Semua orang berlarian. Sebagian bersembunyi di balik reruntuhan dan sisa-sisa bangunan. Beberapa kali suara tembakan peluru terdengar menuju ke arah kerumunan orang tanpa senjata. Merangkak, sebagian dari mereka memaksa berperang dengan cacat tubuh permanen. Malam yang buta itu, hanya jerit dan rintih kesakitan yang samar terdengar.

Konflik, perang, permusuhan, pernindasan atau lain semacamnya. Semua berawal dari sikap egosentrisme yaitu sikap dan tindakan yang selalu menjadikan diri sendiri sebagai pusat kebenaran. Entah itu mementingkan jabatan, kekuasaan, dan segala bentuk keserakahan walaupun itu harus membuat sungai merah dari mayat orang-orang tak berdosa.

Perang merupakan suatu keadaan di mana orang atau kelompok manusia berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lain yang disertai ancaman dan kekerasan. Setelah mengalami perubahan paradigma atau kerangka pikir istilah konflik tidak hanya melibatkan satu negara saja, melainkan pihak yang bukan negara pun ikut terlibat dalam konflik.

Konflik-konflik bersenjata yang berkepanjangan masih tetap terjadi di beberapa negara. Suriah salah satunya. Konflik Syiah-Sunni adalah alasan yang paling didengung-dengungkan atas terjadinya pertumpahan darah tak berkesudahan di Suriah selama ini. Tuduhan Syiah terhadap Presiden Bashar Al-Assad menjadi pembenaran bagi jihadis untuk menyerang Bashar dan pengikutnya serta menghalalkan darah mereka. Anggapan itu didasari pada hukum membunuh orang yang dianggap kafir sebagai jalan jihad, meskipun orang tersebut tidak melakukan kesalahan apapun.  

Bahkan sebelum konflik tersebut dimulai, memang banyak orang Suriah yang mengeluh tentang tingginya pengangguran, korupsi, dan kurangnya kebebasan politik di bawah Presiden Bashar Al-Assad. Pada bulan Maret 2011, demonstrasi prodemokrasi meledak di kota selatan Deraa, terinspirasi oleh ‘Musim Semi Arab’ di negara-negara tetangga. Ketika pemerintah menggunakan kekuatan mematikan untuk menghancurkan perbedaan pendapat, berbagai protes menuntut pengunduran diri Presiden.

Kerusuhan semakin membesar dan tindakan kekerasan meningkat dalam perang di Suriah. Akibat aksi masyarakat ini, pemerintah mengarahkan Angkatan Darat untuk mengamankan keadaan dan menembak seluruh demonstran. Demonstrasi tersebut terus berlangsung hingga di kota-kota besar seperti Damaskus dan Allepo.

Konflik bersenjata itu berlangsung sampai sekarang. Akibat dari peristiwa ini, Suriah banyak mendapatkan kecaman dari berbagai pihak di seluruh dunia akan dampak yang ditimbulkan bukan hanya orang yang terlibat dalam konflik saja, namun warga sipil, anak-anak, dan kaum wanita juga ikut menjadi korban. Orang-orang yang tak besalah menjadi bahan hantaman peluru dan gas air mata. Tak hanya menyebabkan bertambahnya tugas Malaikat Izrail, kerusakan infrastruktur seperti rumah, gedung, rumah sakit, dll juga menyisakan puing-puingnya saja.

‘Jumlah kematian diketahui sebanyak 353.900 jiwa pada Maret 2018, termasuk 106.000 warga sipil. Angka tersebut tidak termasuk 56.900 orang yang hilang dan diduga tewas  serta 100.000 kematian yang belum sempat didokumentasikan’ dilansir dari The Syrian Observatiory for Human Rights.

Dalam pertempuran yang menyebabkan ratusan ribu kematian, perang di Suriah telah menewaskan 1,5 juta orang dengan luka cacat permanen, termasuk 86.000 yang kehilangan anggota badan. Sedikitnya 1,6 juta orang Suriah mengungsi, sementara 5,6 juta lainnya telah melarikan diri ke luar negeri.

PBB memperkirakan 13,1 juta orang akan memerlukan beberapa bentuk bantuan kemanusiaan pada 2018. Banyaknya partai yang bertikai telah membuat masalah menjadi lebih buruk dengan menolak akses lembaga bantuan ke banyak orang yang membutuhkan.

Hampir tiga juta orang yang tinggal di daerah terkepung dan sulit dijangkau. Selain itu mereka memiliki akses terbatas terhadap perawatan kesehatan. Dokter untuk Hak Asasi Manusia telah mendokumentasikan 492 serangan terhadap 330 fasilitas medis pada akhir tahun Desember 2017 yang mengakibatkan kematian 847 petugas medis.

Seperti yang telah disebutkan di atas, peperangan tersebut juga merembet ke kota Aleppo. Pembantaian kaum muslim besar-besaran oleh Rezim Syiah Bashar Al-Assad. Pembantaian anak-anak kecil, pemerkosaan kaum perempuan tak berdosa dan warga sipil lainnya. Mereka merayakan kemenangan tersebut dengan menyanyikan yel-yel dan membagikan manisan kepada pengguna jalan. Karena bagi mereka hal seperti itu disebut jihad. 

Bukankah hanya iblis yang mampu bersenang-senang di atas rintihan air mata orang-orang tak berdosa? Anak-anak kecil di sana seperti kehilangan induknya. Tidak ada lagi yang melindungi mereka di saat merasa terancam. Masalah lain yang dihadapi anak-anak Suriah seperti kelaparan, kemiskinan, dan penyakit. Selain itu juga berakibat pada masalah tekanan mental dan psikologis yang teramat parah.

International Committee of the Red Cross (ICRC) merupakan organisasi yang netral dan mandiri yang bertujuan untuk menjamin perlindungan dan bantuan kemanusiaan bagi korban konflik bersenjata dan situasi kekerasan. ICRC melakukan aksi untuk merespon keadaan darurat dan mempromosikan penghormatan terhadap hukum humaniter internasional.

Kehadiran ICRC sangat berpengaruh dalam konflik berkepanjangan di Suriah. Dengan melihat banyaknya korban yang mayoritas adalah 90 % kaum perempuan dan anak-anak,

Program ICRC untuk perempuan adalah menekan kekerasan seksual. Kekerasan yang dilakukan oleh pihak combatant tidak hanya pemerkosaan tetapi penyerangan terhadap martabat perempuan. Sedangkan tindakan yang dilakukan oleh ICRC dalam melindungi hak-hak perempuan dan memberi advokasi untuk mencegah kekerasan berbasis gender adalah :

  • Menyertakan perempuan, remaja, dan laki-laki dalam memberi pesan komunikasi tentang kekerasan seksual menggunakan bahasa lokal agar mudah dimengerti.
  • Memastikan ketersediaan akses bagi perempuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan menyuplai obat-obatan pada pos-pos kesehatan.
  • Melakukan pemantauan untuk melihat adanya masalah-masalah terkait pelecehan seksual di area pengungsian perempuan yang terkena konflik.

Selain dengan memberikan obat-obatan, Psychoanalytical Treatment untuk perempuan Suriah yang menjadi korban pelecehan seksual berguna untuk memperbaiki kondisi psikologis korban yang biasanya mengalami depresi atau trauma berkepanjangan. Teknik pemulihan yang dilakukan sebagai berikut.

  • Bagi korban yang mengalami cedera fisik akan mendapatkan pertolongan medis terlebih dahulu.
  • Melakukan perawatan Cognitive Behaviour Therapy (CBT). Pada proses ini, perempuan menjalani proses terminasi yang bertujuan untuk mengatasi gangguan emosional. Pada dasarnya CBT bisa mengubah pola pikir serta perilaku korban menjadi lebih baik. Teknik ini digunakan karena memang tidak memerlukan waktu yang banyak untuk terapi.
  • Pemberian konseling pada korban yang mengalami kemunduran akibat pelecehan seksual.

Dalam melakukan program pertolongan anak-anak Suriah, ICRC mendapat bantuan dari UNICEF. Konsep yang dikembangkan ICRC adalah rehabilitasi bagi anak yang terkena dampak konflik. Konsep ini dinamakan Psyco-social programs. Program ini membantu pemulihan mental anak akibat kekerasan dan pemisahan dari anggota keluarga. Ada tiga hal yang difokuskan dalam menyusun program singkat untuk anak-anak Suriah :

  • Pengalokasian sosial, dan memastikan hak-hak anak terutama anak yatim piatu dan anak yang tidak memiliki pendidikan, pelayanan sosial serta kesehatan yang layak.
  • Perusakan infrastruktur terutama sekolah sangat berdampak pada kondisi pendidikan anak-anak di area peperangan. Dengan mendirikan sekolah kecil di dekat pengungsian dapat membantu pendidikan anak yang tertinggal. Selain itu pelayanan sosial sangat berguna untuk memberikan motivasi dan dorongan pada anak yang mengalami gangguan seperti depresi, dan perlu diketahui emosi pada anak-anak masih belum stabil.
  • Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang masalah perlindungan hak asasi manusia untuk mengembangkan dan menjaga informasi mengenai isu-isu penting perlindungan anak di Suriah.
  • Membuat pos-pos darurat di mana anak-anak mendapat perlindungan selama proses pencarian keluarga.
  • Perang, kegiatan yang selalu menghasilkan kematian, kehilangan orang dicintai. Banyak anak-anak yang tidak bisa menemukan keluarganya kembali. Entah itu tertimpa bangunan atau meninggal saat peperangan. Dalam proses pencarian keluarga, anak-anak tersebut di amankan dari area peperangan untuk mendapatkan sejumlah perawatan dan pertolongan.
  • Membentuk relawan Blue Flag yang bertugas memberikan pertolongan pada anak-anak yang terkena diare dan kolera.
  • Minimnya persediaan air bersih dan makanan sehat, membuat anak-anak di sana memakan segala hal yang dianggap makanan. Tak peduli jika itu sepotong roti yang terinjak kaki. Keterbatasan pasokan makanan adalah salah satu faktor dari penyakit ini.
  • Mendukung fasilitas penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan.

Namun, dari semua program kemanusiaan yang telah disebutkan di atas, tak jarang menemui berbagai hambatan. Memang menjadi tantangan tersendiri untuk menjadi relawan di area peperangan. Sebagai contoh persitiwa pembunuhan petugas pertolongan pertama ICRC Mohammed al-khadraa tertembak dalam kendaraan berlambang bulan sabit merah. 

Betapa kejamnya rezim yang membunuh petugas medis. Padahal tugas Bulan Sabit Palang Merah adalah untuk memberikan bantuan secara netral dan tidak berpihak. Kegiatan kemanusiaan ini seharusnya dihormati oleh semua pihak. Seharusnya mereka tidak menyerang petugas medis, mobil ambulans, dan fasilitas medis. Para relawan ini mempunyai hak dapat memberikan bantuan tanpa hambatan dan dalam keadaan aman.

Beberapa masalah yang sering terjadi di antaranya kelaparan, krisis air, dan kekurangan obat-obatan vital pada daerah yang ditutup selama berbulan-bulan sedangkan relawan belum bisa mendapatkan akses. Miris, tetapi begitulah yang terjadi. Banyak manusia yang kelaparan dan menunggu uluran tangan. 

Namun apa daya, terdapat dinding pembatas untuk masuknya bantuan. Rumput merupakan satu-satunya makanan yang layak konsumsi saat itu. Tak peduli akan pupus ataupun daunnya yang sudah mongering. Menjilati bungkus bekas makanan tentara militer sudah menjadi kebiasaan anak-anak di sana. 

Setiap hari jumlah kematian bertambah. Mereka harus berjuang dengan cacat tubuh ataupun penyakit di badan, sementara pelayanan kesehatan telah melumpuh. Tenaga medis diharamkan memasuki daerah tersebut. Kalaupun mereka masuk, mungkin peluru-peluru itu akan mengarah pada mereka.

Sebanyak 22 relawan tewas dan banyak yang diculik serta ditahan karena melakukan kegiatan kemanusiaan. Hal ini bertentangan dengan hukum humaniter internasional di mana petugas kemanusiaan harus diberikan kebebasan dalam memberikan pertolongan korban. Tujuan dari pembunuhan relawan ini untuk mencegah masuknya pertolongan pada warga sipil agar daerah tersebut melemah.

Penyerangan yang sengaja ditujukan pada fasilitas kesehatan berakibat pada berkurangnya tenaga medis. Kerap terjadi penembakan pada kendaraan pembawa obat-obatan menuju posko kesehatan untuk mengurangi suplai obat-obatan bagi penduduk sipil. Berkurangnya tenaga medis juga berdampak pada pemerataan pertolongan korban. Saat itu hanya ada dua orang tenaga medis yang masih selamat lalu mengajari kilat pada 20 orang yang selamat lainya untuk menjadi relawan.

Dengan berbagai hambatan tersebut ICRC harus merespon cepat kebutuhan bantuan kemanusiaan di manapun mereka berada. Karena pada dasarnya mereka diberi akses tidak terbatas untuk semua daerah.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, hukum humaniter internasional, pihak-pihak yang terlibat konflik harus memberikan jalur cepat tanpa hambatan ketika memberikan bantuan kemanusiaan pada siapapun yang membutuhkan. Untuk itu ICRC melakukan gencatan senjata selama dua jam untuk memberikan obat-obatan. Bukan waktu yang lama dalam memberikan perawatan intensif pada ribuan korban dalam waktu singkat. Warga sipil yang luka ringan dan masih sanggup untuk mengobati lukanya sendiri akan diberikan obat. Sedangkan warga yang terluka parah akan dibawa ke posko kesehatan. Hal itu untuk mempersingkat waktu karena jumlah relawan sangatlah terbatas.

Demikian, kegiatan bernama perang/konflik yang disebabkan adanya perbedaan pendapat dari dua pihak yang berbeda selalu menghasilkan produk kematian. Suriah, negara yang mampu menghasilkan produk kematian warga sipil yang besar setiap harinya melebihi komoditas ekspor. Semua itu karena sifat dasar manusia yang memiliki egosentrisme, lalu dibalas dengan argumen sejuta amarah, hingga berakhir pada pengangkatan senjata api.

Ketika setiap manusia hanya dikuasai oleh keinginan dan hawa nafsu, mereka akan melakukan apa saja demi mewujudkan hal tersebut. Seperti kasus pembantaian besar-besaran di Aleppo. Entah itu makhluk bernyawa dengan dosa ataupun tak berdosa tetap menjadi korban pembantaian. Semua hanya karena perbedaan. Dan bukankah perbedaan itu indah jika bisa bersatu padu? Karena semua hanya memandang dari satu sudut pandang.

Segala hal yang menyebabkan perpecahan seperti peperangan, menyalahi aturan hak asasi manusia di mana setiap orang memiliki hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, dan hak untuk bebas. Semua telah dirampas. Dan berakhir pada penderitaan yang tanpa batas. Sebuah peperangan di mana tidak seharusnya menyerang kaum wanita dan anak-anak.

Segala bentuk bantuan dan pertolongan selalu mengalami hambatan. Seperti pembunuhan tenaga medis, perusakan fasilitas kesehatan, penembakan kendaraan obat-obatan. Jika saja pihak-pihak konflik itu sadar betapa pentingnya sebuah kehidupan, betapa menderitanya jerit dan tangis kesakitan, serta pentingnya rasa kemanusiaan, maka hal itu tidak terjadi. 

Relawan adalah pihak netral yang tidak memihak manapun. Tugas mereka hanya menolong korban, baik itu yang pihak yang berseteru atau bukan. Semua dianggap sama. karena mereka menganggap kehidupan adalah hal yang suci. Semua tragedi pembunuhan itu semakin parah karena combatant tidak merasakan penderitaan orang yang tertindas.

Dari konflik-konflik di atas dapat diambil pelajaran. Untuk saling berpikir rasional. Tidak mementingkan individualisme, entah itu jabatan, dan kekuasaan. Saling menghargai sebuah perbedaan, tidak mementingkan nafsu amarah saja. Termasuk memberikan hak yang lebih pada orang terluka dan sakit untuk segera mendapatkan pertolongan dengan tidak menghalangi jalan. Kasus ini bisa dipetik dari kehidupan sehari-hari, misalnya jika di jalan mengetahui ada mobil ambulans lewat, pengguna jalan harus menepi dan memberikan jalan karena di dalam mobil itu ada nyawa yang harus diselamatkan.

Menjunjung rasa toleransi antarsuku, agama, dan ras. Setiap manusia mempunyai keyakinan akan agama yang dipeluknya. Konflik yang terjadi di Suriah adalah perbedaan antara Syiah dan Sunni. Semua itu tergantung apa yang diyakininya. Seperti islam yang terdiri dari 73 aliran. Semua pasti menganggap ajaran yang dianutnya paling benar. Sementara yang tahu aliran mana yang paling sempurna hanyalah Allah SWT saja. Untuk itu rasa toleransi umat beragama sangat menentukan sebuah kedamaian di negara.