Kini, kita sedang berada di tengah sebuah revolusi industri besar-besaran. Revolusi itu dinamakan Revolusi Industri 4.0. Mungkin, banyak dari pembaca masih awam dengan istilah ini. Namun, istilah ini pasti memengaruhi kehidupan pembaca.

Revolusi Industri 4.0 adalah sebuah revolusi fundamental yang perlu dihadapi dengan persiapan yang matang, karena menuntut berbagai kemampuan dasar yang belum dituntut oleh pasar tenaga kerja saat ini (Technical Education and Skills Development Authority, 2016:6).

Ketika terjadi perubahan besar dalam waktu yang cepat, pasti muncul tuntutan baru bagi subjek revolusi tersebut. Kemampuan baru adalah salah satu tuntutan tersebut. Apa saja kemampuan baru yang dituntut dari Revolusi Industri 4.0?

Kemampuan tersebut adalah kemampuan dasar dan kemampuan pembelajaran mendalam (deep learning skills). Berikut adalah kemampuan-kemampuan tersebut (Technical Education and Skills Development Authority, 2016:6-8).

Tabel 1.1. Kemampuan Dasar dan Kemampuan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning Skills).

Keduanya memiliki hubungan reciprocation, yang dapat digambarkan melalui diagram berikut:

Diagram 1.1. Gambar hubungan yang saling memengaruhi (reciprocation) antara kemampuan dasar dengan deep learning skills.

Hubungan ini memiliki berbagai determinan yang memengaruhinya. Namun, determinan yang paling memengaruhi hubungan ini adalah filosofi pendidikan. Mengapa? Sebab filosofi pendidikan adalah sebuah bidang filosofi yang menggambarkan hubungan antara pendidikan dengan filosofi yang mendasarinya (Bolat dan Bas, 2018:150).

Filosofi yang mendasari pendidikan adalah kompas yang mengarahkan pembangunan manusia. Jadi, ketika kita sekarang berada di era Revolusi Industri 4.0, kita memerlukan filosofi pendidikan yang mengarahkan kita kepada tuntutan revolusi ini.

Tanpanya, maka "Generasi Bonus Demografi" tidak akan mampu menggapai visi Indonesia Emas pada tahun 2045. Indonesia tidak akan menjadi negara maju di tahun 2045, jika Filosofi Pendidikan 4.0 tidak segera diterapkan pada sistem pendidikan kita. Mengapa?

Saat satu abad kemerdekaan kita, dunia kita akan menjadi sebuah tempat di mana meritocracy and competition rules. Jika sumber daya manusia Indonesia tidak mampu memenuhi skills 4.0, maka kita akan menjadi pihak yang kalah dalam persaingan global ini. Padahal, bangsa kita merdeka pada 17 Agustus 1945 untuk menjadi bangsa pemenang, bangsa 

Ringkasnya, masyarakat saat ini memerlukan Filosofi Pendidikan 4.0 untuk menghadapi perkembangan Industri 4.0.

Maka dari itu, konsep Filosofi Pendidikan 4.0 sebagai filosofi pendidikan yang sesuai dengan perkembangan Industri 4.0 perlu disusun secara komprehensif, dalam rangka memenuhi tuntutan kemampuan dasar dari perubahan tersebut. Sehingga, sistem pendidikan dapat menghasilkan generasi penerus yang produktif (Bolat dan Bas, 2018:153).

Lalu, apa implikasi tuntutan ini? Implikasi ini muncul dari peran filosofi pendidikan untuk menjadi panglima pembangunan (development leader) dari Industri 4.0. Filosofi Pendidikan 4.0 yang memupuk basic skills and deep learning skills harus menjadi pemimpin perkembangan Revolusi Industri 4.0.

Sebagai pemimpin pembangunan Industri 4.0, pendidikan tidak lagi hanya menjadi objek disrupsi (the disrupted) dalam Revolusi Industri 4.0. Melainkan, pendidikan menjadi subjek disrupsi (the disruptors) dalam Revolusi Industri 4.0 (Bolat dan Bas, 2018:153).

Sebagai disruptor, pendidikan harus mampu mendorong literasi di antara siswa. Doronglah siswa untuk mnembaca dan menyerap berbagai pengetahuan yang ada di buku, maupun di internet. Sehingga, tingkat literasi konten mereka meningkat.

Peningkatan literasi konten ini sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan kognitif sumber daya manusia kita. Selain itu, hal ini juga mampu membentuk mental pembelajar di antara manusia Indonesia. Pada era Industri 4.0, mental pembelajar sama dengan mental pemenang dalam persaingan antar bangsa.

Selain itu, sistem pendidikan yang “4.0 banget” juga harus mendorong literasi teknologi. Mengapa? Teknologi adalah basis dari Revolusi Industri 4.0. Tanpa penguasaan teknologi yang memadai di antara siswa, maka sistem pendidikan masih menjadi the disrupted dalam revolusi ini.

Tanpa literasi teknologi, perkembangan IPTEK kita akan dibalap oleh bangsa-bangsa lain. Dibalap oleh bangsa lain pada era kompetisi 4.0 sama saja dengan menerima kekalahan kita. Padahal, Bapak Bangsa kita mengajarkan segenap rakyat Indonesia untuk tidak pernah menyerah membela yang benar.

Melalui penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa filosofi pendidikan yang komprehensif, bernama Filosofi Pendidikan 4.0 yang mampu memupuk basic skills and deep learning skills sebagai tuntutan kemampuan dalam Revolusi Industri 4.0, sangat diperlukan oleh masyarakat sebagai panglima pembangunan (development leader) Industri 4.0. 

Sehingga, sistem pendidikan tidak menjadi objek disrupsi (the disrupted), melainkan menjadi subjek disrupsi (the disruptors). Akhirnya, implementasi sistem pendidikan yang berdasar pada Filosofi Pendidikan 4.0 ini dapat menghasilkan generasi penerus yang produktif dan berdaya guna.

Daftar Pustaka

Bolat, Yavuz, dan Muhammed Bas. 2018. The Perception of the Educational Philosophy in the Industrial Age 4.0 and the Educational Philosophy Productivity of Teacher Candidates. https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1185408.pdfDiakses pada 26 Januari 2019.

Technical Education and Skills Development Authority. 2016. Technological Change is Coming: The Fourth Industrial Revolution. https://www.tesda.gov.ph/Uploads/File/planning2017/LMIR/4th%20IR%20LMIR%20January%203%20FULL.pdfDiakses pada 26 Januari 2019.