Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan tanpa tanda jasa merupakan gelar yang diberikan kepada guru atas jasanya mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa mengharapkan imbalan pribadi. 

Semua orang sudah barang tentu tahu akan hal itu. Namun tidak semua orang tahu kalau bagi guru, gelar tersebut adalah kesia-siaan.

Pemerintah seakan sudah memberikan penghargaan atas kinerja guru sebagai profesi yang bertugas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sampai beberapa waktu lalu ada Menteri pendidikan (bukan menteri yang ini tentu saja) yang mengatakan kalau gaji guru sedikit tidak masalah, nanti masuk surga.

Mari mengkritisi gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang terus mengabdi tanpa mengharap imbalan pribadi. Coba garis bawahi kalimat “tanpa mengharapkan imbalan pribadi”.

Bukankah kalimat tersebut akan masuk akal ketika guru memang diberikan buanyak sekali imbalan, entah dari materi, kehormatan, atau apapun, namun guru lebih memilih untuk menolak. Masuk akal dongs kalau seperti itu.

Namun tidak demikian. Masalah yang terjadi adalah guru memilih untuk tidak mengharap imbalan karena memang tidak akan mendapatkannya. Ini tentu saja dua hal yang berbeda.

Saya sendiri sebagai guru lebih memilih diberikan tanda jasa tanpa tanda pahlawan dari pada sekedar tanda pahlawan tanpa tanda jasa.

Bagi saya sendiri, ini tidak lebih seperti seorang yang pergi ke angkringan untuk makan, kemudian ketika akan mau membayar, bukannya mengeluarkan uang, tapi langsung memberikan gelar sebagai pahlawan, kemudian pergi begitu saja. Warbiyasah.

Solusi tersebut tersusun mantab beserta peringatan hari guru serta hymne yang berisi kalimat-kalimat ciamik lengkap dengan susunan kata pujian yang indah. Hal tersebut lambat laun terkesan bias sekali.

Ya gimana, melihat banyaknya kasus kekerasan yang dialami oleh guru, serta orang tua siswa yang sangat ringan untuk mengkritik kinerja guru, rasanya memang yang menghayati lagu hymne guru hanyalah guru sendiri. Ini seperti memuji diri sendiri, dan tentu saja hal tersebut tidak baik.

Lantas, apakah satu-satunya solusi dalam penghargaan guru adalah dengan meningkatkan gaji? Saya rasa tidak juga, ada beberapa solusi lain yang bisa diterapkan, misalnya meringankan beban kerja guru.

Etapi bukankah Mas Menteri Nadhim sudah meringankan beban kerja guru dengan menetapkan pembuatan RPP satu lembar saja?

Jadi begini, pertama, Saya ucapkan terimakasih pada Mas Menteri Nadhim yang telah meringankan beban guru dengan membuat RPP menjadi 1 lembar, meski dalam praktiknya tidak benar-benar 1 lembar, rata-rata 2-3 lembar. Namun itu tetap lebih baik dari pada yang dulu.

Meski demikian, dengan sangat terpaksa saya ingin bilang kalau beban guru yang paling berat bukan RPP, melainkan laporan penilaian. Bagi yang belum tahu, guru dituntut untuk memberikan penilaian dari berbagai aspek, seperti aspek spiritual, sosial, kognitif, serta keterampilan.

Dan masing-masing aspek memiliki ketentuan tugas yang berbeda. Ada yang berupa jurnal, observasi, soal-soal, atau portofolio. Itu pun nanti nilai akhirnya ada yang diambil dari rata-rata, ada yang dari rata-rata paling tinggi, bahkan ada yang diambil dari paling menonjol. Benar-benar rumit dan merepotkan.

Jadi RPP satu lembar ini memang meringankan, namun bukan berarti menghilangkan beban. Sama seperti ketika Anda sangat lapar kemudian diberikan permen sebagai pengganjal perut.

Apalagi di masa pandemi. Beban kerja guru tentu saja bertambah, karena pembelajaran daring ini seakan-akan membuat siswa kurang paham dan mudah bosan, jadi guru harus memikirkan strategi yang kreatif dalam menciptakan pembelajaran yang menarik.

Yang jadi masalah adalah membuat media menarik dengan mempertimbangkan tingkat fasilitas semua murid dari yang rumahnya ada wifi, sampai yang tidak punya gawai. Benar-benar menyulitkan.

Tidak hanya itu, guru juga harus mengoreksi hasil kerja siswa. Yang mana kebanyakan tidak dikirim tepat waktu, karena tidak memiliki gawai sendiri, sehingga harus menunggu orang tuanya pulang bekerja. Tidak jarang saya pun harus begadang untuk menunggu siswa yang telat mengirimkan hasil belajarnya.

Oleh sebab itu, jika memang tidak bisa menaikkan gaji guru, paling tidak jangan menambah beban kerjanya, atau kurang-kurangi lah tuntutan administrasi guru.

Dan perlu diingat bahwa tidak semua guru itu memang mengabdikan diri. Ada yang memang bergantung dengan gaji tersebut untuk hidup. Dan itu harusnya tidak masalah.

Apakah hanya pedagang yang boleh berbicara tentang uang? apakah guru hanya boleh membincang seputar akhirat saja? sampai ketika mengeluh sedikit saja langsung disodori kalimat akhirat dan keikhlasan?

Konsep ikhlas di sini pun sepertinya harus diperjelas lagi karena masih rancu. Apakah memang ikhlas karena diberikan sesuatu yang layak, kemudian ditolak, atau memang tidak ada yang akan didapatkan, sehingga ikhlas saja?

Jadi, menurut saya, selain benar-benar memperlakukan guru dengan hormat, solusi terhadap penghagargaan guru adalah dengan meringankan beban kerjanya, bukan sekedar memberikan gelar sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Itu jahad sekale.