Menyimak perilaku-perilaku oknum pemimpin negeri yang akhir-akhir ini viral karena menunjukkan perilaku moral yang kurang baik dan di luar apa yang diharapkan, membuat semakin pesismis akan perbaikan negeri ini. Drama-drama yang dipertontonkan adalah drama-drama sampah, yang tak seyogyanya ditunjukkan oleh seorang pemimpin. Perilaku moral yang diperlihatkan adalah ketidakpatuhan, perlawanan, perbantahan dan kepalsuan.

Sesungguhnya, hal ini hanyalah satu atau dua teladan buruk dari begitu banyaknya teladan buruk lainnya yang diperlihatkan di negeri ini. Miris dan memilukan! Banyak contoh yang tidak baik yang muncul dinegeri yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai moral sejak dari masa-masa kecil.

Apakah generasi muda hanya akan menjadi penonton setia dari perilaku-perilaku sampah ini? Atau juga generasi-generasi emas negeri ini menjadi penerus teladan memilukan ini? Juga sebagai orang tua dan elemen bangsa lainnya hanya akan apatis terhadap situasi demikian?

Setiap orang akan memilih respons masing-masing terhadap hal-hal yang terjadi. Tetapi, bagi kita, segenap bangsa khususnya generasi muda sebagai aset-aset masa depan negeri gemilang ini harus merespons dengan benar akan situasi ini dan mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin-pemimpin negeri dengan prinsip moral yang baik.

Setidaknya, generasi muda belajar banyak dari kondisi yang terjadi hari ini. Mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin masa mendatang tidak hanya memfokuskan diri pada kualitas keilmuannya saja, tetapi juga kualitas moral. Karena, sejatinya seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dalam setiap aspek hidupnya, termasuk aspek moral.

Pemahaman & Pembentukan Perilaku Moral

Moral/mo·ral/ merupakan (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak; budi pekerti; susila.

Pada hakikat sebagai ciptaan, setiap orang sesungguhnya diciptakan dengan sangat baiknya, termasuk nilai–nilai moral. Hakikat ini yang disebut moral murni, yakni moral yang sesungguhnya terdapat pada setiap manusia sebagai suatu pengejawantahan dari pancaran ilahi. Moral murni ini disebut juga hati nurani yang mendorong setiap orang sejak lahirnya kecenderungan menyukai segala kebaikan sebagimana Penciptanya.

Hanya saja, kondisi zaman dan keadaan dunia yang semakin rusak oleh dosa telah menggeser perilaku moral yang baik tersebut. Karena moral itu sendiri dipengaruhi oleh aspek-aspek lain di sekelilingnya, yakni ajaran agama, adat, ajaran filosofis dan pendidikan; didikan orang tua ataupun melaui sistem pendidikan formal yang diterima (disebut moral terapan).

Merujuk pada pemahaman tersebut, maka generasi muda sebagai pilar bangsa di masa mendatang harus mulai memikirkan aspek itu lebih mendalam. Memberikan ruang bagi dirinya untuk memahami persoalan moral yang sedang terjadi dan memberikan ruang koreksi bagi dirinya tentang perilaku moralnya dan memiliki kerinduan untuk belajar memiliki perilaku yang moral baik.

Tentunya spiritualitas yang baik menjadi pondasi dan kontrol moral generasi muda. Memahami secara dalam makna dan tujuan penciptaannya oleh Sang Pencipta akan mendorongnya untuk terus hidup lebih baik dan belajar menjadi pribadi dengan perilaku moral yang baik. Karena pembentukan perilaku moral yang baik selalu dipengaruhi oleh motivasi, dan pemahaman tujuan akhir dalam dirinya.

Pada sisi pembentukan moral terapan bangsa khususnya generasi muda, maka sinergitas dari keseluruhan elemen bangsa yang mempengaruhinya menjadi sangat wajib berjalan baik sesuai fungsi masing-masing.

Proses pembentukan perilaku moral yang baik selalu dimulai dari keluarga, maka orang tua selalu menjadi penentu dibangunnya nilai-nilai yang baik dalam keluarga sebagai lingkup terkecil. Menjadi sangat wajib bagi kita para orang tua menjadi teladan dalam perilaku moral bagi anak-anaknya.

Penguatan pemahaman nilai-nilai ajaran agama dengan baik harus pada lajur yang sebenar-benarnya. Tidak pula ajaran agama hanya sampai pada aspek kognitif tanpa sampai pada aspek konatifnya.

Sehingga pola yang terjadi kemudian adalah ajaran-ajaran baik keagamaan yang diperoleh dari kebaikan Kitab Suci hanya sampai pada knowledge saja tanpa melakukan. Sehingga generasi yang terbentuk hanya sekedar generasi pendengar dan bukan pelaku nilai-nilai kebenaran.

Selanjutnya, pendidikan harus dibangun dengan pola yang baik, terstruktur dan berkelanjutan yang fokus memperhatikan pembentukan kharakter yang baik dilingkungan formal maupun informal. Tentunya hal ini telah menjadi agenda dari pemerintah yang harus didukung pada saat ini, namun tentu harus juga berjalan dengan kontrol yang baik.

Respons Positif Generasi Muda

Minimnya teladan perlaku moral yang baik dari pemimpin di negeri ini dan kompleksitas yang mempengaruhi pembentukan perilaku moral, mewajibkan generasi muda dan semua elemen bangsa sadar akan pentingnya respons baik dan positif terhadap persoalan ini, bukan sebaliknya. Respons positif generasi muda ditunjukkan dengan kesadaran dini dan memberi ruang-ruang koreksi bagi dirinya sendiri tentang aspek moralitasnya.

Sangat diharapkan pula untuk secara kontemplatif menyampaikan pesan pada dirinya sendiri akan sebuah tanggung jawab pemulihan bangsanya pada banyak aspek, termasuk aspek moral. Yang kemudian perilaku moral yang baik ini akan di teladankan bagi generasi pencerah bangsa berikutnya.