Tempo dulu tak tersentuh modernisasi, tempo dulu manusia sering mensakralkan alam, bahwa alam bukan profen yang berarti keduniawian, dimana di dalam pohon-pohon besar dan di dalam tubuh binatang masih ada yang menungunya, jadi dilarang sembarang menebang pohon dan dilarang sembarang membunuh hewan, bisa – bisa meninggal atau gila, itulah mitologi dan cerita masyarakat .

Cerita genderwo penunggu pohon atau ruh penunggu pekarangan, dan Dewi Sri penunggu padi sering diperdengarkan pada zaman dahulu, dan mereka memang benar-benar takut dan tak berani mereka masuk ke daerah larangan apalagi merusak dan membunuh, seperti cerita di sebuah desa Kemodo dan Jlaprang, dekat dengan lereng Gunung Anjasmoro, ada daerah larangan menebang pohon di Peh Lumbon.

Peh Lumbon adalah Punden yang ada pemakaman orang yang membuka desa pertama kali, letak punden tersebut berada di lereng gunung Anjasmoro, di dalam hutan, di kanan kirinya ditumbuhi pohon besar-besar, dulu memang tak berani orang menebangnya, namun sekarang sudah habis ditebang, kalu dulu ada pemimpin desa yang karismatik, sekaligus sebagai pawang dan dukun.

Pawang dan dukun biasanya dimintai orang untuk mengobati orang sakit dan kesurupan dari penunggu pohon, penunggu hutan, atau tanah larangan, yang menuturkan dari mulut ke mulut mengenai tempat yang disakralkan, dan bisa membuat mereka trans atau tak sadarkan diri, namun berbeda sekarang ketika yang sakral menjadi komersil dan bernilai ekonomis.

Daerah larangan pun bisa menjadi areal perkebunan, ketika pemimpin tak lagi dipandang karismatik melainkan dari materi, ketika masyarakat hutan yang dulu disebut masyarakat adat sekarang disebut masyarakat petani hutan, ketika petani hutan tak mengenal dewa dewi dan ruh-ruh penghuni daerah larangan, batu-batu, pohon-pohon dukun-dukun tak lagi membuat mereka trans.

Zaman ke kinian, HP, Mobil, sepeda motor, rumah mewah, dan berbagai macam teknologi cangih, pangkat dan kedudukan di masyarakat yang membuat mereka trans , masa sekarang seperti tak sadarkan diri mereka mengikuti trend dan mode, dan merambah masuk ke plosok-plosok desa, dan telah bersentuhan dengan masyarakat hutan dan menjalar ke masyarakat adat.

 

Gambar masyarakat adat yang mengenal HP sebagai alat komunikasi

Pergeseran nilai ini tak hanya di pulau jawa saja melainkan di luar jawa juga demikian, karena saya punya teman sekolah, dia gadis Dayak yang sudah mengenal HP dan jejaring sosial yang bisa membuatnya tak sadarkan diri berjam-jam bisa tersenyum sendiri dengan HPnya dan diam berjam-jam di depan leptop, orang tuanya adalah petani hutan di tempat asalnya Kalimantan.

 Ternyata hutan pada masa sekarang membawa berkah bagi petani hutan karena hasil komoditi hutan membawa rejeki bagi masyarakat di hutan, bahkan disekitar hutan. Hasil hutan di Indonesia ternyata memiliki nilai jual yang tinggi, banyaknya pabrik kayu, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik kertas, ternyata mampu membangkitkan gairah petani hutan dalam hal ekonomi.

 Ternyata pembangunan tak memingirkan masyarakat hutan di era globalisasi dan moderenisasi sekarang, itu terbukti bahwa masyarakat petani hutan kini ingin bermartabat sebagai opini dan pencitraan yang dibangun di masyarakat dari gaya hidupnya, dalam berinteraksi di masyarakat. Rumah petani hutan kini sudah banyak yang permanen bukan dari kayu lagi, mempunyai HP, sepeda motor, bahkan mobil.

Gambar rumah permanen di sekitar hutan

Vidio gaya hidup petani hutan

Gaya hidup petani hutan kini tergolong moderen, life style atau gaya hidup menurut Kotler adalah pola hidup seseorang di dunia yang ekspresif dalam aktifitas, minat dan opini, serta mengambarkan diri seseorang dalam berinteraksi dengan lingkunganya, gaya hidup mengambarkan seseorang dalam berinteraksi di dunia, dalam (wordpress,2011).

Segala kegiatan ekonomi masyarakat di hutan bisa diukur ke mampuanya dalam memenuhi kebutuhanya dari gaya hidupnya, apa lagi menjamurnya pengusaha hutan misalnya pengusaha mebel yang mengambil kayu dari hutan dan membeli dari petani hutan, menjadikan petani hutan bisa membangun rumah permanen bahkan ada yang dibangun di atas tanah perhutani, ada pula yang membeli tanah di luar hutan.

Menakar ekonomi ada batas ukuranya yaitu kaya dan miskin, jika sekarang petani hutan tidak lagi makan ketela sebagai makanan pokok tetapi mampu membeli nasi dan juga lauk pauk bahkan daging dan susu, apalagi mereka juga mengenal makanan siap saji, misalnya pizza,fried chicke., ketika mereka ke hutan tak lagi berjalan kaki dan bersepeda ontel, dan naik gerobak sapi, tetapi sudah naik mobil dan sepeda motor.

Gambar mobil pribadi petani hutan dan mobil untuk mengangkut kayu.

Gambar mobil dan HP petani hutan untuk usahanya.

 Apa yang mau dikata jika petani hutan membangun pencitraan dan konsep dirinya petani yang kaya, adapun strategi adaptif petani hutan untuk membangun dirinya sebagai orang yang mampu bahkan kaya mereka bisa menebang pohon padahal menebang pohon secara illegal adalah di larang, kenapa mereka menebang pohon? karena adanya kebutuhan yang harus dipenuhi dan tuntutan gaya hidup yang mewah.

 Menebang pohon untuk di jual ternyata hasilnya besar yaitu biasanya kalau jumlah kayu yang dimiliki sedikit di jual ke pedagang tebasan, kalau banyak dan besar investasinya di jual ke pabrik atau supplier, kalau harga di hitung dengan per m3,  tapi biasanya pedagang membeli per pohon kalau sengon harganya Rp 1.200.00 per m3, per pohonyaRp 360.000 sampai dengan Rp 750.000. (Asrofi,2012)

PT Harfarm Jaya Makmur menawarkan investasi hutan jati dengan keuntungan yang mengiurkan. Harfam menjanjikan dalam 8 tahun, satu pohon jati bisa dijual dengan harga Rp 12 juta sampai Rp 15 juta (Hen/Zul:2014).  Ternyata menebang kayu menjanjikan petani hutan dalam hal ekonomi, pekerjaan menebang kayu adalah strategi adptif agar survive petani hutan, berupa reactor strategy.

 Reactor strategy  yaitu merespon lingkungan tanpa memiliki rencana strategi yang bersifat jangka panjang, perusahaan hanya bersifat reaktif dan berorientasi jangka pendek, menurut Miles dan Snow (dunia manajemen.blogspor. com:2008), jadi petani hutan ketika menebang pohon reaksi yang berjangka pendek saat itu untung, tanpa memikirkan jangka panjang dan keruginya.

 Petani hutan yang dulu terpinggirkan, dikatakan miskin memiliki rumah dari kayu, makanya dari apa yang ada di ladang dan hutan, namun sekarang banyak petani hutan yang mampu menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Petani hutan menebang hutan dijadikan sebagai pekerjaan sampingan selain mereka berkebun dan meladang.

Menebang pohon juga di jadikan sebagai pekerjaan pengganti kalau hasil panen petani hutan gagal karena dimakan wereng atau hama, apalagi yang lebih parahnya sekarang dijadikan menjadi profesi dan lebih profesional, karena menebangnya sudah tak mengunakan kapak melainkan mesin besar. Ironisnya lagi ternyata surat jalan untuk pengangkutan kayu dan penebangan sekarang lebih mudah, sesuai pendapat Amirul petugas kehutanan Jombang.

Tak tanggung-tanggung kabar yang mengejutkan ketika ada tetangga saya yang merantau ke kalimantan dan di sana bertani dan membuka lahan, dalam lima tahun sudah bisa pulang ke Jawa membawa mobil mewah. Jika memang hasil hutan sudah banyak yang diproduksi menjadi bahan jadi mau dikata apa, dan konservasi hutan ternyata mengalami kendala yang demikian.

Memang kekayaan alam itu untuk kesejahteraan rakyat, namun diperlukan suatu upaya pemerintah dan masyarakat dari berbagai elmen untuk saling bersinergis dalam mengembalikan sumber daya alam hayati dan non hayati agar tetap lestari dan tersedianya energi di alam, jangan hanya menebang dengan alat besar, tetapi dibutuhkan alat tanam juga yang lebih moderen untuk lahan seluas itu.

Pemerintah perlu juga menyiapkan polisi hutan yang handal dan bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, kalu memang menjaga hutan yang seluas itu masih kurang ditambah lagi jumlah personilnya, untuk masyarakat adat dibutuhkan pengembangan dan upaya untuk pelestarian adat dan lingkungan, dibutuhkan sekolah kehutanan yang memang memperdulikan keberadaan hutan.

Memang ironis ya jika disuatu daerah misalnya di Desa Kemodo, Kec Mojoagung, Kab Jombang, komunitas petani hutan memiliki adat kebiasaan yang aneh juga jika ada pencuri kayu yang tertangkap, maka beberapa temannya  atau tetangganya mengumpulkan uang untuk membantu temanya keluar tidak sampai ke persidangan, ada juga yang membantu keluarganya dalam mengasih makan.

 Kelompok masyarakat petani hutan ini persepsi dirinya sebagai anggota petani itu besar rasa toleransinya dan kebersamanya, juga integrasi sosialnya dalam menghadapi konflik, bahkan ketika mereka menebang pohon itu bisa lima orang bersama-sama dan masing-masing orang membawa hasil masing-masing, tetapi ada juga petani hutan yang tak mau menebang.

Aneh memang jika pencuri kayu  di hutan tertangkap mereka tak mendapat stigma negatif dari masyarakat dan kelompoknya, tetapi pencuri ayam mendapat stigma, di pandang jelek sekali masyarakat. maka diperlukan pencerahan ke pada masyarakat pentingnya fungsi dan manfaat hutan, memberitahukan masyarakat kalau mencuri kayu adalah perbuatan melanggar hukum.

 Pencerahan Masyarakat bisa dari tokoh masyarakat yang disegani oleh masyarakat hutan, dan memperkuat tegaknya hukum di Indonesia

Daftar Pustaka.

Asrofi.(2012).Harga Kayu Sengon Per Batang. Diunduh 1 Mei 2017 dari https://sengon.ayo.web.id/2012/11/harga-kayu-sengon-per-batang.html?m=1

Dunia manajemen.blogsport.com.(2008). Strategi Adaptif. Diunduh 1 Mei 2017 dari https:// dunia-manajemen.blogsport.com/2008/05/strategi-adaptif.html?m=1

Hen/Zul.(2014).  Di Hargai Hingga Rp 15 Juta m3 Ini Yang Membuat Pohon Jati Mahal. Diunduh 1 Mei 2017 dari https://m.detik.com/finance/ekonomi-bisnis/2665749/dihargai-rp-juta-m3-ini-yang-membut-pohon-jati-mahal

wordpress.(2011). Gaya Hidup. Diunduh 1 Mei 2017 dari https://sosiologibudaya.wordpress.com/2011/05/18/gaya.hidup/