Hermeneutika adalah istilah yang lekat dalam kajian teologi, filsafat, dan sastra. Sebagai bagian dari produk filsafat, hermeneutika mulai dikenal pada abad ke-19. 

Hingga kini, hermenutika masih mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan manusia. Hermeneutika adalah salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna, yang juga tidak terlepas dari pertumbuhan dan kemajuan pemikiran tentang bahasa dalam wacana keilmuan lainnya.

Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneutikos, yang berarti menginterpretasikan, menafsirkan, atau menerjemahkan. Kata hermeneutika diturunkan dari nama Dewa Hermes yang bertugas menyampaikan sekaligus menafsirkan pesan dan perintah dari para dewa pada manusia. Bermula dari kisah inilah hermeneutika kemudian dikenal sebagai aliran filsafat yang secara spesifik berbicara tentang teori penafsiran, terutama penafsiran teks kitab suci.

Biografi Gadamer: Melepas Jejak Ayahnya

Hans-Georg Gadamer adalah filosof kelahiran Marburg, Jerman. Ia lahir pada tanggal 11 Februari tahun 1900, sebagai anak kedua dari pasangan Emma Caroline Johanna Gewiese (1869-1904) dan Dr. Johannes Gadamer (1867-1928). 

Di usia 2 tahun, ia pindah di kota Breslu (sekarang dikenal dengan nama Wroclau, Polandia) mengikuti perpindahan ayahnya yang diangkat menjadi profesor luar biasa di Universitas Breslau. Sementara itu, ibunya sudah meninggalkannya sejak usia 4 tahun karena terserang penyakit diabetes.

Pendidikan Gadamer dimulai sejak ia menempuh pendidikan dasar dan menengahnya di Holy Gost School dari tahun 1907 hingga 1918. Dilatarbelakangi kecintaan sang ayah pada ilmu-ilmu alam, waktu di Gymnasium, Gadamer lebih menyukai strategi militer daripada bahasa-bahasa kuno sehingga orangtuanya berharap ia menjadi perwira. Apa yang dikhawatirkan orangtuanya pun tiba. 

Lambat laun perhatiannya beralih ke kesusastraan dan bahasa-bahasa kuno, antara lain karena pesona puisi-puisi Stefan George yang waktu itu digemari banyak orang. Ketertarikan tersebut sangat berseberangan dengan keinginan ayahnya yang menginginkan anaknya untuk mengikuti jejaknya sebagai ilmuwan eksak. Setelah tamat dari Holy Gost School, Gadamer melanjutkan pendidikannya di Universitas Breslau dengan konsentrasi di jurusan filologi klasik Selama kuliah.

Gadamer merupakan salah satu tokoh hermeneutika terkemuka dan memperoleh gelar doktor pada usia 22 tahun di bawah bimbingan Heidegger. Beliau wafat pada tanggal 13 Maret 2002 di Rumah Sakit Universitas Heidelberg. Gadamer telah menjadi saksi berbagai peristiwa penting abad XX, di antaranya Revolusi Bolshevik di Rusia, dua Perang Dunia, terbelahnya Jerman menjadi dua blok. Karya monumentalnya, Thruth and Method menjadi rujukan utama kajian hermeneutika hingga saat ini.

Kritik Gadamer terhadap Hermeneut Pendahulunya

Secara umum, dunia hermeneutik adalah dunia pemahaman atau penafsiran (verstehen). Dalam perkembangannya, metode pemahaman ini dari generasi ke generasi terus berkembang. Pada tingkat awal, dunia hermeneutik dibuka dengan gagasan Schleiermacher yang biasa dikenal dengan hermeneutika romantic, dan Dilthey yang merintis hermeneutika historis. 

Dalam pandangan Schleiermacher dan Dilthey, mengerti atau memahami suatu teks adalah menemukan arti asli teks tersebut atau menampilkan apa yang dimaksud oleh pengarang teks, yakni pikiran, pendapat, visi, perasaan, dan maksud pengarang teks. Oleh karena itu, seorang penafsir harus memiliki pengetahuan yang luas tentang sejarah dan psikologi. 

Bagi kedua pemikir perintis hermeneutik ini, interpretasi suatu teks merupakan pekerjaan reproduktif. Mencapai arti yang benar dan genuine dari suatu teks adalah kembali kepada apa yang dihayati dan mau dikatakan oleh sang pengarang. Singkatnya, kerja interpretasi adalah kerja rekonstruksi sebuah teks demi mendulang sebuah makna asli.

Selain itu, dalam pemikiran Schleiermacher dan Dilthey, seorang interpretator harus sanggup melepaskan diri dari situasi historisnya. Ia seolah-olah dapat “pindah” ke zaman lain. Artinya, seorang interpretator tidak boleh terikat dengan suatu horison historis yang melingkupinya. Tegasnya, ia keluar dari situasi dan kondisi zamannya untuk kemudian melancong ke situasi dan kondisi penulis teks.

Walaupun Gadamer termasuk pengagum Schleiermacher dan Dilthey, dan pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Schleiermacher dan Dilthey, tetapi Gadamer juga banyak memberikan kritik terhadap pemikiran dua tokoh romantik ini. 

Pertama, Gadamer keberatan dengan pendapat Schleiermacher dan Dilthey yang menerangkan bahwa hermeneutik bertugas menemukan makna asli sebuah teks. Menurut Gadamer, interpretasi tidak sama dengan mengambil suatu teks lalu mencari makna yang dikehendaki oleh pengarang teks tersebut. 

Bagi Gadamer, arti suatu teks tetap terbuka dan tidak terbatas pada maksud pengarang teks tersebut. Karena itu, interpretasi tidak bersifat reproduktif belaka, tetapi juga produktif.  

Gadamer juga mengkritik pendapat hermeneutika romantis tentang waktu, yakni bahwa seorang interpretator harus dapat melepaskan diri dari dimensi waktu yang melingkupinya dan berziarah ke dimensi waktu pengarang teks. Menurut Gadamer, kita sebagai interpretator tidak dapat melepaskan diri dari situasi historis di mana kita berada. 

Arti suatu teks tidak terbatas pada masa lampau waktu teks tersebut ditulis, tetapi juga mempunyai keterbukaan makna untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Oleh karena itu, memahami dan menginterpretasikan suatu teks merupakan tugas yang tidak akan pernah selesai. Setiap zaman memiliki beban tugas untuk menginterpretasikan suatu teks. Dalam istilah F. Budi Hardiman, makna teks bukanlah makna bagi pengarangnya, melainkan makna bagi kita yang hidup di zaman ini. Maka, menafsirkan adalah proses kreatif.

Gadamer juga mengkritik secara tajam konsep “tradisi’ dan “prasangka” yang digagas para pengusung hermeneutika romantis. Menurut tradisi hermeneutika romantis, dalam menafsirkan suatu teks, prasangka harus dihindarkan jauh-jauh. Menurut para pemikir hermeneutika romantis, prasangka (prejudice) hanya memiliki arti kurang baik dan bertentangan dengan kebenaran. 

Gadamer menolak pandangan ini. Menurut Gadamer, dalam memahami suatu teks, kita tidak dapat melepaskan diri dari prasangka. Akan tetapi, bukan berarti interpretasi menjadi suatu usaha yang subjektif dan tidak kritis. Oleh karena itu, kita harus membedakan antara prasangka yang legitim dan prasangka yang tidak legitim, serta antara prasangka yang sah dan prasangka yang tidak sah. 

Demikian pula, sementara hermeneutika romantis menafikan otoritas suatu tradisi, Gadamer justru mengakuinya. Menurut Gadamer, walaupun kita mengakui otoritas suatu tradisi dan bahkan menjadi bagian dari tradisi, tetapi hal itu tidak akan menghambat pengenalan kita terhadap suatu teks. Sebaliknya, tradisi justru akan membantu kita dalam proses pemahaman.

Proyek Gadamer adalah membebaskan hermeneutika dari batas-batas estetis dan metodologis yang menjerat, sehingga hermeneutik tidak dipahami sebagai seni atau metode tetapi sebagai kemampuan universal manusia untuk memahami. Karena itu hermeneutika Gadamer bisa disebut sebagai Hermeneutik Filosofis (Philosophische Hermeneutik).

Gadamer dan Pemikiranya tentang Tradisi dan Otoritas

Gadamer menolak asumsi reproduksi makna  dengan dasar bahwa manusia  sebagai penafsir tidak berdiri di luar sejarah, melainkan bergerak dalam sejarah dengan horizon pemahaman tertentu yang berbeda dari horizon pemahaman dalam teks  ataupun ungkapan yang hendak dipahami. Bertolak dari pra struktur pemahaman Heidegger sebagai dimensi ontologis manusia yakni cara berada, Gadamer merehabilitasi konsep prasangka.  

Prasangka (Voruteil) adalah penarikan kesimpulan  atau penilaian yang tergesa-gesa. Sejak abad pencerahan dan menangnya Sains atas agama, prasangka  dideskriditkan sebagai penilaian yang tidak mempunyai dasar. Gadamer menududukkan bahwa apa yang di curigakan zaman pencerahan atas agama dan tradisi juga adalah prasangka. Upaya pencerahan memeriksa otoritas dan tradisi di bawah cahaya akal adalah juga prasangka melawan prasangka.

Dengan kritik atas pencerahan dan romantisme itu gadamer ingin menunjukan bahwa prasangka  merupakan unsur wajar di dalam memahami, dan bahkan kita pun boleh mengatakan bahwa prasangka merupakan kondisi memahami. Meski demikian, kita tetap harus waspada karena prasangka ada juga yang legitimite dan ada yang tidak legitimite.

Menurut Gadamer, pencerahan memiliki kelemahan dalam melihat ini. Pertama, mempertentangkan otoritas dengan nalar dan kebebasan, padahal bagaimanapun otoritas juga dapat menjadi sebuah sumber kebenaran. Kedua, apa yan terjadi pada otoritas juga terjadi pada konsep tradisi. Pencerahan tidak melihat bahwa tradisi merupakan unsur yang selalu ada bahkan dalam pencerahan itu sendiri, karena proyek pencerahan untuk mendukung nalar dan kebebasan membangun sebuah tradisi yang juga harus di jaga dan diteruskan. 

Manusia bagaimanapun tidak bisa keluar dari tradisi. Dengan demikian, tradisi dan otoritas dapat menjadi kondisi bagi pemahaman. Dan prasangka yng legitimite berhubungan dengan otritas dan tradisi.  

Dengan demikian, Gadamer  telah mengatasi konsep relativisme kebenaran dalam interpretasi. Relativisme kebenaran adalah pandangan bahwa kebenaran itu relative, tergantung pada penafsir. Menurut gadamer kebenaran tidak relative dan tidak sewenang-wenang ditentukan oleh penafsir, karena penafsir juga harus mengikuti kaidah-kaidah yang ditentukan oleh tradisi. Dengan ungkapan lain, tradisi membatasi gerak inerpretasi sehingga kebenaran interpretasi sedikit banyak merupakan hasil penerimaan olehb tradisi tertentu.

Kritik atas Sejarah Pengaruh 

Gadamer secara eksplisit menjadikan analisis Heidegger tentang pra struktur pemahaman dan historis intrinsic keberadaan manusia sebagai fondasi dan titik awal analisisnya tentang “kesadaran sejarah. kita memahami suatu teks tidak berangkat dari ruang kosong, tetapi sudah didahului oleh pra pemahaman yang mapan.  

Rehabilitasi Gadamer atas otoritas dan tradisi memiliki implikasi bagi pandangan tentang kesadaran sejarah (historisches Bewubtsein). Apakah artinya memahami sejarah? Memahami sejarah bukan hanya berarti kita memahami fenomena sejarah, seperti misalnya memahami isi karya-karya dari masa silam, melainkan juga memahami pengaruh karya-karya itu dalam sejarah. 

Gadamer menyebutnya dengan istilah sejarah pengaruh atau Wirkungsgeschichte. Istilah ini mengacu pada keterlibatan kita dalam sejarah, yakni suatu situasi yang didalamnya kita sebagai pelaku-pelaku sejarah tidak melampaui sejarah.

Gadamer ingin melawan kepongahan intelektual pencerahan sejarah yang mengandaikan pengetahuan sejarah objektif, dimana pengetahuan sejaran adalah paparan tentang peristiwa tanpa keterlibatan peneliti di dalamnya. Obyektivisme historis, menurut gadamer, menyembunyikan fakta bahwa kesadaran sejarah itu sendiri tersituasi dalam jejaring pengaruh-pengaruh sejarah. 

Paparan seorang peneliti bagaimanapun tidak lepas dari  banyaknya kekuatan pengaruh-pengaruh seperti kepentingan-kepentingan ideologis, politis, kultural ataupun ekonomis yang mengarahkan penelitinya.

Lebih lanjut Gadamer mengatakan, seseorang harus belajar memahami dan mengenali bahwa dalam setiap pemahaman, baik dia sadar atau tidak, pengaruh dari affective history (“sejarah yang mempengaruhi seseorang”) sangat mengambil peran. Sebagaimana diakui oleh Gadamer, mengatasi problem keterpengaruhan ini memang tidaklah mudah. Pesan dari teori ini adalah bahwa seorang penafsir harus mampu mengatasi subjektivitasnya ketika dia menafsirkan sebuah teks.

Gadamer dan gagasanya memberikan cakrawala yng berbeda tentang dunia hermeneutika. Melalui hermeneutika filosofisnya, Gadamer ingin mendudukan memahami sebagai : pertama, memahami sebagai filsafat. Kedua, gadamer menolak subyektifitas. ketiga, gadamer mencoba menjembatani ketegangan antara tradisi dan akal dalam hermeneutik. keempat, menempatkan sejarah sebagai bagian dari hermeneut, bukan  kondisi yang mengasingkan hermeneut.

Karya monumentalnya Truth and Method yang lahir pada tahun 1960, telah mentahbiskan Gadamer sebagai seorang pemikir terkemuka dalam filsafat kontemporer.  Pemikirannya yang  proresiv, dapat menjembatani impian umat Islam dalam menempatkan dirinya diantara ilmu pengetahuan dan tradisi. Sebab, imbas pemikiran Gadamer akan memberikan efek besar terhadap perubahan tradisi Islam yang selama ini terasa sangat kaku dan beku. Tentu saja untuk mewujudkan hal ini perlu upaya “membumikan” pemikiran Gadamer di kalangan umat Islam yang tengah tertidur lelap.