Sejauh ini, fisika telah memberikan kontribusi cukup besar bagi perkembangan IPTEK. Dengan mempelajari alam, fisika mampu menemukan hukum-hukum alam yang kemudian dapat diterapkan dalam berbagai teknologi. Tentunya hal ini membuat fisika berpengaruh dalam kemajuan peradaban saat ini.

Namun, hingga saat ini fisika belum mampu mengungkap hukum-hukum kemanusiaan. Apakah jadinya jika fisika mulai fokus untuk mengkaji kemanusiaan, dan bagaimana dampak yang akan ditimbulkan pada kemanusiaan. Apakah akan menjadi solusi bagi sejumlah permasalahan kemanusiaan atau malah menjadi ancaman baginya.

Dalam pandangan ekosentris, manusia adalah bagian dari alam. Manusia merupakan organisme yang tersusun dari unsur-unsur yang juga terdapat di alam. Yang membedakan antara manusia dengan organisme lainnya adalah kuantitas, variasi dan struktur unsur-unsur penyusunnya. 

Setiap unsur yang berbenturan dengan unsur-unsur lainnya akan menimbulkan reaksi yang berbeda-beda. Reaksi-reaksi tersebut merupakan hukum alam paling dasar.

Manusia memiliki struktur yang lebih kompleks, sehingga menimbulkan reaksi yang variatif. Bahkan antara individu satu dengan individu lainnya tidak ada yang sama secara keseluruhan. Kuantitas, variasi dan struktur unsur-unsur penyusun organisme dapat mempengaruhi bentuk dan sifat organisme.

Selain itu, terjadi benturan-benturan antar reaksi-reaksi yang menghasilkan reaksi-reaksi baru. Insting merupakan hasil dari proses kompleks dari benturan-benturan tersebut. Insting manusia dapat dijadikan sebagai hukum alam yang berlaku pada diri manusia karena insting pada dasarnya bersifat otomatis. Jadi, dari segi materi manusia tidak terlepas dari hukum alam.

Namun, bukankah manusia juga memiliki mental yang sangat mempengaruhinya. Mental sendiri berpusat di otak yang merupakan sebuah organ yang tersusun dari unsur-unsur alam. Secara umum otak berfungsi sebagai media informasi yang di dalamnya terjadi proses menerima, menyimpan, mengolah dan mengeluarkan informasi.

Informasi didapatkan dari faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah lingkungan. Informasi dari faktor eksternal dicerap oleh indera lalu dikirim ke otak melalui syaraf-syaraf dalam bentuk impuls. Sedangkan faktor internal yakni insting.

Ketika faktor eksternal dan faktor internal berbenturan, maka akan menghasilkan suatu tindakan. Benturan tersebut diproses di dalam otak dalam bentuk informasi. Informasi itu lalu dikirim ke organ-organ tubuh lainnya yang kemudian menghasilkan suatu tindakan.

Tindakan manusia adalah hukum alam yang sangat kompleks, sehingga sangat sulit untuk dijelaskan dan diprediksi secara deterministik. Hukum probablitas yang berlaku pada manusia merupakan hukum determinisme kompleks. Hukum determinisme kompleks berlaku pada organisme kompleks.

Manusia adalah organisme yang bersifat materil karena tersusun dari unsur-unsur materi. Jika setiap materi diwakilkan dengan angka, maka tindakan manusia bisa dijelaskan secara matematis. Akan tetapi, rumus dan perhitungannya pasti akan sangat rumit dan sulit.

Manusia juga bersifat dinamis. Manusia akan terus berubah dipengaruhi oleh faktor internal, faktor eksternal dan waktu. Setiap detik di dalam diri manusia terjadi proses benturan antar variabel, itu yang membuat manusia selalu berubah-ubah. Setiap gerakan tubuh dan mental manusia adalah perubahan. Satu perubahan saja membutuhkan penjelasan matematis yang sangat panjang dan rumit.

Jika secara individual saja sangat rumit untuk merumuskan dan menerapkan hukum-hukum fisika pada manusia, lalu bagaimana dengan skala yang lebih luas lagi seperti kemunitas, masyarakat, dan seterusnya. Apakah manusia lebih rumit dari cosmos atau sub-atom.

Baru-baru ini ilmuwan telah menciptakan super komputer yang meniru kerja otak manusia. Bahkan super komputer tidak hanya bisa berpikir layaknya otak, tetapi juga dapat menciptakan model-model neuron di otak manusia dan menstimulasikannya secara real time. Meskipun untuk saat ini, kemampuan super komputer hanya bisa disamakan dengan kerja otak tikus yang ukurannya 1.000 kali lebih kecil daripada otak manusia.

Di sisi lain, robot-robot humanoid semakin dibentuk menyerupai manusia. Baru-baru ini, di Jepang sudah ada yang memproduksi robot humanoid yang sangat mirip dengan perempuan. Bahkan, di Amerika sudah ada robot humanoid perempuan yang diproduksi sebagai pemuas nafsu.

Selain itu, robot juga semakin dibuat lebih humanis dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Sehingga robot mampu menggantikan beberapa pekerjaan manusia. Namun tetap saja, kecerdasan buatan masih belum setara dengan manusia.

Teknologi-teknologi tersebut setidaknya telah membuktikan, meskipun masih sebagian kecil, bahwa hukum-hukum fisika manusia itu ada dan sudah diterapkan pada teknologi. Mungkin selama ini hukum-hukum fisika manusia lahir dan terpecah-pecah dalam berbagai bidang disiplin ilmu lain. Namun, ketika ilmu-ilmu manusia hendak diterapkan pada bidang teknologi, maka ilmu tersebut harus berlaku secara fisika terlebih dahulu.

Seiring dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan, hukum fisika manusia akan lebih digali lagi. Di masa depan, fisika akan mengkaji organisme hidup termasuk manusia, baik secara individu maupun sosial.

Mungkin tantangannya adalah tidak mudah bertransformasi dari kajian terhadap benda mati kepada kajian terhadap benda hidup. Tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi yang menerapkan hukum-hukum yang berlaku pada mahluk hidup selalu lebih canggih karena teknologi pun menjadi lebih hidup.

Fisika manusia akan berpengaruh pada evolusi teknologi. Ketika fisika mampu menangkap hukum-hukum fisika pada manusia, maka ada kemungkinan akan terciptanya teknologi yang benar-benar sama dengan manusia bahkan melampaui manusia itu sendiri.

Jika evolusi teknologi berjalan lebih cepat daripada evolusi manusia, maka manusia akan terancam punah. Karena ketika teknologi mulai hidup, dalam arti yang sebenarnya, teknologi akan menjadi tidak terkendali. Bahkan ada kemungkinan manusialah yang dikendalikan oleh teknologi.

Sebagaimana pendapat Stephen Hawking bahwa secara teori, komputer bisa meniru kecerdasan manusia, dan melampauinya. Menurutnya, manusia tidak dapat mengetahui apakah mereka akan dibantu oleh AI secara tak terbatas, atau diabaikan, disisihkan, dan bahkan dihancurkan olehnya.

Ia juga telah memprediksi bahwa suatu saat, Al dapat menjadi “bentuk kehidupan baru”. Misalnya, jika orang merancang virus komputer, seseorang akan merancang AI yang memperbaiki dan menjawab hal itu. Menurut Hawking, ini akan menjadi bentuk kehidupan baru yang lebih baik dari manusia.

Dilansir dari sains.kompas.com Dua sistem kecerdasan buatan, Watson dari IBM dan Alpha dari Google, telah berhasil membuktikan kemampuannya. Watson menang terhadap dua manusia dalam kuis populer AS, Jeopardy!, sedangkan AlphaGo mengalahkan pemain legendaris Go pada medio 2016 lalu.

Sekarang pertanyaannya adalah apakah perkembangan fisika manusia dapat memperbaiki kemanusiaan atau malah menjadi ancaman baginya. Jika dilihat dari potensi bahaya dari perkembangan kecerdasan buatan sebagai terapan dari fisika manusia, maka fisika manusia sejatinya mengancam kemanusiaan.

Namun, tidak dapat dipungkiri juga bahwa banyak hukum-hukum fisika manusia dalam bidang ilmu lain telah diterapkan untuk mempebaiki kemanusiaan. Semua akan kembali pada pernyataan klasik bahwa “semua tergantung yang menggunakannya”.

Dengan demikian, bukan hal yang tidak mungkin bagi fisika untuk mengalihkan atau mengembangkan fokus kajiannya pada kemanusiaan. Berhubung masalah kemanusiaan saat ini sudah sangat kritis. Maka bisa saja sains akan lebih fokus untuk mengatasinya. Namun tetap saja semua berpotensi untuk melahirkan dampak yang justru bertentangan dengan tujuan aslinya.