Ketika kita berbicara mengenai pendidikan di Indonesia, sebenarnya bidang ini sudah memiliki banyak tantangan dalam hal peningkatan kualitas pendidikan sejak masa setelah kemerdekaan. 

Dalam hal meningkatkan pendidikan di Indonesia, ada beberapa kebijakan yang dilakukan pemerintah, seperti wajib sekolah selama 9 tahun dan pembuatan sistem pendidikan yang berfokus pada pembangunan komunitas yang beragam.

Untuk menjalankan pendidikan di Indonesia, pemerintah membentuk atau merancang sebuah sistem pendidikan yang disebut kurikulum. Menurut U-U Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat nasional (Machali, 2014). 

Melihat pengertian di atas, kita bisa memahami bahwa kurikulum merupakan pusat dari pendidikan dan berpengaruh terhadap pendidikan itu sendiri (Sukmadinata, 2012 dalam Muhammedi, 2016).

Pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah cukup sering mengalami perubahan kurikulum. Pada masa setelah reformasi, yaitu setelah tahun 1998, pendidikan di Indonesia sudah mengalami perubahan kurikulum sebanyak tiga kali. 

Perubahan pertama, yaitu pada tahun 2004 di mana pemerintah Indonesia meluncurkan Kurikulum Berbasis Kompetensi atau yang biasa di singkat sebagai KBK. Lalu, perubahan kedua terjadi dua tahun setelahnya, yaitu tahun 2006 di mana pemerintah meluncurkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). 

Lalu, perubahan yang paling terakhir dilakukan adalah pada tahun  2013, dengan nama Kurikulum 2013 atau yang sering di singkat sebagai K-13. K-13 ini dibuat untuk mengembangkan dan memperkuat sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara imbang (Machali, 2014). 

Pada kurikulum 2013 ini, ciri yang paling terlihat adalah guru diberikan kebebasan untuk membuat suatu rencana belajar yang sesuai dengan kondisi tertentu.

Ketika duduk di bangku SMA, saya mengalami perubahan kurikulum dari KTSP menjadi K-13. Waktu itu, saya merasa sangat bingung terhadap perubahan kurikulum yang dilakukan pemerintah. Sebenarnya mengapa pada waktu itu dilakukan perubahan kurikulum? 

Banyak hal yang bisa dikatakan sangat berbeda ketimbang kurikulum sebelumnya, seperti ada kebebasan dalam mengatur bentuk tempat duduk di kelas, ada pelajaran tambahan wajib setiap hari senin-rabu-jumat, dan juga ada mata pelajaran peminatan yang harus di ambil setiap siswa. 

Ketika perubahan itu terjadi pada tahun 2013 sampai sekarang tahun 2018, sempat terpikirkan bahwa perubahan itu terjadi karena adanya pergantian pemimpin. Apabila ada pergantian pemangku kebijakan, maka kurikulum pada masa itu pasti akan berubah.

Mengapa mereka yang memiliki kuasa memilih untuk mengganti sistem pendidikan kita secara terburu-buru? Apakah mereka memikirkan kita sebagai siswa yang menjalankan dan merasakan sistem baru tersebut merasa sangat bingung dan resah? 

Apakah mereka hanya coba-coba saja dan kalau tidak berhasil maka akan kembali pada sistem sebelumnya? Terlalu banyak pertanyaan yang hinggap di kepala ketika mendengar cerita tentang perubahan kurikulum. Akan tetapi, waktu itu saya tidak tahu mengapa kurikulum di ganti.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan selalu terjadi di dunia termasuk di Indonesia. Globalisasi dan modernisasi di dunia pendidikan sedang gencar-gencarnya terjadi dan sistem pendidikan di Indonesia membutuhkan perubahan atau penyesuaian. 

Para pemangku kebijakan merasa bahwa Indonesia belum bisa bersaing dengan negara lain dalam hal pendidikan. Mereka berpikir dengan melakukan perubahan kurikulum dapat membuat Indonesia lebih bersaing di dunia pendidikan.

Ya, mungkin kebijakan untuk merubah atau menyempurnakan kurikulum dilakukan agar pendidikan di Indonesia dapat bersaing dengan negara lain. Akan tetapi, apakah semua pihak itu sudah siap ketika perubahan dilakukan? Apakah para pembuat kebijakan tersebut sudah paham bagaimana cara menjalankan sistem baru untuk menggantikan sistem yang lama?

Pada tahun 2013 lalu, perubahan kurikulum yang terjadi dianggap terlalu terburu-buru dan tidak dipersiapkan dengan matang. Sangat minim ditemukan adanya sosialisasi atau penyuluhan untuk memperkenalkan kurikulum 2013. 

Sehingga hal tersebut mengakibatkan banyak pihak yang merasa “shock” dengan cara belajar dan mengajar yang baru. Baik para guru maupun siswa merasa bingung bagaimana cara belajar dengan sistem yang baru ini.

Kebijakan untuk merubah kurikulum dilakukan pemerintah untuk mendongkrak daya saing pemuda-pemudi Indonesia dengan dunia global yang semakin terbuka, bukan semata-mata terjadi karena adanya perubahan pada posisi pemangku kebijakan. Pemerintah melakukan perubahan dengan maksud untuk membuat pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik lagi. 

Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan proses yang bertahap. Maka dari itu, butuh kerjasama dan niat yang berkelanjutan agar kurikulum 2013 yang baru berjalan selama lima tahun ini bisa tersampaikan dengan baik untuk para guru maupun siswa.

Penulis, mahasiswa S1 Antropologi Budaya UGM yang merasa butuh kerjasama berkelanjutan agar sistem pendidikan K-13 bisa tersampaikan dengan baik. Terimakasih.

Referensi:

Machali, Imam. 2014. Kebijakan Perubahan Kurikulum 2013 dalam Menyongsong Indonesia Emas Tahun 2045. Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Islam.

Muhammedi. 2016. Perubahan Kurikulum di Indonesia: Studi Kritis Tentang Upaya Menemukan Kurikulum Pendidikan Islam yang Ideal. Deli Serdang. Raudhah.