian
manuskrip puisi.