Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia bebas. ~ Soe Hok Gie

Sejatinya manusia bebas untuk memilih jalan hidupnya masing-masing tanpa ada kaitannya dengan apa pun. Salah satu batu sandungan atas kebebasan itu adalah ego. Efeknya, akal kadang menjadi pendek akibat reaksi yang berlebihan dari harga diri (ego).

Saya tidak akan berpanjang lebar menjelaskan lebih jauh karena sudah banyak contoh akibat pendeknya akal akibat ego. Contoh nyatanya adalah konflik etnik di masyarakat, khususnya pada rezim Orde Baru, yang masih berdampak hingga saat ini, walaupun banyak di antara kita yang berpura-pura menutup mata atau lupa atas kejadian ini.

Stigma warga kelas dua di kalangan keturunan Tionghoa yang diberikan oleh penguasa untuk kepentingan politiknya masih melekat erat pada generasi selanjutnya. Era Orde Baru telah lama usai, tapi perdebatan tentang siapa pemilik asli negara ini masih akan terus bergulir dan tidak akan menemukan titik temu selama kita melupakan sejarah.

Integrasi di Nusantara

Sebelum negara Republik Indonesia terbentuk, kita terlebih dahulu mengenal istilah kerajaan. Kerajaan atau pun kesultanan telah berkuasa dan menjalankan pemerintahannya berdasarkan corak agama yang dianut. Terlepas dari kepercayaan yang dianut oleh kerajaan atau kesultanan masyarakat pada zaman itu telah mengenal konsep toleransi.

Kearifan lokal daerah-daerah di Nusantara adalah salah satu daya pikat selain kekayaan sumber daya alam Nusantara. Sedari dahulu kerajaan dan kesultanan di wilayah Nusantara telah lama menjalin kerjasama dalam perdagangan, pertukaran budaya, dan pendalaman agama dengan kerajaan-kerajaan lainnya.

Akibatnya, diterima atau tidak, terjadi asimilasi dan alkulturasi dalam kehidupan masyarakat, baik selama masa kerjaan, kesultanan ataupun kolonia. Contoh dari integrasi itu adalah masyarakat Betawi yang merupakan percampuran berbagai macam suku di Nusantara.

Percampuran ini tidaklah terjadi secara instant, tetapi melalui proses panjang dan memakan waktu yang lama. Terbentuknya masyarakat Betawi dapat dijadikan petunjuk bahwa sedari dahulu masyarakat di Nusantara sangat majemuk dan tingkat toleransi yang besar antar masyarakat.

Genosida

Awalnya masyarakat kulit putih atau lebih dikenal dengan masyarakat Eropa adalah utusan dagang dari kerajaan-kerajaan di Eropa yang tujuan utamanya adalah menjalin kerjasama dengan kerajaan atau kesultanan di Nusantara. Rempah-rempah menjadi komoditas utama yang diperdagangkan selama masa tersebut karena harganya lebih mahal daripada emas.

Akibat kekayaan sumber daya alam Nusantara dan ketamakan pemerintahan Eropa untuk mendominasi perdangan pada masa lalu menjadikan negara-negara penghasil rempah dan sumber daya alam lainnya sebagai sasaran empuk dan berharga untuk dimiliki.

Semenjak dimulainya penaklukkan daerah-daerah oleh bangsa Eropa akibat kerakusan bangsa itu menjadi awal kehancuran kearifan lokal dan dimulailah era konflik berkepanjangan di negara ini. Daerah-daerah Nusantara berlahan tapi pasti ditaklukkan oleh bangsa Portugis, Belanda dan Inggris, baik dengan perlawanan atau pun tanpa perlawanan.

Berdasarkan buku pelajaran sejarah yang kita ketahui bangsa kita telah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Fakta ini sangatlah menyesatkan, karena kenyataannya kita dijajah tidak hanya oleh bangsa Belanda saja, melainkan kaum kapitalisme yang tergabung dalam VOC (Verenigde Oostlnische Compagnie) atau kongsi dagang Belanda.

Untuk merauk untung besar dan membesarkan kerajaan kapitalisme VOC, mereka menggunakan politik adu domba. Permainan politik semakin mudah terlaksana dengan pemisahkan penduduk berdasarkan ras atau suku tertentu.

Tujuan pemisahan ini dilakukan berdasarkan suku dan ras agar lebih mudah dikontrol dan terorganisir. Akibat pemisahan secara paksa masyarakat yang awalnya majemuk berdampak terhadap munculnya rasa saling curiga antar ras. Prasangka dan kecemburuan inilah yang sengaja dibentuk dan terus dijaga oleh pemeritah kolonia untuk melindungi kepentingan mereka di negara jajahannya.

Pada masa tersebut, para penduduk Eropa berada di satu kawasan utama yang dikelilingi oleh perkampungan lainnya yang mengitari kawasan penduduk Eropa. Hal ini dimaksudkan agar perkampungan (contoh: kampung cina, kampung melayu, kampung arab, kampung india, kampung jawa, dst) tersebut bisa menjadi benteng pertahanan kawasan totok (bangsa Eropa).

Selama masa kolonial, masyarakat dipisahkan berdasarkan rasnya. Ada tiga golongan masyarakat: pertama adalah masyarakat totok atau Eropa asli dan kelompok yang mendapatkan pengakuan secara hukum, kedua golongan Asia Timur (seperti: Arab, India, Tionghoa, Jepang dan lain sebagainya) dan terakhir golongan pribumi (dianggap sebagai masyarakat nusantara).

Ternyata pemikiran yang selama kita pertahankan tentang jati diri berdasarkan ras sangatlah menyesatkan. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya pemisahan ras itu adalah hasil ciptaan bangsa kolonia yang tujuannya tentu untuk melindungi kekuasaan mereka.

Sayangnya kesalahpahaman tentang ras ini terus dipertahankan dan terkadang dimanfaatkan oleh pemaku kepentingan yang tidak bertanggung jawab. Kebencian antar ras sendiripun sebenarnya bukanlah asing dalam sejarah kita.

Sewaktu abad ke-17 terjadi penurunan penjualan gula dunia dan berdampak terhadap lapangan pekerjaan di Hindia Belanda. Selain itu gerombolan imigran Tionghoa semakin memadati wilayah Batavia dan mengakibatkan tingginya angka pengangguran.

Pada tahun 1740 diperkirakan sebanyak 4000 keturunan tinggal di dalam tembok Batavia dan 10000 keturunan bermukim diluar tembok Batavia. Akibat banyaknya jumlah keturunan dibandingkan masyarakat totok tersebut Gubenur Jendral Adriaan Valckenier (1695-1751) mengambil keputusan untuk mengasingkan masyarakat keturunan yang tidak memiliki pekerjaan ke daerah Sri Langka.

Tetapi ada isu yang berkembang bahwa para keturunan itu akan dibunuh dengan cara dibuang ke laut. Akibat isu berkembang dengan cepat dan luas menyebabkan reaksi berupa perlawanan terhadap pemerintah Belanda.

Pemerintahan Belanda tidak diam dan mengambil langkah anarkis sebagai bentuk perlawanannya. Perlawanan masyarakat keturunan di Batavia dikenal dengan nama Geger Pecinan yang terjadi pada tanggal 9 Oktober 1740.

Dalam buku Reise in Os-Indien tahun 1751 oleh pelaku pembantaian dan perampokan G. Bernhard Schwarze memaparkan bahwa setelah kejadian tersebut tidak tersisa lagi masyarakat Tionghoa dalam kota Batavia. Jumlah korban diperkirakan lima ribu hingga sepuluh ribu orang mati dibantai, dijarah dan dilupakan.

Inilah genosida yang pernah tercatat dalam sejarah Nusantara. Kisah klasik ini sering dipergunakan kembali oleh para penguasa dalam peralihan kekuasaan. Salah satunya adalah kerusahan Mei 1998.

Sikap Diri

Terlepas dari konflik atau politik kepentingan. Sikap anarki dan arogan pemerintahan zaman kolonial atau pemerintahan masa lalu sudah saatnya berakhir. Harga diri yang terlalu tinggi memandang etnis, ras atau pun agama tertentu sebagai superior sudah diubah.

Pada dasarnya Indonesia adalah negara manjemuk yang terbentuk melalui proses asimilasi dan alkulturasi selama berabad-abad. Benturan-benturan etnis, ras ataupun agama oleh pemangku kepentingan pada masa lalu (sebut saja politik adu domba) adalah hasil kebudayaan pemerintahan kolonia yang sudah saatnya kita hilangkan bersama.

Konflik adalah buah keberhasilan para pemangku kepentingan untuk menguntungkan kelompoknya. Sebelum kita menjadi babu dan jongos para pemangku kepentingan untuk urusan politik mereka. Marilah kita lebih dahulu mengingat sejarah yang telah terjadi agar ke depannya kita lebih kritis, awas dan mawas.

Jangan lagi kita berlarut pada masa lalu. Kehidupan akan terus mengalir dan yang hidup akan berusaha memperbaiki diri. Mari bersama kita kembali pada toleransi dan kearifan masyarakat Nusantara. Siapkah kita berubah?