Hari-hari ini generasi kita mengalami kejenuhan dalam berekspresi. Kejenuhan itu tampak pada fenomena munculnya pseudo-artis yang tampil lewat para followers dan subscribers di media sosial. Panggung-panggung yang lahir dari era digitalisasi realitas telah mereduksi seni artistik negeri.

Hal itu dipertontonkan dengan banalisme artistik yang dinilai dari followers dan likers. Konten tersebut tidak mengenal standarisasi. Liberalisme konten menjadikan selera seni rakyat pada konsumsi yang remeh-temeh dan murahan.

Panggung itu sudah layaknya idol baru, mengenal istilah yg diperkenalkan Thomas Hobbes mengenai berhala (idol). Saat ini model-model dan selebritis dadakan di medsos menjadi berhala-berhala baru bagi para netizen. Seakan menjadi sembahan baru yang harus setiap jamnya dipantau dalam lini masa.

Meng-update segala aktivitasnya seakan merupakan sebuah guide. Segala trend mode berpakaian sampai hobi menjadi sarana mengidentifikasi diri. Bukan menjadi baik, justru menduduki pesona penuh dramaturgi dan kepalsuan belaka. Tak bermoral menampilkan sesuatu yang tak bernilai, hanya tumpukan sampah.

Kejengahan itu bertambah dengan aktivitas di media sosial yang berlebihan. Hal ini terekam dari laporan Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia (APJII) yang mengabarkan pada penghujung tahun 2017 bahwa lebih dari 50% rakyat Indonesia merupakan pengguna Internet. Ada 142 jiwa yang menggunakan internet. Sebanyak 49,52 persen pengguna internet di Tanah Air adalah mereka yang berusia 19 hingga 34 tahun (kompas.com).

Dari fenomena ini, bisa dipahami bahwa keterlibatan generasi milenial dalam aktivitasnya berjejaring di dunia meta-sosial (media sosial) kian gencarnya. Kontak mata yang berganti dengan kontak layar seakan membatasi dunia nyata dengan kenyataan yang artifisial. Kita terus dijamu oleh kehadiran boneka seni yang sensasional namun tak berfaedah.

Keterlibatan artis dadakan telah menebar pencitraan. Seorang artis medsos akan terus menghadiri lini masa tanpa absen untuk tetap terus menjadi sorotan. Dengan mengunggah update-an yang konsisten menjadikan setiap selebgram tetap eksis, karena dengan itulah dirinya meng-ada. Begitu mengerikannya nasib panggung hiburan Indonesia kala hanya diisi oleh unggahan-unggahan yang ditujukan hanya untuk menjemput pundi uang dan ketenaran ketimbang karya autentik dari hasil abstraksi dan imajinasi yang tinggi.

Mencoba mengaitkan pernyataan sebelumnya dengan sesudahnya, yaitu bisa dilihat bahwa para pengguna instagram dan youtubers setelah memberi pengaruh pada terbentuknya struktur dan habitus di tengah masyarakat. Hal ini berdambak baik kala pengaruh dari youtobers ataupun selebgram (influencer) menyebarkan konten konstruktif dan membangun.

Namun apa jadinya jika yang terjadi hanyalah ketidakbergunaan dengan mempertontonkan kehidupan yang sama sekali tidak bermakna. Keresahan inilah yang jelas-jelas tampak bahwa banyak pengguna media sosial tersebut hanya sampai pada upaya melahirkan konten hiburan yang nir-makna, bahkan tak jarang amoral.

Perlu dipahami memang bahwa modernisasi telah menjadi loncatan zaman di mana segala pergumulan dunia bisa diakses dengan mudah. Keterikatan satu antara yang lainnya di media sosial telah membuka cakrawala kehidupan yang teramat luasnya. Sehingga dari teknologi yang pesat inilah warga dunia telah banyak memengaruhi struktur-struktur sosial yang ada, baik itu dalam aspek politik, budaya, ekonomi, bahkan agama sekalipun.

Aktivitas warga Indonesia di media sosial masih saja berkutat pada hiburan yang memperlihatkan hal-hal yang tak bernilai. Sampai di mana aktivitas netizen Indonesia berpengaruh di media sosial. Jika gelanggang di lini masa itu hanya berisikan hal yang sama sekali tidak berpengaruh untuk kehidupan bangsa. Lebih buruk, aktivitasnya hanyalah membawa pengaruh negatif yang malah menjatuhkan harkat martabat bangsa.

Apalagi dengan budaya yang dipertontonkan oleh para artis medsos ini tidak mencerminkan kearifan lokal Indonesia sebagai bangsa. Kecenderungan artis medsos yang banyak meniru budaya Barat kadang malah menjadi perusak. Apalagi jika yang dipertontonkan adalah kehidupan glamor ala artis-artis Hollywood. Masihkah bangsa ini akan diperhitungkan sebagai bangsa yang besar jika aktivitas warganya hanya mempertontonkan hal yang tak berguna tersebut?

Maka dengan kita melihat aktivitas media sosial yang dipenuhi oleh konten abal-abal seperti review tentang merek-merek barang tertentu, menjadi pengunggah trik-trik gaming, atau menjadi seorang endors. Banyak sekali aktivitas lainnya yang jika dinilai itu tidak berdampak membawa rakyat cerdas. Tidak ada yang salah memang, namun harus sampai mana kita menjadi pengonsumsi hal semacam itu?

Sudah saatnya rakyat tercerahkan dengan menjadi pengguna media sosial yang bijak. Pengawasan dari orangtua menjadi kunci awal dalam mendidik anak dalam keikutsertaannya menjadi netizen. Menggunakan teknologi tidak berlebihan turut meringankan risiko candu, atau ketergantungan pada gadget. Memilah dan memilih konten yang mendorong pada hal-hal positif serta menghadirkan konten yang berwawasan dan melihat kondisi dan situasi yang ada demi mencegah lahirnya konflik.

Memberikan dan berbagi informasi yang faktual serta kredibel, agar tidak terjadinya penyebaran hoaks. Serta berani memberikan kritik yang membangun kepada para netizen dengan cara-cara yang mengedepankan attitude yang baik tanpa mengundang hujatan atau hinaan. Serta jadilah selebgram dan youtubers yang bermanfaat bagi netizen, berikan kontribusi bukan polusi, menjadi pendamai bukan penyulut konflik, serta jadilah teladan yang menginspirasi ketimbang hanya mencari penghidupan dengan menjual diri lewat mempermalukan diri dengan bukan menjadi diri sendiri.