Seperti pemain-pemain sepak bola yang saya kagumi, Javier Zanetti dan Paolo Maldini, bekerja dan bertahan di tempat yang membuat kita belajar, tumbuh, banyak teman dan pengalaman hingga tiba waktunya pensiun adalah impian hidup. Mungkin juga mimpi kebanyakan orang.

Tapi tidak semua bisa berakhir seperti Zanetti dan Maldini. Di dunia sepak bola, apalagi di era sekarang di mana bursa transfer begitu bergairah, tak banyak pemain yang masuk golongan one man club, baik karena klubnya yang bermasalah atau diri dan klubnya yang tergoda iming-iming uang. Begitu juga yang terjadi di dunia kerja dalam lingkup perkantoran.

Dalam dinamika perkantoran, menjadi seperti Zanetti dan Maldini adalah hal yang sulit, jika tak bisa dibilang mustahil. Ada yang ingin bertahan tapi tempat kerjanya bermasalah, seperti contoh kasus Gabriel Batistuta waktu terpaksa cabut dari Fiorentina. Ada yang ingin bertahan, tempat kerjanya baik-baik saja tapi tak menginginkannya, seperti contoh kasus saat Raul Gonzales didepak dari Real Madrid.

Ada juga mereka yang ingin bertahan, tempat kerjanya tak menunjukkan tanda-tanda bermasalah atau bakal bangkrut, tapi di dalamnya penuh dengan orang-orang yang membuat dirinya tak betah, seperti kisah Lionel Messi di FC Barcelona yang sempat jadi hot news belakangan ini.

Saya sudah bekerja sejak usia belasan tahun. Memasuki usia kepala 4 saat ini, impian saya untuk menjadi One Man Club atau One Man Office seperti Zanetti dan Maldini rasa-rasanya sudah pupus. Sebaliknya, saya malah pernah mengalami apa yang dialami oleh Batistuta dan Raul, juga menghadapi kondisi yang mirip-mirip dengan yang melanda Messi sekarang. Sering pindah-pindah. Susah sekali menetap.

Beratnya Ketika Harus Resign

Ketika saya mengalami seperti apa yang dialami Gabriel Batistuta, kesedihan yang dirasakan tak ditanggung sendiri. Saya, teman kantor, pemilik perusahaan, semuanya diikat oleh keprihatinan yang sama. Keluarga saya di rumah juga ikut sedih. Menyaksikan kantor bak perahu titanic yang tenggelam perlahan di laut luas, dengan para stakeholder dan karyawan yang bingung dan putus asa, terombang-ambing di dalamnya.

Pada kesempatan berikutnya, saat saya mengalami seperti apa yang dialami Raul Gonzales, mayoritas teman kantor ikut empati dan bersedih. Pemilik perusahaan sih kelihatannya tidak begitu. 

Memang mereka melepas saya dengan kalimat-kalimat prihatin dan permohonan maaf. Tapi mengingat dan merenungkan berbagai plot kejadian yang saya rasakan sebelum saya didepak, saya rasa tak berlebihan jika saya menduga begitu.

Pada awalnya tak enak dan sungguh menyakitkan menjalani proses hengkang seperti Raul Gonzales. Tapi sebagaimana pepatah mengatakan, waktu menyembuhkan segalanya, rasa sedih dan sakit itu tahu-tahu sembuh begitu saja seiring berlalunya waktu. Tak berlarut-larut kesedihannya seperti ketika saya menjadi seperti Gabriel Batistuta.

Kesedihan ala Batistuta itu bahkan masih ada bekasnya sampai saat ini, terutama bila saya berkumpul dengan mantan sejawat, atau saling balas komen di media sosial dengan mantan bos. Di balik kebahagiaan masih bisa ngocol bersama, ada kerinduan untuk berkarya bersama lagi seperti dulu, yang jadi menyedihkan ketika menyadari bahwa sekarang itu tak mungkin.

Lalu, bagaimana kira-kira bila kita dihadapkan dengan kondisi seperti yang dihadapi Lionel Messi?

Pertimbangan Sebelum Resign

Seperti sudah diketahui bersama, Messi memutuskan untuk bertahan, setelah sebelumnya mengancam klub untuk pergi dan menimbulkan kehebohan. Pada situs Goal, ia menumpahkan segala unek-uneknya dengan jujur secara eksklusif.

Dengan mimik wajahnya yang khas (seperti cool padahal dalam hati galau-galau gitu), ia menuturkan rasa cintanya yang besar pada 'kantornya' FC Barcelona, ia menuturkan rasa kecewanya pada Si Bos, Josef Bartomeu, yang banyak miss-management dan ingkar janji. Ia juga menuturkan suasana batin keluarganya, yang sangat berat untuk meninggalkan klub dan kota yang tampaknya sudah membuat monumen di dalam hati anak-anaknya itu.

Sejarah hidupnya bersama kota dan klub, perasaan keluarganya yang sudah merasa sebagai orang Catalan, tidak bisa dibeli dengan berapa pun uang, sekalipun ada klub tajir bersedia menggelontorkan syarat poundsterling untuk memboyongnya keluar. Apalagi, jika perpisahan itu harus dilewati dengan saling berperkara di pengadilan, jika Messi memaksakan klausul bebas transfer, yang ia klaim dapat membuatnya hengkang dari FC Barcelona secepatnya tahun ini.

Peristiwa ini bisa menjadi pelajaran bagi kita yang berada di lingkungan kerja, dalam memandang relasi diri kita sebagai pegawai dengan kantor, atau instansi tempat kita menjemput nafkah. Terutama di saat kita merasa berat dengan situasi di sana, dan niat hengkang terus mendesak-desak di dalam hati ini.

Setidaknya, ada lima poin yang menjadi pelajaran dan bahan pertimbangan, sebelum kita memutuskan hengkang, jika kita mengambil poin hikmah dari keputusan Messi.

Pertama, upayakan untuk berbicara tentang keberatan kita kepada pihak-pihak yang memberatkan kita secara jujur. Jika ini berat, ajak pihak lain yang kira-kira bisa diajak sebagai mediator, lalu tentukan waktu dan tempat yang tepat untuk mengungkapkannya secara baik-baik.

Kedua, boleh saja memberi shock therapy pada pihak-pihak yang dirasa mengganggu, jika memang mereka tak merespons secara baik keluhan kita. Asalkan, tidak melampaui nilai adab dan melanggar norma atau hukum.

Ketiga, berbicaralah dengan keluarga untuk mempertimbangkan untung-rugi, manfaat-mudharat, jikalau kita bertahan atau memang merasa harus hengkang. Utamakan pandangan keluarga yang objektif, berkenaan dengan kondisi yang dihadapi, dan potensi masalah yang bisa saja muncul di waktu mendatang.

Keempat, hitunglah risiko finansial dan resiko hukum, barangkali ada, sebelum kita memutuskan apakah bertahan ataukah hengkang dari tempat kerja. Pilih mana yang lebih kecil risikonya baik secara finansial maupun hukum, sebelum kita memutuskan untuk tetap bertahan atau menyudahi ikatan kerja.

Filosofi Ibra

Zlatan Ibrahimovic, mantan rekan Messi di Barcelona, dan salah satu striker tertajam dalam sepak bola di era millenial pernah berkata, "I came like a king, left like a legend."

Bila dikaitkan dengan dinamika perputaran SDM di dunia kerja yang begitu cepat di abad yang sibuk ini, Zlatan ingin mengatakan kepada kita, bahwa hendaknya kita senantiasa mengawali dan menjalani ikatan kerja dengan penuh tanggung jawab, dedikasi, dan mengisi hari-hari kita dengan prestasi. 

Ketika harus atau ingin hengkang pun, maka sebaiknya pergilah dengan baik-baik. Jadilah legenda, bukan seseorang yang begitu saja dilupakan, lantaran tak punya prestasi atau malah dikenang sebagai trouble maker.

Filosofi karier Zlatan Ibrahimovic itu sebetulnya sudah diterapkan oleh pemain-pemain yang gagal menjadi one man club, seperti Gabriel Batistuta dan Raul Gonzales, yang notabene berasal dari generasi sebelumnya. Itulah sebabnya, walau mereka gagal menjadi one man club, mereka tetap dipandang sebagai raja atau legenda dalam dunia sepak bola, sebab loyalitas, dedikasi dan berbagai prestasinya untuk klub.

Bertahannya Messi di FC Barcelona, tanpa disadari juga merupakan penerapan dari filosofi mantan sejawatnya yang akrab dipanggil Ibra itu. Bila bertahan ia tetap jadi ikon dan superstar di hadapan cules (sebutan fans Barca). Kalaupun masih ada tebersit keinginan hengkang, masih ada waktu untuk memikirkan proses dan destinasi, agar klub, keluarga dan diri, sama-sama puas.

Jika saja memang kelak memutuskan hengkang, bila ia sudah memikirkannya dengan matang, maka kalimat perpisahannya bisa satu atau semuanya, di antara kalimat-kalimat ini: satu, aku pergi untuk mencari tantangan baru; dua, aku ingin menabung lebih banyak untuk keluarga; atau, tiga, aku ingin punya waktu lebih banyak dengan keluarga."

Bukannya berlalu begitu saja sambil berkata, "Aku benci Bartomeu!" atau "Aku benci Barcelona!" (aea)