Sejak awal tulisan ini, saya ingin menyampaikan kepada para pembaca yang budiman agar biasa-biasa saja dalam membaca opini ini. 

Opini, bagaimanapun, hanyalah sebagai sintesis opini-opini lain yang hadir atas sebuah isu atau sebuah potret empiris seseorang yang kemudian disusun dalam tulisan atau orasi. Maka tidak boleh menjadi sakral atau menjadi tolok ukur tunggal terhadap sebuah realitas.

Saya ingin memulai dengan apresiasi tinggi terhadap event besar yang belum lama ini diselenggarakan di Gelora Bung Karno yang mendadak dan agak dipaksakan diberi nomenklatur baru sebagai “Gelora Akal Sehat” yang masih rancu makna dan konteksnya dalam ruang rasional saya.

Apakah akal sehat itu diperuntukkan hanya untuk rekan-rekan sesama polinesia yang memiliki afiliasi politik tertentu saja? Apakah akal sehat hanya disematkan kepada saudara-saudara yang memiliki kiblat salat yang baru dan ijtihad fikih yang tiba-tiba saja?

Framing akal sehat yang lekat dengan sekelompok manusia yang belakangan sering berwisata ke Jakarta ini, bagaimanapun, saya kira adalah hak yang tidak boleh dihina atau dinyinyiri. Setiap orang punya hak untuk menyampaikan pendapat selama pendapat itu tidak menjadi sebuah persuasi untuk melakukan tindakan kejahatan yang menentang hukum kemanusiaan universal.

Hak berpendapat semacam ini harus dilindungi undang-undang. Kita, yang tinggal di dalam wilayah negara dengan sistem demokrasi, sudah harus dewasa dan menghidup-hidupi nilai demokrasi itu sendiri. 

Dan acara di GBK tempo hari itu merupakan salah satu rangkaian demokratis sebagai tahapan politik salah satu pasangan calon presiden yang semestinya kita rayakan bersama di bawah payung demokrasi, yang meskipun pada sisi tertentu, sering diejek oleh kelompok yang paling menikmati demokrasi hingga detik ini.

Terkait dengan apa dan bagaimana teknis pelaksanaan kampanye di GBK itu, saya kira kita tetap harus memberi penghormatan atas segala hal yang terjadi atas izin demokrasi. Meski pascaacara, tidak sedikit rekan sesama warga negara yang nyinyir tentang salat subuh campur gender.

Bagi saya, bukankah ini sebuah kemajuan tafsir bayani yang hijrah menjadi tafsir irfani, di mana teks bukanlah Tuhan dan konteks adalah wilayah nalar yang diizinkan Tuhan? Bahwa perempuan juga boleh sejajar dengan laki-laki, bahkan ketika pelaksanaan ritus sakral semacam itu. 

Dalam alam demokrasi, saya ingin menyebutnya dengan ritual feminisme yang sudah melampaui tafsir-tafsir kaku khas skripturalis. Saya yakin panitia penyelenggara pun sudah membaca dan memprediksi sejauh itu di luar adanya maklumat bahwa salat subuhnya harus di qodlo.

Politik menjadi salah satu sebab, kalau tidak boleh menyebutnya sebagai unsur absolut, sebagai penentu realitas dan fenomena yang terjadi pada bangsa ini belakangan. Karena politik, seorang ateis bisa masuk wilayah pesantren, bahkan diberi mandat untuk memberikan wejangan kepada umat yang beriman atau berkepercayaan.

Karena politik, sekelompok orang yang antiselawatan dzahir, akhirnya bisa menjadi lantang berselawat bersama-sama kelompok lain. Karena politik, rekan-rekan kita lebih punya waktu untuk piknik dan saling bersilaturahmi antarsesama anak bangsa. 

Karena politik, banyak anak milenial lebih rajin berlatih menjadi pengamat bidang apa pun, terlepas mereka banyak membaca buku atau hanya twit tokoh yang dikagumi. Namanya juga latihan, biarkan saja sampai ada yang menjadi pelajaran berharga.

Yang harus saya hargai juga adalah adanya “kebebasan” untuk berekspresi yang sekitar 32 tahun lamanya, otak warga negara ini dikerangkeng dalam demokrasi manipulatif. Hari ini, banyak warga yang bisa mengkritisi kepala negara dengan bebas selama kritiknya membangun, bukan kritik nyinyir yang tidak memiliki bobot sama sekali melainkan kebencian subjektif semata tanpa harus berpikir.

Dengan realitas politik yang berkembang hari ini dan mampu memengaruhi banyak hal, sampai pada aspek kepercayaan paling sakral pun, menjadi fenomena pasca-kebenaran yang bisa benar-benar kita kendalikan, atau chaos sama sekali.

Bagi saya, inilah esensi hidup sesungguhnya. Bahwa kehidupan dan alam semesta ini sering kali tidak ajeg namun tetap bertahan. Pada titik tertentu, kita bisa dengan mudah melakukan prediksi, namun di sisi yang lain, kita hanya akan menikmati misteri alam di luar pengetahuan kita.

Maka, apa pun yang terjadi di luar yang kita harapkan, yang datang di luar yang agama kita ramalkan, yang hadir di luar rasionalitas nalar kita, adalah unsur paling hakiki kehidupan. Saya kira, kita tetap berhak bergembira atas segala rasionalitas dan kegilaan yang hadir secara bersamaan dalam kehidupan kita belakangan.

Mohon maaf bila tulisan ini berantakan dan melompat-lompat pada hal yang tidak penting. Saya dalam upaya menggambarkan tulisan ini sebagai representasi zaman kita yang cenderung chaotic. Mana setan mana manusia, mana Tuhan mana anak kecil nakal, mana malaikat yang kerja sesuai tupoksinya dan mana yang mbandel ikut-ikut kampanye dan berafiliasi dengan partai politik tertentu.

Semua fenomena pasca-kebenaran ini harus tetap lucu. Kalau ada yang terlihat serius, harus kita cari unsur lucunya yang paling substansial. Bukankah kehidupan ini hanya sebuah permainan? Maka bermainlah dengan gembira dan penuh suka cita.

Bahkan ketika judul tulisan ini tidak satu kongsi dengan isi tulisannya, tetaplah gembira. Pasrahlah untuk tetap bahagia, karena kepasrahan adalah tauhid paling dasar. Bukankah begitu?

Salam (n)akal sehat!