Dalam berbagai sisi, peranan kertas sudah banyak tereduksi. Kemajuan era digital yang membuat penanan kertas mampu tergantikan. Sekadar pengalaman, seberapa waktu lalu saya membuka rekening di salah satu bank digital. Registrasinya sangat mudah, tanpa ada selebar kertas sekalipun. KTP elekronik cukup dipindai saja, isi berkas melalui smartphone. Tidak perlu tanda tangan cukup dengan sidik cari, canggih memang.

Tidak itu saja, peran surat kabar cetak dan majalah sudah banyak yang gulung tikar digantikan versi digital dan online. Lagi-lagi peran kertas sudah tidak diperlukan lagi di media massa versi cetak. Ada juga yang masih bertahan untuk melayani pembaca tradisional (baca: generasi tua), itu pun hanya pada media yang kuat pendanaannya. Bagi generasi yang dibesarkan di era digital, bahkan sejak dini sudah tidak familiar dengan urusan media cetak di kertas.

Namum apakah sepenuhnya kertas itu dapat 100 persen tergantikan? Nanti dulu, ada beberapa fakta yang mungkin bisa menjadi perenungan bagi kita. Rajanya software Microsoft Bill Gates seperti yang dilansir kompas.com ternyata melarang anaknya menggunakan smartphone sebelum berusia 14 tahun. Apa yang dilakukan Bill Gate sama dengan pendiri Apple Steve Jobs yang juga melarang anaknya menggunakan piranti digital berupa tablet.

Masih banyak fakta lain yang menunjukkan bahwa mayoritas petinggi maupun karyawan perusahaan gadget maupun portal raksasa dunia maya lainnya semisal E-bay, Google, Yahoo, dan Hewlett-Packard, menginginkan anaknya tidak mengenal semua perangkat digital itu pada usia dini. Mereka menyadari bahwa penggunaan perangkat digital itu tidak serampangan dilakukan, ada masanya ketika seseorang itu sudah tepat pada waktunya.

Dalam urusan pendidkan, seperti yang dilansir tribunnews.com, bahwa mereka menginginkan anak-anaknya tidak disekolahkan yang tak memakai perangkat digital maupun komputer dalam kegiatan belajar-mengajarnya. Mereka lebih mengandalkan filosofi pendidikan yang "memanusiakan manusia". Cara klasik masih diterapkan seperti anak-anak lebih bebas bermain, diajarkan merajut, sampai bercocok tanam.

Kertas masih perlu di dunia pendidikan

Bagi pendidikan kelas atas dan tinggi saat ini sudah lebih mengarah ke digital dan online. Ujian pun memakai cara di depan komputer dan minim kertas. Tidak masalah bila anak-anak yang beranjak gede itu menggunakan piranti tersebut. Sudah bisa dibilang “dewasa” untuk menggunakan peralatan digital. Ada masanya manusia itu perlu mengenal dunia nyata (real), dan ini perlu ditanamkan sejak dini. Dan tidak bagus bila langsung “melompat” ke dunia maya yang serba artifisial.

Namun yang perlu diperhatikan adalah pendidikan anak bagi usia dini (PAUD, TK) dan dasar (SD) karena itu pondasinya. Pada tingkat tersebut anak-anak perlu diberi ruang semestinya dengan menyesuaikan usia belianya. Melalui pendidikan dan pengajaran itulah anak-anak dapat berkembang dengan sewajarnya. Perkara sudah masa akil balig maka segala yang berbau modern sudah bisa diterapkan, yang penting pondasi dasarnya sudah kokoh.

Jika mengaca pendidikan zaman bapak atau kakek kita dahulu di mana era digital belum muncul, peran kertas dan hal yang manual begitu kental. Pada tingkat sekolah dasar mereka diberi pelajaran menulis tangan. Maka keberadaan buku tulis halus menjadi kewajiban. “Mengukir” huruf dan angka dilatih sedemikian rupa dan berulang-ulang. Anak-anak pun dilatih menulis tangan yang baik dan rapi. Maka tidak heran bila tulisan tangan setelah dewasa bisa punya karakter dan boleh dikatakan cukup bangus.

Untuk mengasah kekreatifitas, anak-anak diajarkan membuat sesuatu yang begitu imajinatif dengan menggunakan kertas, boleh dikatakan menerapkan “seni origami” kecil-kecilan. Kertas juga diperlukan sebagai bahan untuk kegiatan menggambar, mewarnai, ataupun melukis pakai cat air. Medium kertas merupakan sarana yang efektif selain murah juga tidak “membahayakan” bila dibandingkan dengan risiko memakai sarana digital (radiasi, ataupun kecanduan).

Kertas masih eksis di dunia digital

Andai pun semua beralih ke serba digital, seperti migrasi surat kabar ataupun dokumen lainnya. Namun peranan kertas tidaklah lenyap begitu saja. Pengurangan kertas dalam arti produksi sudah pasti terjadi, tetapi habis sama sekali tentu tidak. Peran kertas –lainnya- masih befungsi sebagai pembungkus, pembersih, ataupun fungsi yang lain. Pentingnya kertas yang lain bisa didasari seperti oleh pandangan para petinggi atau karyawan teknologi digital sepert ulasan di atas, bahwa perangkat digital dipakai dipakai manusia pada masa yang tepat.

Dan hal ini akan mempengaruhi terhadap institiusi sekolah yang tetap menggunakan metode klasik terutama pada usia dini dan dasar. Dan jika dunia pendidikan sebagian besar sadar akan hal itu  maka peranan kertas masih diperlukan (demand) dan perlu terus disediakan (supply). Dan itu akan berkesinambungan, selama bayi masih dilahirkan maka generasi akan terus berlanjut dan sekolah dini dan dasar tentu akan terus terisi.

Produsen kertas perlu inovasi

Dalam dunia digital adanya disrupsi tak bisa dihindarkan. Kamera yang memakai film sudah tidak populer digunakan walaupun tidak punah sama sekali. Kertas foto yang dahulu banyak tersedia pun turut kena getahnya yang seakan hilang dari peredaran. Hal itu dikarena konsumen jarang mencetaknya dan lebih menyukai disimpam dalam bentuk digital.

Tak ada langkah lain selain melalukan inovasi bila perusahaan ingin tetap eksis, demikian pula dengan industri kertas. Akan pada masanya di mana kertas akan dipergunakan seminin mungkin dalam segala aktifitas manusia. Kabar ini ada untung dan ruginya. Untungnya bahwa dengan berkurangnya kertas maka akan berkurang juga sampah kertas. Di samping itu bahan baku kertas akan berkurang, juga berakibat kelestarian hutan akan lebih lestari dan berkelanjutan seperti isyu-isyu yang berkembang saat ini.

Kalau ruginya bisa berlanjut pada industri yang menggunakan kertas seperti surat kabar serta percetakan, yang terbukti saat ini banyak yang tutup. Dan pada ujungnya tentu pada produsen kertas itu sendiri. Menghadapi itu semua tentu harus melakukan inovasi agar perusahan bisa terus berproduksi. Hal ini merupakan tantangan tersendiri sekaligus peluang dalam mengambil perubahan yang begitu cepat.

Selain inovasi, perusahaan kertas bisa lebih berkonsentasi kepada dunia pendidikan yang di mana masih menggunakan cara klasik. Khusus pada dunia pendidikan, era digital punya rambu yang tidak menyentuh pada pendidikan dasar itu yang masih memerlukan kertas. Perusahaan kertas bisa pula berinovasi dengan memproduksi kertas yang menunjang dunia pendidikan dan pengajaran itu. Seperti alat peraga ataupun buku yang memudahkan transformasi pengetahuan.

Produksi kertas tidak saja untuk buku tulis dan bacaan, demikian pula dengan kertas lipatnya. Inovasi dengan berbahan kertas bisa berupa karya yang mudah digunakan generasi sekarang yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Misalnya membuat kertas yang bisa berubah warna dengan digesek, tentu akan menarik imajinasi sendiri pada anak-anak.

Ruang pengembangan inovasi bisa melibatkan para konsultan, atau bisa bikin sayembara inovatif yang bisa diikuti siapa saja terutama kaum mudanya. Maka dengan demikian akan muncul beberapa ide, yang kemudian bisa dikreasikan untuk bisa diproduksi secara massal. Dan dengan demikian perusahaan kertas dapat bertahan dengan inovasinya itu, seperti juga ivonasi perusahaan komputer yang beralih ke smartphone misalnya.    

Kertas di dunia pendidikan akan masih mendapat tempat. Dan kertas pun tidak akan punah begitu saja. Kertas paling cocok pada bagi dunia anak-anak. Yang suatu saat anak-anak tersebut sampai sesuai umurnya akan berhadapan tanpa kertas (paperlessdengan menggunakan peralatan digital. Maka dengan demikian sesuai dengan perannya masing-masing, kertas akan berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi digital. Yang satu tidak mematikan yang lain, sedangkan yang lalu (kertas) tidak akan kehilangan fungsi. Hanya perlu inovasi agar bisa diterima kemajuan zaman.