Tiga tahun terakhir, nama Ajip Rosidi menjadi topik ‘panas’, terutama di kalangan para akademisi. Jika sebelumnya yang sering dijadikan bahan pembicaraan adalah ratusan karyanya, yang disoroti kali ini justu adalah ‘sikap’nya.

Sebagai seorang penulis, sastrawan, budayawan, redaktur, dan sebagainya, Ajip adalah sosok yang sangat besar, berprestasi, berpengaruh, juga layak diapresiasi dan dijadikan contoh. Dalam perjalanan kariernya, ia dikenal produktif dan banyak mendapat penghargaan.

Salah satu penghargaan atas jasanya adalah terpilih menjadi penerima Habibie Award dalam bidang kebudayaan tahun 2009. Selain piagam, doktor honoris causa ini pun menerima uang sejumlah Rp205.124.000, yang kemudian ia jadikan tambahan untuk pembangunan perpustakaan tiga tingkatnya.

Siapa sangka, kebahagiaan dan kebanggaan Ajip ternyata tak bertahan lama. Enam tahun berselang, sastrawan eksentrik ini merasa terhina atas keputusan para juri Habibie Award yang ia nilai tidak objektif lagi dalam memilih penerima penghargaan. 

Alih-alih memilih kandidat yang layak yaitu Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, tim penilai malah memilih orang yang menurutnya tidak meyakinkan, yaitu Guru Besar sejarah dari UNPAD, Nina Lubis (NL).

Ajip geram, tak sudi disejajarkan dengan NL. Bukan tanpa alasan, rasa jengkel pendiri sekaligus ketua Yayasan Kebudayaan Rancage ini dipicu sang akademisi, yang ia nilai tak bersikap dan bersifat selayaknya seorang ilmuwan.

Melalui proses mendalam (2019: 26-37), Ajip membeberkan bukti bahwa NL telah mencoreng profesi dan gelarnya, salah satunya dengan menjiplak buah tangan mahasiwanya, Elly, yang berjudul “Peranan dan Pemikiran Mohammad Sanusi Hardjadinata dalam Dunia Politik di Indonesia (1945-1985)”.

Skripsi sang mahasiswa tersebut dijiplak menjadi buku berjudul “Negarawan dari Desa Cinta: Biografi H. Moh. Sanusi Hardjadinata (1914-1995)” yang di dalamnya terdapat berbagai jenis plagiarisme, di antaranya penyatutan isi yang sama persis, penyatutan hasil wawancara Elly sebagai data pribadi NL, penyatutan referensi yang sama persis, dan sebagainya.

Tak hanya mahasiswa, NL pun pernah digugat Ali Anwar, peneliti dan penulis biografi K.H. Noer Alie, atas tuduhan plagiarisme juga. Alumnus Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tersebut pun menyatakan bahwa NL meringkas dan menerbitkan hasil karyanya tanpa izin, baik secara lisan maupun tertulis. 

Hal tersebut membuat Anwar dirugikan, baik secara moral, akademis, maupun ekonomi (2019: 41-49). Selain itu, masih ada kasus-kasus lain terkait etika NL sebagai seorang terpelajar.

Atas dasar kasus-kasus plagiarisme NL, maka tak heran jika, masih dalam buku yang sama yaitu “Mengapa Saya Mengembalikan Hadiah Habibie”, Ajip dengan gamblang menyatakan bahwa NL adalah plagiator yang tak tahu malu (2019: 14).

Sebagai bentuk nyata atas protesnya, putra Majalengka ini mengirimkan surat kepada Prof. Dr. B. J. Habibie, yang intinya menyampaikan bahwa “...Habibie Award telah kecolongan”. Selain itu, ia pun mengembalikan piagam dan seluruh uang yang telah ia terima dan sudah habis digunakannya untuk pembangunan gedung kepada Yayasan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Yayasan SDM Iptek) Habibie Center.

Tak terima dicap sebagai plagiator, pada tahun 2016 dalam webnya, NL melampirkan berita acara rapat senat FIB-UNPAD, lengkap dengan kronologis bantahan atas tuduhan Ajip, dan menyatakan bahwa Ajip telah memfitnahnya. Atas bantahan NL, Senat Akademik UNPAD menyatakan NL tidak bersalah.

Sikap para petinggi UNPAD pun dinilai Ajip tidak objektif pula. Ajip kecewa dengan sekertaris senat guru besar UNPAD, Prof. Dr. H. E. Saefullah Wirapraja, yang menyatakan, “Buat saya, kalau ada yang mau melemparkan orang Unpad ke laut, saya tidak akan membiarkannya tapi akan menolong orang Unpad itu” (2019: 11).

Walaupun sudah tak muda lagi, semangat Ajip tak pernah surut. Ajip menanggapi pernyataan NL dengan menyodorkan bukti-bukti dan hasil analisisnya. Ia pun membalas dengan percaya diri bahwa tuduhan bahwa ia memfitnah NL justru adalah fitnah atas dirinya (2019: 14).

Sikap Ajip tercermin dalam sajaknya ‘Katakanlah’ berikut ini:

Katakanlah apa yang mesti kau katakan
Dengan sesama hidup harus saling mengingatkan

Katakanlah apa yang tak dapat kau sembunyikan
Mengusik selalu nurani yang paling dalam

Katakanlah apa yang hendak kau katakan
Meski lehermu sendiri menjadi taruhan

Ajip (31/01/2019) dalam acara milangkala atau ulang tahunnya yang ke-81 di ISBI Bandung, menyatakan bahwa bangsa Indonesia tak akan memiliki masa depan jika tindakan-tindakan tidak terpuji (dalam hal ini plagiarisme) dibiarkan begitu saja. Plagiarisme adalah tindakan yang tak berampun. Membiarkannya sama dengan menghancurkan mentalitas bangsa.

Luar biasa. Gara-gara Ajip, kini banyak orang yang lebih melek atas arti kejujuran dan keberanian. Gara-gara Ajip, kita sadar sebagai sesama manusia harus saling mengingatkan. 

Gara-gara Ajip, kini banyak orang tahu bahwa mengemukakan pikiran itu sah-sah saja asalkan didasari hasil analisis dan bukti yang kuat. Gara-gara Ajip, banyak orang menjadi berani memperjuangkan hal yang menurutnya benar. Gara-gara Ajip, kita semua ‘tak kecolongan’.

Sumber:

Ajip Rosidi. 2019.  Mengapa Saya Mengembalikan Hadiah Habibie. Bandung: PT. Pustaka Jaya.