Franz Brentano pada dasarnya menggunakan gagasan Aristotelian dan filsafat thomistik. Ia menekankan pada upaya untuk menjabarkan ilmu pengetahuan tentang psikologi yang diposisikan sebagai pengembangan diri dari gagasan Aristoteles dalam karya de Anima

Pendekatan Brentano adalah problem oriented. Ia berpikir bahwa tidak perlu berbicara mengenai objek tetapi kembali lagi pada subjek.

Immanuel Kant pada akhirnya lebih membela rasio sama dengan Franz Brentano. Brentano adalah pengagum August comte dan positivisme. Ia percaya bahwa filsafat adalah kelanjutan dari ilmu pengteahuan alam. 

Ia pun cukup dekat dengan Erst Mach dan kelompok lingkaran Wina. Ada banyak tokoh yang dipengaruhi Brentano dan tergabung dalam Bretano School. Di dalam Bretano School ada Husserl Anton Marty, Carl Stumfm Jasunur Twadowski, dan kawan-kawan.

Husserl mengadopsi pandangan Brentano bahwa filsafat harus menjadi ilmu pengetahuan yang ketat, bukan spekulatif. Pada mulanya Husserl mengembangkan program Brentano tentang Psikologi Deskriptif dengan mengedepankan gagasan tentang intensionalitas. 

Bretano sendiri tidak mengalami banyak inspirasi dari muridnya. Ia bahkan tidak bisa memahami mengapa Husserl bisa sedemikian antusias dengan fenomenologi

Ia membela pandangan Aristoteles tentang keabadian jiwa dan dokrin tentang penciptaan dunia. ia melihat bahwa Tuhan yang merupakan pemikiran yang memikirkan dirinya sendiri sebagai yang memikirkan dirinya dan sekaligus menciptakan dunia.

Psikologi, dasarnya, adalah pengalaman empiris itu ciri khas dari pemikiran Brentano. Franz Brentano tidak berpijak dari teologi dan metafisika. Ini yang sebenarnya juga berpengaruh ilmu-ilmu pengetahuan pada masa kini termasuk juga ilmu psikologi. Gagasan psikologi ini sangat menarik bagi beberapa muridnya yang sangat jenius di Wina.

Apa itu psikologi deskriptif?

Gagasan Brentano mengenalkan empat periode pemikiran. Pertama, dari Thales sampai Aristoteles, yakni teori murni (mirip dengan masa Thomas Aquinas, Bacon, dan Descrates). Kedua, kebangkitan teori aktivitas dan praktis. Ketiga, skeptisisme filosofis. Keempat, mistiksisme. 

Lingkaran periodisasi ini mulai lagi dari awal. Brentano mau menghidupkan kembali periode yang pertama.

Brentano tidak membuat pemisahan yang tegas antara apa yang ada dengan persepsi. Pikiran dapat mencerap dirinya sendiri sekalipun itu dilakukan dalam kondisi ia mengarahkan diri pada objek. 

Ini terjadi dalam kesadaran diri. Kesadaran diri ini tidak bisa disamakan dengan intensitas psikologis atau paksaan-paksaan untuk mengetahui sesuatu. Hasilnya, yakni psikologi deskriptif.

Bagi Brentano, psikologi deskriptif akan menjadi sains tentang persepsi internal atau batin, yakni mempelajari eleman tindakan psikis dan relasinya. Ini akan memberi konsekuensi serius bagi perkembangan pemikiran Husserl tentang fenomenologi. 

Bagi Brentano, psikologi deskriptif merupakan basis saintifik dari estetika, ekonomi, dan disiplin lain yang terkait dengan penillaian manusiawi. Bagi Husserl, fenomenologi merupakan dasar dari semua sains.

Brentano membedakan antara apa yang fisik dari metafisis-logis. Disebut fisik sebagai bagaian dari “bagian” sementara yang metafisis logis sebagai “keseluruhan”. 

Dalam gagasan Husserl, yang dibedakan kemudian adalah kongkret dan abstrak, independen dan dependen. Kalau merah adalah bagian kongkret dari pakaian, kemudian, berwarna adalah abstrak bagian dari yang tergantung pada pakaian.

Brentano melawan gagasan Aristotelian tentang penilaian atau judgement sebagai kombinasi atau seperasi yang dilakukan oleh subjek dan predikat yang menegaskan subjek. 

Baginya, kombinasi atau separasi adalah sekadar asiosiasi gagasan dan belum sampai pada penilaian. Brentano juga berpendapat bahwa bentuk dasar penilaian adalah penegasan atau penolakan terhadap objek. Semua penilaian pada dasarnya merupakan bentuk penilaian ekistensial dari subjek.

Pandangan Brentano mengenai Persepsi

Brentano membedakan antara outer presepsi dan inner persepsi. Inner persepsi adalah kunci untuk menemukan tingkat psikis kita. 

Inner persepsi adalah bukti, sementara observasi internal atau intropeksi adalah sesuai yang subjektif dan bisa keliru. Persepsi batin ini bagi Brentano adalah sesuatu yang terberi begitu saja. Ketika seseorang mencerap sesuai, ia muncul begitu saja dalam kesadaran subjek.

Objek pada dirinya sendiri itu pada dasarnya tidak bisa dipahami oleh kesadaran. Brentano setuju dengan Mach dan Comte yang menyebut bahwa segala hal yang kita cerap secara fisik pada dasarnya merupakan efek dari objek fisik yang berhubungan dengan organ persepsi kita. 

Dalam hal ini, kita tidak memiliki pengalaman apa pun tentang apa yang sebenarnya bereksistensi. Dalam hal ini, kebenaran objektif pada dasarnya adalah kebenaran yang relatif.

Sementara itu, pengetahuan kita akan fenomena fisik pada dasarnya selalu mungkin salah. Salah satunya, yakni fenomena mental kita. 

Brentano membedakan antara persepsi batin dan persepsi luar. Persepsi batin adalah semua penampakan yang kita tangkap dari batin kita. Sedangkan persepsi luar adalah semua penampakan yang kita tangkap dari objek yang ada di luar diri kita.

Brentano juga meneruma tripartrit struktur kehidupan mental yakni presentasi, penilaian, perasaann rekasu atau fenomena interest. Bagi Brentano, psikologi bisa dijadikan sebagai sains ketat yang fungsinya adalah untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi dengan tepat tindakan mental dan hal-hal esensial darinya.

Psikologi meyakinkan akan menjadi studi deskriptif tentang realitas psikis. Meski sudah memulai Brentano tidak menunjukkan gambaran yang cukup menyeluruh tentang fungsi psikologi deskriptif ini.

Brentano melihat bahwa realitas mental merupakan sesuatu yang independen dan tidak bisa dikondisikan oleh hal-hal fisik dan kimiawi. Brentano mayakini bahwa psikologi deskriptif merupakan kombinasi antara faktor empiris dan apriori. Ia menekankan bahwa psikologi yang digunakan ini dasarnya adalah hal-hal empiris. Pengalaman itulah guru bagi Brentano.

Ia juga meyakini bahwa hukum psikologi dalam hal ini berciri induktif dan harus dipahami melalui metode induktif yang mengahasilkan hanya generalisasi dan bukan kebenaran universal. 

Jadi, jika diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di saat kita memandang suatu objek misal botol. Maka yang memutuskan, yakni diri “aku” yang berdasar pada persepsi.