Setelah memandangi kisah Frank Castle alias The Punisher secara marathon berjam-jam lamanya. Mata ini jadi mengantuk, dan ingin tidur. Tapi, pikiran masih berkelana. Terkenang aksi Frank Castle yang brutal, menghabisi nyawa musuh-musuhnya, para pejabat dan tentara korup dan pengkhianat.

Ada banyak pelajaran moral yang bisa diambil dari Serial The Punisher ini sebenarnya, akan tetapi saya tidak akan terlalu berkutat pada masalah moral, ada banyak hal lain juga yang menarik untuk dijadikan pelajaran.

Frank Castle a.k.a The Punisher, dalam versi Serial, adalah seorang eks Marine, kalau di Indonesia biasa disebut Marinir. Di negara sana, USA (United States of America), Marine biasa jadi andalan dalam perang. Untuk kisah The Punisher ini, dia adalah prajurit Marinir yang pernah dilibatkan dalam Covert Operations ( operasi rahasia) CIA (Central Intelligence Agency), di Afghanistan. 

Operasi tersebut ternyata merupakan operasi illegal yang dipimpin oleh seorang agen CIA, yang bernama William Rawlins alias Agent Orange. Operasi illegal tersebut mengakibatkan satu orang tak bersalah, yaitu seorang polisi Afghanistan, terbunuh. Polisi tersebut dibunuh oleh Frank Castle saat sedang diinterogasi, atas perintah Agent Orange.

Setelah pulang dari penugasan di Afghanistan, Frank Castle menikmati hidup bersama keluarganya, istrinya yang cantik dan sepasang anak mereka, yang masih sangat belia. Mereka sering bertemu dengan mantan rekan Frank di Marinir, Billy Russo, yang ceritanya telah menjadi pebisnis yang sukses.

Situasi kemudian menjadi berbalik 180 derajat ketika, istri dan anak-anak Frank dibunuh oleh para pembunuh bertopeng yang saat itu belum diketahui identitasnya. Frank yang marah luar biasa, menderita depresi akut, karena tak bisa melindungi dan mempertahankan nyawa istri dan anak-anak yang sangat dicintainya. Ia kemudian memilih menjadi The Punisher, seorang vigilante, yang berjuang untuk mewujudkan keadilan di jalanan.

Di akhir cerita, diketahui bahwa Billy Russo dan Agent Orange lah yang menjadi dalang pembunuhan terhadap istri dan anak-anaknya. Agent Orange berhasil  dibunuh oleh Frank, sementara Billy Russo wajahnya hancur oleh serangan Brutal Frank Castle a.k.a The Punisher.

Menonton Serial The Punisher keluaran Netflix, jauh lebih menegangkan dibandingkan yang versi layar lebar, karena pemeran Frank Castle, yaitu aktor Jon Bernthal, sangat menjiwai karakter yang dimainkan. Gesture militer yang keras, tegas, dan disiplin, benar-benar berhasil diekspresikan oleh Jon Bernthal.

 Tulisan ini, sebenarnya bukanlah ulasan tentang serial tersebut, akan tetapi ingin mencoba membandingkan Frank Castle, dengan seorang mantan tentara yang sekarang menjadi calon presiden untuk pilpres tahun depan, yaitu Prabowo Subianto. 

Secara fisik, sebenarnya The Punisher lebih mirip dengan masa muda Prabowo, yang juga bertubuh atletis dan jago tempur. Untuk saat ini, secara fisik, Prabowo yang sudah tidak muda lagi, jauh berkurang keatletisannya.

Yang hampir sama, yaitu keduanya adalah prajurit yang menjadi korban dari ketidakadilan. Frank Castle diinstruksikan untuk membunuh seorang polisi yang tidak bersalah di Afghanistan, oleh Agent Orange, tak bisa menolak instruksi, karena seorang militer harus tunduk pada rantai komando. Komando tertinggi di operasi militer tersebut dipegang oleh Agent Orange, karena itulah perintahnya dijalankan dengan patuh oleh Frank.

Sementara, Prabowo sebagai Danjen (Komandan Jenderal) Kopassus (Komando Pasukan Khusus), harus dipersalahkan atas aksi tim penculik dan interogator, yang bernama Tim Mawar. 

Tuduhan yang menjadi alasan DKP (Dewan Kehormatan Perwira) untuk memberhentikan Prabowo, berdasarkan surat keputusan DKP yang bertanggal 21 Agustus 1998, adalah bahwa yang bersangkutan salah menganalisis perintah KASAD (Kepala Staf Angkatan Darat) terkait situasi Indonesia 1998. 

Hal ini, menurut DKP, yang membuat Prabowo memberi perintah pada anggota Satgas Merpati dan Satgas Mawar, lewat Komandan Grup-IV Kopassus, Kolonel Inf Chairawan dan Mayor Inf Bambang Kristiono untuk menyadap, menangkap, dan menahan para aktivis. 

Atas tindakannya ini, Prabowo dianggap telah melanggar hierarki, aturan operasi dan disiplin yang berlaku dalam TNI, sumpah prajurit, dan Sapta Marga. Pada poin 7 dalam surat keputusan DKP tersebut, tertulis juga bahwa Prabowo telah melakukan tindak pidana, pelanggaran berbagai pasal dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) atas tindakannya tersebut. 

Lucunya kemudian, adalah dalam surat Keputusan DKP tersebut Prabowo hanya disarankan untuk diberi sanksi administrasi berupa pemberhentian dari dinas keprajuritan (Sumber artikel “Gerindra Sesalkan Isu Usang Surat Pemecatan Prabowo yang Diteken SBY”, 21 Desember 2018, https://kumparan.com/, akses 26 Januari 2019), tanpa ada rekomendasi untuk menghadapkan yang bersangkutan pada suatu pengadilan, baik militer maupun sipil, sebagai konsekuensi dari berbagai pelanggaran hukum dan aturan yang telah dilakukannya.

Sampai sekarang, karena Prabowo tidak mau membuka secara terang pemberhentiannya oleh DKP tersebut, dan juga karena tidak ada pengadilan yang mengadili Prabowo, kita tak pernah paham apakah yang bersangkutan memang bertindak mengabaikan hierarki dan rantai komando dalam TNI? Atau karena ada suatu komando baik yang tertulis maupun tak tertulis, yang diberikan padanya oleh pihak yang berada di atas Prabowo dalam struktur komando?

Ia juga kemudian harus bercerai dengan istrinya, Titiek Soeharto, yang sampai sekarang belum diketahui secara pasti penyebabnya apa. Dalam hal ini, mungkin nasibnya tidaklah setragis Frank Castle, yang harus kehilangan keluarga yang sangat dicintainya untuk selamanya. Sementara, Prabowo masih bisa bertemu dengan mantan istrinya dan anaknya yang berprofesi sebagai desainer kenamaan di luar negeri.

Tidak diketahui juga, apakah Prabowo dendam terhadap para jenderal dan petinggi yang menyebabkan dirinya harus dipecat dari ketentaraan. Sementara, Frank Castle, atau The Punisher, selalu menyimpan dendam kesumat dan berkeinginan untuk membunuh para penjahat yang telah menghabisi nyawa keluarganya.

Perbedaan yang mendasar lagi adalah, Frank Castle tidak percaya pada sistem, sehingga ia memilih bergerak di luar sistem untuk mewujudkan keadilan bagi dirinya. Dalam hal ini, Prabowo terlihat sangat mempercayai sistem, dengan memilih untuk berjuang di medan parlementer, lewat pemilihan umum yang legal.

Kekalahan Prabowo, pada kontestasi pilpres sebelumnya, menurut pandangan saya, salah satunya adalah karena belum jelasnya status Prabowo secara hukum, apakah dia bersalah secara hukum, ataukah tidak? 

Pengadilan militer atau sipil, untuk memutuskan status hukum Prabowo, sampai sekarang belum pernah dibentuk. Akibatnya adalah ia menjadi satu-satunya yang dipersalahkan secara moral dalam kasus penculikan aktivis di era Orde Baru.

Akhir kata, kisah hidup Frank Castle dan Prabowo Subianto, adalah sebuah ironi, karena keduanya tidak mendapatkan keadilan sebagaimana mestinya. Perbedaannya adalah, Frank Castle membuat keadilan versinya sendiri, dengan membunuhi para penjahat yang terlibat dalam pembunuhan terhadap keluarganya. 

Sementara, Prabowo Subianto, tidak berusaha untuk memperjuangkan keadilan bagi dirinya, yang mengakibatkan banyak orang mempersalahkannya secara moral dalam kasus penculikan aktivis. Hal inilah yang kemudian selalu menjadi batu sandungannya, ketika berlaga dalam setiap kontestasi pemilu presiden dari mulai tahun 2009 sampai sekarang.