Sebuah gerakan dimulai oleh gerai penyedia makanan dan minuman cepat saji, yang kemudian menyebar menjadi tren tersendiri di masyarakat. Gerakan peduli lingkungan, dengan tidak menggunakan sedotan plastik lagi.

Di Indonesia sendiri, menurut Divers Clean Action, diperkirakan pemakaian sedotan setiap harinya mencapai 93,244,847 batang. Atau setara dengan jarak tempuh Jakarta ke kota Meksiko.

Sebuah awal membanggakan bagi negara yang menyumbang sampah plastik sebanyak 64 juta ton setiap tahunnya, dan menduduki peringkat dua sebagai negara penyumbang sampah plastik. Hanya kalah satu posisi dari Tiongkok.

Gerakan ini tentunya disambut sorak-sorai para aktivis peduli lingkungan. Dan tidak menutup kemungkinan perasaan dongkol para produsen sedotan plastik.

Gerakan ini pula memicu tren tersendiri di kalangan masyarakat indonesia. Sedotan re-use atau dapat digunakan berulang kali lebih mudah ditemukan. Sedotan jenis ini pun tersedia dengan berbagai pilihan bahan, ukuran, serta warna. Yang ajaibnya justru bisa menjadi alternatif usaha tersendiri sekarang ini.

Tapi akankah gerakan ini benar-benar menyelamatkan lingkungan? Atau justru sekadar “latah” masyarakat agar tidak ketinggalan zaman?

Jika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dapat diartikan sebagai penyakit saraf yang suka meniru perbuatan atau ucapan. Dapat juga diartikan sebagai meniru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain.

Dalam tulisan ini sendiri, “latah” digunakan untuk menjelaskan bagaimana masyarakat Indonesia cenderung mengikuti tren yang ada. Tanpa tahu menahu, asal, bagaimana, dan usaha untuk mempertahankan tren tersebut.

Tapi, apakah benar masyarakat Indonesia “latah”? Bagaimana kalau kita sedikit mengingat masa lalu. Pada tahun 2016 misalnya, Indonesia diserang permainan virtual Pokemon Go, yang membuat orang-orang dengan gawai berkeliling di tempat umum dan terpencil, untuk sekadar memburu monster virtual.

Makanan juga tidak terhindar dari “latah” masyarakat Indonesia. Di tahun 2017 misalnya, tren makanan pedas yang menyediakan berbagai level digandrungi banyak kalangan. Berbagai gerai makanan pedas dibuka, mulai dari kafe, resto, bahkan warung kaki lima yang sekadar menyediakan mie rebus.

Melirik tahun 2018 yang baru saja kita tinggalkan, sifat latah masyarakat Indonesia sempat kambuh beberapa kali, dan cenderung bersumbu dari film. Mulai dari pakaian muslim yang terinspirasi dari sebuah film superhero, yang menjadikan banyak warga Indonesia berlebaran ala Wakanda. Atau jaket denim yang penjualannya melejit karena Dilan.

Beberapa jajanan juga sempat menjadi tren tahun lalu, seperti es kepal yang menjadikan penjual es yang mengancam diet ini ada di setiap sudut jalanan. Dengan berbagai varian toping dan rasa.  

Lantas, apa salahnya jika orang Indonesia “latah” dengan gerakan tanpa sedotan plastik ini? Toh ini gerakan positif yang dilakukan untuk menyelamatkan planet tercinta. Pernyataan itu ada benarnya. Tapi mengingat kasus “latah” masyarakat sebelumnya, ketakukan akan gerakan ini sekadar menjadi tren, bukannya mengubah gaya hidup atau kesadaran masyarakat Indonesia, kemudian muncul.

Ketakutan ini dipicu karena “latah” masyarakat Indonesia, mejadikan sebuah tren menjadi sesuatu yang dilakukan karena orang lain melakukannya. Tidak dilakukan karena suka secara pribadi atau memiliki kesadaran untuk melakukannya.

Jika membahas kasus “latah” yang sudah disebutkan di atas, dapat ditarik kesimpulan jika “latah” ini mengalami beberapa fase. Dimulai dari munculnya sesuatu yang unik, lalu kemudian mendapat sorotan media sehingga terkenal dan booming.

Setelahnya tren yang booming ini mulai dianggap kegiatan kekinian, yang apabila tidak diikuti akan menjadikan kita ketinggalan zaman. Dengan banyaknya orang yang mencari, produsen mulai membuat secara besar-besaran, atau bahkan muncul beragam produsen lain, yang menawarkan varian unik lainnya dari tren tersebut

Sayangnya setelah berbagai histeria itu, tren ini kemudian akan mulai terasa membosankan, dan perlahan memudar dari masyarakat.

Untuk tren makanan misalnya, baik makanan pedas di tahun 2017 ataupun es kepal di tahun 2018, keduanya menjadikan penyedia makanan ini menjadi berlimpah, begitu pun variasinya. Hanya saja banyaknya penyedia justru tidak berbanding lurus dengan kualitas cita rasa yang ditawarkan.

Tren makanan pedas misalnya. Meski terlihat lezat, tidak sedikit penyedia makanan yang hanya sekadar membuat sambel dengan jumlah cabai rawit banyak. Atau malah dicampur secara serampangan pada masakan tanpa menambah bumbu lain yang menopang rasa masakan. Hasilnya? Masakan pedas yang terasa cabainya saja.

Begitu pula es kepal, meski pada dasarnya memang hanya merupakan es serut yang ditambahkan toping. Tapi banyak produsen yang menghasilkan es kepal kelewat manis, yang justru membuat kita mengkhawatirkan kadar gula darah atau kesuksesan diet.

Bagaimana dengan pakaian? Baju muslim ala Wakanda atau jaket denim ala Dilan, menghilang secepat film mereka mulai tidak mengisi media sosial, atau berhenti menjadi bahan pembicaraan.

Lalu, apa kabar Pokemon Go? Meski tetap memiliki pencinta tersendiri, namun sudah jarang kita melihat para pemburu monster virtual berkeliaran dengan gawai untuk melacak buruan imut mereka.

Pertanyaan selanjutnya, apakah gerakan tanpa sedotan plastik ini merupakan “latah” pula? Atau memang gerakan yang dilakukan untuk menyelamatkan “rumah” kita? Jawabannya tidaklah pasti. Ini bisa saja menjadi gerakan yang sesungguhnya, dan menjadi awal dari Indonesia yang ramah lingkungan. Tapi, bisa juga merupakan “latah” karena terkesan kekinian.

Pertanyaan ini belum bisa terjawab, tergantung bagaimana gerakan ini berakhir; apakah sekadar menghilang nantinya atau menjadikan kita sadar akan gaya hidup ramah bumi.

Akhir gerakan ini sendiri bergantung pada bagaimana masyarakat memandang, menerima, dan memahami gerakan ini. Bila masyarakat Indonesia hanya melihat gerakan ini sebagai alasan untuk menggunakan sedotan re-use agar kekinian, atau sekader sebagai momentum ombak pasar untuk berjualan, maka sepertinya kita tinggal menunggu sampai “latah” ini hilang sendiri.

Tapi, jika gerakan ini dipicu rasa kasihan pada paus yang ditemukan dengan sampah plastik di perutnya dan menjadi langkah awal masyarakat untuk mulai menolak kantong plastik, atau membawa kantong sendiri saat berbelanja, maka kita bisa tersenyum.

Pada dasarnya gerakan ini hanyalah awal. Diperlukan peningkatan agar “gerakan peduli lingkungan” ini betul-betul membawa perubahan. Karena akan sangat ironis rasanya jika kita membeli sedotan re-use, tapi meminta kantong plastik saat membelinya.

Atau menggunakan sedotan re-use untuk jajan makanan yang menghasilkan sampah plastik sambil menggunakan tisu dan kertas yang kemudian mengancam keberadaan pohon. Atau malah menenteng sedotan re-use, tapi malah membuang sampah di mana saja.

 Di awal tahun ini, mungkin ada baiknya kita mulai mengikuti tren ini sambil mempertanyakan kenapa kita mengikuti tren ini. Sambil berpikir bagaimana kita bisa menaikkan level dalam tren cinta lingkungan ini. Tidak sekadar "latah" atau karena mau dibilang kekinian.