Lahir di pertengahan tahun 1990-an membuat generasi millenial hidup dengan banyak fase perubahan. Perubahan di ranah ekonomi, politik, budaya, sosial hingga teknologi. Baik perubahan secara perlahan maupun drastis yang orang sebut revolusi. Sehingga dapat dikatakan generasi yang mudah beradaptasi. Menyesuaikan diri di tengah-tengah kehidupan yang sarat akan perubahan.

Berjalan beriringan dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan terus terjadi tanpa siapa dapat menghenti. Bahkan perubahan-perubahan tersebut mengalami batu loncatan yang fantastis. Seperti yang Paul Vrilio sebut sebagai dromology, sebuah proses percepatan kultural yang ditopang oleh kehadiran teknologi komputerisasi yang signifikan.

Pesatnya perkembangan pengetahuan tentu tak lepas dari peran kertas. Sebagaimana Imam Syafi’i katakan “Ilmu bagaikan hewan buruan, dan tulisan ibarat tali pengikatnya,”.  Sebelum hingga begitu populernya dunia digital, kertas memiliki andil sebagai media tulisan itu dituangkan.

Bahkan di era kekinian yang banyak orang menyebutnya ‘zaman now’, kertas berperan cukup besar dalam berbagai pola kehidupan manusia. Kertas masih populer dan dibutuhkan oleh berbagai kalangan meski banyak yang tengah beralih menuju digital.

Generasi Millenial

Generasi millenial juga mendapat sebutan Generasi Global, Next Generation, dan Net-Generation (generasi internet). Generasi millenial adalah nama lain dari generasi Y (generasi setelah generasi X) yang kemudian lebih populer dengan sebutan generasi milleial. Bahkan acapkali mendapat perundungan sebagai generasi micin.

Awal mula penamaan generasi ini adalah lonjakan angka kelahiran pasca perang dunia II. Lonjakan yang terjadi antara tahun 1980-an sampai 1990-an dianggap sebagai generasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Sehingga dikategorikan dalam generasi berikutnya, yaitu generasi Y. Dicirikan dengan para manusia dengan penuh rasa toleran, ramah akan perubahan, dan pola dan gaya komunikasi yang tengah terpengaruh kemajuan zaman.

Selain itu, kemudahan teknologi tengah membuat generasi millenial candu dengan berbagai hal yang instan. Banyak tudingan menyatakan bahwa generasi millenial kebanyakan makan micin, sehingga memiliki pola hidup konsumtif dan penikmat hal instan, dari pekerjaan hingga makanan. Tidak menafikan segalanya ingin direalisasi dalam sekali genggaman seperti yang ditawarkan oleh ponsel pintar.

 

Lahirnya Kertas

Sebelum kelahiran kertas, manusia menulis dengan berbagai media di sekitar mereka yang dapat digunakan. Seperti kulit kayu, kulit binatang, batang pohon, daun, dinding-dinding gua hingga batu yang kita kenal dengan nama prasasti.

Kertas pertama kali dibuat oleh Tsai Lun, seorang berbangsa China pada 101 masehi. Membuat kertas berbahan dasar bambu yang awalnya menjadi barang yang cukup mahal. Teknik pembuatan kertasnya kemudian dikembangkan oleh dinasti Abbasiyah dan terus berkembang. Kertas temuannya berkembang pesat di era Mesir Kuno dengan nama Papirus yang kemudian dimaknai sebagai paper atau kertas saat ini.

Dalam perjalanannya, kertas berkembang dan tersebar ke berbagai Negara dengan sebutan yang beraneka. Bermula dari Negara-negara Timur Tengah hingga daratan Eropa. Bernama warokah di Arab Saudi, papier di Prancis, Papel di Spanyol dan masih banyak lagi.

Selain kertas buatan Tsai Lun, ada banyak macam kertas dan versi sejarah kertas  yang tersebar dan beredar di berbagai belahan dunia dengan teknik pembuatan yang katanya rahasia pada zaman dahulu kala. Seperti washi, kertas yang dibuat dengan metode tradisonal ala Jepang. Juga ada bo, kertas berbahan dasar sutra yang terinspirasi dari teknik penggulungan sutra di China.

Masyarakat Tanpa Kertas

Tidak hanya masyarakat tanpa kelas gagasan Karl Marx, masyarakat tanpa kertas gagasan Frederick Wilfrid Lancester juga menjadi konsep masyarakat yang banyak dibicarakan, ditelaah, hingga dikaji dengan berbagai sudut pandang.

Konsep masyarakat tanpa kertas telah Lancester ramalkan sejak 1978 lalu ketika kertas masih berada pada masa kejayaan. Ia memprediksi bahwa dunia di masa depan tidak lagi menggunakan kertas untuk berkomunikasi maupun sarana bertukar informasi. Bahkan menurut Connolly dan Kleinr (1993), dalam konsep paperless office, di masa depan bolpoin dan kertas tidak lagi dibutuhkan, karena semua pekerjaan kantor, terutama dokumen-dokumen akan ditangani oleh jaringan dan terminal-terminal komputer.

Hari ini, di sekolah, perkuliahan, hingga perkantoran sering menyebut kata paperless ketika pekerjaan yang biasanya menggunakan kertas (hardfile) diganti dengan softfile. Entah dikirim via email atau media pengiriman lainnya. Paperless seakan jadi tagline guna mengurangi penggunaan kertas demi kelestarian lingkungan yang hari ini tengah miris digaungkan.

Tidak ada lagi kertas bertumpuk di meja dosen, berderet segala tetek bengek tugas dan laporan mahasiswa setiap minggunya. Para mahasiswa cukup mengumpulkan tugas kuliah via email atau via portal sistem informasi terpadu milik Univesitas berbasis online. Bahkan sistem penilaian yang juga online. Sehingga dosen tidak perlu lagi membawa tumpukan tugas pulang ketika tak ada waktu luang.

Maksimalisasi paperless ini ditunjang dengan kecanggihan teknologi yang seakan melebihi pendamping hidup, bahkan Tuhan. Bermodal ponsel pintar yang tak pernah ketinggalan, manusia menemukan segala hal cukup dengan ketik dan terhubung dengan semua orang cukup sekali klik. Seakan dunia hanya dalam genggaman tangan.

Teknologi yang katanya diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia terlihat berdaya guna. Pekerjaan-pekerjaan menjadi sederhana, khususnya yang berkaitan dengan dokumentasi tulisan guna berkomunikasi maupun sarana bertukar informasi. Hampir semua yang cetak tengah mengalami transformasi menuju digital. Seperti surat, kalender, koran dan majalah, buku, jurnal, pamflet hingga undangan berubah jadi digital.

Ramalan yang pernah dicetuskan oleh Lancester dahulu seakan terlihat seakan nyata hari ini. Tapi, akankah sudah terwujud demikian?

Eksistensi Kertas Masa Kini

Dunia digital dengan masyarakat tanpa kertas terlihat nyata sedikit semunya. Banyak hal dipangkas dengan cukup berbentuk digital semata. Tapi belum semuanya, atau tidak akan semuanya? Beberapa pertanyaan berkelit ketika dibenturkan dengan data, fakta, dan realita di sekitar kita. Tepatnya dunia yang katanya tengah berada dalam satu genggaman tangan seperti yang generasi millenial agungkan.

Menurut kemenperin.go.id, pada tahun 2017, kebutuhan kertas dunia meningkat rata-rata 2,1% per tahun. Dengan kenaikan 4,1 % per tahun di Negara berkembang dan 0,5 % per tahun di Negara maju. Hal ini merupakan negasi dari paperless society. Bahkan kebutuhan kertas dunia diperkirakan naik 24,3%, mencapai 490 juta ton pada tahun 2020. Jika memang terwujud, mengapa kebutuhan akan kertas terus meningkat?

Sepintas paperless society seakan nyata, tetapi nyatanya kertas belum dan tidak terganti. Masih ada banyak hal yang mengunakan kertas dan tidak dapat diganti dengan bukan kertas. Seperti hal sepele layaknya tisu hingga hal penting berupa kontrak perjanjian yang hari ini masih baru dianggap legal dengan pembubuhan tanda tangan di atas materai.

Beragam buku bacaan ternyata juga masih laris manis dalam bentuk cetakan. Berupa buku kaku seperti ensiklopedia hingga karya sastra seperti novel dan antologi cerpen maupun puisi. Perlu diakui bahwa membaca di atas kertas memiliki kenikmatan yang berbeda daripada membaca dalam bentuk digital.

Esensi yang dirasakan ketika membandingkan antara membaca dalam bentuk kertas dengan membaca dalam bentuk difgital jelas berbeda. Ada ketertarikan tersendiri sehingga buku-buku cetakan masih ramai digemari pembeli. Entah di toko buku dengan harga yang sepadan hingga di toko loak dengan harga yang tidak memberatkan.

Bahkan tulisan yang telah didistribusi ramai secara digital, masih pula ditunggu dan digandrungi dalam bentuk cetakan. Sebut saja wattpad, sebuah komunitas online bagi penulis dan pembaca layaknya blogger yang dilengkapi dengan hak cipta. Tulisan dengan pembaca yang tidak sedikit dan rating lumayan tinggi menjadi buruan para penerbit.

Para pembaca yang telah membaca tulisan tersebut di wattpad ternyata menjadi pangsa pasar yang besar. Karena mereka akan dengan segenap keinginan untuk kemudian membaca dalam bentuk cetakan. Rata-rata, penulis di Wattpad adalah para kaula muda beranjak dewasa dengan kisah fiksinya. Menunjukkan generasi millenial masih setia bersama kertas di era kekinian.

Digital memang hal yang memudahkan, tetapi bukan berarti ia membuat kertas enyah dari peradaban literasi generasi masa kini. Berbagai e-book yang didapat melalui aplikasi dalam genggaman banyak dicetak mandiri oleh kaula muda penikmat bacaan dalam cetakan. Karena sensasi membaca dalam cetakan tidak ditemukan ketika membaca dalam digital

Terlebih di era publikasi, koleksi banyak buku di lemari, meja belajar dan di rak-rak seakan memberi kesan sudah membaca banyak buku. Selain dapat dimanfaatkan sebagai latar berfoto ria seolah insan yang cendekia, koleksi ini akan mempermudah di masa tua. Ketika mata tak lagi bebas membaca tanpa bantuan lensa cembung, cekung, atau perpaduan keduanya, membaca dalam cetakan akan lebih minim resiko daripada membaca dalam digital.

Kertas masih dibutuhkan dan diharapkan menjadi rekan generasi millenial menuju kemajuan. Dengan caranya sendiri, kertas tetap jadi idaman berbagai kalangan, hingga generasi millenial sekalipun.