Perkembangan film Indonesia meningkat sejak tahun 2010. Dari data filmindonesia.or.id tercatat film Indonesia terlaris berjudul “Sang Pencerah” ditonton sebanyak 1.108.600 penonton. Di tahun 2011, surat kecil untuk Tuhan yang merupakan film Indonesia terlaris namun hanya mencapai 700 ribu penonton.

Tahun 2012 urutan pertama ditempati “Habibie & Ainun” yang mencatatkan jumlah penonton sampai 4 juta penonton. Dibawahnya adalah film “5 cm” dengan jumlah penonton sebanyak 2.402.170. Tahun 2013 mengalami penurunan jumlah penonton hanya sekitar 900 s/d 1 juta orang.

Di tahun 2014-2015 mengalami stagnansi. Baru ditahun 2016 peningkatan jumlah penonton terbilang besar. Yaitu melebihi angka 2 juta penonton. Salah satunya AADC 2 dengan jumlah penonton sebanyak 3,6 juta orang.

Angin segar dinikmati industri film dari tahun ke tahun, maka dengan ini perlu diambil kesempatan dari pertumbuhan jumlah penonton film setiap tahunnya. Film dapat digunakan sebagai media promosi yang bisa memberikan dampak besar bagi masyarakat sekitar dengan menaikkan ekonomi masyarakat.

Seperti yang dikatakan Hudson (2010) film dapat digunakan sebagai promosi untuk meningkaktan jumlah pengunjung yang datang karena melihat lokasi dari sebuah film.

Kekuatan dan kemampuan film menjangkau banyak segmen sosial, lantas membuat para ahli film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya (Sobur, 2004).

Beberapa film Indonesia yang berhasil menaikan pariwisata daerahnya adalah berjudul “5 cm” pada tahun 2012. Film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani dengan jumlah penonton sebanyak 2.402.170 penonton.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Ayu Desi Utari mengatakan jumlah pendakian ke Gunung Semeru melonjak drastis setelah pemutaran film 5 Cm, lonjakan pendakian terjadi selama sepekan dari 25 Desember 2012 sampai 1 Januari 2013.

Diperkirakan ada 5-10 ribu pengunjung, dan pada saat malam tahun baru 2013 ada sekitar 3000 pengunjung. Jumlah pengunjung tersebut melonjak hingga 100 persen lebih.

Selama ini, TNBTS nyaris tidak pernah menerima pengunjung melebihi 5.000 orang dalam setahun. Sebagai gambaran, pada tahun 2009 dan 2010, jumlah pendaki masing-masing tercatac 2.532 dan 2.769 orang.

Film selanjutnya adalah “laskar pelangi” tahun 2008 yang di sutradarai oleh Riri Riza dengan jumlah penonton sebanyak 4.719.453 penonton.

Gambar 1: Jumlah Kunjungan Wisatawan Kepualauan Belitung (dikelola penulis)

Selain meningkatnya jumlah pengunjung pariwisata di Kepulauan Belitung, diberangi juga dengan meningkatnya infrastruktur berupa perhotelan. Tahun 2012 tercatat ada 19 hotel dan meningkat di tahun 2015 hingga 40 hotel.

Catatan BPS mengenai jumlah wisatawan ke Kepulauan Bangka-Belitung memang meningkat pesat. Sepanjang 2011-2017, rata-rata kunjungan wisatawan meningkat sebesar 29 persen.

Pada 2017, tercacat kunjungan wisatawan mencapai 380.941 orang. Ini berarti terjadi peningkatan 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari total pengunjung itu persentase wisatawan mancanegara masih terbatas, yaitu sebesar 2,4 persen atau sejumlah 9.358 orang.

Kemudian film “Ada Apa Dengan Cinta?-2” tahun 2016, di sutradarai oleh Riri Riza mendapatkan jumlah penonton sebanyak 3.665.509 penonton. Kesuksesan film ini menimbulkan tren baru dalam masyarakat, dengan meningkatnya pengunjung wisatawan ke Yogyakarta dan Magelang.

“Ada Apa Dengan Cinta? 2”, berhasil diputar serentak di 3 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Selain itu juga ditayangkan di 5 kota Australia yaitu: Melboirne, Sydney, Adelaide, Darwin, dan Brisbane mulai 23 Agustus 2016.

Film memang dinggap sebagai media penyampaian pesan dan alat komunikasi massa. Bahkan UU Film Indonesia menyebutkan sebagai. “film sebagai media komunikasi massa merupakan sarana kecerdasan kehidupan bangsa, pengembangan potensi diri, pembinaan akhlak mulia, pemajuan kesejahteraan masyarakat, serta wahana promosi Indonesia di dunia Internasional”.

Dengan film juga dapat mendoktrin khalayak dengan tampilan-tampilan menarik dalam layar untuk meningkatkan jumlah wisatawan. Keindahan alam atau keunikan budaya dapat dikemas dengan sangat baik sehingga menimbulkan kesan positif bahkan memberikan dampak positif bagi daerah tersebut.

Kenaikan pendapatan melalui perdagangan atau jasa akan semakin membesar dan meluas, sehingga masyarakat setempat dapat memandapatkan momen tersebut untuk kesejahteraan masyarakat. maka pariwisata dianggap penting untuk meningkatkan pendapatan daerah, pengembangan wilayah, maupun dalam penyerapan investasi dan tenaga kerja serta pengembangan usaha.

Pada 2012, Lembaga Tourism Competitive Intelligence menyebut bahwa ada 40 juta wisatawan yang memilih destinasi yang pernah dijadikan syuting film. Sekitar 10 persennya, bahkan menyebut terang-terangan bahwa film adalah faktor utama dalam menentukan tujuan wisata. Salah satu kunci keberhasilan  pariwisata film adalah menghadirkan suasana yang sama dengan suasana yang dilihat di film.

Buku saku Kementerian Pariwisata (2016), kontribusisektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada tahun 2014 telah mencapai 9% atau sebesar Rp. 946,09 triliun. Sementara devisa dari sektor pariwisata pada tahun 2014 telah mencapai Rp. 120 triliun dan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 11 juta orang. Kemudian kontribusi pariwisata terhadap PDB 2018 mencapai 4,50%.

Gambar 2: Jumlah Perjalanan Wisatawan Nusantara (Orang). (Sumber BPS)

Sesuai data dari Badan Pusat Statistik mengenai jumlah perjalanan Wisatawan Nusantara pada tahun 2015 tercatat 256.419.006 dan terus berkembang angka kunjungan wisatawan nusantara di tahun 2018 sebanyak 303.403.888.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia periode 2019-2020 Wishnu Utama menegaskan bahwa film dapat menjadi sarana efektif untuk mempromosikan industri pariwisata Indonesia. Melalui film dapat menonjolkan visualisasi  keindahan alam dan budaya di suatu wilayah, termasuk Indonesia yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang kaya.

Bolan & William (2008) juga menyebutkan beberapa penonton sangat dipengaruhi oleh gambar yang digambarkan melalui film, maka harus lebih fokus pada keiginan penonton dan dampak dari media tersebut pada keputusannya melakukan wisata.

Pariwisata di Indonesia memiliki potensi yang besar didukung oleh sumber daya alam yang dimiliki. Sehingga dapat menginduksi keinginan wisatawan untuk menikmati tempat wisata.

Melalui film digunakan sebagai media promosi suatu daerah yang memiliki potensi wisata yang tinggi. Menampilkan sisi terbaik dari daerah tersebut untuk membantu perkembangan pariwisata.

Pesan yang disampaikan melalui film merupakan daya tarik rasional, emosional dan moral. Narasi dan tampilan gambar yang menarik dapat menjadi stimulus rasa penasaran penonton serta menentukan keputusan wisatawan untuk berkunjung.

Maka film perlu dikemas dengan sangat menarik dari segi audio visual dan alur cerita yang lekat dengan keindahan dan emosisional tertentu bagi penontonnya.

Film dikatakan sebagai ‘pengalaman batin yang unik’ yang karena karakter simultan dari realitas dan representasi bergambar membawa pikiran kita ke dalam keadaan kompleks yang sesuai dengan yang ada di film.