Tak ada salahnya kalau aku juga menulis untuk Bapakku yang saat ini tak kuketahui sedang melakukan aktivitas apa. Kemarin aku menuliskan tentang ibu. Kalau kita mengikuti apa yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW, bahwa ibu itu disebut tiga kali terlebih dahulu sebelum menyebut satu kali istilah bapak atau abi dalam idiom bahasa arab.

Karena rindu yang tak terucap secara tersurat akan lebih baik jikalau kita mengungkapkannya secara tersirat. Tetapi, jangan banyak menyoal tentang rindu. Kasihanilah musim kemarau yang menantikan turunnya hujan. Belum ada rumusan maupun formula yang pasti bagaimana ia mengungkapkan rasa rindunya. Apalagi cara untuk mengatasinya. Karena memang kondisi itu adalah pasti dan harus diterima dengan ikhlas.

Aku teringat ketika beberapa hari yang lalu, aku sejenak pulang ke rumah yang berada nun jauh di sana. Belum begitu mudah dijangkau dari perkotaan. Masuk dalam wilayah perbatasan dengan beberapa kabupaten, yang syukurnya masih se-pulau dan se-suku bahkan se-negara yang sama. Tak perlu panjang dan lebar aku harus menjelaskan bagaimana kondisi kampung halamanku baik dari sisi geografis, anthropologis, teologis, psikologis, administratif ataupun segala tethek bengek  yang lainnya.

Alasannya adalah perlu bertemu atau silaturahmi dengan banyak orang yang tentunya menguasai bidang-bidang tersebut. Di Indonesia itu memang pada dasarnya banyak cabang dari kajian keilmuan dalam menyokong kebutuhan peradaban yang terus berjalan ini.

Pengggunaan idiom “Papa” semoga tidak menjadikan sebuah hal yang berarti bagi njenengan, Bapak. Hal ini saya lakukan bukan untuk gaya-gayaan maupun berharap keromantisan sesaat. Namun hanya sekadar untuk memperkaya khazanah tata bahasa saja, bahwa di Indonesia itu banyak juga isilah untuk penyebutan terhadap “Bapak”. Mulai dari Bapak, Pa’e, Abi, Papa dan lain sebagainya.

Yang semuanya itu sebenarnya berlatar belakang pada kultur maupun kebiasaan. Tujuannya mungkin sama, untuk kebaikan bersama dalam menjalin kehidupan di muka bumi yang beberapa ahli menyebutkan bahwa memiliki percepatan gravitasi sebesar sembilan koma delapan meter per sekon kwadrat.

Pa, asal papa tahu jam tangan yang kamu berikan padaku beberapa hari yang lalu kini sudah bisa aku pakai di tanganku bagian yang kiri. Hal tersebut aku lakukan setelah sebelumnya jam tersebut masih dalam kondisi mati. Kemudian aku coba bawa kepada tukang reparasi yang tempatnya tak jauh dari tempat singgahku di kota seberang ini.

Tak perlu aku foto kemudian harus aku kirimkan baik lewat surat elektronik. Apalagi harus meminta tolong kepada tukang pos untuk mengantarkannya. Karena bagiku, kejujuran adalah ungkapan rasa saling menjaga dan percaya diantaranya. Hingga kini masih dan akan terus aku pakai, biar menjadi salah satu pengingat dalam hidupku.

Bahwasannya waktu yang dimiliki semua manusia itu hanya dua puluh empat jam dalam satu hari. Bahkan ada yang pernah bilang kurang dari itu. Albert Einstein pun dalam sebuah teorinya pernah menyampaikan bahwa waktu itu relatif. Aku tak akan mempermasalahkan hal tersebut, ketika aku belum bisa membuktikannya dengan nalar kritis dan fakta yang nantinya bisa diyakini kebenarannya oleh banyak orang.

Pa, memang kita perlu mengubah mindset yang terkadang masih sering kita yakini bersama. Terkadang kita sering beranggapan bahwa kita mengalami kurang waktu. Waktu berjalan dengan cepat menurut kita. Waktu seolah-olah mengejar kita dengan berbagai dinamika dan tekanan yang muncul di sana. Namun, kita belum begitu sadar dan menyadari sepenuhnya.

Bahwa waktu memang begitu. Berjalan dengan apa adanya. Sesuai dengan kehendak dari Yang Maha Memiliki Waktu. Ia akan terus berjalan sebelum memang harus diberhentikan entah kapan waktunya. Kita terkadang memang masih menganggap remeh ihwal waktu.

Tak mengerti bahwa alat penunjuk waktu dengan berbagai ragam jenisnya akan terus berjalan. Berjalan untuk menunjukkan waktu. Berjalan untuk menunjukkan masa lalu. Berjalan untuk menunjukkan masa sekarang. Berjalan untuk menunjukkan masa yang akan datang.

Pa, berkaitan mengenai waktu, izinkan aku untuk sedikit bercerita. Beberapa waktu yang lalu aku mengunjungi sebuah kota yang menjadi cerminan dari struktur pemerintah negara ini. Kota di mana banyak terdapat arus urbanisasi. Kota di mana sebagian orang menganggapnya sebagai persaingan baik dalam karir perpolitikan, perindustrian, perebutan kekayaan, pencarian kesejahteraan bahkan hingga persoalan dagelan.

Aku tak akan mempersoalkan hal itu. Bagiku itu adalah subjektivitas semata. Namun yang lebih penting bagiku adalah bagaimana aku melewati perjalanan pulang dan pergi yang sudah terlaksana. Aku ingin menceritakan itu, Pa.

Pa, dikala banyak orang yang telah terjun dalam sebuah hal yang bersifat pragmatis. Mereka memilih untuk hal yang bisa dibilang praktis. Tak peduli apakah ada dampak buruk sesudahnya. Kemewahan semata yang menjadi muaranya.

Kita harus pandai-pandai bersyukur, hingga saat ini masih ada orang-orang yang terus memperjuangkan nasib-nasib orang yang mungkin belum beruntung baik dari segala sisi, memperjuangkan untuk nasionalisasi aset-aset negara yang memang telah banyak dimiliki oleh orang asing, melepaskan diri dari perbudakan-perbudakan sistem kapitalis, menyuarakan hak-hak rakyat yang berada pada kondisi tertindas, menumbuhkan jiwa-jiwa negarawan baik nasionalisme dan patriotisme serta senantiasa belajar yang berorientasi untuk kepentingan, kemakmuran serta kesejahteran bersama.

Dalam salah satu perjalanan yang aku lalui aku menemukan sebuah hikmah di sana. Di kala senja, yang banyak orang mencari sosok yang hanya dibatasi lagi-lagi oleh waktu itu. Sosok yang banyak orang mengidam-idamkan. Sosok yang bahkan membuat banyak orang tergila-gila dengannya. Sosok yang banyak orang takjub akan keindahan yang ditawarkannya. Iya, itulah senja. Sebelum gelap datang mungkin hal yang telah diuraikan tadi benar.

Namun, aku tak akan mempersoalkan tentang senja. Biarkanlah senja berjalan dengan apa adanya. Di perjalanan itu, aku sebuah hal yang aku transformasikan dalam sebuah khayalanku. Iya, sebuah gerbong kereta lengkap dengan masinis dan berjalan di atas rel. Entah itu rel memang merupakan jalurnya atau sekadar untuk lewat saja kala itu. Yang pasti itu bukan rel kekuasaan yang hanya milik satu gerbong itu.

Asal papa tahu, dalam khayalku aku mengimajinasikan gerbong tersebut sebagai sebuah gerbong demokrasi dengan lokomotif reformasi. Senada dengan apa yang kita alami dalam berhidup dan berbangsa Indonesia ini. Sebuah tatanan kepemerintahan yang kalau tidak salah menurut Gus Dur adalah sistem ideal yang memang harus kita yakini sejauh ini.

Meskipun masih terdapat banyak kekurangan, karena sebuah sistem bagiku tidak akan menjadi sempurna ketika tidak mau beranjak dengan kekurangan yang ada. Kita mungkin masuk sebagai orang-orang yang harus senantiasa memperbaiki kekurangan yang ada.

Aku tak tau lebih hal mengenai demokrasi, Pa. Pengetahuanku hanyalah sebatas mengerti dan pernah menghafal dari apa yang pernah disampaian oleh salah satu sosiolog di dunia ini, bahwa demokrasi adalah pemerintahan yang berasal dari, oleh dan untuk rakyat.

Hematnya, mungkin sebuah tatanan pemerintahan itu memang milik dari rakyat. Semuanya harus diorientasikan pada rakyat. Tugas lain kita hidup di negeri atau dalam lingkup luas di dunia ini mungkin adalah berdasar dari salah satu falsafah “hamemayu hayuning buwana” atau memperindah keindahan dunia. Karena, bukankah manusia itu hidup di dunia sebagai wakil Allah yang dengan beberapa tugas harus diemban. Bukankah sebaik-baik manusia adalah ia yang bermanfaat bagi orang lain.