Sumpek sekali, ketika saya menyahut sebuah artikel berletuk—Agama itu harus dipisahkan dari persoalan negara.

Jujur saya katakan itu!

Dari sekian lot artikel yang saya baca selama ini. Tidak pernah saya tumpui artikel yang begitu flack back dari topik yang lainnya.

Kalaupun ada. Itu paling diskursus dan polemik yang sifatnya sedang memanas, dan sedang dibaca untuk menggiringkan isu yang sedang dibahas, dan atau sebelumnya terjadi. 

Namun sebelum itu terjadi. Ada isu yang serupa, yang membuat saya geger dan tragis menelik-Nya. Yaitu pergulatan negara, Agama dan Kebudayaan.

Pergulatan negara, agama dan Kebudayaan, karya Gustur (2006) ini menggambarkan agama, dan negara adalah satu. Tetapi hal-hal lain ter-korespondensi dengan batang tubuh yang lainnya. 

Baik ideologi negara maupun budaya, tradisi pandangan pancasila. Termasuk demokrasi atau doktin yang terkait terhubung dengan pandangan yang lainnya. 

Ini yang kemudian menjadi "Trending topic bagi publik figure". Ketika perihal diskusi, dan diskursus sedang berlangsung (Live).  

Topik yang dibahas itu. Tentu bagaimana memaknai makna pancasila dan demokrasi itu bisa terhubung antara manusia, negara, dan agama yang lainnya.

Sebagai negara yang ber-kultur majemuk —campuran. Memaknai pancasila bukan hal baru. Melainkan kita harus mengistilahkan itu berdasarkan asas dan pandangannya masing-masing. 

Termasuk pandangan yang menurut keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Seperti sebutkan dalam kitab suci Al-Qur'an, misalnya. 

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Dalil itu, jika dimaknai pancasila, dan  demokrasi adalah 'negara multikultural'. Dalam falsafah agama disebut plural, homogen, dan majemuk atau bersifat campuranSilsilah lain juga disebut sebagai ibu kandungnya negara.

Makanya sangat kontroversial sekali. Ketika kita—atau bahkan negara misalnya,  mendiskreditkan agama itu harus dipisahkan dalam soal Politik, demokrasi, sosial dan ekonomi.

Lantas kemudian, kenapa Tuhan meciptakan kita dari berbagai macam suku, ras, atau bahkan budaya?

Sementara, pusat negara itu berarti pluralisme. Apa yang kemudian, kita harus memisahkan antara Agama dan negara?

Agama, dan negara misalnya.  kalau bersifat majemuk, maka bangsa mayoritas dan minoritas asas tunggalnya adalah—ideologi pancasila.

Kalau ada yang yang ceplok—caplek dalam soal penafsiran. Tentu itu samir dengan soal definisi. 

Definisi ideologi saja, misalnya bermakna dan bermuatan ganda. Sementara epistemologi pancasila banyak “berarti luas”. Dan begitu pula soal demokrasi memiliki kandungan makna yang luas, interprestasi kultural yang bebas, dan  hermeutika berbeda-beda.

Namun kemudian! Dimanakah letak dan nilai pancasila yang sebenarnya?

Kalau istilah dasarnya. Pancasila bukan pemilik agama, bukan kepunyaan golongan, dan bukan hak atas kekuasaan suku, atau bahkan bukan pula atas kepentingan ras, budaya dari setiap keyakinan dan penganutnya.

Tetapi pernyataan itu, bertentantangan dengan Soekarno yang mengkaim bahwa bukti adanya ide, pikiran atau ideologi negara kita itu berfalsafah 'pancasila'.

Dalam artian, “Berbeda-beda pandangan tapi satu tujuan yakni menuju Indonesia adil, makmur, dan sejahtera”.—Soekarnoisme

Oleh karena itu Gagal paham kita, kalau meng-istilah-kan makna pancasila, dan agama, itu harus terpisah dari negara. 

“Nasionalisme, dan Liberalisme atau Sosialisme itu bukan sekularisme. Melainkan itu islamisme”.—Muhammad Natsir

Dari ke–4 ideologi itu terlihat jelas dianut semua oleh negara dan Agama.

Lalu, apakah kemudian persoalan agama harus di blender, ataupun di pisahkan dari soal negara? Belum tentu, sebab!

Kalau kita memakai doktrin Liberal. Maka definisi segala hak, identintas, dan kewajiban itu tidak bisa— dikekang, dan  digugat oleh yang lain; Siapapun dia.

Semasih tidak menggangu kebutuhan dan kepentingan orang lain. Semisal dalam bergumen, tukar pikiran, kebebasan berpendapat, dan pengambilan hak–hak keputusan.

Tetapi itu berbeda. Kalau di Indonesia. Kenapa?

Karena kata liberal itu sensitif, dicam radikal, dan extremis.

Atau lebih dekat dalam pemaknaan kita adalah 'kiri'. Yang identik dengan Love of Freedom.

Berbeda kalau di Inggris, orang liberal itu  di anggap extreme kanan. Karena substansial-Nya, ada hak keadilan, dan  kebijakan disitu. Yang harus tidak di batasi oleh negara.

Termasuk, dialektika pendapat dan perbedaan penafsiran. Baik ideologi negara maupun isi pandangan. Namun basis akarnya sama.

Sosialis, liberalis atau pun Nasionalis! Ada. Apakah demikian mereka itu semua 'bertajuk' sebagai pergerakan kiri atau kanan?

Belum lagi dalam soal demokrasi atau ideologi negara. Apakah sumber dasarnya berasal dari ideologi konservatif —kanan. Atau bahkan kiri?

Agama saja. Jika dikodifikasi tentang makna! Dalam bentuk nilai-nilai dasar pancasila, maka klimaks yang terbentuk Not being connected completely. Tidak substansial dan tidak relevan sekali! 

Sebab detail isi-isi agama itu harus dihubungkan dalam hal Persoalan Negara.

Demikian juga kita menelisik pancasila dan demokrasi. Dalam hal-hal krisis pemaknaan dan penafsiran, misalnya. Meskipun itu berbeda-beda. Namun makna dan tujuannya sama. 

Oleh karena itu satu-kesatuan dasar dari ke–4 ideologi itu harus dihubungkan. Salah satunya adalah nasionalisme, liberalisme, sosialisme dan islamisme. 

Sehingga nilai dan integritas demokrasi terbentuk akan nilai-nilai persatuan, persamaan dari segala bentuk  perbedaan.

Dan begitu pula dengan Indonesia. Itu bukan terbentuk adanya kontradiktif pemahaman. Melainkan itu satu-kesatuan dasar dari berbagai ideologi yang berbeda. Yakni, liberalis, sosialis, atau nasionalis.

Soekarno memaknai Nasakom itu representative materinya bukan di ambil dari konservatif Islam saja. Melainkan terbentuk pada ideologi-ideologi besar Dunia.

Salah satu buktinya adalah Sosialisme ada. Komunisme runtuh dan Nasionalis bersatu. 

Ke-tiga pendekar itu menjadi adalah satu. Oleh karena itu! Apakah ada yang salah dalam soal Agama harus dipisahkan dari negara. Tidak