Perancis tengah dirundung demonstrasi besar-besaran. Ribuan orang turun ke jalan menuntut agar kebijakan kontroversial Macron tentang kenaikan harga BBM segera diturunkan. Pendemo yang berasal dari berbagai kalangan, terutama kelas pekerja, menyatakan kebijakan Macron tersebut amat sangat memberatkan mereka dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. 

Oleh karena itu, selama hampir satu bulan semenjak 10 november lalu hingga saat ini, demonstrasi masih saja terjadi, bahkan eskalasinya pun semakin meluas, dari sisi cakupan wilayah dan jumlah massa. Nahh.. yang menarik dari demonstrasi tersebut adalah soal kepemimpinan Macron yang dianggap rapuh, padahal dia baru memimpin selama 1 tahun saja. Tingkat popularitasnya pun menurun hingga mencapai 23 persen dalam sebulan terakhir.

Lantas apa hubungan kasus yang terjadi di Perancis dengan PSI (Partai Solidaritas Indonesia) ? Kalau diperhatikan hubungannya amat sederhana dan tidak direct sama sekali. Namun, bila diperhatikan dari penuturan di media, baik tulisan maupun pernyataan langsung, PSI senantiasa mengutip Macron sebagai salah satu patron dan inspirasi politik milenial. 

Sehingga, irisan atas kasus yang tengah terjadi di Perancis kini, mestinya menjadi catatan kritis dalam melihat sepak terjang PSI selama beberapa tahun terakhir hingga menjelang dan sesudah pemilu. Karena PSI sudah menyatakan Macron adalah contoh nyata gerakan politik milenial, maka tidak bisa dimungkiri apa yang tengah terjadi di Perancis, bisa saja terjadi di tubuh PSI atau bahkan telah terjadi meskipun PSI belum memiliki power baik dari sisi legislatif, apalagi eksekutif.

Mengamati Gerak PSI

Selama beberapa tahun terakhir,  suara “lantang” PSI di berbagai media dan momen tertentu, hampir mengisi geliat ruang publik di negeri ini. PSI dapat dikatakan sebagai partai yang paling aktif dalam menyuarakan visi, misi maupun gagasan partai, meskipun banyak pula yang menjadi bumerang. Jika dilihat dari sisi berbeda, kemampuan PSI untuk “bersuara lantang” adalah satu hal yang wajar, sebab PSI diisi oleh wajah-wajah muda yang punya semangat dan ambisi besar, ditunjang dengan kapabilitas intelektual yang mumpuni disatu titik. 

Akibat dari aktifnya kader PSI bersuara, sikap politik dan identitas kepartaian pun mulai bisa tergambar dari runutan pernyataan petinggi partai tersebut. Seperti misalnya, dukungan PSI terhadap Ahok yang menjadi turning point menguatnya politik identitas di negeri, menjadikan PSI sebagai partai yang bercorak liberal dan relatif sekularis dalam pandangan mereka yang kontra Ahok. 

Begitupun dengan polemik Perda Syariah dan Injil yang ditolak PSI semakin memperkokoh keyakinan publik bahwa PSI adalah partai yang cenderung sekuler. Masyarakat awam yang tidak paham konteks dan substansi akan mudah digiring melalui opini-opini yang menyesatkan. Namun, sebagai kelompok masyarakat kritis pandangan PSI mesti ditelaah secara komprehensif dan berimbang. Sebab, pada masa seperti sekarang ini, semua menjadi serba biner dan sekecil apapun peluang yang ada akan selalu dimanfaatkan untuk menjatuhkan lawan politik tertentu.

Gelembung Politik

Oleh karena itu, ketika melihat apa yang telah dicapai PSI sampai sekarang ini, penulis berasumsi bahwa fenomena yang terjadi tak ubahnya seperti gelembung (bubble), ia mudah membesar, diarahkan kesana kemari, namun amat rentan dan kosong sehingga gampang meletus. Istilah Bubble Politic, lebih tepat untuk menggambarkan kondisi ini.

Berkaca pada kasus pemerintahan Macron, maka sebenarnya hal itu menjadi warning keras bagi PSI. Sikap politik yang bermuara pada ideologi partai PSI saat ini yang cenderung menentang arus utama kelompok masyarakat yang tengah terombang-ambing ditengah pusaran politik identitas adalah sikap berani, sekaligus beresiko tinggi. 

Upaya-upaya PSI untuk melawan narasi utama politik identitas tak ubahnya seperti gelembung. “Suara lantang” yang dilontarkan diberbagai ruang publik justru hanya akan direspon sepintas lalu oleh masyarakat kita sebagai konstituen politik yang notabene masih terjerambab dalam lingkaran pemilih tradisional. Masyarakat masih bertahan pada variable-variabel, seperti latar belakang, primordialisme, status sosial, agama dsb. dalam menentukan pilihan politik. Sehingga, narasi-narasi yang dibangun PSI bisa sangat membahayakan. 

Bahkan penulis mengalami langsung, bagaimana masyarakat menilai PSI sebagai partai peserta pemilu, dari media sosial penulis. Apa yang penulis temukan sudah diduga sebelumnya, bahwa masih jamak terlihat masyarakat yang berkomentar sinis hingga menganggap PSI adalah partai yang tidak baik dengan berbagai alasan pembenar. 

Benar, bahwa gelembung yang telah ditiupkan PSI selama ini telah terbang kemana-mana dan berhasil mempengaruhi memori kolektif masyarakat untuk mengenal nama PSI. Namun, secara subjektif penulis menilai respon awal dari masyarakat terhadap justru relatif tidak mengenakkan. Sehingga, layaknya gelembung, untuk apa bisa menyebar dan terbang kemana-mana bila akhirnya tetap akan pecah juga. Maka dari itu, sikap politik dan identitas kepartai mestilah sejalan dan bisa menyesuaikan dengan realita sosial di masyarakat. 

Lebih dari itu, kehadiran PSI sebagai partai baru dengan corak yang baru bahkan ditunjang komitmen kuat menghadirkan kelompok milenial ke pentas perpolitikan harus diapresiasi lebih. Harusnya agar sikap partai tidak semakin menggelembung, PSI mesti membangun basis dimasyarakat, meminta kepada kader-kader muda partai untuk turun dan bersentuhan langsung dengan masyarakat. 

Pada titik ini, selayaknya PSI melihat masyarakat bukan hanya sebagai patron dan klien, legislator dan konsituen politik, tapi PSI mesti melihat masyarakat sebagai subjek dari politik yang akan menentukan jalannya politik kedepannya. Sehingga, kerja-kerja pembasisan, pendidikan politik dan pemberdayaan harus dikemukan oleh PSI. 

Agar sikap politik partai tidak lagi dianggap layaknya gelembung, namun akar yang menancap tajam kokoh ditanah. Tidak mudah digoyah sebab sudah kuat di ranah elit dan mengakar di masyarakat. Agar terhindar dari apa yang tengah terjadi pada gerakan politik milenial Perancis saat ini yang digalang Macron, kelihatannya kuat tapi sebenarnya rapuh dan mudah dicerai beraikan.