Milenial dikenal sebagai generasi Y. Geegerasi adalah kelompok demografi setelah generasi X. Secara pasti, tidak ada batas waktu untuk tahun kelahiran awal dan tahun kelahiran akhir. Namun para ahli dan peneliti menggunakan tahun 1980 hingga tahun 2000an sebagai kelahiran generasi ini. 

Generasi ini sangat dekat dan bisa juga diistilahkan sudah mendarah daging dengan yang namanya teknologi, informasi, dan komunikasi. Begitu susah untuk dipisahkan, bak pertemuan magnet dan besi. Teknologilah yang bisa mengantarkan generasi ini pada kemajuan dan kemunduran. 

Keputusan untuk memilih maju dan mundur ada pada tangan generasi ini. Salah satu di antaranya adalah teknologi internet (media sosial) yang bisa menghipnotis hati, mata, dan pemikiran.

Terlepas dari kegiatan positif yang dilakukan di media sosial, ada sebuah candu yang merasuki. Candu itu tak lain adalah suka update status, baik itu status galau atau senang, posting foto travelling, foto kuliah, foto ngumpul bareng teman, dan lainnya. 

Terkadang ketika memposting foto (foto menghadiri pernikahan teman), tak lupa membuat caption begini, “Aku dan kamu kapan begini yah? Eh, iya. Kamunya kan entah di mana.” Tujuannya apa coba? Tentu membuat status begitu tidak terlepas dari perhatian. Butuh perhatian, butuk like, butuh comment, dan butuh kamu. Iya, kamu.

Untuk pengguna media sosial, Dave Willis menyatakan bahwa jangan gunakan media sosial untuk menarik perhatian orang lain; gunakan untuk memberikan hal positif kepada orang lain.

Kalau kamu menunggu atau ingin menarik perhatian orang lain untuk setiap postinganmu, tentu ini akan membuatmu semakin jemu. Bahkan akan terus dan terus update status sampai statusmu ada yang like atau comment, hingga kamu mengabaikan dunia nyata ini. Selingkuh ya? Jangan lama dong. Hiks.

Terkadang generasi milenial tidak menyadari bahwa hati dan pikirannya sering tertidur pulas di media sosial, bahkan sulit untuk dibangunkan. Di mana pun berada, selalu update status dan posting foto terbaru. Satu jam tidak megang smartphone, gelisah menghampiri. Terasa ada yang kurang. Smartphone tak bisa lepas dari tangan. Sungguh, lemnya benar-benar awet ya?

Bahkan tidak ada yang lebih horor daripada baterai smartphone yang mau habis. Hal yang dilakukan tentu segera mengisinya. Perasaan panik akan muncul jika sedang berada di luar rumah dan tidak membawa charger dan power bank. 

Apa salahnya jika pikiran tak sepenuhnya tertuang pada smartphone? Selain itu, kamu bisa memanfaatkan situasi di luar atau lingkungan di sekitar untuk disulap menjadi tulisan. Apalagi bagi kamu yang suka travelling dan mengunjungi tempat bersejarah, bisa memanfaatkan momen tersebut untuk mengumpulkan data hingga bisa diolah menjadi tulisan. Uang sakumu bisa bertambah, bukan?

Media sosial bisa membuatmu lena bahkan mematikan. Raja selfie ekstrem, Young Ning sering memamerkan foto esktremnya di media sosial yang sering juga ditiru oleh para remaja belahan dunia. Namun pantang tak bisa dielak, pada tanggal  08 November 2017, dia jatuh dari gedung lantai 62. 

Ini adalah salah satu contoh jika hobi selfie ekstrem bisa membawamu ke ujung maut. Terkadang kamu tidak menyadari kalau dirimu sudah dikendalikan oleh media sosial. Hidupmu tak sepenuhnya milik smartphone. Hidupmu butuh kebahagian tanpa smartphone. Hidupmu butuh ketenangan tanpa smartphone. Kembali pada diri, kendalikan diri.

Ketika ada acara reunian atau acara kumpul bareng teman, semuanya pada sibuk dan fokus dengan smartphone-nya masing-masing. Kepala tertunduk ke bawah, bahkan terlihat lebih menghayati daripada mengheningkan cipta upacara bendera. 

Sebelum bertemu, semuanya pada bilang kangen ditambah dengan emotion love-love, ingin berbagi cerita, dan lainnya. Tapi nyatanya, ketika sudah ngumpul, ketika mata bertemu mata, semuanya teralihkan oleh smartphone. 

Lebih indah jika momen tersebut dimanfaatkan untuk berbagi cerita atau bertukar pengalaman. Mungkin dari cerita tersebut bisa membuatmu bangkit dan semakin semangat untuk menggapai asa. Sungguh berharganya dirimu jika selalu menebarkan manfaat untuk orang lain.

"Pengalaman bukan saja yang telah terjadi pada diri Anda, melainkan apa yang Anda lakukan dengan kejadian yang Anda alami." Sepertinya pernyataan dari Aldous Huxley tersebut perlu kamu terapkan.

Media sosial dipenuhi oleh generasi muda. Tentunya generasi muda adalah pionir negeri ini. 

Sebagai generasi muda pengguna media sosial,, sudah sepantasnya kamu tidak hanya sebagai pengguna pasif yang hanya suka memposting foto selfie ditambah caption galau atau apalah itu. Tapi jadilah pengguna media sosial yang aktif mengkritik, memberi saran terhadap isi-isu yang terjadi. Selain itu, kamu juga bisa jadikan sebagai alat untuk mengembangkan atau menyalurkan potensimu dalam perihal tulis-menulis. Aksimu akan terlihat dan nyata.

Tak lebih ketinggalan lagi kamu juga bisa memanfaatkan media sosial sebagai toko lapak usahamu. Sepertinya media sosial adalah pasar terbaru yang mesti dimanfaatkan sebaik mungkin. Semua kembali lagi kepada hati dan pikiranmu. Aktif sebagai pengguna media sosial yang suka pamer foto atau memposting status kegalauan yang haus perhatian atau sebagai pengguna media sosial yang menebar manfaat untukmu dan orang lain.

Jadilah generasi muda yang cerdas dalam menggunakan media sosial. Jadilah generasi muda yang cerdas tidak hanya di media sosial tetapi di dunia nyata. Hal ini sesuai dengan motivasi yang diberikan oleh salah satu tokoh yang saat sekarang ini diidolakan oleh anak-anak muda dan tak kalahnya juga diidolakan oleh emak-emak.

Pada hari Jumat, 19 Oktober 2018, saat kesempatan acara “Dialog Milenial” yang diadakan di Gedung Yamaha (Padang), dialah Sandiaga Uno menyampaikan bahwa generasi muda itu cenderung ingin fleksibilitas dalam bekerja, ingin semuanya serba cepat. Untuk itu, entrepreneur adalah salah satu pekerjaan yang cocok untuk kaum milenial. 

Namun, untuk meraih itu, seorang entrepreneur mesti memiliki ketekunan, kerja keras, dan inovatif dalam mengeluarkan ide-ide. Terus belajar dan jangan gengsi belajar kepada senior yang lebih berpengalaman. Agar bisa sukses di persaingan global dan tak kalah dengan bangsa lain.

Nah, cocok kan untukmu?