Beberapa hari lalu istri saya bertanya: "Yang, kalau ke Transmart Cempaka Putih, kena ganjil genap gak?" Saya pikir dia mau belanja, ternyata mau mengajak saya menonton sebuah film, Foxtrot Six.

Sebelum kita lanjut membahas film ini, saya perlu memberikan peringatan bahwa tulisan saya ini akan mengandung spoiler. Jadi kalau Anda alergi spoiler, berhenti membaca sekarang juga.

Oke, Anda masih di sini, berarti Anda sudah menonton filmnya, atau tidak apa-apa terkena spoiler. Lanjut!

Film Foxtrot Six berlatar Indonesia 12 tahun dari sekarang, sekitar tahun 2030. Jadi teknologi sudah lebih maju; smartphone bisa ditampilkan ke kaca mobil; pesawat militer terlihat lebih canggih; ada invisibility cloak seperti di Harry Potter! 

Tapi tidak terlalu maju juga, terlihat dari pakaian yang masih sama, mobil yang masih sama, bangunan-bangunan yang masih sama persis dengan sekarang. Mungkin ini disengaja agar terlihat agak futuristik, tapi tidak terlalu. 12 tahun. Sayangnya hal-hal yang berteknologi tinggi ini tidak terlalu diekspos di film ini, hanya untuk membuat plotnya lebih bisa diterima.

Saat menit-menit pertama, mungkin Anda akan merasa aneh karena setelah hanya 12 tahun, tiba-tiba semua orang di Indonesia sudah bisa berbicara Bahasa Inggris aksen Amerika dengan fasih, lengkap dengan segala ekspresi dan slang. 

Saya pun heran, tapi ya sudahlah. Saya tidak mengerti mengapa harus begitu, sampai-sampai mereka harus mengisi dialog beberapa aktor, termasuk aktor kawakan seperti Cok Simbara (Soegandi). Mungkin 12 tahun lagi akhirnya Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa wajib dunia? Entahlah.

Film ini bercerita tentang Angga (Oka Antara), seorang mantan tentara yang menjadi anggota dewan. 

Angga awalnya terlihat jahat dan ingin berkonspirasi dengan para penguasa. Namun saat dia dikhianati, dia pun terpaksa berubah menjadi orang baik dan berbalik melawan penguasa. Memang agak plinplan dan tidak punya prinsip si Angga ini.

Sedikit tentang masalah tentara, kita tahu bahwa Indonesia punya tiga angkatan bersenjata, yaitu darat, laut, dan udara. Berbeda dengan Amerika Serikat yang memiliki lima angkatan, yaitu air force (udara), army (darat), coast guard (penjaga pantai/laut), marine corps (marinir), dan navy (laut). 

Nah, anehnya, Angga ini kan tentara Indonesia, tapi dia angkatannya RI Marines alias marinir Indonesia. Padahal di Indonesia marinir itu bukan angkatan sendiri, tapi bagian dari angkatan laut. Ya tapi kan ini 12 tahun lagi ya, bebas.

Dari sisi teknis film, saya cukup puas dengan film ini. CGI cukup apik, terutama pada scene hujan, walau masih kasar di beberapa tempat seperti scene view jarak jauh helipad, terasa sekali itu CGI. Setelah Wiro Sableng, sekarang Foxtrot Six juga mulai menggunakan CGI yang bagus, suatu kemajuan untuk perfilman Indonesia.

Dari sisi pemain, terlihat film ini ingin mengikuti Expendables. Namun alih-alih menggunakan aktor laga kawakan, mereka memilih menggunakan aktor muda tampan dan berotot. Pemirsa wanita (atau yang gay) akan sukses klepek-klepek saat Bara (Rio Dewanto) atau Ethan (Mike Lewis) pamer six pack di layar lebar.

Untuk kaum yang doyan cewek, jangan khawatir. Ada Sari (Julie Estelle) yang selalu cantik, walau di sini terlihat agak tua. Untung ada Raya (Aurélie Moeremans) yang selalu segar dan cantik. Sayang mereka hanya mendapat sedikit screen time.

Dari sisi akting, semua pemeran utama aktingnya lumayanlah. No complain.

Sebagai film action, tentu adegan kelahi jadi salah satu perhatian utama. Dan di film ini, Yayan Ruhiyan melakukan pekerjaan yang bagus sekali. Yayan Ruhiyan never dissapoints

Baca Juga: Captain Marvel

Sayangnya, mungkin karena terlalu berfokus kepada aksi dan CGI, para pembuat film Foxtrot Six lupa tentang satu hal yang amat penting, cerita. Cerita film ini sungguh tidak masuk akal. Banyak plot lompat dan berlubang.

Tingkah laku para lakonnya pun sering tidak masuk akal. Contohnya pada scene saat Sari diikat di kursi roda elektrik yang berjalan mundur menuju lubang berapi. 

Dalam situasi seperti ini, Angga, seorang mantan tentara dan anggota dewan yang seharusnya cerdas, malah menghabiskan waktu bersusah payah berusaha melepaskan tali di tangan Sari. 

Padahal sebuah kursi roda, kan, tidak berat ya? Tinggal dijatuhkan saja ke sisinya niscaya kursi roda akan terhenti dan Sari selamat dari akhir ajal yang konyol dan mereka akan hidup bahagia selamanya.

Tapi hal ini tidak dilakukan Angga, karena Sari harus mati agar cerita berjalan, dan matinya harus keren dan dramatis! Oke deh.

Contoh lain adalah saat Spec (Chico Jericho) disergap oleh tentara tembus pandang. Alih-alih langsung membunuh dengan satu serangan seperti yang dilakukannya sepanjang film, kali ini dia hanya menusuk tangan Spec. Aneh.

Lalu saat Wisnu dan pasukan GERRAM yang bersenjata api lengkap didatangi sekelompok warga yang membawa golok dan bermuka sangar, dan berperilaku jelas mengancam mereka, mereka diam saja dan ikhlas dibantai dengan mudah. Tidak menembakkan sebutir peluru pun.

Kalau Anda seorang penyuka film superhero Marvel, saat film ini berakhir Anda pasti teringat ending scene seperti film Marvel. Bagus sih. Tidak masalah. Di akhir film juga ada extra credit scene, seperti film Marvel

Ending scene-nya memberi harapan film sekuel, seperti apa? Ya tepat, seperti film Marvel. Ending scene-nya menunjukkan Spec yang akan naik helicopter, lalu di telapak tanggannya menunjukkan sebuah simbol seperti V chevron. Iya, seperti film Marvel.

Sebagai penutup, saya mempersilakan Anda menonton film ini bila Anda butuh mengisi waktu, suka film laga, dan suka cowok-cowok cakep. Tapi kalau Anda tipe orang yang sangat terganggu bila melihat sesuatu yang tidak masuk akal, film ini bukan untuk Anda.

Selamat menonton.