Riuh usai Debat Cawapres memasuki dimensi lain. Tirto[dot]id menjadi perbincangan di jagat media sosial. Pasalnya, melalui kanal media sosialnya, Tirto membuat dua meme yang sangat mengkhawatirkan.

Pertama, meme yang memelintir ucapan Cawapres 01 KH. Ma'ruf Amin. Kedua, membuat meme provokatif terkait pernyataan Cawapres 02 Sandiaga Uno.

Meme pertama, Tirto memuat gambar animasi KH. Ma'ruf Amin. Celakanya, di meme itu, Tirto menyertakan kalimat zina akan dilegalisir. Tirto bahkan menambahkan komentarnya di meme itu. Ikon pria memakai blangkon mengatakan, "Oke gaes, kedepannya jangan lupa sedia kondom dan cap tiga jari yes."

Kalimat "zina bisa dilegalisir" sangat konyol. Bukan hanya memelintir, Tirto juga telah memfitnah KH. Ma'ruf Amin yang seolah-olah akan melegalkan perzinaan. Padahal, KH. Ma'ruf Amin sudah bersumpah atas nama Allah bahwa dirinya akan melawan usaha-usaha melegalkan zina.

Sumpah KH. Ma'ruf Amin juga sebagai respons atas berbagai fitnah yang menyerang Paslon 01. Sebagaimana diketahui, Paslon 01 kerap didera fitnah akan menghapus pendidikan agama, melegalkan zina, dan membolehkan pernikahan sesama jenis.

Terlepas dari posisinya sebagai Cawapres, KH. Ma'ruf Amin jelas telah dilecehkan oleh Tirto. Sebagai ulama, marwah KH. Ma'ruf Amin dikangkangi Tirto. Komentar menyebalkan Tirto soal sedia kondom adalah penghinaan sekaligus mempertegas fitnahnya kepada KH. Ma'ruf Amin. Tak sekadar sembrono, Tirto membuat blunder yang fatal.

Meme kedua, soal pernyataan Sandi yang akan menghapus ujian nasional (UN). Tirto mengomentarinya dengan mengatakan, "Eh kirain apus NU." 

Selain tak perlu, komentar Tirto itu juga provokatif, berisi hasutan. Tirto seolah ingin membenturkan antara NU (yang oleh sebagian orang diyakini merupakan Nahdlatul Ulama) dengan Sandiaga Uno. Tirto menggiring asumsi bahwa Sandiaga Uno berpotensi melumat NU bila ia terpilih.

Usia menuai protes, Tirto langsung meminta maaf, menghapus dan/atau merevisi meme itu. Di kanal media sosialnya, Tirto mengakui telah membuat kesalahan fatal dan tentu saja minta maaf. 

Dengan permintaan maaf dari Tirto, selesaikah persoalan? Cukupkah hanya dengan minta maaf?

Mengakui kesalahan dan meminta maaf, Tirto layak diapresiasi. Namun, persoalan, menurut saya, belum selesai. Meme yang sudah dirilis Tirto sudah menyebar dan diyakini sudah diunduh kemudian disimpan di gawai beberapa orang.

Selain itu, sadarkah Tirto bahwa meme-nya bisa saja dicetak orang tertentu kemudian dijadikan bahan kampanye hitam yang ditujukan kepada kelompok masyarakat yang tidak atau belum bisa atau belum mengerti fasilitas online? Meme itu bisa saja dicetak dijadikan semacam leaflet untuk disebarluaskan ke masyarakat. Belum lagi kemungkinan meme itu disebar di grup-grup WhatsApp.

Permintaan maaf dan klarifikasi Tirto kemungkinan besar hanya menyasar orang-orang yang mengerti media sosial. Namun, jumlah masyarakat yang tak mengerti media sosial tak bisa dikatakan sedikit. 

Ayah saya, paman saya, nenek, tetangga saya, dan guru ngaji saya tak mengerti media sosial. Bila mereka mendapatkan selebaran meme Tirto yang sudah dicetak dalam kertas, bisa jadi mereka akan percaya dengan fitnah itu.

Alasan lain, meme itu dibagikan Tirto di kanal media sosialnya, bukan di laman resminya sebagai sebuah berita. Dalam hal ini, menurut saya, tak tepat bila mekanisme yang digunakan adalah hak jawab. 

Meski Tirto mengklaim konten di media sosial pun masih merupakan tanggung jawab redaksi, namun media sosial dan media siber (media berita/jurnalistik) tak bisa disamakan. Tirto tidak sedang membagikan tautan berita. Tirto membagikan meme di media sosial.

Bila hendak diperkarakan dan memang layak diperkarakan, Tirto bisa dijerat UU ITE, bukan UU Pers. Karena meme yang dibagikan Tirto di kanal media sosialnya bukanlah produk jurnalistik. Itu bukan infografis sebagai pelengkap berita. Itu meme yang tak berdasarkan fakta. Sungguh, sebagai salah satu pembaca setia Tirto, saya kecewa.

Tudingan "legalisir zina" sangat menyakitkan. Belum lama Ustaz Tengku Zulkarnaen menyatakan demikian kemudian meminta maaf. Salah seorang ustaz juga sama, menyatakan bila Jokowi terpilih maka akan melegalkan zina. Belakangan si ustaz pun meminta maaf. 

Namun, sudah telanjur banyak orang yang percaya. Tirto merupakan media yang diperhitungkan akurasi beritanya, mendalam dan seimbang serta berbasis data dan fakta. Bukan tak mungkin sudah banyak orang yang percaya meme Tirto itu.

Saya jadi teringat sebuah tulisan yang entah siapa penulisnya. Tulisan itu saya baca karena muncul di beranda Facebook saya. 

Begini, ada seseorang yang memfitnah seorang kiai. Beberapa hari kemudian, orang yang memfitnah itu menyadari kesalahannya. Ia lalu meminta maaf kepada kiai yang difitnahnya.

Sang kiai memaafkan, namun sang kiai meminta agar orang yang memfitnahnya datang kembali esok hari. Sang kiai juga meminta agar orang yang memfitnah itu membawa kemoceng saat akan kembali mendatangi rumah kiai. Sepanjang perjalanan menuju rumah kiai, satu per satu bulu kemoceng itu harus dilepaskan dan dibuang di jalan.

Tiba di rumah kiai, bulu kemoceng sudah hampir habis. Sang kiai kemudian meminta orang yang memfitnahnya kembali melalui jalan yang sama dan memunguti bulu kemoceng yang sudah dibuang. 

Orang yang memfitnah itu menuruti perintah kiai. Namun, orang yang memfitnah itu kesulitan mengumpulkan bulu-bulu kemoceng yang sudah dibuangnya.

Bulu kemoceng ada yang terbawa angin, menempel di alas kaki orang, di pakaian orang, dimakan binatang, dan bahkan yang memfitnah itu tak tahu berapa banyak bulu kemoceng yang sudah dibuangnya. 

Kira-kira begitulah fitnah. Tirto tak mungkin dapat menarik kembali secara utuh meme yang sudah disebarkannya. Tirto mampu menghapus meme di kanal media sosialnya, tetapi apakah Tirto mampu menghapus meme-nya yang berada di media sosial orang apalagi yang sudah tersimpan di gawai orang?

Renungkanlah, Tirto!