Gara-gara buku Mengarang Itu Gampang karangan Arswendo Atmowiloto, saya bercita-cita ingin jadi pengarang. Arswendo begitu lincah mengajari para pembaca dalam buku itu bagaimana menjadi pengarang atau penulis. 

Dengan penjelasan yang ia sampaikan, mengarang seperti aktivitas yang gampang-gampang saja, seperti menghirup udara, mudah sekali. Nyatanya tidak. Dan saya tertipu olehnya. Semua gara-gara Arswendo!

Saya pertama kali membaca buku Mengarang Itu Gampang saat masih kuliah dulu di IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Buku itu saya lihat pertama kali di Perpustakaan Daerah Provinsi Banten. Saat itu lokasinya masih di Jalan Saleh Baimin, Kota Serang. 

Saya pinjam buku itu dan saya baca sampai habis. Kesimpulan saya saat itu, menulis itu memang gampang (sesuai dengan judul yang dipilih Arswendo). Maka, saya pun mulai mempraktikkannya. 

Nyatanya, setelah bertahun-tahun mencoba menekuni, saya tak kunjung berhasil juga menjadi pengarang. Imajinasi saya seolah terbatas. Mentok. Cerita-cerita yang saya buat kurang mencuri perhatian pembaca. 

Sebagian besar cerita yang saya buat (berupa cerpen) nyatanya datar-datar saja. Cerita-cerita itu pun terinspirasi dari kisah hidup saya pribadi yang diberi bumbu fiksi. Atau kisah hidup saudara dan teman-teman saya. 

Saya ingin menjadi pengarang, tetapi ternyata harapan itu seperti "punguk merindukan bulan". Mengarang tak semudah yang dibilang Arswendo. Saya tak piawai dan tak berbakat menjadi pengarang. Semua gara-gara Arswendo. 

Saya masih ingat dan selamanya akan ingat dengan buku Mengarang Itu Gampang. Buku itu berisi pertanyaan-pertanyaan yang diselingi dengan jawaban. Tidak semua pertanyaan itu langsung ke persoalan mengarang. Kadang ada juga senda gurau. 

Seumur hidup, baru ini menemukan buku dengan format tanya-jawab begitu. Arswendo begitu piawai menjalin pertanyaan dan jawaban sehingga seolah-olah berisi dialog dua orang yang sedang melakukan tanya-jawab seputar dunia tulis-menulis. 

Konon, ketika menjadi narasumber penulisan, Arswendo sering ditanyai pertanyaan-pertanyaan oleh peserta kursus menulisnya. Maka, pertanyaan-pertanyaan itu pula yang ia masukkan ke dalam buku Mengarang Itu Gampang.

Mengarang, kata Mas Wendo (sapaan akrab Arswendo), gampang karena bisa dipelajari. Kalau yang tidak bisa dipelajari, misalnya mukjizat yang dimiliki Nabi dan Rasul, maka mungkin, menurutnya, masuk ke dalam kategori hal yang susah. 

Terayu oleh ucapannya yang gombal itu, saya kemudian percaya bahwa mengarang itu gampang. Saya kemudian serius mempelajarinya, bahkan mempraktikkannya. 

Saya juga ikut dalam Kelas Menulis Rumah Dunia. Saya cukup intens menulis cerpen setelah itu, bahkan pernah menang juara 3 saat lomba cerpen antarmahasiswa di kampus. Salah satu cerpen saya juga dimuat di koran Radar Banten (sekarang sudah tidak ada ruang sastra di koran lokal ini). 

Namun, makin lama berusaha menciptakan cerita, saya selalu merasa tidak percaya diri. Saya selalu merasa cerita yang saya bangun tidak seindah karya sastrawan yang karya-karyanya pernah saya baca, sebutlah Jujur Prananto, Putu Wijaya, atau Hamsad Rangkuti (hanya untuk menyebut beberapa nama).

Ketika saya membaca karya-karya mereka, betapa luar biasa. Saya merasa tidak pernah bosan. Sudah saya baca berkali-kali, tetapi tetap nikmat. Karya-karya mereka seperti sesuatu yang sangat sempurna. Tidak ada kekurangan apa pun. Semuanya pas. Enak. Sempurna!

Saya membaca cerpen Parmin buatan Jujur Prananto. Betapa cerpen ini membuat saya geleng-geleng dengan kelakuan orang-orang modern saat ini yang tidak peduli pada lingkungan. Mereka tak tahu di mana rumah pembantunya, tidak tahu nomor telepon RT, bahkan tidak tahu bagaimana menghubungi tetangga mereka. 

Saya juga membaca cerpen Teror milik Putu Wijaya. Betapa kuat dialog-dialog antara seorang lelaki yang membawa koper penuh uang dengan Ujang, seorang penjaga malam. Dan cerpen itu memberikan kejutan di ujungnya, yang disebut Arswendo sebagai “plot meledak”.

Saya pun membaca cerpen Hamsad Rangkuti yang terkenal itu, Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu, yang ternyata cerita dalam cerita. Cerpen itu memukau dari awal sampai akhir. 

Kenapa mereka bisa membuat cerpen sebagus itu sementara saya tidak bisa? Bukankah mengarang itu gampang? 

"Lah, kamu kan belum banyak membuat karya? Jangan membandingkan dengan mereka yang karyanya sudah sangat banyak." Tiba-tiba suara Arswendo seperti mengejek. 

Oh ya, bersamaan dengan mempelajari cerpen, saya juga mempelajari jurnalistik. Setelah belajar jurnalistik dan membuat banyak berita, saya makin merasa tidak berbakat menjadi cerpenis. Saya merasa lebih bisa membuat berita. Saya merasa lebih bisa menuliskan cerita orang dengan bahasa jurnalisme dibandingkan dengan menulis cerita rekaan dengan bahasa sastra.

"Lah, kan karya jurnalistik juga karangan?" Tiba-tiba suara Arswendo seperti terngiang-ngiang di kepala, mengingatkan makna mengarang bukan hanya persoalan karya fiksi melainkan juga karya nonfiksi.

Ya, tetapi bukan karangan semacam itu yang ingin saya bisa. Saya ingin bisa mengarang fiksi. 

Memang ada "unsur fiksi" dalam berita feature yang kerap saya buat, yaitu gaya berceritanya. Tetapi, tetap saja itu cerita yang berakar pada fakta. Bukan fiksi. Namanya feature bukan cerpen. 

"Lah, bisa membuat cerita dalam bentuk feature pun sudah bagus."

Iya. Tapi...

"Sudah. Sudah. Jangan tapi-tapi. Syukuri yang kamu bisa."

Tapi.

"Sudah."

Baiklah kalau begitu. 

Well, sudah 10 tahun saya menjadi wartawan. Semua ini gara-gara Arswendo!