Aku tak tahan lagi berada di ruangan itu. Aku ingin segera keluar. Semua terdengar membosankan. Begitu pelik rasanya persoalan yang dibahas, dan di sana-sini kadang masih terjadi, muncul kejadian buruk tentang kekerasan di berita-berita media massa, di televisi, atau bahkan di media sosial yang marak menjangkiti banyak orang. 

Aku berada di ruang teatrikal perpustakaan suatu kampus di Yogyakarta yang di dalamnya seminar nasional bertema "Perlindungan Anak Diawali dari Keluarga: Upaya Mengurangi Kekerasan Terhadap Anak" tengah berlangsung. Sungguh, aku ingin segera keluar, tetapi nyatanya aku tetap duduk.

Temanku, Septo duduk di kursi sebelah kiriku. Dia tampak bosan dan mengantuk. Di sebelahnya lagi adalah seorang cewek berkerudung biru muda, warna kesukaanku. 

Cewek itu cukup manis. Berkali-kali kadang ada kesempatan juga untuk meliriknya. Wajahnya bersih, kulitnya putih, dan senyumnya mengundang decak kagum. Bagian kaki kanannya yang tidak tertutupi sepatu terluka, dan lukanya dibalut kain perban berwarna putih. 

Mungkin dia habis jatuh hingga kakinya terluka dan berdarah. Sesaat ketika aku melirik padanya, aku merasa berhenti berpikir, dan rasa bosanku tiba-tiba seperti lenyap tersingkir. Kupikir cewek itulah satu-satunya alasanku untuk tetap bertahan di ruangan itu.

Meskipun dihinggapi rasa bosan, anehnya tetap saja aku dengarkan ocehan para pembicara di depan. 

Aku dengar, setidaknya mereka memetakan ada tiga jenis kekerasan, yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan seksual. Tiga jenis kekerasan ini terjadi didorong adanya faktor pemicu dan faktor resiko. 

Faktanya, seringkali kekerasan dilakukan oleh orang-orang terdekat, seperti orang tua, saudara, maupun teman, selebihnya dilakukan oleh orang asing.

Septo berkata, "Itu lho, cewek depanmu, Mas... Dia malah bermain Ludo King."

"Iyakah?" balasku tersenyum. "Mungkin dia juga bosan mendengarkan."

"Materi yang disampaikan memang cocoknya untuk anak perkuliahan," ujarnya.

Aku membatin. "Bukankah dia juga anak perkuliahan?"

Lagipula toh para peserta seminar kebanyakan adalah mahasiswa. Beberapa memang hadir siswa-siswi SMA, juga dua orang guru sekolah. 

Satunya, seorang guru BK yang usianya kutaksir sekitar lima puluhan, berbadan gemuk, dengan rambut putih hampir memenuhi kepalanya. Penampilannya tampak tegas, disiplin, dan agak galak.

Aku membuka handphone-ku, lalu bermain Ludo King. 

Ini permainan yang cukup mengasyikkan. Semacam permainan ular tangga, di mana setelah dadu dilempar, bidak milikmu digerakkan sampai titik puncak. Kalau bidakmu ditabrak lawan, bidakmu akan kembali ke sarangnya. Namun untuk bisa keluar dari sarang, kau mesti dapat angka dadu enam agar bidakmu bisa digerakkan.

Kau butuh suatu teknik untuk bisa memainkan Ludo King dengan baik agar kau menang. Tahulah, ini kan permainan tentang ketidakpastian lewat lemparan dadu. Mungkin seperti nasib. Namun, ketidakpastian pada lemparan dadu bisa kau kencingi dengan teknik yang baik. Dengan begitu, peluang kau menang pun berada dalam genggamanmu. Tinggal kau pilih, kau jalankan, dan kau rasakan dengan penuh keyakinan.

Dalam beberapa menit saja bermain Ludo King, aku pun menang. Aku kembali merasa bosan. Kemudian kulirik cewek itu, tampak dia sedang asyik mengobrol dengan temanku. 

Mereka kelihatan begitu akrab. Namun, aku tak berani bertanya kepada temanku siapakah dia, atau maukah dia memperkenalkanku dengannya. Di sinilah aku merasa kalap. Jiwaku mendadak terasa menciut.

Aku memandang ke depan pada para pembicara yang masih asyik mengoceh. Setiap kali selesai satu pembicara, moderator meminta anak-anak Sinayu dari Guyub Bocah untuk menyanyi. Beberapa lagu yang mereka nyanyikan cukup bagus, diiringi satu gitar dan kajon.

Selesai pembicara keempat, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 11.15. Tinggal sesi tanya jawab. Beberapa peserta seminar bertanya, sementara aku hanya diam, tetapi aku tidak lagi bosan seperti sebelumnya. Kurasakan suasana ruangan berubah jadi lebih hidup.

"Semua kekerasan yang buruk terjadi di dunia ini, kupikir berakar dari kemiskinan dan kebodohan," ucap salah seorang penanya. 

Suaranya cukup lantang. Dia pun melanjutkan pertanyaannya, tetapi entah apa, aku tak lagi menyimaknya.

Guru BK menyinggung tentang boleh tidaknya seorang guru memukul muridnya di sekolah. 

Katanya, kadang seorang guru merasa kesal dan jengkel dengan kelakuan nakal murid-muridnya.

Pertanyaan demi pertanyaan lain hanya samar-samar kudengarkan. Pikiranku tertuju pada cewek di sebelah temanku.

Semua yang dibahas di ruangan itu menjurus ke luar, dalam arti, mereka ingin agar sesuatu di luar berubah, tetapi mereka tidak berpikir terlebih dahulu untuk mengubah sesuatu di dalam diri mereka. 

Namun, kemudian kudengar salah seorang pembicara mulai menunjukkan bahwa kitalah yang lebih dulu mesti berubah dan mencintai mereka sehingga sesuatu di luar pun berubah, termasuk kasus kekerasan terhadap anak.

"Dan perubahan itu mesti terjadi dalam diri setiap orang," ucapku tiba-tiba, lirih tanpa sadar. 

"Mulai dari diri sendiri, bagaimana mencintai sehingga kekerasan tersebut pun berhenti."

Selesai seminar, kami keluar ruangan. Di luar telah dihidangkan menu makan siang berupa soto ayam. Aku mengambil satu porsi dengan tahu dan tempe goreng sebagai lauk tambahan. Lantai kujadikan tempat duduk tanpa alas tikar atau karpet. 

Di luar cuaca sedang mendung. Hujan pun turun. Bukan hujan lebat, hanya gerimis, serupa jarum jatuh dari langit. 

Selesai makan, kuambil segelas kopi, lalu bersama Habibi dan Septo, kami keluar menuju emperan depan perpustakaan dan duduk santai di sana. 

Habibi menawariku rokok, kuambil sebatang, lalu dengan korek api, aku menyulutnya. Saat itu tak ada yang aku pikirkan selain aku mesti segera pulang, tetapi kenyataannya hujan masih turun, dan kami tidak membawa jas hujan. 

Di sisi lain, ingin sekali aku bertemu dengannya, lalu kami berkenalan, bercakap-cakap santai dan akrab. Namun ketika kutelisik sekitar, termasuk di ruang lobi perpustakaan, tak kulihat sosoknya. Mungkin dia sudah pulang, atau entah dia ke mana.

"Siapa namanya?" Akhirnya kutanyakan pada Septo saat kami sudah pulang.

"Siapa?" tanya Septo, tidak paham maksud pertanyaanku.

"Cewek di sebelahmu tadi pas seminar," ujarku.

Aku tak mungkin berpura-pura lagi. Ya, cewek itu membuatku suka menatap wajahnya, senyumnya. 

Dialah satu-satunya cewek di ruangan seminar yang membuatku berdecak kagum. Seorang cewek yang berhasil membunuh rasa bosanku.

"Hikmah," jawab Septo.

"Siapa? Hikmah?"

"Ya, Hikmah," katanya. "Dia hampir selesai kuliah. Dia aktif di organisasi HMI, calon pengurus cabang. Entahlah, sampai saat ini belum juga ada pelantikan." 

Aku hanya diam, tak tahu mesti berkata apa. 

"Rumahnya dekat alun-alun kota, Mas. Pokoknya sekitar daerah situ."

"Ayo, kapan main ke rumahnya," ajakku.

"Nah, itu. Aku tidak tahu persis di mana rumahnya."

Oh, sayangnya begitu. Sayangnya Septo tidak tahu rumahnya. Sayangnya dia...







NB.: cerpen ini saya tulis sebagai catatan atas kegiatan seminar nasional di teatrikal UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tanggal 27 Juli 2017 untuk memperingati Hari Anak Nasional setiap tanggal 23 Juli.