Hampir dua bulan lamanya, masyarakat dunia disuguhi oleh polemik harga minyak dunia. Arab Saudi, Rusia, beserta Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) menjadi aktor utama dalam isu tersebut.

Mulanya, Arab Saudi mengkritik kebijakan Putin, Presiden Rusia, yang enggan menurunkan produksi minyak sebesar 10% sesuai kesepakatan antarnegara anggota OPEC+, yang beranggotakan OPEC dan negara penghasil minyak di luar OPEC seperti Rusia. 

Dengan mempertahankan jumlah produksi, Rusia berkeinginan untuk merebut pasar. Langkah Putin dibalas oleh Arab Saudi dengan meningkatkan jumlah produksi minyak mentah.

Disebabkan pandemi Covid-19 yang berimbas pada lesunya industri, peningkatan volume penawaran minyak justru memicu turunnya harga minyak secara signifikan.

Amerika Serikat (AS) berang karena negara Paman Sam menjadi salah satu negara produsen minyak yang terdampak perang minyak tersebut. Pasalnya, konflik tersebut menyeret harga US West Texas Intermediate (WTI) hingga menyentuh US$ 20 per barel di akhir Maret 2020.

Meski AS sempat memediasi pertikaian antarnegara penghasil minyak itu, Donald Trump, Presiden AS, tampaknya kecewa dikarenakan negosiasi belum memuaskan yang puncaknya harga WTI kontrak berjangka menyentuh angka minus.

Menariknya, Trump merespons hal ini justru dengan menuliskan cuitan di akun Twitter resminya dengan mengancam Iran agar tidak menyerang kapal AS di perairan Timur Tengah. Sebenarnya, apa yang sedang dilakukan Presiden AS tersebut dan apa implikasinya?

Komunikasi Politik Trump

Cuitan (tweet) Donald Trump mengisyaratkan penerapan strategi yang dikenal sebagai Efek CNN (CNN Effects). Terminologi ini pada umumnya didefinisikan sebagai sebuah efek penyampaian berita dari media massa ternama di mana aktivitas penyampaian tersebut disebar secara cepat sehingga publik dapat mengetahui informasi yang disebar dalam waktu singkat.

Efek CNN cukup populer sebagai salah satu cara propaganda yang efektif dan efisien karena informasi yang disiarkan terus-menerus dan biasa dibingkai dalam breaking news.

Konsep CNN Effects bermula dari propaganda pemerintah AS pada akhir 1990an yang ditujukan kepada negara-negara di dunia untuk menerapkan intervensi kemanusiaan di Irak.

Pemerintah AS saat itu beranggapan bahwa masyarakat Irak bagian utara, khususnya suku Kurdi, patut dilindungi karena adanya ancaman serangan dari Saddam Hussein. 

Menggunakan media-media mainstream seperti CNN, pemerintah AS menyebarkan propaganda yang ditujukan untuk menyerang rezim Saddam. Propaganda AS menyebar dengan cepat, bahkan menyeret Perserikatan Bangsa-bangsa untuk terlibat. 

Sebagian besar masyarakat dunia pun terpengaruh dengan ikut mengecam pemerintahan Irak kala itu. Singkat kata, CNN Effects diartikan sebagai propaganda melalui media massa ternama agar kepentingan aktor propaganda tersampaikan secara efisien. (Robinson, 2013)

Apa yang pernah diterapkan pemerintah AS lebih dari satu dekade tersebut diaplikasikan kembali oleh Trump. Memang, efek CNN merupakan konsep yang berkaitan dengan media massa, bukan media sosial seperti Twitter.

Namun, Trump dan AS menunjukkan bahwa CNN Effects dapat dipakai menggunakan media sosial juga, terbukti dari respon yang diperoleh dari masyarakat global terhadap cuitan Trump hingga reaksi Iran yang berang terhadap cuitan tersebut.

Selanjutnya, apa saja kepentingan Trump beserta AS hingga mereka memilih jalan tersebut dalam menyampaikan kepentingannya?

Implikasi 

Pertama, seperti yang diprediksi sebagian pengamat ekonomi, cuitan Trump menaikkan harga minyak walaupun kemungkinan sifatnya hanya temporer. Industri minyak mentah bagi politisi AS, apalagi calon presiden, sangat esensial. 

Shaw (2020) mengungkapkan bahwa salah satu anggota DPR AS dari Partai Demokrat menerima US$ 126,917. Hal ini menjelaskan adanya hubungan saling menguntungkan antara konglomerat minyak dan politisi. 

Bagi politisi, kucuran dana tentu menambah bahan bakar kampanye, sedangkan bagi pengusaha minyak, kebijakan politisi menentukan kemudahan aktivitas perdagangan minyak.

Jadi, Trump melangkah untuk menarik atensi dari konglomerat sehingga pada pemilihan presiden nanti, mereka diharapkan berpihak pada Trump karena Presiden AS tersebut membantu mereka menahan tren negatif harga minyak mentah.

Kedua, menggunakan gunboat diplomacy, sebuah istilah kebijakan luar negeri dengan mengerahkan kekuatan perang di laut untuk tujuan memberikan efek gentar (detterence effect), AS mengirimkan pesan bahwa negara adidaya tersebut hadir di kawasan Timur Tengah dengan membawa kepentingan ekonomi.

Pesan itu bukan hanya untuk Iran, negara yang dikecam AS, namun juga kepada negara Timur Tengah penghasil minyak lainnya, seperti Arab Saudi. 

AS secara tidak langsung ingin mengatakan kepada mereka untuk mempertimbangkan kepentingan industri minyak AS, sehingga negara Timur Tengah tidak sewenang-wenang mempermainkan harga minyak mentah.

Ketiga, ancaman AS mengisyaratkan pula bahwa negara ini hendak menguasai jalur transportasi komoditas minyak mentah di sekitar perairan Timur Tengah. Selat Hormuz, tempat dimana AS dan Iran bersitegang, merupakan penghubung antara jalur perdagangan global dengan Arab Saudi, Kuwait, Oman, Irak, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.

Jika konflik terbuka terjadi, AS bakal mempunyai legitimasi untuk “mengamankan” perairan itu. Efeknya, negara-negara Timur Tengah pengekspor minyak tidak punya pilihan untuk bernegosiasi dengan AS. Bagi Negeri Paman Sam, hal itu dapat menguntungkan secara geopolitik.

Guo (2018) mengatakan bahwa geopolitik merupakan interaksi politik yang sangat dinamis serta terjadi pola saling memengaruhi. Dalam kasus ini, AS menunjukan dirinya sebagai aktor internasional yang punya kemampuan untuk mengubah peta geopolitik di Timur Tengah dengan memanfaatkan kekuatan militernya.

Kesimpulannya, apa yang diperlihatkan Trump menyuguhkan arti bahwa fluktuasi harga minyak mentah merupakan masalah yang vital bagi AS maupun dirinya, sehingga penyampaian pesan dilakukan secara padat dan ringkas agar dipahami oleh berbagai kalangan. 

Trump akan kehilangan potensi ekonomi dan politik  bila langkah-langkah politik tidak berjalan efektif.

Bagi Indonesia sendiri, isu ini memang tidak berdampak langsung. Namun, Indonesia perlu mengamati bagaimana dinamika ini berlangsung sehingga Indonesia bisa mempersiapkan diri dari konsekuensi-konsekuensi negatif dari perang minyak.