Galungan 

Kemenangan dan kekalahan hanya soal waktu. Datang silih berganti.
Tak diundang selalu datang. Kita sering kalah oleh keadaan, bukan
oleh bhuta yang selalu disalahkan saat kesedihan dan kemalangan
menimpa.

Ibu mengeluh setiap hari raya tiba; uang menipis sementara
upacara mesti digelar atas nama tradisi yang tak boleh dikritisi
Siapa yang menang sebenarnya? Saat utang menumpuk dan rentenir
datang kututup telinga tak sanggup mendengar kata menusuk hati
Kuliti ibu yang tak sanggup membayar sementara ayah sudah lama
pergi dari rumah dan tak kembali.

Mantra dan doa tak sanggup lagi sirami batin yang tertekan.
Kemiskinan membuat kami memilih roti penjaja kitab suci. Jangan
salahkan kami memilih konversi sebagai opsi, adat begitu berat bagi
kaum fakir dan ayat suci yang mereka bawa menghilangkan lapar dan
dahaga kami.


Lorong 2

Pikiran itu secepat angin, begitu kau berkata saat aku menjengukmu di rumah sakit.
Kau mulai bicara filsafat dan aku mendengarkan dengan sabar. Kamar begitu sepi,
hanya ada dua pasien yang sesekali terbatuk dan mengutuki sakit yang merampas
kebahagiaan.

Kau ingin tidur setelah bercerita banyak hal. Aku keluar menuju warung
di seberang, mengisap rokok dan mengingat kata-kata yang keluar dari
mulutmu. Akhir-akhir ini kau banyak berpikir, kepalamu terasa penuh
dan tubuhmu memberi sinyal bahwa kau sakit. Kau perlu beristirahat
dan menenangkan gejolak di dada. 

Kau bahagia keadaanmu membaik dan dokter mengizinkan pulang.
Menjalani hidup dengan pandangan baru dan membuang segala kekhawatiran.
Senyum mengembang di wajahmu, tak lagi keruh seperti dulu. Kau berniat
meninggalkan kekasih yang hanya membebani perasaan, membuatmu sakit
dan meninggalkan luka yang tak bisa sembuh oleh waktu.


Belajar Membaca

Kenali huruf itu
Ejalah perlahan
Jadikan kalimat
Nikmat terdengar

Lamat-lamat
Kudengar
Suaramu
Membaca kata
Sesekali kau
Bertanya
Saat temui
Kesulitan

Dengan sabar
Ibu temani
Kau belajar
Kau pandai
Seperti ayah
Mengeja waktu
Aksara diri
Larut, hanyut

Buku-buku
Temani pagi
Puisi terindah
Bagi kita
Banyak hal
Kau pelajari
Tak ada
Di sekolah
Semua tak
Pasti.
Seperti
Nasib, penuh
Misteri.


Eksil  

Tak ada rumah bagimu
Gelandangan terbuang
Kampung halaman
Datang dalam mimpi
Mereka yang mati
Mengajak pulang

Kemana mesti pergi
Kota tak beralamat
Tersesat di mata Ibu
Menikam sanubari
Menyisakan luka
Tak pernah kering

Aku butuh peta
Kau beri kata
Tak selesai
Tak ada jalan
Bagai anjing
Mengonggong
Di ujung gang

Aku tak pulang
Tak ada cinta
Kutemui
Senyum palsu
Tawa semu
Sia-sia rindu
Terpendam
Tertinggal di halte
Bus antar kota
Bertahun-tahun
Lamanya